Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
51. Pergi untuk selamanya


__ADS_3

Serina menatap tubuh terbaring kaku milik putri nya dengan pandangan kosong, entah kemalangan seperti apa lagi yang harus dia hadapi setelah ini.


Putrinya yang selama ini menjadi penyemangat nya telah meninggalkan nya seorang diri di dunia yang kejam ini.


Air matanya tidak lagi bisa keluar, Serina hanya bisa terdiam sambil menatap tubuh terbujur kaku Arina.


Arga masuk kedalam ruangan tempat Arina di rawat, ketika dia masuk sudah ada Serina yang terduduk di lantai tanpa alas apapun, lalu pandangan nya terarah pada Tubuh Mungil Arina yang tertutup kain.


Terlambat....


Arga terlambat....


"Serina..." Panggilnya pada wanita yang tengah menatap kosong jasad Arina.


Grep


"Bangun" Arga menarik tubuh Serina agar berdiri.


Pria itu merasa sesak saat wajah pucat Serina terpampang di depannya, Arga langsung menarik wanita itu kedalam pelukannya.


"Hiks!"


Serina mencengkeram erat tubuh Arga, pelukan dari mantan suaminya itu kembali membuat air matanya menetes.


"Arina..."


"Sstt..." Arga menepuk punggung Serina menenangkan wanita itu.


Jika saja Mereka bisa sampai lebih cepat dari Jessie mungkin kejadian ini bisa terhindari, Arina tidak akan menjadi seperti ini.


Tidak!


Jika saja Arga tidak pernah berhubungan dengan wanita gila itu, mungkin semuanya akan baik-baik saja bahkan mungkin Arga dan Serina hidup bahagia bersama-sama.


Arga menghela nafas nya lelah, tidak ada gunanya menyesal sekarang, Arina sudah tiada.


Brak!


"Mbak!"


Naura datang bersama dengan Malvin, kedua orang itu mendekat pada Serina dan Arga.


Malvin terlihat tidak suka saat Serina berada di pelukan Arga, tapi kemudian pria itu menggeleng, bukan saatnya untuk cemburu.


"Naura"


Serina berlari menerjang Naura kembali menangis di pelukan Gadis yang selama ini menemaninya.


"Sabar Mbak" Naura juga turut bersedih melihat keponakan yang sudah ia asuh hingga sekarang tidak lagi bernyawa.


"Kita harus segera melakukan kremasi untuk Arina" Malvin membuka suaranya.


Arga menyetujui perkataan pria itu, "Saya akan menyiapkan semuanya".


Serina memeluk erat Naura ketika mendengar kremasi Arina. Dia tidak siap jika harus berpisah dengan putri kandungnya sendiri.


Saking lelah dan merasa kaget yang tiba-tiba, Serina merasa kepalanya sakit sekali sekarang, bahkan pembicaraan di ruangan itu tidak lagi terdengar.


Bruk!

__ADS_1


"Serina!/Mbak!"


Semua orang terkejut melihat tubuh Serina terkulai lemas tidak berdaya.


.


.


Suasana berkabung begitu kentara mengiringi proses kremasi jenazah Arina, pihak keluarga dari Arga maupun Serina turut hadir di pemakaman itu.


Kecuali Serina dan Sean.


Setelah Serina tidak sadarkan diri wanita itu belum juga siuman sampai saat ini, Arga sempat panik tadinya tapi dokter mengatakan jika Serina hanya mengalami syok saja.


Sedangkan Sean bocah itu bahkan tidak mau membuka suara sedikitpun sejak insiden tabrakan itu, seperti halnya Serina, Sean juga mengalami syok yang berat bahkan bocah itu tidak merasakan sakit di kakinya yang terluka akibat terlalu syok.


Pemakaman telah selesai satu-persatu orang meninggalkan area, hingga tinggal lah Arga seorang diri di sana.


"Maafkan ayah, Arina..." Kalimat tersebut terucap begitu saja dari bibir Arga.


Gadis itu adalah putri kandungnya sendiri, karena keegoisan nya saat itu Arga sampai tega membuang Arina dan memisahkan nya dari ibu kandungnya, bahkan setelah mereka bertemu gadis itu belum juga tau siapa ayah kandungnya.


Arga berbalik meninggalkan makam Arina yang masih basah.


.


"Arina!"


Serina terbangun dari pingsannya yang pertama ia lihat adalah ruangan kosong yang tidak asing di pengelihatan nya.


Tiba-tiba saja ingatan mengenai tragedi tabrakan maut itu terulang lagi di kepalanya.


Bruk!


"Mbak Serina!" Naura yang baru saja ingin mengecek keadaan Serina terpekik kaget saat melihat wanita itu jatuh terduduk di lantai.


"Mbak baik-baik saja?" Naura menghampiri Serina.


Mata Serina kembali terasa panas akhirnya air matanya lagi-lagi menetes.


"Hiks! Arina sudah pergi, Naura" Serina menenggelamkan wajahnya diantara lutut.


"Dia meninggalkan Mbak sendirian sekarang, apa Mbak ibu yang buruk sehingga Tuhan dengan cepat mengambil Arina?"


Naura menggeleng mana mungkin Serina orang tua yang buruk, jika Serina menganggap dirinya sendiri buruk lalu bagaimana orang-orang di luar sana yang dengan tega membuang bayinya?.


"Jangan seperti ini Mbak, Arina sudah tenang sekarang" Naura mengelus pundak Serina mencoba menenangkan wanita itu.


Tangisannya belum mereda, Arina adalah penyemangat hidupnya jika gadis itu pergi siapa yang akan menjadi penyemangat nya lagi?.


Klek!


Arga membuka pintu kamar Serina dada nya lagi-lagi terasa sesak melihat keadaan Wanita itu sekarang.


Naura beranjak dari samping Serina saat Arga mengisyaratkan agar gadis itu menyingkir.


Naura menoleh kebelakang sekali lagi sebelum menutup pintu kamar dan meninggalkan Serina dan mantan suaminya.


Arga melirik Serina yang masih menenggelamkan wajahnya.

__ADS_1


"Aku tau kamu sedih karena kepergian Arina, tapi kamu harus ingat jika putri mu itu tidak suka melihat ibunya menangis" Arga tidak lagi mendengar tangisan Serina, tapi sesekali suara sesegukan wanita itu terdengar.


"Arina sudah bahagia sekarang" ucapannya sekali lagi.


Serina mengangkat wajahnya kemudian menatap Arga sinis.


"Kamu tidak tau apapun Mas! Mudah bagi kamu yang tidak merawat Arina untuk mengatakan hal itu! Tapi kamu tidak tau bagaimana perasaan seorang ibu yang di pisahkan dari anaknya untuk... yang kedua kali nya" Serina melirihkan nada suaranya di akhir kalimat.


Arga tidak merawat Arina mana mungkin pria itu tau perasaan nya Sekarang.


Arga menarik nafas dalam-dalam tidak ingin terpancing emosi karena bentakan Serina.


"Terserah apa mau mu, tapi ingat satu hal! Anak mu bukan hanya Arina" sahut Arga, mungkin sikap egoisnya belum juga menghilang apalagi jika menyangkut mengenai putra mereka.


Serina terdiam menatap Arga. Mencoba mencari tau arah pembicaraan mereka ini.


Arga bangun dari duduknya kemudian melirik Serina sejenak.


"Sean.... Juga membutuhkan ibunya, dia juga salah satu korban jika kamu lupa"


Kemudian Arga berlalu meninggalkan wanita itu sendirian dengan pikirannya.


Sean tersadar dari kesedihan nya wanita itu mengusap air matanya yang mengalir, bagaimana bisa dia lupa jika bukan hanya Arina melainkan Sean juga ada di sana.


"Astaga..."


Jika Serina merasa sedih dan syok maka Sean lebih dari itu, karena Sean ada di sana saat tragedi yang menewaskan saudarinya.


.


.


Sean meringkuk di antara dinding kamarnya menutup kedua telinganya agar suara-suara yang terdengar di telinga nya menghilang.


Kamar bocah itu gelap gulita bahkan Sean tidak peduli dengan luka di kakinya yang kembali mengeluarkan darah segar.


"Hentikan..." Sean menutup telinganya.


"Sean!"


Brak!


Suara teriakan Arina yang memanggil nya dan juga suara Hantaman yang begitu kerasa terngiang-ngiang di kepalanya.


Bahkan Sean masih merasakan dengan jelas bagaimana dorongan kuat Arina di tubuhnya agar dia tidak tertabrak mobil saat itu.


Sean hanya bisa terdiam sambil menatap bagaimana tubuh Arina terguling dan bersimbah darah akibat hantaman kuat mobil.


Bahkan saat itu Sean bisa melihat jika Serina tersenyum menatap nya.


"Hiks! Tidak...Arina!" Sean tidak akan pernah lagi bertemu dengan gadis itu sekarang.


Bagaimana bisa dia menjaga ibu mereka sendirian?.


TBC.....


Vote nya yuuu


kasih semangat dongg buat aku yg udah bela-belain up tiap hari wkwk

__ADS_1


__ADS_2