
Pemandangan pinggiran pada malam hari sangat lah indah dari lantai tertinggi Apartemen semua nya bisa terlihat dengan jelas, warna warni lampu yang menerangi setiap rumah menambah keindahan malam ini.
Hari nya tidak seburuk itu, selama tinggal di Apartemen ini Serina tidak pernah mendapatkan kesulitan apapun, bahkan ia merasa jika hidupnya lebih terasa mudah sekarang.
Tapi sampai saat ini dia masih bertanya-tanya siapa yang tinggal di unit sebelah nya, karena sejak pertama kali menginjakkan kakinya di Apartemen ini Serina tidak pernah bertemu dengan pemilik unit sebelah.
Tapi dia tidak masalah karena, Orang tuanya juga sering datang kemari untuk menemaninya menggantikan Naura yang biasanya pulang ke kampung halamannya, sedangkan untuk masalahnya dengan Malvin, Serina belum bisa menemukan jalan keluarnya.
Keadaan tidak mendukung mereka untuk berbaikan sepertinya, bahkan sampai saat ini dia tidak pernah bertemu lagi dengan Malvin ataupun Mantan Suaminya lagi.
Serina menyesap kopi panas di tangannya dengan senyum mengembang di bibirnya entahlah hari ini ia merasa senang.
"Unda"
Suara lembut milik Arina menyadarkannya bahwa dia tidak sendiri di Apartemen ini.
"Sayang? kamu sudah bangun?"
Balita perempuan itu berlari kecil menuju Ibunya.
Grep!
"Ada apa?" Tanya nya pada Balita berusia tiga setengah tahun di pelukannya.
Ya! Selama itu Serina menetap di Apartemen pemberian Pak Handoko ini, awalnya Serina merasa tidak nyaman dan terus merasa gelisah entah apa penyebabnya. tapi akhirnya dia bisa melaluinya tanpa kendala apapun, bahkan Serina tidak perlu menaiki kendaraan umum untuk menuju Kedai miliknya.
Dan Putri kecilnya juga terlihat sangat nyaman di tempat mereka sekarang.
"Unda, Alina aus" Bibir mungil berwarna merah muda alami milik Arina mengerucut lucu, membuat Sang ibu gemas di buatnya.
Kemudian Serina mengangkat putrinya menuju dapur untuk membuat susu kocok kesukaan gadis kecil nya.
"Eh? Sepertinya susu Arina habis" ucap Serina ketika melihat wadah yang biasanya tempat ia menyimpan susu bubuk Arina kosong.
Sepertinya sebelum pergi Naura lupa mengisi stok Susu milik Arina.
Arina yang melihat Susu nya habis menampilkan wajah sayu nya, bahkan gadis itu menenggelamkan wajahnya yang sendu di leher sang ibu.
Mengetahui kesedihan sang Putri, Serina langsung mengusap punggung Putrinya lembut.
"Bagaimana jika kita pergi ke minimarket di depan?"Usul nya berharap Arina akan kembali ceria seperti semula. pasalnya gadis muda itu sangat senang saat ia mengajaknya ke minimarket.
Dan benar saja dengan antusiasnya Arina menatap ibunya gembira, bahkan bibir mungilnya tidak lagi mengerucut lucu melainkan mengembang seperti sedia kala.
"Let's Go!"
Serina pun ikut tertawa melihat ke antusiasme Arina.
"Baiklah mari kita bersiap dulu"
.
__ADS_1
.
Seorang wanita setengah baya menatap Tuan Mudanya yang hanya terdiam sambil menatap kosong pada pemandangan di depannya.
Sejak kedua orang tuanya pergi balita laki-laki itu tidak tersenyum sedikit pun, bahkan ia tidak menangis yang membuat Yuni sangat khawatir dengan keadaan psikis anak tuan besar nya tersebut.
"Tuan Muda Sean" Panggil Yuni, saat merasa jika anak tuan besarnya itu sudah terlalu lama berada di luar rumah sambil menatap Kebun di belakang rumahnya.
"Malam semakin larut, sebaiknya kita masuk kedalam" Yuni tidak berhenti membujuk Tuan Mudanya yang terlihat murung.
Anak laki-laki berumur tiga setengah tahun itu selalu menunggu kedua orang tuanya untuk pulang di kebun belakang rumahnya, bukan ibunya melainkan sang ayah lah yang selalu ia tunggu di setiap waktunya.
Arga sangat menyayangi putranya tapi dia tidak pernah punya waktu hanya untuk menengok anak nya itu di rumah walaupun sekejap saja. padahal saat Sean kecil dulu Pria itu tidak pernah terpisah dengan putranya.
Sedangkan Jessie, dari awal sudah menunjukkan ketidak tarikannya pada sang Putra karena itulah Sean sudah terbiasa tanpa Ibunya.
Namun belakangan ini Sean sangat merindukan Ayahnya yang sekarang hampir tidak pernah ia lihat lagi di rumah. Saat ia bertanya pada Bibi Pengasuhnya, Wanita itu bilang jika Ayahnya pulang saat ia tertidur.
Karena itulah ia menunggu disini sampa Ayahnya pulang.
"Tuan Muda, Bibi mohon masuklah kedalam"
Entah untuk yang ke berapa kali nya Yuni harus memanggil Sean, anak itu tidak mau beranjak dari sana.
Perhatian sean dan Yuni teralih saat mendengar pintu rumah terbuka dengan nyaring.
"Yuni!"
"Iya Nyonya?" sahut Yuni setelah berhadapan dengan Jessie.
Jessie yang tengah mabuk itupun tidak bisa menahan emosinya pada Pengasuh putra dari suaminya itu.
PLAK!
Yuni memegangi pipinya yaang menjadi sasaran Jessie.
"Dasar tidak berguna! kemana saja kamu?!" Bentaknya marah.
Wanita setengah Baya itu hanya bisa menunduk sambil menahan air matanya, lagi-lagi nyonya besarnya memukul dirinya tanpa alasan yang jelas.
Jessie yang terus mengoceh pada Yuni itu tidak menyadari Sean yang masuk kedalam sebab mendengar keributan yang lagi-lagi di perbuat oleh ibunya.
Melihat Tuan Mudanya masuk ke dalam membuat Yuni panik takut jika Wanita yang tengah memarahinya ini melampiaskan emosinya juga pada Sean yang masih kecil itu.
Yuni berusaha memberi kode pada Sean untuk pergi menjauh, tapi memang dasarnya Anak itu tidak kenal takut bukanya pergi di malah berjalan mendekati ibunya.
"Cukup ibu" Ucapnya dengan datar, bahkan balita sepertinya merasa jengah mendengar ibunya terus mengoceh tidak jelas.
Jessie menoleh saat seseorang menyela ucapnya dengan tidak sopan.
"Kamu!"
__ADS_1
Sean refleks menutup hidungnya ketika mencium aroma alkohol yang begitu menyengat dari mulut ibunya.
"Apa yang kamu lakukan?! berani-beraninya bocah tidak tau diri seperti mu! memotong pembicaraan orang tua!" Jessie benar-benar melampiaskan kemarahannya pada Sean, dalam pikiran wanita yang tengah mabuk itu jika tidak bisa melawan Ayahnya bukan berarti dia tidak bisa melampiaskan nya pada Putra kesayangannya.
"Jangan Nyonya" Yuni bergerak cepat dengan melindungi Sean saat Jessie bersiap untuk menarik Anak itu.
"Minggir Yuni!" Teriaknya marah, tetap saja Yuni tidak mendengarkan.
"Saya mohon Nyonya, Tuan Muda masih sangat kecil, maafkan dia" Pinta Yuni penuh permohonan.
"Dasar kalian!"
Dengan penuh amarah yang bergelora Jessie mendorong Yuni dan juga Sean dengan keras ke lantai, Yuni yang memang sudah tidak sekuat dulu lagi itu tidak bisa menahan dorongan Jessie. akibatnya Ia jatuh dengan Sean berada di pelukannya.
Bukanya merasa bersalah Wanita mabuk itu malah tersenyum senang melihat kedua orang yang sangat ia benci jatuh kelantai.
"Jessie! apa yang kamu lakukan?!"
Mendengar suara yang tidak asing membuat Jessie gugup setengah mati.
.
.
"Bagaimana? Arina suka?"
Arina yang tengah menikmati ice cream cokelat yang di belikan ibunya itu mengangguk dengan senang.
"Cuka Cekali!"
Sebenarnya Serina tidak mengijinkan Putrinya makan-makanan dingin malam hari, tapi karena tidak tega terpaksa ia membelikannya.
Dengan berjalan kaki sambil menggandeng lengan mungil Arina mereka berjalan penuh dengan canda tawa menuju Unit mereka.
Beberapa kali juga orang-orang menyapa mereka di jalan, tiba saat menaiki Lift Arina tidak bisa berhenti bertanya banyak hal ketika melihat keindahan Apartemen yang terlihat dari lift yang sekarang mereka naiki.
"Padahal Arina sudah sering menaiki Lift"
Gadis mungil itu hanya tertawa menanggapi ibunya, bibirnya penuh dengan lelehan Cream cokelat.
Ting!
Pintu lift terbuka mereka keluar dari dalam Lift sambil sesekali Serina mengusap Bibir Arina yang kotor oleh ice Cream. hingga tidak menyadari seseorang tengah menatap mereka berdua.
"Sudah bersih"
Deg!
Tatapan keduanya bertemu, mata tajam pria itu menatap tepat kedalam Mata jernih Serina, seperti Dejavu akhirnya setelah lama tidak bertemu mereka bertemu kembali.
"Unda, Om itu siapa?"
__ADS_1
TBC....