Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
34. Pindah


__ADS_3

Dengan menggeret sebuah koper besar berwarna hitam di sebelah tangannya,Serina menatap bangun gedung tinggi menjulang di hadapannya.


"Kamar nomor 1707?" Gumamnya sambil melihat kartu akses di tangan nya.


Pagi tadi saat Serina merapikan barang nya tidak sengaja dia menjatuhkan sebuah kartu akses yang beberapa waktu lalu di berikan pak Handoko sebagai tanda terimakasih.


Sengaja tidak membawa Arina terlebih dahulu memang Serina sengaja memastikan kebenaran kartu akses tersebut terlebih dahulu.


Seorang resepsionis menyambut kedatangan Serina.


"Kamar nomor 1707" ucap Serina.


Wanita resepsionis itu tampak terkejut, kemudian dengan tergesa-gesa ia menunjukkan jalan pada Serina.


"Semoga betah Nyonya" sahut nya sambil menunduk hormat.


Membuat Serina yang melihat hal itu menjadi tidak enak.


Pintu lift transparan yang membuat Serina bisa langsung melihat sekitarnya terbuka wanita satu anak itu bergegas memasuki lift sebelum tertutup.


Saat lift berjalan naik Serina tidak henti-hentinya terkagum-kagum pada interior apartemen ini, di dominasi dengan warna abu-abu membuat kesan anggun dan menawan.


Ting


Saat pintu lift terbuka Serina langsung keluar dari sana. Lagi-lagi ia terkejut mengetahui lantai kamar yang di hadiahkan untuk nya.


Sebuah lantai yang hanya terdapat dua buah pintu dengan nomor 1707 dan 7017.


Dahinya berkerut heran seperti nya lantai ini di buat dengan nomor khusus.


"Apa benar ini milikku?"


.


.


Di tempat yang lain Arga tersenyum senang saat mendengar perkataan dari pegawainya yang ia tugaskan mengawasi Serina.


Akhirnya mantan istrinya itu menginjakkan kakinya di tempat yang seharusnya, itu berarti rencana yang sudah ia buat berjalan dengan lancar.


"Welcome to my world, Serina"


.


.


"Aku pulang"


"Mbak!"


Rasa lelahnya hilang begitu saja ketika netra nya menangkap wajah mungil putri kecilnya.


"Sayang peluk bunda" Serina merentangkan kedua tangannya seolah-olah memeluk Arina.


Balita mungil itu merangkak mendekati sang ibu.


"Astaga bunda rindu Arina"pelukannya erat.

__ADS_1


"Bagaimana Mbak?"


"Sepertinya pak Handoko tidak berbohong, besok kita bisa pindah ke sana" sejak pertemuan nya dengan Malvin hari itu Serina sama sekali tidak bisa berfikir jernih mengenai kedua orangtuanya.


"Malam ini aku akan bilang pada ayah dan ibu, mengenai kepindahan kita"


Naura tidak tau harus menjawab apa dia hanya mengikuti keinginan Serina saja.


"Kalau begitu aku akan menyiapkan pakaian kita"


Serina menggeleng, "pakaian mu dan Arina saja, Mbak sudah membawa pakaian Mbak tadi"


"Baiklah "


Waktu makan malam telah tiba selesai membantu memasak di dapur Serina bergabung dengan keluarga nya untuk menyantap makanan malam.


Suasana terasa agak canggung apalagi setelah kejadian Dinda membentak Serina tadi.


Lima belas menit di lalui dalam keheningan keluarga tersebut telah menyelesaikan makan malam mereka.


Bahkan Arina yang biasanya selalu berceloteh tentang banyak hal pun hanya bergumam kecil saja, seakan tau kondisi keluarga nya yang canggung.


"Ayah, ibu"


Bram menatap Serina, sedangkan Dinda hanya melirik sekilas entah karena merasa tidak enak atau memang wanita paruh baya itu malas meladeni putri nya.


"Aku akan pindah bersama Naura dan Arina besok pagi"


Tak!


Bram meletakkan sendok perak nya di atas meja dengan nyaring, ketika mendengar perkataan Serina.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Aku ingat jika pak Handoko memberikan sebuah apartemen untuk ku, aku rasa kami bisa tinggal di sana apalagi kedai kami tidak jauh dari sana" jelas Serina tidak langsung menyebutkan jika ia tidak nyaman tinggal di rumah orangtuanya.


"Padahal ayah mengira setelah kebakaran yang kamu alami, kalian akan menetap lebih lama di sini, tapi ternyata ayah salah" Bram merasa jika Serina tidak nyaman tinggal bersama nya, tapi dirinya selalu bertanya-tanya apa penyebabnya? Bukankah mereka sudah bersikap baik pada Serina?.


Tanpa sepengetahuan siapa pun Bram melirik tajam pada sang istri yang hanya menunduk di tempat nya.


"Maaf kan Serina ayah, begini saja kami akan pergi Minggu depan saja" sahut Serina merasa tidak enak pada sang ayah yang berusaha memperbaiki hubungan mereka.


"Pergilah!"


Semua orang terkejut saat Dinda tiba-tiba menyahut dengan lantang.


"Apa yang kamu katakan?!" Bram berdesis marah.


Bahkan Arina yang berada di pangkuan Naura menyembunyikan wajahnya pada pelukan Naura saat merasakan ketidak nyamanan yang terjadi di sekelilingnya.


Dinda terlihat gugup karena kecerobohan nya dia tanpa sadar berteriak di hadapan semua orang.


"B-bukan begitu, M-maksud ku adalah Dengan Serina tinggal disini putri kita tidak akan merasa nyaman suamiku " tatapannya pada sang suami yang masih menatap nya tajam.


"Selama ini putri kita selalu hidup dengan mandiri, pasti tidak nyaman kan harus tinggal bersama dengan orang dekat namun terasa asing?" Kali ini tatapan nya melembut pada sang putri.


"Aku tau selama ini kamu menyuruh Serina tinggal disini untuk mengawasinya dari pria tidak bertanggung jawab kan?, Tapi dia putri kita yang sangat kuat, di luar sana aku yakin putri kita bisa mendapatkan kebahagiaan nya sendiri"

__ADS_1


Mendengar ucapan istrinya Bram menghela nafas panjang, benar! Selama ini Serina selalu kuat dalam menghadapi cobaan hidupnya yang sulit.


Tatapan nya terarah pada Serina yang tengah menundukkan kepalanya menahan air mata.


Memang benar dia tidak ingin Serina pergi dari rumah karena khawatir jika Serina bertemu dengan pria yang salah lagi, dia tidak ingin Serina bertemu dengan Arga lainya diluar sana.


"Ibumu benar nak, ayah tidak bisa terus menahan mu disini"


Serina menatap ibu dan ayahnya bergantian dengan sendu, apa yang di pikirkan tentang kedua orangtuanya? Mereka menginginkan yang terbaik untuk nya, tapi bisa-bisanya dia memikirkan jika mereka adalah dalang di balik semua insiden yang terjadi belakangan ini?.


"Tapi ingat satu hal, jangan percaya pada pria seperti mantan suami mu"


Tanpa kata-kata Serina berlari kedalam pelukan sang ayah.


"Ayah" tangisannya tidak bisa di tahan lagi.


Bram memeluk erat putri semata wayangnya, "putri ayah sudah besar, huh?" Ucapnya si sela-sela pelukan.


"Jangan menangis"


Semua orang yang melihat itu tidak bisa menahan rasa haru mereka bahkan Naura berusaha menahan Arina yang ikut menangis ketika melihat ibunya menangis.


Dalam hati Dinda merasa lega melihat suami dan putri nya bisa berdamai seperti itu.


'maafkan ibu' gumamnya dalam hati.


.


.


Sekarang Serina bersama Naura dan putri nya bersiap menjelajahi apartemen yang akan mereka huni.


Setelah perpisahan yang di selingi tangisan haru akhirnya mereka ada di gedung 20 lantai yang akan menjadi tempat mereka berteduh entah sampai kapan.


Melakukan beberapa kali pengecekan, lalu pegawai Apartemen membawakan koper mereka keatas.


"Tunggu kalian mau kemana?" Serina heran saat pegawai tersebut tidak masuk lift yang sama dengan mereka bertiga.


Pegawai itu tersenyum canggung sebelum menjawab pertanyaan Serina yang langsung membuat Wanita tersebut tercengang.


"Lift tersebut hanya di khususkan untuk orang-orang penting saja Nyonya"


"Apa?"


"Dan anda adalah salah satunya"


Serina menatap sekelilingnya tidak percaya, dari awal memang di sudah merasa ganjil tapi entah mengapa dia tetap menginjakkan kakinya di sini.


"Sepertinya hidup ku tidak akan mudah mulai sekarang"


TBC.....


mulai dari sini saya peringatkan ya cerita ini g cocok bagi pembaca yang ga suka cewek lemah dan bodoh maybe?


dari sebagian pembaca ada yang komentar tentang yang terlalu ginilah bego lah bodo lah,


emang aku tipe yang kalo bikin cerita atau baca cerita itu g suka cewek nya terlalu mandiri atau kuat, karena menurut ku ga cocok gitu pemeran utama cowok sama cewek sama-sama kuat. jatuhnya jadi sama-sama keras kepala.

__ADS_1


jadi saya tegaskan lagi ya kalo kalian cari cerita yang ceweknya kuat itu bukan di sini. karena saya tipe author yang suka cerita ceweknya nyesek dulu baru happy ending.


ok segitu aja terimakasih yang sudah bantu ramaikan cerita ini.😘😘


__ADS_2