
Serina sempat mengira jika kejadian tadi malam hanyalah sebuah mimpi buruk yang menimpanya, tapi Serina menyadari jika semua itu bukanlah sebuah mimpi karena ketika dia bangun dia berada di tempat yang bukan kamarnya tanpa pelukan seorang Arga.
Serina meringis dalam hati kapan terakhir kali Arga memeluknya dengan hangat ya?
Tidak ingin membuang waktu Serina harus menyiapkan sarapan pagi untuk semua orang, turun dari kasur Serina berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tidak sampa 15 menit akhirnya Serina keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar.
Karena masih terlalu pagi untuk bangun suasana rumah terasa sangat sepi biasanya di jam segini hanya dia dan pembantu yang biasa membantu nya menyiapkan sarapan yang sudah bangun dan sibuk berkutat di dapur, tapi anehnya dia sama sekali tidak melihat bibi yang biasa membantunya itu.
Serina mengecek langsung ke kamar yang biasa digunakan oleh Bibi, kosong bahkan kamarnya seperti tidak di tempati sejak semalam padahal yang membantunya menyiapkan makanan istimewa untuk kejutan hari jadi pernikahannya adalah Bibi tapi kemana perginya wanita paruh baya itu?.
"Nyonya ada yang bisa saya bantu?"
Serina menoleh saat suara supir pribadi suaminya berada di belakangnya.
"Ah! bukan apa-apa pak Toni, saya hanya mencari Bibi surti ada dimana dia sekarang?" Wajah Serina terlihat khawatir walau hanya beberapa hari bersama mereka berdua sudah menghabiskan waktu memasak berbagai macam hidangan bersama-sama.
Melihat wajah majikanya yang terlihat murung pak Toni merasa tidak enak ingin memberitahu kabar buruk tentang kepergian bu Surti.
"Pak! ada apa? bapak tau kemana perginya bu surti?" Tanyanya heran saat pak Toni hanya tertunduk diam saja dari tadi.
Mau tak mau sepertinya Pak Toni tidak bisa menyembunyikannya.
"Non, Bu Surti sudah pergi dari rumah ini sejak semalam"
Serina terkejut mendengar perkataan Pak Toni, kenapa tiba-tiba?
"Maksud bapak? tapi kenapa Bi Surti pergi? Bukanya kemarin baik-baik saja Pak?!" Serina tidak bisa menahan air matanya, walaupun di awal-awal Bi Surti bekerja untuk menggantikannya memasak agar tubuhnya tidak kelelahan Dia merasa kesal, tapi semua itu berubah saat Bibi yang di pekerjakan oleh Arga di rumahnya memperlakukannya lebih baik dari orang tuanya sendiri.
Serina sama sekali tidak pernah menyinggung atau berperilaku tidak sopan pada Bi Surti lalu mengapa wanita yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri itu pergi meninggalkannya tanpa pamit?.
"Lebih baik Non langsung tanya Pak Arga Non, karena semua itu perintah dari pak Arga sendiri"
Menatap pak Toni sebentar kemudian Serina berlalu dari sana dengan perasaan yang karu-karuan, apa maksud dari Pria tidak berkomitmen itu? setelah memperkerjakan Bi Surti tanpa memberitahunya sekarang dia memecat Bibi itu tanpa memberitahunya juga.
__ADS_1
Tok! Tok!
Tidak berselang lama pintu kamar terbuka menampilkan Arga dengan wajah khas bangun tidur yang tidak bisa menutupi ketampanannya.
Pria itu membuka pintu kamar dengan lebar seolah-olah memberitahu pada Serina jika di dalam ada wanita yang sangat berharga yang dia peluk semalaman.
"Kenapa Mengetuk pintu pagi-pagi sekali?! bagaimana jika Jessie terbangun huh?!" Walaupun habis beristirahat sepanjang malam pun sepertinya emosi Arga tidak bisa hilang jika berhadapan dengan Serina.
"Kenapa Mas memecat Bu Surti? apa kesalahannya Mas? lagipula kamu memecat Bibi tanpa sepengetahuan ku! kamu pikir aku ini siapa?" Air matanya mengalir tanpa bisa di cegah, selalu saja seperti ini setelah Arga memberikan kenyamanan yang membuatnya bergantung, laki-laki itu akan mengambilnya dengan paksa tanpa peduli dengan perasaanya.
"Apa masalahnya?"
Serina mendongak tidak percaya pada Arga apa maksud pria itu? Apa masalahnya?
Arga memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut karena tidurnya yang terganggu.
"Kamu mulai manja karena Bu Surti huh? karena kedatangannya makanya kamu jadi seenaknya saja?" Mendengar perkataan Arga membuat rasa sakit yang sudah terbuka kembali disiram dengan garam.
Secepat inikah Arga berubah?
"Mas? kamu lupa karena siapa bu surti ada di rumah ini?"
"Saya tau, karena itulah Bi Surti harus pergi dari sini"
"Maksud kamu Mas?" Serina semakin tidak paham berbicara dengan Arga.
"Mulai sekarang semua urusan dapur menjadi tugas kamu, karena Saya tidak yakin jika Wanita tua itu bisa memberikan gizi yang bagus untuk Jessie"
Serina paham sekarang, inti dari semua masalah yang terjadi pagi ini adalah karena jessie
"Bukanya itu yang kamu mau? kamu suka memasakkan? sekalian saja semua kebutuhan Jessie kamu yang urus"
Jadi sekarang statusnya bukan lagi menjadi seorang Istri dari seorang Arga Wahyutama? melainkan hanyalah seorang pelayan berkedok istri.
Jika terus berada di hadapan Arga Serina rasa dia tidak akan kuat lagi, berapa kalimat jahat lagi yang harus ia terima jika masih berada di sana, sebelum meninggalkan Arga, Serina menatap tubuh wanita yang berbaring nyaman di atas kasur yang dulu menjadi miliknya.
__ADS_1
Serina sadarlah kamu bukan lagi menjadi prioritas, sebelum semuanya semakin sulit sebaiknya batasi dirilah, agar saat semuanya sudah berakhir tidak ada rasa sakit, batinnya menjerit.
Menatap Arga dengan perasaan yang terluka tanpa kata Serina berjalan meninggalkan Arga bersamaan dengan kenangannya.
.
.
Mengurus pekerjaan rumah bukanlah hal yang sulit untuk Serina, tapi itu dulu karena sekarang ada janin yang harus ia jaga mulai sekarang dirinya tidak boleh mengerjakan berbagai pekerjaan berat.
Semula itu yang dia pikirkan karena masih ada Bi Surti yang akan membantunya, tapi semua itu pupus saat Arga sendirilah yang menyuruhnya untuk mengerjakan semuanya.
"Baby, sekarang hanya tinggal kita berdua jadi jangan rewel ya" Serina tersenyum lembut, saat menyentuh bayi di dalam perutnya dia merasa semua kesedihan yang di rasakan tadi seketika menghilang.
Setengah jam berlalu semua hidangan sudah siap tersedia di meja hanya tinggal menunggu 'Tuan dan Nyonya' untuk turun bersama menikmati hidangan yang sudah tersaji.
Benar saja Lima menit kemudian Jessie yang menggandeng lengan Arga turun dengan senyum mengembang di wajahnya.
Arga duduk di kursi utama tempat biasanya Pria itu duduk, lalu disusul oleh Jessie yang menempati kursi di sebelah kanannya, kursi yang biasa ia duduki.
Lupakan jika Jessie bisa mengambil Suami dan juga kamar nya maka Wanita itu bisa mengambil apapun.
Dengan telaten Serina menyiapkan makanan di piring Suami dan Istri barunya itu, tak lupa juga menyiapkan kopi panas untuk Arga dan Susu ibu hamil untuk Jessie.
Setelah semua selesai Serina mengambil piring dan nasi seadaanya untuk dirinya sendiri, setelah itu pergi meninggalkan meja dimana Arga dan Jessie berada.
Lebih baik dia makan di dapur dari pada harus menderita sakit perut karena bersama mereka bersua.
"Mau kemana kamu?"
Suara dingin Arga mengehentikan langkahnya sejenak, lalu berbalik "Saya akan makan di tempat seharusnya Tuan" Ucap Serina Formal, lalu melanjutkan langkahnya.
Mendengar perkataan Serina membuat Emosinya tinggi, jika Jessie tidak sedang mengandung dia akan langsung membalikan meja untuk meredamkan emosinya.
TBC.....
__ADS_1