
Kejadian tadi pagi membuat Serina yakin dengan keputusan yang akan ia buat melihat sikap Arga yang acuh tak acuh padanya seakan meyakinkan Serina dengan keputusannya.
Melihat Rumah Tangganya yang berantakan saat ini membuat nya menyesal, entah kapan tiang penyangga yang menjadi topangan rumah tangganya bersama Arga enam tahun ini runtuh nantinya.
Jika rumah tangganya benar-benar berakhir Serina harus mempersiapkan semuanya dengan matang, mulai dari tempat tinggal, pekerjaan, dan juga persalinan bayinya nanti. ada sedikit rasa sesal di hatinya saat dia dengan maunya menerima perintah Arga untuk tidak bekerja.
Jika dulu memang Dia merasa sangat bahagia karena menganggap Arga memperlakukannya seperti seorang ratu tanpa harus repot-repot mencari uang di luaran sana, tidak pernah terpikir olehnya jika pernikahannya menjadi seperti ini sekarang.
Serina menatap hamparan kebun yang tidak seberapa itu, memang saat hatinya merasa resah dan gundah hanya kebun yang dia rawat sepenuh hati itulah yang menjadi tujuannya.
Ia sangat ingin mencurahkan isi hatinya tapi entah dengan siapa, saat awal pernikahan memang keluarga mertuanya menyambutnya dengan sepenuh hati tapi entah apa yang terjadi sejak beberapa tahun belakangan sikap mereka tidak lagi sehangat dulu, sebenarnya dia tidak terkejut ketika melihat perubahan mertuanya itu.
Melihat perubahan Arga yang sangat drastis saja dia sudah terbiasa apalagi mengenai mertuanya, Orang tua mana yang ingin anaknya hidup bersama wanita yang tidak bisa memberikan keturunan, tidak ada.
Jangankan Mertua dan suaminya, entah apa yang akan orang tua kandungnya perbuat saat mengetahui pernikahannya akan berakhir, jika semua orang tua akan membela putri mereka karena pernikahan yang telah usai maka tidak dengan orang tuanya.
Mungkin mereka akan mengusir Dirinya tanpa mau mengenal putri mereka lagi.
Serina beranjak dari kursi yang sudah ia duduki kurang lebih setengah jam lamanya, sebenarnya dia berencana untuk mengemasi pakaian nya yang tertinggal di kamar lama tapi karena Arga kebetulan berangkat ke kantor agak lambat dari biasanya Ia mengurungkan niatnya.
Tapi sepertinya sekarang pria itu sudah pergi karena Serina mendengar suara mesin mobil yang berlalu keluar dari gerbang.
.
.
Serina terbelalak saat melihat pakaiannya tergeletak berhamburan di depan pintu kamar lamanya.
"Oh? Mbak sudah datang?, kalau begitu singkirkan baju-baju bekas itu dari kamar aku mbak" Jessie datang dengan setumpuk pakaian lagi yang dia lemparkan begitu saja ke lantai hingga menimpa Serina yang berada di bawah sedang memunguti pakaiannya itu.
"Ups! Maaf habisnya mbak ada di situ sih" Ucap Jessie seolah-olah Serina lah yang bersalah.
"Kenapa kamu melakukan semua ini? seharusnya kan bisa kamu taruh di dalam kardus atau koper yang ada di dalam kamar! kenapa malah membuangnya seperti ini?!" Walau baju-baju nya tidak mahal setidaknya Jessie bisa menghargainya.
Jessie hanya melipat tangannya di dada tidak peduli dengan celotehan Serina yang seperti angin lalu itu.
"Pakaian Mbak terlalu banyak, baju-baju ku tidak muat jadinya, karena mbak sudah tidak tidur disini jadi aku buang saja" Ucapnya santai
Menatap Jessie tidak percaya, Serina lalu mengambil baju-bajunya itu dengan cepat.
"Kamu tidak bisa bersikap seenaknya seperti itu! ini rumah ku kamu hanya menumpang, jangan kelewatan!" Sentak Serina tajam merasa jika wanita di depannya ini tidak tau diri.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu!, yang menumpang itu mbak! mbak itu bukan lagi istri mas Arga!"
Apa maksud wanita ular itu? bahkan Arga belum menalak dirinya bagaimana bisa Dia mengatakan jika Serina bukan lagi Istri Arga.
"Mbak tugas mu itu melayani aku dan bayiku! bukan sok-sokan menjadi tuan rumah!"
"Hanya karena kamu hamil bukan berarti kamu bisa bersikap seperti ini Jessie, ingat bayi itu belum terlahir ke dunia ini, jaga sikap kamu!"
Merasa Serina mendoakan bayinya tiada Jessie langsung mendorong Serina dengan kencang.
Bruk!
"Aduh" untung saja dia hanya jatuh ringan diatas baju-bajunya bukan langsung mengenai lantai jika tidak entah apa yang akan terjadi dengan bayinya.
"Semua ini adalah perintah Mas Arga, untung saja aku hanya membuang baju-baju sampah itu! jika tidak aku akan membuang mu dan juga semua barang-barang mu keluar dari rumah ini!"
BRAK!
Air matanya keluar begitu derasnya saat mendengar perkataan dari Jessie jika Arga lah yang menyuruh nya untuk membuang semua pakaiannya, seharusnya pria itu bilang jika dia tidak ingin Serina ada di rumah ini, apakah Arga tidak lagi menganggap dia sebagai istrinya lagi?.
Serina memungut semua pakaian yang berserakan di lantai kemudian membawanya ke kamar yang saat ini ia tempati, sebentar lagi makan siang dia harus menyiapkan makanan untuk nyonya baru rumah ini jika tidak Arga akan marah padanya.
.
Setelah menyiapkan nya di atas meja makan, Serina hanya tinggal memanggil Nyonya rumah untuk menyantapnya.
Baru akan memanggil Jessie untuk turun suara bel rumah yang berbunyi menghentikannya, berputar arah Serina berjalan menuju pintu utama.
Klek!
Arga...
Tidak biasanya Arga pulang cepat, ah! Serina mengerti pria itu datang untuk menemani istrinya yang tengah hamil muda. Mempersilahkan Arga untuk masuk Serina berlalu ke dapur menyiapkan minuman untuk Arga dan juga Jessie.
"Dimana Jessie?"
Serina sedikit terkejut dia mengira jika Arga langsung pergi menemui Jessie ternyata pria itu mengikutinya ke dapur.
"Sebaiknya Mas panggil Jessie untuk makan siang" Serina mengabaikan pertanyaan suaminya, bagaimana dia tau dimana jessie berada.
"Biarkan saja"
__ADS_1
Arga menyampirkan jas nya di atas kursi, menyenderkan tubuhnya yang terasa lelah kemudian melonggarkan dasinya yang terasa mencekik.
"Diminum" Serina menyodorkan kopi panas pada Arga.
Serina meninggalkan Arga sendirian dengan pikirannya, hatinya selalu merasa tidak nyaman saat hanya berduaan dengan Arga seperti ini, untuk menghindari hal itu ia memutuskan untuk mencuci bekas peralatan yang dia gunakan untuk memasak tadi.
Tak berselang lama Jessie turun ke bawah, matanya berbinar bahagia saat Arga sudah berada di sana.
"Mas Arga!"
Jessie berjalan cepat kearah Arga, akibat kakinya yang tersandung hampir saja tubuhnya melayang menyentuh lantai jika Arga tidak dengan sigap menangkap tubuh itu.
"Hati-hati!"
Serina mengalihkan pandangannya saat melihat adegan di depan itu.
Menuntun Jessie ke meja makan Arga memperlakukan wanita itu dengan sangat lembut, sama seperti saat awal pernikahannya dengan Serina dulu.
"Lain kali jangan berlarian seperti itu" Peringat nya pada Jessie
"Maaf..." Ucapnya sesal
"Hm"
Arga mengambil susu ibu hamil yang tadi di buat oleh Serina, lalu menyodorkannya pada Jessie yang masih terlihat syok.
Sama seperti sebelum-sebelumnya wanita itu hanya meminumnya setengah lalu menaruhnya begitu saja tanpa di habiskan, entahlah Serina merasa jika bayi yang di kandung jessie tau jika ada saudaranya yang lain juga membutuhkannya.
Serina menghidangkan makanan Arga dan juga Jessie, setelah selesai wanita itu mengambil gelas kotor untuk di bawa ke dapur.
Grep!
Arga menghentikan Serina yang ingin pergi ke dapur.
"Makan disini"
Sebenarnya Serina ingin tapi dia sedang merasa tidak lapar.
"Tidak Mas, kalian makan saja berdua, aku tidak lapar"
TBC.....
__ADS_1