
Sean merasa sangat senang ketika Ibu yang selama ini ia rindukan menggenggam tangan nya erat, tidak apa walaupun wanita ini hanya menganggap nya sebagai teman dari putri nya hanya seperti itu saja dia sudah senang.
Arina terus berceloteh banyak hal di sepanjang perjalanan mereka sedangkan Sean hanya diam saja.
"Sean? Kamu baik-baik saja?"
Serina tentu tidak merasa tenang ketika Anak nya bisa menjadi seperti sekarang, tidak ada canda ataupun tawa anak itu hanya diam mendengarkan.
"Bunda, Sean senang karena bisa bertemu dengan bunda" cengir Arina, sudah ia putuskan setelah pertemuan nya dengan Ayah Sean tadi pagi Arina akan membuat Ibu nya dan Ayah Sean menjadi dekat.
Wanita hebat seperti Ibunya hanya pantas bersanding dengan pria seperti Ayah Sean.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu" Serina mengusap lembut rambut lembut Sean.
Senangnya bisa berada lebih dekat dengan buah hati yang selama ini ia rindukan.
"Kira-kira kapan supir akan menjemput Sean?" Tanya Serina, tidak mungkin dia membiarkan anak lelakinya menunggu sendirian.
Tapi jika yang menjemput Sean bukan supir melainkan Arga itu akan membuat nya tidak nyaman.
Sean menunduk sedih membuat Serina dan Arina yang melihat hal itu merasa heran.
"Biasanya paman akan menjemput setelah ayah menyelesaikan rapat, bibi dan Arina pulang saja aku tidak papa menunggu sendirian" ucapnya
Serina tidak setuju dia tau betul bagaimana Arga jika sedang menghadiri rapat, setelah selesai biasanya Arga akan mendiskusikan nya kembali dengan sekretaris nya.
Sudah pasti jika Sean menunggu saat ini bocah itu akan kelelahan menunggu.
Arina menarik tangan ibunya, saat Serina menoleh gadis itu mengisyaratkan agar Serina mendekati nya.
"Bunda bagaimana jika Sean ikut kita saja?" Usul Arina.
Mantan istri Arga itu terdiam lalu menengok pada Sean.
Jika dia membawa Sean sudah pasti mereka akan bertemu Arga, tapu jika Serina meninggalkan Sean sendiri dia tidak tega.
.
.
Sudah lama sekali dia tidak menginjakkan kakinya di kebun ini, taman yang dulu menjadi kesayangan nya tapi terpaksa ia tinggal karena perpisahan dengan pemilik rumah.
Pohon Cherry yang dulu memang subur sekarang terlihat sangat subur lagi, bahkan bunga-bunga di kebun itu terlihat sangat beragam dari terakhir kali ia lihat.
Serina menyusuri jalan setapak yang di kelilingi bunga-bunga di pinggir nya, seluruh kebun ini sudah sangat berubah.
"Bibi?"
Sean datang ketempat Serina berada, setelah mengantar Arina melihat-lihat kamar nya dia langsung menyusul Serina yang sejak awal memang tertarik dengan kebun kesayangan sang ayah.
Serina tersenyum menyambut Sean.
__ADS_1
"Dimana Arina?"
"Bibi menyukai kebun ini ya?" Sean tidak menjawab pertanyaan Serina mengenai keberadaan Arina.
Bingung harus menjawab apa, karena memang kebun ini dulu adalah miliknya sendiri.
Serina mengangguk.
"Kebun ini milik ayah, biasanya saat ada waktu luang ayah akan menghabiskan waktunya di kebun ini" jelas Sean menjelaskan tanpa di tanya.
Yang dia tangkap sekarang hanya satu.
Kebun ini adalah tempat yang sangat berkesan di hidup kedua orangtuanya.
"Oiya?"
Serina tidak tau jika Arga menyukai kebun seperti nya juga karena dulu pria itu jarang sekali menginjakkan kakinya di sini.
Sean mengangguk.
Kemudian bocah itu menarik Serina kedalam rumah, Serina merasa was-was jika ada yang mengenal nya di rumah ini.
Mereka sampai di depan pintu sebuah ruangan.
Serina terdiam pandangan mengarah pada pintu ruangan yang sangat tidak asing di ingatan nya.
"Ayah suka sekali tidur disini, padahal banyak kamar kosong yang lebih bagus dari ruangan ini" Sean mengamati ekspresi wajah Serina.
Sean menatap tidak percaya pada ucapan putra nya, tidak mungkin Arga melakukan hal itu.
Kamar ini adalah kamar yang dia gunakan saat mengandung Sean, kamar yang menjadi saksi bagaimana Arga memperlakukan nya dulu.
"Bunda!"
Teriakan Arina yang menggema mengalihkan perhatian Sean dan Serina.
Serina berjalan menjauhi ruangan yang sama sekali tidak ingin ia ingat, di belakangnya Sean mengikuti sesekali menggerutu karena Arina mengganggu waktu nya dengan sang ibu.
"Ada apa nak?" Serina bertanya pada Arina saat ia sampai di depan putri nya itu.
Arina tertawa kecil, dia kira kemana ibunya tadi ternyata Sean yang mengambil ibunya.
"Sean rumah mu sangat indah" puji Arina.
Serina tersenyum tipis saat melihat kearah jam dinding seperti nya sudah waktunya ia pulang ke apartemen, hari ini Naura akan berkunjung bersama dengan tunangannya.
"Sean sudah saatnya bibi dan Arina pulang"
Mendengar ucapan ibunya Arina mengerucut kan bibirnya lucu, padahal dia masih belum selesai dengan tour nya di rumah megah Sean.
"Kamu baik-baik saja kan di rumah sendiri?" Tanya Serina khawatir.
__ADS_1
Mau tak mau Sean hanya mengangguk, jika dia mencegah Ibunya pulang pasti wanita itu akan merasa risih dengannya.
Raut wajah sendu Sean terlihat oleh Serina, dia tau betul jika anak lelakinya itu sangat kesepian di rumah sebesar ini sendiri.
"Kapan-kapan kamu bisa berkunjung ke Apartemen kami" Serina mengusap pucuk kepala Sean.
Binar-binar bahagia terpancar di mata Sean.
"Benarkah?"
Serina mengangguk yakin.
Mengambil tasnya yang tergeletak di atas sofa lalu Serina mengajak Arina untuk keluar dari rumah mewah Sean.
Sebelum melangkah kan kakinya keluar dari pintu, Serina berbalik menatap Sean yang juga tengah menatapnya.
Putranya.....
Serina ingin sekali mengajak Sean pulang bersamanya.
Mereka melambaikan tangan pada Sean, saat Serina berbalik hendak keluar tiba-tiba saja tubuh tegap Arga mengagetkan nya.
"Astaga!" Pekik nya terkejut, begitu pun dengan Arina yang tidak menyadari keberadaan Arga tadi.
Arga menatap wajah Serina bahkan wajah terkejut nya saja cantik sekali.
"Masuk"
Serina mengerut kan kening nya heran. Kenapa Arga menyuruh nya masuk?.
Melihat tidak ada pergerakan dari mantan istrinya Arga kemudian mengalihkan perhatian nya pada Sean di belakang sana, bocah itu tersenyum tipis melihat pertemuan kedua orangtuanya.
"Sean! Bawa tamu kita masuk kembali" titahnya pada sang putra.
Tanpa berlama-lama Sean berlari kecil kemudian menerjang Serina dari belakang, membuat Wanita itu sedikit tersentak.
"Bibi ayo" Sean menarik Serina menuju sofa yang belum beberapa menit ia tinggal.
Arina terdiam ketika ibunya di tarik begitu saja, melihat Arga berdiri menjulang di hadapannya membuat bulu kuduknya berdiri.
Merasa di tatap oleh seseorang Arga menolehkan kepalanya.
Benar saja mata bulat seorang gadis kecil yang tadi pagi ia temui tengah menatapnya dengan pandangan beragam.
Senyum Arga terbit melihat keberadaan Arina, jika melihat gadis kecil ini Arga merasa melihat wajah nya versi wanita.
Grep!
Arina memeluk leher Arga saat ayah idaman nya itu menggendong tubuhnya.
"Selamat datang" Arga tersenyum tipis.
__ADS_1
TBC....