
Bunyi hujan yang mengalir dengan deras terdengar di luar rumah, seperti nya bukan hanya hujan angin biasa melainkan badai sedang terjadi di luar sana.
Seorang wanita dengan pakaian pasien berwarna putih tengah menggigit kukunya, duduk di pojok kamar sambil merenung adalah kebiasaan nya sekarang.
Dia tidak gila tapi dengan entengnya pria brengsek itu malah memasukkan nya ke rumah sakit jiwa, saking stress nya dia terkurung di tempat ini selama empat tahun lamanya dia merasa benar-benar gila sekarang.
Jessie Kimberly menatap tajam pada Dokter kejiwaan yang baru saja masuk ke ruangan nya.
Pria itu adalah suruhan Arga Suaminya yang menjebloskan nya ke rumah sakit jiwa ini, jika saja saat itu ia tidak percaya dengan dokter yang tengah tersenyum menatap nya ini, dia tidak akan berakhir di sini.
"Sudah waktunya minum obat nyonya" terdengar nada mengejek dari perkataan dokter itu.
Tidak melihat pergerakan Jessie dokter tersebut menggeram marah, dengan cepat dia langsung menarik Jessie untuk berdiri.
"Lepas! Ku bilang jangan sentuh aku!" Jessie memberontak hebat berusaha melepaskan cekalan nya dari Dokter gadungan itu.
Grep
Dokter itu mencengkeram rahang Jessie agar terbuka, lalu mengambil dua butir obat yang tidak diketahui apa efeknya dari botol kaca, kemudian memasukkan nya kedalam mulut Jessie dengan paksa.
"Uhuk!uhuk!" Akibat menelan obat tanpa Air Jessie tersedak hingga terbatuk-batuk.
"Lain kali bersikap baiklah nyonya"
Brak!
"Hiks!"
Jessie meringkuk di antara lutut nya kapan semua ini berakhir?.
Semua ini karena Arga, tidak! Bukan hanya pria itu melainkan mantan istri nya juga.
Tatapan Jessie menggelap kenapa hanya dia yang di hukum? Kenapa Arga dan Serina tidak mendapatkan hukuman juga?.
Pria yang menghancurkan kehidupan nya dan wanita itu yang telah merebut anaknya, Jessie tidak akan memaafkan mereka berdua.
"Jika aku tidak bisa mendapatkan anak ku, maka kalian juga tidak bisa"
.
.
Situasi macam apa ini?
Serina duduk di sofa yang bersebrangan dengan Arga, di sebelahnya ada Sean yang tengah menyenderkan kepalanya pada Serina.
Sedangkan di seberang sana ada Arina yang masih tidak bergerak dari duduknya karena merasa tegang.
Ayah dari Sean menggendong nya tadi lalu membawa nya duduk di pangkuan pria itu, jika paman Malvin dia sudah biasa tapi ini adalah Ayah Sean.
Ayah Ideal yang menjadi targetnya untuk sang ibu.
"Ada apa nak?" Arga merasakan bagaimana Arina yang duduk tegang di atas pangkuannya.
Serina menatap putri nya, raut wajah mungil itu terlihat sekali tidak nyaman.
"Arina, kemari" panggil Serina pada sang putri.
Arina tidak langsung beranjak, lebih dahulu ia mendongak ke arah Arga yang tengah menatapnya lembut.
"Paman Arina ingin Bunda"
Melihat wajah bersemu malu milik Arina membuat seorang Arga tidak tega dibuatnya.
__ADS_1
Mengusap lembut pucuk kepala Arina, kemudian Arga mengijinkan gadis itu pergi.
"Pergilah"
Arina turun dari pangkuan Arga kemudian berlari menuju ibunya.
"Mm... Sepertinya Sudah terlalu lama kami di sini, jadi saya dan Arina akan pulang sekarang" Serina berbicara tanpa menatap kearah Arga.
Di sebelah nya ada Sean yang menatap nya tidak rela.
"Kenapa cepat sekali? Di luar sedang hujan tunggu lah di sini sebentar lagi" Arga berbicara dengan tenang, memanggil asisten nya dan menyuruh pria berkacamata itu menyiapkan kamar untuk Serina.
Hujan?
Serina menengok kearah jendela yang menampilkan bagaimana hujan turun begitu derasnya, bagaimana bisa dia tidak menyadari hal ini?
"Sebaiknya kalian istirahat sejenak" Arga bangkit dari duduknya kemudian berlalu menuju kamarnya.
Serina tertegun Arga benar-benar menggunakan bekas kamar nya dulu.
.
Rintikan ribuan hujan terlihat begitu jelas dari jendela, bisa dilihat bagaimana air menetes mengalir melewati kaca.
Serina menyentuh embun embun yang timbul karena hujan, bagaimana bisa dia pulang jika cuacanya buruk seperti ini?.
Serina kembali duduk di atas kursi kayu yang menghadap kearah jendela.
Di ranjang sudah terisi Arina dan Sean yang tengah meringkuk pulas, akibat dingin nya cuaca saat ini membuat kedua bocah itu cepat mengantuk.
Klek!
Serina menolehkan kepalanya ke belakang.
Melirik kearah ranjang Arga tersenyum hangat melihat bagaimana Kedua putra-putri nya tertidur dengan pulas.
"A-ada apa?" Serina gugup apalagi mereka hanya berduaan saja, kerena Arina dan Sean tertidur.
Arga berjalan menghampiri Serina yang tengah duduk di kursi kayu, pria itu tidak bersuara dia hanya berdiri di samping Serina menatap kearah jendela yang menampilkan rintikan air hujan.
"Sudah lama sekali" ucapnya
Serina tidak menjawab
"Bagaimana sulit nya saya melakukan banyak hal untuk sampai di sini" Serina tidak mengerti hal Sulit apa yang Arga bicarakan.
"Tinggal sedikit lagi saya bisa mendapatkan nya kembali"
Pembicaraan yang tidak nyambung Serina sama sekali tidka mengerti arah pembicaraan Arga.
Sret
Arga menoleh saat Serina bangun dari duduknya.
"A-aku ingin pergi ke toilet" ucapnya.
Grep!
Cekalan di tangan menghentikan langkahnya, Serina menatap Arga bertanya apa maksud pria itu.
"Akh!"
Bruk!
__ADS_1
Serina memekik kecil ketika dengan tiba-tiba Arga menarik tubuhnya mendekat.
Keduanya kini saling menempel Arga memeluk pinggang milik Serina erat sedangkan wanita itu menahan tubuh Arga dengan kedua tangannya agar tidak terlalu menempel.
"Lepaskan aku!" Desisnya marah
Arga Tidak bergeming tatapan pria itu menghujam Serina dalam.
Serina terlihat panik sesekali dia melirik ke arah Arina dan Sean kala-kalau saja kedua bocah itu bangun dan melihat posisi kedua orang tuanya.
Wajah ini yang sangat Arga rindukan, sudah sejak lama ia ingin menatap wajah Serina sedekat ini lagi.
"M-mas"
Ah! Panggilan itu Arga juga merindukan nya, dulu hampir setiap saat Arga mendengar panggilan Serina hanya untuk nya.
Serina panik saat wajah Arga bergerak mendekati nya.
Dorongan di tubuh Arga semakin kuat karena Serina berusaha mendorong pria itu sekuat tenaga.
Cup!
Deg!
Serina mematung saat merasakan bibir lembab Arga membungkam bibirnya.
Melihat tidak ada penolakan dari Serina, Arga langsung ******* bibir manis milik Mantan istrinya.
Serina terdiam membiarkan Arga mencium nya begitu saja, tak dirasa tiba-tiba saja air matanya mengalir begitu saja.
Lagi-lagi Arga menganggapnya remeh.
Serina menarik tubuhnya dari Arga.
Plak!
Nafasnya memburu Antara rasa marah dan rasa benci bercampur begitu saja, melihat Arga yang selalu berhasil menyakitinya Serina sangat lelah.
Arga menyentuh pipinya yang terasa panas, emosinya naik ke ubun-ubun baru saja akan meluapkan kemarahannya pada Serina jika saja dia tidak melihat air mata wanita itu mengalir deras.
"Kamu selalu seperti ini Mas" Serina mengusap air matanya.
"Apa aku terlihat seperti wanita tidak punya harga diri di depan mu?"
Arga terdiam, dia tidak bermaksud seperti itu.
"Hubungan kita sudah berakhir Mas, berhenti lah menyakiti ku seperti ini" Serina tidak mengerti dengan sikap Arga yang selalu berubah-ubah, dia juga sangat membenci dirinya yang tidak bisa membenci Arga sepenuhnya.
Serina mundur lalu berbalik hendak meninggalkan Arga begitu saja, tapi pria itu tidak akan membiarkan Serina nya semakin jauh darinya lagi.
Sret
Grep!
Arga menarik Serina kedalam pelukannya mendekap wanita itu di dalam pelukan hangat nya.
Serina menangis dalam pelukan mantan suaminya itu.
Cup
Kecupan kecupan kecil Arga berikan di pucuk kepala milik Serina, mengusap punggung wanita itu menenangkan nya.
"Maaf"
__ADS_1
TBC.....