
Arga menjelaskan apa yang selama ini sudah Arga rencanakan mengenai bagaimana cara mengembalikan nama baik keluarga nya yang telah hancur.
Awalnya serina merasa tidak setuju dengan rencana Arga itu tapi setelah beberapa kali penjelasan akhirnya Serina menyetujui nya.
Hening...
Ada rasa tidak ingin ketika Arga akan pergi lagi meninggalkan dirinya dan Sean, tapi setelahnya Serina sadar dirinya tidak punya hak untuk melarang apa yang akan Arga lakukan kedepannya.
"Aku tidak bisa melarang apa yang ingin Mas lakukan" Serina bersuara, Arga bisa menangkap nada suara Serina yang sedikit bergetar.
"Hans.." Arga memberi kode agar sekertaris nya itu pergi meninggalkan mereka berdua saja.
Sekarang tinggal lah mereka berdua di sana, Arga berjalan mendekat menghampiri Serina yang selalu menunduk sejak mendengar ucapannya tadi.
"Serina"
Arga berlutut di bawah Serina yang tengah duduk di atas sofa.
"Mas!" Paniknya melihat Arga yang kondisinya masih belum stabil, tapi pria ini malah berlutut yang membuat beban kakinya semakin berat.
Arga tersenyum kemudian ia menggenggam tangan mantan istrinya kedalam genggaman nya.
"Dengarkan aku, kamu tau kan betapa kerasnya aku berjuang untuk perusahaan?" Serina mengangguk.
"Wahyutama di bangun sejak nenek moyang kami lalu di teruskan sampai ke anak cucu, hingga akhirnya Wahyutama hancur di tangan ku" Arga melirihkan suaranya, dia merasa gagal dalam menjalankan tugas yang di berikan nenek moyang nya.
Serina menggeleng, Arga tidak salah hanya saja keberuntungan tidak berpihak kepadanya saat Ini.
"Perusahaan Wahyutama selalu di teruskan pada anak pertama dari pewaris perusahaan, dan aku akan memperjuangkan perusahaan demi putra kita" jelas Arga, Serina terdiam dia tidak memikirkan tentang itu yang serina pikiran hanyalah bagaimana bisa hidup sederhana bersama-sama itu sudah cukup.
Tapi dia tidak memikirkan bagaimana perasaan Sean nanti, seharusnya dia berhak memiliki apa yang harus nya ia miliki.
"Tapi kenapa harus pergi?" Seharusnya Arga bisa bekerja dari sini, bahkan serina akan membantu dengan senang hati.
Arga tersenyum miris, bagaimana bisa dia melihat kemesraan yang terus terjalin antara Serina dan Malvin? Melihat hal itu akan membuat konsentrasi nya buyar.
"Aku akan kembali" senyum nya
Lalu Arga melirik pada Sean yang entah kapan sudah tertidur di samping Serina.
"Selama itu, aku mohon jaga Sean"
Keputusan Arga sudah bulat dan Serina tidak bisa lagi menghalangi jalan yang akan Arga tuju.
"Berjanjilah kamu akan cepat kembali"
"Janji"
.
.
Serina mengantar kepergian Arga dan Hans ke bandara, tidak menyangka jika Arga akan pergi secepat ini.
Sean ikut bersama dengan ibunya untuk mengantar ayahnya, walaupun ada rasa tidak rela melepaskan kepergian ayahnya tapi Sean berusaha menahan rasa itu.
Arga menghampiri kedua orang yang sangat berarti di hidupnya, untuk yang terakhir kalinya mungkin setelah ini mereka akan bertemu kembali setelah waktu yang lama.
Menatap Serina sebentar lalu ia berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya pada sang Putra.
__ADS_1
"Jaga ibu selama ayah tidak ada ya?" Bisik Arga lirih.
Sean hanya mengangguk saja lagipula tanpa ayahnya suruh pun dia akan tetap menjaga ibunya.
Grep!
Pelukan di berikan Arga pada Sean, dia pasti akan sangat merindukan putra nya.
Arga berdiri lalu menatap kembali Serina yang tengah menahan air matanya.
Serina tidak sadar saat Arga menarik tubuhnya mendekat dan mendaratkan ciuman di dahinya lembut.
"Jaga diri kalian baik-baik" bisik nya.
.
Selepas mengantarkan kepergian Arga, Serina pulang bersama dengan Sean di perjalanan Sean hanya diam tanpa suara bocah itu terlihat sangat bersedih.
Serina tidak bisa membantu apapun dia hanya bisa memberikan perlindungan agar anaknya itu tidak lagi bersedih.
"Mau pergi bersama ibu?" Tanya Serina membuka suaranya.
Sean menoleh "pergi?"
"Iya! Mau tidak?" Anggukan di berikan Sean yang langsung membuat Serina tersenyum.
"Besok kita akan pergi"
"Kemana Bu?" Tanyanya Sean penasaran.
Lalu Serina mengambil sebuah undangan yang tercetak indah di dalam tasnya.
"Naura dan Rio?" Sean mengeja nama yang tertulis di kertas undangan tersebut.
Serina mengiyakan
"Besok kak Naura akan menikah besok, kamu mau kan menemani ibu ke sana?"
"Mau!"
Pesta pernikahan
Serina tersenyum senang melihat Sean yang kini terlihat dengan Tuxedo hitam senada dengan dress yang ia kenakan, bocah itu jadi semakin mirip dengan ayahnya.
"Selamat atas pernikahan kalian" Serina memeluk tubuh Naura erat, lalu menyalami suami Naura.
"Terimakasih Mbak" balasnya
"Maaf karena tidak bisa membantu mempersiapkan pernikahan kalian" Serina sungguh merasa bersalah, padahal Naura sering membantu nya tapi Serina bahkan tidak bisa membantu mempersiapkan pernikahan ini.
"Jangan berkata seperti itu, dengan mbak dan Sean datang saja kami sudah merasa senang" jawab Naura.
Lalu tatapannya beralih pada Sean yang berdiri di samping Serina, di tangan bocah itu terdapat kado yang sudah diikat pita berwarna merah kontras dengan kotaknya yang berwarna hitam.
"Hallo Tampan" sapa Naura pada Sean.
Kemudian Sean menyerahkan kado di tangan nya pada Naura.
"Selamat" ucapnya
__ADS_1
Ketiga orang di sana tertawa melihat bagaimana Sean terlihat malu-malu menyerahkan kadonya.
"Terimakasih"
"Nikmati hidangan nya, terutama kamu Sean, kakak ingin melihat kamu makan dengan lahap nanti!" Naura memperingati Sean karena dia tau betul bagaimana Sean tidak terbiasa makan di tempat yang menurutnya asing.
Serina mengajak putranya menuju stand makanan meninggalkan Naura yang masih menyambut para tamu undangan, mereka duduk di salah satu bangku yang ada di sana kemudian Serina mengambil puding untuk putranya.
"Makan ini sayang" Serina mengulurkan puding cokelat pada Putranya, Sean menerima pemberian ibunya.
Dahi Serina mengerut saat Sean hanya menatap pudingnya tanpa mau menyentuh sedikitpun.
"Ada apa nak?" Tanya Serina penasaran.
Gelengan kepala Sean membuat Serina semakin penasaran.
"Kamu tidak nyaman ya? mau pulang saja?" Tawar Serina pada Sean, Anak itu kemudian mengangguk kecil.
Sean merasa tidak nyaman di sini walaupun bukan pesta yang mewah seperti sekelas para pengusaha yang sering ia hadiri dengan sang Ayah, tapi Sean bisa merasakan bagaimana tatapan orang-orang dewasa yang terus mengarah padanya.
Kenapa Ibunya tidak mengetahui tatapan orang-orang yang terus menatap nya? karena Ibunya hanya mengira tatapan mereka hanyalah tatapan biasa, tapi jauh dari itu Sean yang paling tau bagaimana cara mereka semua menatapnya.
Sean membenci itu....
Setelah pergi berpamitan dengan pengantin di depan sana Serina lalu mengajak Sean untuk pulang ke rumah.
.
.
Berbulan-bulan waktu telah berlalu setelah kepergian Arga untuk membangun kembali perusahaannya dan pria itu meninggalkan Sean dan Dirinya, Arga sama sekali belum menghubungi sampai detik ini.
Rasa kecewa yang semula pupus kini kembali menjulang keluar karena Arga lagi-lagi bersikap egois, tidak apa jika dia tidak ingin menghubunginya Serina tidak masalah sedikitpun, tapi masalahnya Sean sangat merindukan ayahnya.
Serina merasa sangat sedih melihat Sean yang berulang kali jatuh sakit akibat tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Mengompres dahi Sean menggunakan handuk berisi air hangat agar demam lekas turun, sudah dua hari sejak Serina merawat sean tapi tidak ada perubahan.
"Kita ke rumah sakit ya sayang?" Serina menatap sedih putranya yang terus saja menggigil.
Sean menolak
"Aku baik-baik saja Bu" lirihnya yang semakin membuat Serina tidak tega.
Sean tidak bermaksud menyusahkan ibunya, tapi entah mengapa dia tidak suka berada di rumah sakit, mungkin karena semua kejadian yang menimpanya selalu berkaitan dengan rumah sakit.
Mengompres terus menerus tubuh Sean, lagi-lagi rasa kecewa hinggap di dalam hatinya terhadap Arga. Serina tidak bisa melakukan apapun saat Sean terus menerus memanggil Ayahnya saat demam.
"Cepat sembuh"
Cup!
Serina memberikan kecupan pada Sean yang akhirnya bisa memejamkan matanya dengan tenang.
TBC...
Maaf atas keterlambatan Update authornya lagi banyak Tugas ni jadi susah kalo mau ngerjain sambil buat cerita jadi ga fokus.
Kabar gembiranya cerita ini bakalan tamat bentar lagi mungkin ga sampai 70 Chapter bakalan udah tamat nih cerita
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih yang masih bertahan di cerita gaje ini...