
Hari-hari Serina berjalan seperti biasanya, bangun pagi lalu mengurusi Arina yang semakin besar saja, lalu mengurus kedai seperti sebelum-sebelumnya.
Yang berbeda hanya kali ini Serina sering merasa was-was ketika berada di mana pun ia berada, pertemuan dengan Arga waktu lalu membuat hidup nya merasa penuh ancaman.
Serina memasukkan barang-barang miliknya kedalam tas selempang, hari ini dia berencana mengajak Arina dan Naura pergi makan siang di restoran.
"Sudah siap?"
"Siap!" Sahut Naura dan Arina bersamaan, membuat Serina tertawa karena mereka.
Sampai di lantai bawah Taxi yang ia pesan sudah menunggu kedatangan mereka.
Di perjalanan hanya di selingi oleh ocehan ocehan Arina yang selalu penasaran dengan banyak hal, semakin dewasa Serina bisa melihat kecerdasan Arina setiap harinya.
Memang keturunan dari seorang Arga adalah bibit unggulan.
Berbicara tentang keturunan Arga. Serina jadi merindukan Sean putranya belakangan ini dia tidak pernah melihat wajah putra kandungnya itu di media manapun, Entah apa alasan nya.
Bahkan Arga yang selalu bersama dengan Jessie di setiap acara pun, tida pernah terlihat lagi belakangan ini. Banyak orang-orang yang bertanya keberadaan istri dari pengusaha ternama itu, tapi pria itu hanya bungkam tanpa mau berbicara.
"Mbak!"
Lamunan Serina terhenti bertepatan dengan sampai nya mereka di sebuah restoran keluarga yang belakangan ini ramai di bicarakan, namun karena mahalnya makanan yang ada di sana membuat orang-orang yang memang berasal dari kalangan atas saja lah yang berkunjung.
Serina membayar supir taxi yang di tumpangi nya, "terimakasih".
Mereka tidak berhenti-henti nya berdecak kagum melihat keindahan dekorasi restoran, bahkan Arina sudah menarik-narik Naura untuk segera masuk kedalam.
Tidak seberapa yang datang tapi cukup penuh untuk ukuran restoran mahal.
Meja-meja bersekat membuat aksen tradisional Jepang terlihat sangat jelas, membuat orang-orang tidak akan saling melirik karena tertutup satu sama lain.
Mereka duduk di meja pojokan agar bebas berbicara tanpa mengganggu yang lainya.
Serina memanggil pelayan dan mulai melakukan pemesanan untuk mereka bertiga, makanan berkuah seperti nya cocok untuk hari yang mendung ini.
"Arina senang?" Tanya Serina pada sang putri, karena ketakutan nya keluar dari rumah membuat putri nya juga ikut terkurung bersamanya.
Gadis mungil itu mengangguk semangat, "Cenang cekali unda" ucapannya.
Kedua wanita dewasa itu tertawa kecil melihat kelucuan Arina.
Pelayan datang dan langsung menyiapkan makanan untuk mereka bertiga.
Saat tengah memakan makanan nya Serina samar-samar mendengar suara seseorang yang tidak asing di telinga nya, ketika hendak menoleh kebelakang ada sekat yang membatasi pengelihatan nya.
Memutuskan untuk mengabaikan nya, beberapa menit kemudian mereka semua telah menyelesaikan acara makan mereka.
"Ibu perlu Uang, Arga"
Serina saling bertatapan dengan Naura.
"Sstt" jari telunjuk nya mengkode agar Naura diam.
Suara di belakang mereka memang lirih, tapi karena meja lumayan dekat membuat Serina bisa mendengar jelas pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Hari itu ibu sudah berusaha membuat Serina meninggalkan rumah nya, lalu ibu juga berusaha menjauhkan Serina dari pemilik bengkel itu" Dinda membicarakan tugas-tugas nya dari Arga, agar pria itu mau membiayai bisnis yang dia rintis bersama snag suami.
Tanpa sepengetahuan suaminya, karena jika suaminya tau pasti pria paruh baya itu akan marah padanya.
Arga tidak berkata apapun
"Berkas yang saya minta?"
Dinda langsung merogoh tasnya kemudian menyerahkan berkas yang memiliki tanda rumah sakit ternama.
"Semua nya sudah ibu urus" ucap nya senang.
Arga membaca berkas itu kemudian dia mengangguk merasa puas.
"Uang nya akan saya transfer"
Ibunya bertemu dengan Arga? Bahkan semu rencana buruk Arga ibunya terlibat?.
Arga lewat di sebelah meja yang di tempat Serina, melihat hal itu mereka semua langsung menunduk agar tidak terlihat.
"Unda mau ice cleam"
Rengekan Arina membuat mereka memutuskan untuk pergi dari sana.
.
Arga pulang cepat hari ini tidak seperti hari-hari sebelumnya kali ini dia menyempatkan waktu nya yang tidak banyak untuk sang putra.
"Dimana Sean?"
Yuni yang melihat keberadaan Sang majikan langsung menunjukkan keberadaan Sean.
Langkah kaki berbalut pantofel itu menuju Perpustakaan yang memang tersedia di rumah utama Wahyutama.
Krek
Sean yang sedang membaca buku itu menoleh kearah pintu terbuka, ayahnya berdiri di sana masih dengan pakaian kantor nya.
Bahkan bocah lelaki itu hanya diam saat sang ayah duduk di sebelahnya.
"Apa yang kamu baca?"
Sean tidak menjawab dia hanya menunjukkan sampul buku yang ia baca pada ayahnya.
Arga mengerti
"Kamu rindu ibu?"
Sepertinya pertanyaan Arga membuat Sean sedikit mengalihkan perhatian nya dari buku yang ia baca.
"Ibu yang mana?" Tanyanya tanpa menatap sang ayah.
Arga melipat tangannya di dada sudah ia duga, Sean buka anak bodoh yang tidak mengerti masalah yang sedang terjadi pada orangtuanya.
"Kalau begitu tidak masalah kan jika harus kehilangan satu anggota keluarga?" Tanyanya kembali.
__ADS_1
Sean menatap ayahnya heran, sejak kapan dia peduli akan hal itu?.
"Terserah" jawabnya.
Arga mengusap lembut rambut tebal sang putra, "Anak pintar" pujinya.
Ponsel Arga berbunyi pria itu langsung mengangkat nya setelah tau siapa yang menghubunginya.
"Hm?" Jawabannya sesekali memperhatikan Sean yang kembali dengan bukunya.
"Tuan! Nyonya Jessie melarikan diri!"
Arga tersenyum miring, "biarkan dia pergi" putus Arga.
Bawahan nya yang sedang bertelepon dengan Arga kebingungan dengan titah Tuan nya.
"Tapi Tuan"
"Biarkan dia lepas.....lalu tangkap"
Tut..Tut...
Melarikan diri? Tidak ada yang bisa melarikan diri dari seorang Arga, kecuali jika ia memang menginginkan orang itu pergi.
"Sean, mulai saat ini kami tidak akan bertemu dengan ibu lagi"
Sean meletakkan bukunya
"Tidak peduli"
.
.
Akhirnya setelah lelah seharian bekerja Serina bisa mengistirahatkan tubuhnya dengan tenang.
Naura membawa Arina berjalan-jalan keluar untuk mencari udara segar, gadis muda itu tau betul apa yang di butuhkan Serina saat ini.
Pikiran dan tubuhnya lelah karena kondisi yang berbeda-beda, mengetahui keterlibatan Ibunya pada rencana Arga tidak terlalu membuat nya terkejut.
Melihat sifat ibu dan ayahnya yang berubah dengan cepat padanya pasti ada yang mereka sembunyikan, sebenarnya Serina belum yakin apakah ayahnya terlibat atau tidak dengan kejahatan Arga.
Mengambil remote control di atas meja, Serina memutuskan untuk menonton TV untuk menghilangkan stress.
Channel berganti-ganti dia bingung memilih Siaran apa yang sangka nya bisa menghilangkan kegelisahan nya saat ini.
"Berita hari ini! Menantu dari keluarga Wahyutama, atau biasa di kenal Jessie Kimberly istri dari pengusaha ternama Arga Wahyutama, Malam ini di bawa paksa menuju Rumah Sakit Jiwa!"
Deg!
Serina membulat kan kedua matanya terkejut, bukannya mendapat ketenangan kini Serina malah merasa terkejut dengan kabar yang baru saja ia dengar.
"Pihak keluarga sudah melakukan pemeriksaan dengan dokter ternama mereka, tapi sayangnya diagnosis menunjukkan jika nyonya Jessie mengidap gangguan jiwa!"
Serina menutup mulutnya tidak percaya.
__ADS_1
"Tidak mungkin" gumamnya
TBC.....