Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
46. Kagum


__ADS_3

Arina masuk ke dalam kelas seperti biasa, jangan pikir hanya karena perkelahian anak-anak kemarin dia akan mengurung diri dan tidak ingin pergi ke sekolah.


Gadis kuncir kuda itu langsung duduk di tempatnya mengabaikan keadaan sekitar yang tengah memandang ke arahnya.


Belum sempat Arina menormalkan nafasnya tiba-tiba dia di kejutkan dengan ke datangan Sean di depan mejanya.


Arina berdiri dengan was-was tidak menampik kemungkinan jika Sean akan melukainya lagi nanti.


Sean mengulurkan sebuah susu kotak rasa Cokelat di hadapan Arina.


Gadis dengan luka di pipi itu mengerenyit heran, kenapa tiba-tiba Sean memberikan susu untuknya.


"Maaf kan aku"


Belum berhenti keterkejutannya Arina lagi-lagi di buat heran dengan permintaan Maaf Sean, semua orang tau jika bocah lai-laki di hadapannya ini tidak pernah mengucapkan kata-kata itu.


"Semalam ayah memarahiku karena berkelahi dengan seorang gadis, dia akan menghukumku jika aku tidak meminta maaf pada mu, akuĀ  juga merasa bersalah karena itu Maafkan aku", Sean menundukkan kepalannya di depan semua anak kelas.


Arina dan teman-teman yang melihat hal itu terkejut setengah mati, untuk pertama kalinya Sean berkata panjang lebar seperti tadi, bahkan bocah itu minta maaf sambil menundukkan wajahnya, bukan Sean sekali.


Gadis itu tidak langsung menjawab, lalu Arina menerima pemberian Sean.


"Ayah mu pasti orang yang hebat" Anehnya kata itulah yang pertama kali terucap dari bibir Arina, bagaimana tidak?


Seorang orang tua tunggal jarang-jarang bisa mengendalikan anak mereka, termasuk Sean. Semua orang tau jika bocah itu tidak bisa di kendalikan oleh siapapun, tapi dengan mudah ayah nya bisa membuat Sean meminta maaf seperti ini.


Ayah Sean hebat


Tiba-tiba saja sekelebat pikiran Absurd hinggap di kepala Arina.


Bagaimana jika Ayah Sean menikah dengan Bunda nya?


Serina menggelengkan kepalanya, mencoba menghapus pikiran yang tiba-tiba saja melintas di kepalanya, bagaiman abisa di langsung menyetujui Ayah Sean dan ibunya bersama? padahal Malvin yang jelas-jelas sangat menyayangi ibu dan dirinya saja lewat dari kriteria calon ayahnya.


"Ayah ku memang hebat" Jawaban dari Sean langsung menyadarkan Arina dari fantasi gilanya.


Tiba-tiba saja dia merasa kikuk, "Terimakasih, lain kali jangan suka seenaknya" Sahut Arina.


Sean tersenyum, dalam pengelihatan Arina bocah laki-laki itu memang tersenyum seperti biasa tapi jika di teliti lagi Senyum Sean mengandung hal yang lain.


"Mau jadi teman ku" Sean menyodorkan tangannya pada Arina, gadis itu menatap Sean sejenak sebelum menerima uluran tangan Sean.


Anak gadis di kelas 1A menjerit tidak terima, walaupun Sean nakal banyak sekali yang ingin berteman dengannya.


'Selesai' Batin Sean tersenyum senang.


.


.


Sean dan Arina benar-benar berteman seperti perkataan mereka beberapa hari yang lalu.


Mereka yang biasanya selalu sendirian kini terus menempel tak terpisahkan, Sean juga sekarang tidak lagi berkelahi dengan anak-anak lain, jika mereka mengejek Sean bocah itu hanya akan menanggapi dengan ancaman.

__ADS_1


Waktu nya pulang sekolah Sean dan Arina duduk di bangku tunggu, jika biasanya Kak Naura akan menjemput nya atau Paman Tampan yang akan menjemputnya, kali ini sepertinya Arina harus menunggu lebih lama.


"Bagaimana ibumu?"


Arina menoleh pada Sean.


"Kenapa tiba-tiba bertanya tentang ibu ku?" Tanya Arina tidak mengerti.


"Aku tidak punya ibu, makanya aku penasaran rasanya memiliki seorang ibu" jelasnya


Arina mengangguk paham


"Bunda sangat baik, walaupun terkadang bunda suka marah tapi bunda tidak pernah memukul atau membentak, semua keperluan ku juga selalu di penuhi oleh nya jadi aku tidak perlu melakukan apapun, karena bunda sudah melakukan semua nya untuk" binar-binar bahagia terpancar di wajah Arina.


Terlihat sekali jika gadis itu sangat menyayangi sang ibu.


"Lalu kamu? Bagaimana rasanya memiliki ayah?" Tanya Arina balik


Sean menatap Arina lekat.


"Jika kamu punya ayah kamu tidak perlu khawatir apapun di dunia ini" sahutnya.


Membuat Arina yang mendengar hal itu terdiam.


"Apa ayah mu sehebat itu?" Arina penasaran, ingin sekali bertemu dengan sosok yang di panggil ayah oleh Sean.


"Tentu! Jika ayah ku dan ibu mu menikah seperti nya akan seru" seru nya senang.


Yang dia dengar dari teman-teman dan guru-guru di sekolah Ayah dari Sean bernama Arga Wahyutama seorang pimpinan dari perusahaan besar yang sengat terkenal, memiliki seorang ayah yang seperti itu pasti sangatlah menyenangkan.


Tapi untuk apa senang jika tidak bahagia?


Arina menatap balik Sean, membuat bocah lelaki tersebut mengerut heran.


Sean buktinya, ayah nya tidak pernah datang atau mengantar jemput nya selama di sekolah, pasti Sean hanya bahagia dengan kemewahan yang dia punya tidak dengan lainnya.


"Ada apa?"


Arina menggeleng


"Orang tua kita tidak bisa bersama" jawab Arina


"Kenapa?" Nada suara Sean sedikit berubah ada ketidaksukaan yang terdengar dari nada bicaranya.


"Itu...-


"Sean!"


Arina batu saja akan menjawab pertanyaan Sean sebelum sebuah suara memotong ucapan nya.


Deg!


Gadis kecil itu tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya ketika seorang pria dewasa menggunakan jas berwarna hitam datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Ayah"


Lagi-lagi Arina terkejut


"Ayah?"


.


.


Serina menatap putri nya heran malam ini tidak biasanya gadis itu diam saja tanpa bersuara jika bersama dengannya.


"Ada apa sayang?"


Arina menatap sang ibu dengan mata bulatnya.


"Tidak ada"


Helaan nafas lirih terdengar jika sudah seperti ini pasti Arina sedang memikirkan sesuatu yang tidak biasa.


"Baiklah sekarang kamu pergi ke kamar, ini sudah malam nak"


Dengan patuh gadis itu melangkah kan kakinya menuju kamar nya sendiri, dalam pikirannya banyak hal yang ingin di sampaikan pada ibunya tapi dia tidak berani.


Pagi-pagi sekali Arina sudah siap dengan keperluan sekolah nya dengan di antar oleh paman Malvin dia akhirnya sampai di sekolah.


"Terimakasih" ucap Arina pada Malvin yang memunculkan kepalanya dari jendela mobil.


"Sama-sama cantik! Belajarlah yang rajin ya?!"


Arina mengangguk kemudian berlalu menuju dalam sekolah, tapi sebelum dia masuk sebuah mobil sedan mewah terparkir di halaman sekolah nya tempat yang sebelumnya di gunakan Malvin untuk memarkirkan mobilnya tadi.


Sean turun dari mobil tersebut tapi yang membuat nya terkejut Sean tidak turun sendiri melainkan bersama dengan pria dewasa yang kemarin ia lihat menjemput Sean.


Rasa terkejutnya hilang saat Sean melambaikan tangan pada nya.


"Selamat pagi" sapa nya pada Arina.


Gadis mungil itu dengan malu-malu membalas sapaan Sean sesekali melirik kearah Arga.


"Siapa namamu?" Arina tersenyum senang saat pria yang ia Kagumi menyapa nya dengan ramah.


"Arina!" Jawabannya penuh semangat.


Arga terkekeh geli melihat hal itu, seperti nya tidak akan sulit jika ingin mendapatkan hati gadis kecil ini.


"Baiklah senang bertemu dengan mu Arina, Tolong jaga Sean ya?" Arga mengusap pucuk kepala Arina lembut.


"Baik!" Jawabnya.


Seharusnya bukan Arina yang menjaga Sean, melainkan seseorang yang harus menjaga Arina dari kedua pria berbeda umur itu.


TBC......

__ADS_1


__ADS_2