
Malam ini Sean tidur di kamar sang ayah Entah mengapa Sean ingin sekali tidur bersama ayahnya malam ini.
Arga tentu merasa senang ada baiknya juga dia hidup seperti ini sekarang, tidak ada rasa canggung lagi antara dia dan Sean.
Sean menutup matanya menikmati usapan lembut di punggung nya, Arga sendiri lebih memilih menyenderkan tubuhnya ke belakang dengan Sean yang memeluk nya.
"Ayah..." Panggil Sean membuat Arga yang tengah memejamkan matanya kembali terbuka.
"Hm?"
Sean mendongak menatap sang ayah.
"Bagaimana menurutmu paman Malvin?"
Arga menghentikan usapannya ketika mendengar pertanyaan dari Sean.
"Kenapa?"
Sean menggeleng bocah itu kembali memeluk ayahnya, Arga tau Sean pasti ingin membahas mengenai hubungan Malvin dan Serina.
Arga tersenyum tipis, mengangkat tangan nya untuk mengusap rambut lebat milik putra nya.
"Bagaimana menurutmu?"
Sean kembali mendongak, lalu dia mulai menerawang jauh bagaimana Malvin di ingatan nya.
"Paman Malvin baik sangat baik, dia juga menjaga ibu dengan sangat baik, ibu terlihat nyaman Bersama nya, aku tidak ingin egois dengan memaksa ibu untuk kembali ke kehidupan kita ayah" Sean menatap sendu sang ayah, bersama Malvin dia tau betul jika seseorang tidak di nilai dari depannya saja.
Sean takut jika Ayah nya merasa tersinggung dengan perkataan nya.
Tapi ternyata Ayah nya membalasnya dengan senyuman lebar.
"Kamu benar nak, ayah juga tidak ingin menjadi egois dengan mengambil ibu dari cinta nya" jawab Arga pada sang Putra.
Sean semakin mengeratkan pelukannya, "Apa kita akan berpisah lagi dari ibu?"
Takut, Kekhawatiran seorang anak yang baru saja bertemu dengan ibu kandungnya, mungkin itulah yang di rasakan Sean, anak itu takut jika dia kembali berpisah dari orang yang selama ini ia cari.
Arga mengangkat wajah Sean agar melihat nya.
"Tidak nak, dia adalah ibumu dan akan terus seperti itu, hanya ayah yang akan pergi" Arga bersuara lirih, dapat dilihat dengan jelas bagaimana mata itu berkaca-kaca.
Sean menggeleng cepat
"Ayah tidak boleh pergi!" Sean menolak dengan tegas, se sayang apapun Sean pada ibunya, tetap saja Arga adalah kehidupannya.
"Sst,... Dengarkan ayah"
Sean berhenti menangis kemudian menatap kembali ayahnya.
"Ayah tidak akan pergi jauh, lagi pula hanya sebentar saja, setelah semua selesai ayah akan kembali pada kalian"
Sean tidak bersuara dia hanya mendengar kan ucapan ayahnya tanpa mau menjawab.
Arga mengusap wajah tampan Putra nya.
"Karena itu, tolong jaga ibu selagi ayah pergi"
__ADS_1
Grep
Arga menahan tangisnya melihat bagaimana Sean begitu tersiksa dengan keadaan mereka sekarang.
Pelukan itu begitu eratnya sampai mereka sama-sama tertidur ke alam mimpi.
.
.
Beberapa bulan berlalu dengan cepat dan kondisi Arga menjadi lebih baik dari yang di perkirakan, Serina tidak tau pasti penyebab Arga selalu bersemangat dalam kesembuhan nya.
Namun ada beberapa hal yang membuat Serina terluka, Sikap Arga.
Arga tidak lagi bersikap arogan dan jahat walaupun sifatnya masih dingin seperti bawaan nya dari dulu, tapi Serina merasa jika Arga membatasi hubungan mereka berdua.
Serina tidak mengharapkan apapun dari Arga, dia hanya ingin pria itu cepat sembuh sehingga bisa kembali beraktivitas seperti sediakala, tapi sayangnya semakin dekat Arga dengan kesembuhan maka semakin jauh jarak antara hubungan mereka.
Arga memang menerima bantuan nya, tapi pria itu tidak pernah meminta bantuan jika Serina tidak menawarkan diri.
Saat ini Serina tengah memandangi Arga yang tengah mengajari Sean mata pelajaran yang bocah itu tidak mengerti.
Pria itu tidak lagi mengenakan kursi roda melainkan tongkat untuk membantu nya berjalan.
Tak
Bunyi benturan gelas kaca yang serina taruh di atas meja mengalihkan perhatian Sean dan Arga.
"Ibu!" Sean menyapa Ibunya, Serina membalas dengan senyuman, kemudian tatapan nya beralih pada ayah putra nya.
Arga hanya menatap nya sambil tersenyum tipis.
"Lebih baik" jawab Arga seadanya.
Serina mendengus padahal dia berusaha memulai pembicaraan dengan Arga.
"Terimakasih telah merawat ku Serina"
Perkataan Arga barusan entah mengapa membuat Serina sedikit merasa janggal.
"Itu bukan apa-apa"
Ting!
Lagi-lagi pembicaraan mereka terhenti karena bunyi bel apartemen nya, Serina kemudian berjalan kearah pintu untuk melihat siapa tamunya.
Klek
Ternyata Hans yang berkunjung ke apartemen nya.
"Sudah lama sekali tidak bertemu nyonya" sapa Hans pada Serina.
Wanita itu kemudian mempersilakan Hans masuk, lalu dia membiarkan Arga dan Hans berbincang selagi ia membuat minuman untuk Tamunya.
Dari dapur Serina bisa mendengar samar-samar pembicaraan mereka, dari yang ia dengar adalah Hans ingin meminta maaf.
Arga hanya menatap Hans tanpa berkata apa-apa, sungguh kedatangan sekretaris nya ke sini membuat nya sedikit bingung.
__ADS_1
"Saya sadar Tuan, seharusnya saya ada di saat anda kesusahan seperti ini, bukannya pergi dan mencari pekerjaan baru sedangkan orang yang sangat berjasa dalam hidup saya sedang kesusahan" jelas Hans mengatakan maksud kedatangan nya menemui Arga.
Arga tidak merasa jika Hans salah, karena memang betul Arga lah yang meminta Hans mencari pekerjaan lain, tapi kenapa pria ini bereaksi seperti ini?
"Sudahlah, jika kamu terus bekerja dengan saya pun tidak akan ada hasilnya" jawab Arga.
Benarkan? Hans punya keluarga sendiri dia perlu uang untuk menghidupi keluarganya, sedangkan Arga tidak lagi bekerja karena kondisinya sekarang.
Hans menggeleng cepat
"Saya akan membantu anda membangun kembali perusahaan Tuan" jawab Hans bersungguh-sungguh.
Jika saja istrinya di rumah tidak mengingatkan nya tentang kebaikan Arga selama ini, mungkin Hans akan lupa siapa yang telah membuat anak yang bahkan tidak lulus SMA menjadi seperti sekarang.
Arga mengerti alasan Hans, kedatangan sekretaris nya itu bertepatan dengan rencana yang selama ini ia buat diam-diam.
Mungkinkah Tuhan mengirim Hans untuk membantu nya?
"Kalau begitu, mohon bantuannya sekretaris Hans" Arga mengulurkan tangannya di depan Hans.
Pria berkacamata itupun langsung menyambut nya dengan sangat lapang.
"Terimakasih banyak Tuan"
Arga kembali kedalam mode serius setelah jabatan tangan mereka terlepas.
"Kamu ingat PT. WA di pusat kota A?" Arga bersuara.
Hans berfikir sejenak kemudian dia teringat dengan perusahaan kecil yang hampir bangkrut itu, beberapa tahun lalu Arga membeli nya agar perusahaan tersebut bisa menjadi cabang untuk perusahaan Wahyutama.
Tapi sayang karena banyak hal yang Arga urus perusahaan itu terbengkalai begitu saja.
"Saya ingat"
"Perusahaan itu akan menjadi batu loncatan untuk kita membangun kembali perusahaan Wahyutama"
Hans tidak yakin bukankah seluruh aset milik Arga di sita? Lalu bagaimana bisa perusahaan itu bebas?
Kemudian Hans menatap Arga tidak percaya, benar! Bagaimana mungkin perusahaan itu di sita saat Arga membelinya bukan atas nama dirinya.
"Anda sudah menyiapkan semua ini sendiri Tuan?" Hans berdecak kagum dengan cara berfikir Arga yang kelewat jenius.
"Hanya untuk antisipasi"
"Lalu kapan kita akan mengunjungi perusahaan itu?.
Arga mengambil nafas panjang keputusan ini adalah yang terbaik untuk semuanya, Arga sudah memikirkan segala konsekuensinya.
"Minggu depan kita pergi"
"Pergi?"
Arga dan Hans menoleh kearah Serina yang baru saja kembali dari dapur.
"Kamu ingin pergi kemana?"
Mungkin sekarang adalah waktunya untuk jujur tidak akan ada lagi hal yang bisa dia sembunyikan dari Serina.
__ADS_1
TBC .....