
Serina dan Naura berada di ruang tengah sekarang, seperti rutinitas sehari-hari Baby Arina akan bangun setelah ibu dan kakaknya selesai makan malam lalu mereka bertiga akan menghabiskan waktunya sambil menonton TV.
Kecurigaan Serina mengenai keberadaan Naura ketika di dapur tadi sirna saat gadis muda itu mengatakan jika ibunya tengah menanyakan kabarnya.
Karena itulah mereka bertiga berkumpul seperti sekarang di ruang tengah.
Naura asyik bermain dengan Arina, sesekali gadis itu membuat bayi usia tiga Minggu Itu menangis lalu ia akan menenangkan nya.
Serina hanya melihat kelakuan Naura bersama dengan Arina dalam diam, sesekali ia akan ikut tertawa.
Siapapun yang melihatnya akan tau jika hanya raganya saja yang ada di sana sedangkan pikirannya entah melayang kemana. Naura pun menyadari semua itu ia mengira setelah Serina beristirahat wanita itu akan kembali menjadi seperti dulu, tapi ternyata ia salah, semua bukan masalah istirahat atau tidakĀ melainkan jiwa dan pikiran Serina terbawa bersama dengan Sean.
Ting..Tong
Kedua orang yang tengah bermain dengan Arina menoleh kearah pintu saat mendengar bel berbunyi.
Serina dan Naura saling berpandangan, "Biar aku saja Mbak" Inisiatif Naura terlebih dahulu, sebelum Serina menolak dan mengatakan biar ia saja yang membuka pintu, rasanya tidak enak menyuruh Naura membuka pintu sedangkan gadis itu tengah menggendong Arina.
Kaki jenjangnya melangkah lebih dekat pada pintu kayu, knop pintu diputar lalu Serina menarik pintu hingga terbuka lebar.
Matanya membola dan cengkeramannya di gagang pintu menguat saat tau siapa yang tengah mengunjungi kediamannya malam-malam begini.
"Ayah, Ibu?"
.
.
Baby Sean tertidur pulas sambil bibir mungilnya menyerap asi dari Jessie, Yuni yang melihat Sean akhirnya bisa tidur dengan tenang merasa sangat bahagia tidak menyangka akhirnya ibu bayi mungil itu mau menyusui putra kandungnya.
Memang Yuni tidak mengetahui jika Sean sebenarnya bukanlah putra kandung Jessie, karena Arga mempekerjakannya setelah bayi Sean lahir.
Pengasuh itu tidak tau jika Jessie tengah menahan segala umpatan dan rasa bencinya pada bayi yang bukan miliknya ini, keputusannya untuk kabur dari genggaman Arga ia kubur dalam-dalam.
Jika pergi begitu saja dari Arga hanya karena merawat bayi yang tidak tau apa-apa itu adalah keputusan yang bodoh menurutnya, belum tentu saat ia berhasil lepas dari Arga kehidupannya akan sama menyenangkannya seperti saat masih menjadi istri pria itu.
Jessie menyerahkan Sean pada Yuni saat bayi kecil itu sudah tertidur lelap jangankan Bayi, matanya saja sudah terasa sangat berat hanya untuk membuka mata.
__ADS_1
Meregangkan ototnya yang terasa kaku padahal ia hanya duduk diam selama beberapa menit, sambil menguap Jessie meninggalkan Sean dan Yuni berlalu menuju kamarnya.
Kamarnya? ya! sejak Arga bercerai dengan Serina pria itu memilih untuk pisah kamar dengannya, awalnya Jessie merasa tidak terima tapi sejak perubahan yang dialami Arga membuatnya sedikit bersyukur bisa berjauhan dengan pria itu.
Tepat setelah Jessie masuk kedalam kamarnya, Arga yang baru saja pulang dari kantor datang sambil menenteng bingkisan di tangannya. pria gagah itu tersenyum tipis saat melihat Putranya tengah tertidur di Gendongan Yuni.
"Selamat datang Tuan!" Yuni menyapa Arga sedikit nyaring akibat terkejut ketika melihat Tuan besarnya datang tiba-tiba.
"Ssst.." Arga menempelkan jari telunjuknya di bibir nya sendiri, mengkode Yuni agar tidak bersuara terlalu keras. pengasuh Sean kemudian meminta maaf atas kecerobohannya.
Melihat tatapan Arga yang mengarah pada Sean, Yuni dengan sigap menyerahkan bayi laki-laki itu pada sang ayah.
"Pergilah" Usir nya pada Yuni, dengan patuh wanita paruh baya itupun pergi meninggalkan ayah dan anak berdua saja.
Arga mengecup pipi Sean yang mulai gembul kemudian Ayah dua anak itu membawa putranya menuju ruangan yang sekarang menjadi tempat favoritnya ketika sedang merasa gelisah.
Pintu bercat cokelat itu terbuka setelah Arga membukanya dari luar.
Arga menghirup aroma tidak asing saat ruangan yang ukuranya tidak seberapa itu terbuka lebar, kakinya melangkah lebih dalam ke ruangan itu lalu meletakkan Sean pada Kasur yang ada di sana, lalu ia pun turut ikut tidur di sebelah putranya.
"Tidurlah...Ibu dan ayah ada bersama mu" Gumamnya pada bayi yang tengah tertidur pulas di sampingnya.
.
.
Tapi apa yang membuat orang tuanya menemuinya lagi?
Ekor matanya melirik pada Naura yang sedang menggendong Arina, apa gadis itu yang memberitahukan keberadaannya pada orang tuanya?.
"Bagaimana kabar mu?" Tatapannya kembali fokus pada ayahnya.
"Seperti yang ayah lihat, aku......baik" jawab Serina lirih diakhir kalimatnya.
"Naura..bisa tinggalkan kami sebentar" Pinta Dinda ibu dari Serina.
Naura mengangguk kemudian pergi membawa serta Arina bersamanya.
__ADS_1
Mendengar ibunya yang terlihat akrab dengan Naura membuat Serina memicing heran, kecurigaannya semakin kuat jika Naura ada hubungannya dengan kedatangan orang tuanya kemari.
Bram menghela nafas panjang.
Putri yang sudah ia besarkan dari kecil kini bersikap asing pada nya, walaupun dia tau benar apa penyebab rasa asing ini terbentang antara keduanya. Ayah mana yang bisa melihat putri yang sejak kecil ia urus membuat jarak pada ayahnya.
Dinda ibu dari Serina mengusap punggung sang suami, tidak ada yang bisa ia lakukan karena semua yang terjadi juga adalah salahnya.
Serina menunduk enggan mendongak hanya untuk bertatapan dengan orang tuanya, biar saja mereka menganggapnya tidak sopan saat ini pikirannya sudah lelah ia tidak mau menambah beban pikirannya lagi dan berakhir merepotkan Naura.
Kedua mata Serina membola saat tiba-tiba saja tubuh kurusnya tenggelam di pelukan tubuh seseorang yang sama sekali belum pernah memberikannya dekapan hangat selama hidupnya.
"Maafkan Ayah"
Jantungnya bergetar, kedua matanya terasa perih, perlahan air matanya tumpah tanpa bisa dia cegah, rasa hangat pelukan ayah yang selama ini tidak pernah peduli padanya kini ia rasakan.
Tangisnya pecah dalam pelukan sang ayah, Dinda yang melihat suami dan putrinya berpelukan dengan erat setelah lama terpisah hanya bisa menangis dalam diam. betapa malangnya kehidupan putri yang ia lahir kan dari rahimnya sendiri.
"Menangis lah, sekarang ayah dan ibu akan selalu bersama mu" Bram mengusap punggung bergetar Serina.
Dari kejauhan Naura melihat semua itu ada rasa senang saat akhirnya ia bisa melihat keluarga Serina ada disampingnya saat ia terluka.
Serina melepas pelukan yang tertaut dari sang ayah, sesegukan masih terdengar walaupun tangisannya sudah berhenti.
Bram mengusap kedua pipi putrinya yang terlihat semakin tirus dari sisa-sisa air mata.
"Apa yang membawa ayah dan ibu kemari?" Tanyanya pada Bram yang sudah kembali ke tempat duduknya.
"Kamu mungkin merasa tidak nyaman dengan kedatangan Ayah dan ibu, tapi kedatangan kami memang berniat untuk mengunjungi putri dan cucu kami" Bram menjelaskan maksud kedatanganya pada sang putri.
"Dan kamu pasti merasa bingung dengan hubungan kami dan Naura kan?" Lanjutnya lagi, mendengar itu Serina langsung menatap penuh tanya ayahnya.
"Naura adalah putri dari Bi Darmi, pengasuh yang sudah merawat mu dari kecil" Sambung Dinda yang sejak tadi diam.
Serina terkejut mengetahui fakta bahwa Naura adalah Putri pengasuhnya dulu, seingatnya Bi Darmi sudah meninggal sejak usianya masih 20 tahun dan Naura mengatakan jika ibunya masih hidup namun sakit-sakitan.
Dari kesimpulan yang ia dapat Serina yakin jika pertemuannya dengan gadis muda itu emang sudah direncanakan sejak awal.
__ADS_1
"Apa kalian yang menyiapkan Rumah ini?"
TBC.....