Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
32. INSIDEN


__ADS_3

Sudah lebih dari tiga hari lamanya Serina menginap di rumah kedua orangtuanya. bahkan ia rela bolak-balik dari kedai dan rumah orangtuanya yang jaraknya tidak dekat.


Memang semuanya baik-baik saja belakangan ini tapi perasaan Serina selalu was-was ketika mengingat rumah nya sendiri.


Apalagi beberapa hari yang lalu Malvin menghubunginya dan mengatakan ada orang asing yang ingin berbicara dengannya mengenai pesanan makanan. padahal seingatnya tidak ada janji dengan siapapun.


Karena itulah hari ia berencana pulang ke rumahnya sendiri.


"Kenapa terburu-buru?"


Bram yang tengah membaca koran di ruang tamu bersuara saat putri semata wayangnya meminta ijin untuk pulang kerumahnya siang ini.


"Aku sudah terlalu lama meninggalkan rumah, ayah. perasaanku tidak enak" ucap Serina di hadapannya sang ayah.


"Minum dulu" lalu datanglah Dinda dan Naura membawakan makanan dan minuman untuk mereka semua.


"Kamu juga sudah lama tidak pulang ke rumah ayah ibu, apa bedanya?" sekarang ibunya malah ikut membela sang ayah.


Serina kebingungan mencoba mencari bantuan pada Naura tapi gadis itu hanya mengangkat bahu nya tidak tau harus bagaimana.


"Tentu saja beda Bu, sekarang aku sudah besar dan punya seorang anak. bukan lagi gadis muda yang masih berada di bawah Kungkungan orangtuanya"


Ucapan Serina seperti nya telah menyinggung perasaan ayahnya, terlihat dari pria paruh baya itu yang menaruh asal koran yang di bacanya.


"Sudah dewasa bukan berarti harus berpisah dengan orangtuanya kan? kalian tidak bisa pergi siang ini!, menginap lah sehari lalu besok pagi baru kalian bisa pergi!" final Bram tidak bisa di ganggu gugat.


Serina hanya bisa memandang punggung kedua orangtuanya yang pergi meninggalkan ruang tamu.


"Sudahlah Mbak, aku yakin Mas Malvin pasti mengawasi rumah Mbak dengan baik kok"Naura mengusap lengan Serina lembut. berusaha menenangkan wanita satu anak itu.


"Semoga saja" gumamnya.


Siang nya Serina tidak jadi pulang ke rumah nya sendiri jadi ia memutuskan untuk pergi ke kedai untuk menghilangkan stress, Arina tidak ikut karena ibu dan ayahnya masih ingin bermain dengan balita perempuan itu.


Sampai di kedai Serina langsung di sambut oleh para pekerja nya termasuk juga Naura, melihat orang-orang menghabiskan waktu makan siang di kedainya membuat perasaan Serina terobati sedikit.


.


"Bagaimana suamiku? apa beliau sudah menyelidikinya?" Dinda bertanya pada suaminya sambil menggendong Arina di pangkuannya.


Bram tidak langsung menjawab pria paruh baya itu terlebih dahulu memijit pelipisnnya yang tiba-tiba pening.


"Tenang saja mereka hanya teman untuk saat ini.." Gumamnya tidak yakin memang untuk sekarang Serina dan pria asing itu berteman tapientah sampai kapan.


"Kalau begitu kita hanya perlu menahan Serina di sini lebih lama lagi?"


"Tidak perlu, malam ini semua akan beres"

__ADS_1


.


.


Tanpa sepengetahuan siapapun sorenya Serina pergi sendiri pulang ke rumahnya sendiri untuk menemui Malvin, banyak hal yang iangin ia tanyakan pada pria itu.


Taxi yang ia tumpangi berhenti di depan rumahnya setelah membayar ongkos Taxi Serina bergegas menuju rumahnya, memeriksa kalau-kalau saja barang-barangnya ada yang hilang.


Setelah hampir setengah jam lamanya mengecek setiap sudut ruangan Serina tidak melihat adanya tanda-tanda barang hilang, jangan kan barang hilang bahkan Serina tidak melihat tanda-tanda orang masuk kedaalam rumahnya.


"Syukurlah" gumam Serina lalu menutup pintu kamarnya.


Bertepatan dengan itu Mlavin datang kerumahnya.


"Tidak ada hal ganjil yang terjadi"


"Syukurlah kalau begitu, orang asing yang aku lihat waktu itu juga tidak ada tanda-tanda kembali kerumah mu lagi" Malvin berucap sambil menyesap kopi buatan Serina.


Pria berkulit Cokelat eksotis itu sepertinya baru pulang dari bengkel, terlihat dari pakaiannya yang masih penuh dengan oli.


"Maaf mengganggu mu Malvin"


Malvin yang sadar akan rasa bersalah Serina hanya tersenyum gemas, "Sudah sewajarnya aku membantu sesama tetangga kan?, lagipula yang melihat orang asing itu kan aku" Ucapnya menenangkan Serina.


Mendengar jawaban Malvin yang selalu membelanya membuat Serina merasa bersalah jika dulu pernah meremehkan pria itu, apalagi dulu Ibu Maya sering sekali menjelek-jelekkan Anaknya di hadapanya.


Tapi ternyata Malvin sangatlah baik.


Wanita itu mengagguk,"Besok pagi baru aku kembali" jawabnya.


"Kenapa tidak langsung menginap di sini saja? besok baru jemput Arina" Usul Malvin yang melihat gelagat tidak nyaman Serina berada di rumah orang tuanya.


"Maunya seperti itu, tapi ayah dan ibu bersikeras menyuruhku untuk kembali besok"


Malvin mengerutkan dahinya heran, memangnya apa bedanya besok dan sekarang?. belum sempat Malvin menjawab Serina terlebih dahulu membuka suara.


"Sepertinnya aku harus pulang sekarang, atau ayah dan ibu akan curiga nanti"Ucap Serina sambil mengecek jam di tangan kirinya.


Perkataan Serina malah membuat Malvin semakin mencurigai orang tua Serina.


"Hm, aku juga akan kembali ke bengkel"


Hari itu menjadi percakapan terakhir Serina dan Malvin di rumah yang sudah menjadi tempat Serina berteduh selama hampir dua tahun.


Jika tau itu menjadi hari terkhirnya melihat rumah yang menjadi saksi perjuanganya menghidupi Arina mungkin dia tidak akan pernah meninggalkan rumah itu walaupun ayah dan ibunya harus menyeretnya pulang.


Rumah yang menjadi satu-satunya kenangan suka dukanya bersaama Arina harus hangus terbakar lima jam setelah ia menginjakkan kakinya di sana.

__ADS_1


Serina hanya mampu menatap bangunan rumahnya yang telah hangus terbakar kobaran api menyelimuti sekitarnya, saking besarnya api yang membakar rumahnya sampai-sampai Serina tidak bisa melihat lagi seperti apa rumahnya sekarang.


"Serina yang sabar ya" Bu Maya dan para tetangga tidak dapat melakukan apapun, jika mereka menyirami api dengan Air pun itu hanya percuma saja.


Entah berapa lama mereka menunggu pemadam kebakaran yang tidak datang-datang, saat warga berusaha menghubungi mereka, katanya mereka terkena macet parah.


Di tengah malam Macet?


Perlahan-lahan api mulai melahap habis rumahnya sampai tidak berbentuk untung saja rumah Serina jauh dari tetangga sehingga tidak ada korban lain selain dirinya yang terkena musibah.


"Padahal tidak ada apapun, tapi kenapa bisa tiba-tiba terbakar?"


Serina bisa mendengar bisik-bisik para tetangga yang mulai beranggapan mengenai kebakaran yang menimpa Serina.


"Kamu yakin tidak menghidupkan listrik nak?"


Bu Maya memastikan lagi jika saja ada kelalaian yang di  perbuat Serina sehingga menyebab kan kebakaran.


"Tidak Bi, aku sudah pastikan jika hanya lampu otomatis yang menyala pada malam hari" jawabnya.


"Iya Ibu!"


Semua orang menoleh ke arah suara yang tiba-tiba saja terdengar dari belakang mereka.


"Malvin?"


"Tadi Sore aku dan Serina bahkan mengecek rumahnya sekali lagi tapi tidak ada keanehan, lalu saat waktunya Serina kembali kerumah orang tuanya Serina menyetel lampu otomatis itu" jelas Malvin menjadi saksi.


"Malvin kamu kembali lagi?"


Pria itu mengangguk, "Bagaimana bisa aku diam saja saat ada tetangga ku yang terkena musibah" Ucapnya tulus pada Serina.


Bu Maya yang melihat hal itu tanpa perasaan langsung menepuk keras punggung putranya.


Plak!


"Aduh!"


"Bijak sekali bicara mu! memangnya apa yang kamu lakukan saat ibumu kena musibah hah?!" Sentaknya, dulu saja saat kebocoran pipa air dirumahnya tengah malam Malvin yang adalah Putranya satu-satunya tidak mau pulang, alasannya sibuk di bengkel.


Tapi sekarang? jangankan tidak pulang belum ada sejam ia menghubungi dan mengatakan jika rumah Serina kebakaran Putranya itu langsung datang tanpa di suruh!.


"Saudari Serina Pangestu?"


Semua orang terheran-heran saat seorang pria datang menghampiri Serina.


"Iya saya sendiri?"

__ADS_1


"Bisa bicara sebentar?"


TBC....


__ADS_2