Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
24. Monster


__ADS_3

Naura menatap nanar pada seorang wanita yang tengah menatap kosong pada bayi di dalam box berwarna merah muda. sudah dua minggu berlalu sejak mantan suami Serina mengambil paksa putranya dan menukarnya dengan putrinya yang lain, tapi Serina masih belum bisa menjalani hari-harinya dengan benar.


Seperti sudah menjadi kebiasaan untuk wanita itu duduk di sana sambil melamun, terkadang ia menangis tanpa suara.


Kaki Naura melangkah mendekat pada Serina yang tengah mengayunkan box bayi Arina, Serina sudah memberikan nama bayi perempuan itu nama Arina, ia sudah bertekad untuk menjaga Arina sebagai putrinya sendiri.


Awalnya ada keraguan di dalam hati Serina untuk merawat bayi itu tapi tetap saja ia meyakinkan dirinya untuk melanjutkan hidupnya bersama Arina. walau masih tersisa rasa sesak di hatinya ketika melihat bayi itu, mengingatkannya pada putranya sendiri.


"Mbak, ayo makan dulu" Naura bersimpuh di kaki Serina, membuat wanita yang tengah melamun itu tersentak kaget.


Serina tersenyum, "Nanti saja, Mbak mau menidurkan Arina dulu" Ucapnya lembut.


Dalam hati Naura merasa sesak, "Arina sudah tidur sejak tadi Mbak" Lirihnya, ada rasa sedih ketika melihat kerapuhan yang terlihat jelas di dalam diri Serina, wanita yang dulu sangatlah kuat kini terlihat sangat lemah.


Ayunan tangannya pada box bayi Arina terhenti ketika mendengar perkataan Naura. Wajah Serina terlihat pucat ada raut terkejut yang di tampilkan di wajahnya, apa dia melamun lagi?.


Mata sayu nya menatap pada Box bayi yang sedari tadi ia ayun, dia bisa melihat jika Arina tengah memejamkan matanya dengan damai.


"Mbak istirahatlah sejenak" Pinta Naura.


.


Sedangkan di tempat lain


Jessie mendesah jengkel saat Putra dari Serina terus menangis sejak tadi, memang dia tidak ikut ikut mengurus bayi rewel itu karena Arga memang memperkerjakan seorang pengasuh untuk merawat Baby Sean, tapi tetap saja kupingnya terasa panas jika harus mendengar tangisannya.


"Yuni!"


Mendengar namanya dipanggil Yuni berlari tergopoh-gopoh sambil menggendong Sean, menghampiri Jessie.


"Ya nyonya?" tanyanya pada Jessie, kedua tangannya sibuk menepuk-nepuk punggung Sean agar cepat tertidur lelap.


Jessie menatap wanita paruh baya yang sudah bekerja di rumahnya selama 2 minggu dengan nyalang.


"Kamu becus atau tidak sih! merawat bayi saja kamu tidak bisa!" Bentaknya Marah, suaranya yang nyaring sampai membuat bayi di gendongan Yuni terlonjak kaget. dengan sigap Yuni menenangkan bayi itu sambil meminta maaf pada Nyonya nya.


"Maaf Nyonya, sepertinya Tuan muda Sean ingin asi ibunya" Tutur Yuni berharap Jessie mau memberikan ASI-nya pada Sean.


Mendengar perkataan Yuni, Jessie berdecih "Kalau begitu berikan saja pada ibunya!" Bentak Jessie, membuat Yuni terheran-heran. bukan kah Jessie adalah ibu dari Sean?.


"Tutup mulut Mu Jessie"

__ADS_1


Jessie menegang saat mendengar suara rendah yang sangat ia kenali di belakang tubuhnya, benar saja saat ia menoleh kebelakang Arga yang tengah menenteng tas kerjanya berdiri dengan tegap sambil menatap tajam dirinya.


"M-mas? k-kamu sudah p-pulang?" Tanyanya terbata-bata, rasa panik melingkupi dirinya saat ia yakin jika Arga mendengar semua perkataanya tadi pada Yuni.


Arga melangkah mendekat pada Yuni yang sedang menggendong Putranya, tangan kekar Arga mengusap pipi Sean yang memerah karena terus-terusan menangis.


"Bawa Sean kamarnya" Titah Arga tanpa mengalihkan pandangannya pada Putra kecilnya.


Yuni membungkuk pamit lalu pergi dari sana, meninggalkan Arga dengan emosinya yang memuncak bersama dengan Jessie.


Setelah Yuni hilang dari pandangan tatapan tajam Arga mengarah pada Wanita tidak tau diri di hadapannya yang menjabat sebagai Istrinya.


Tangan Arga bertengger di kiri-kanan kantungnya menatap tajam Jessie yang bahkan tidak bisa mengangkat wajahnya untuk menatap Arga.


"Siapa kamu di rumah ini?" suara Arga memang terdengar tenang tapi tatapan pria itu tidak bisa berbohong jika Dia tengah menahan emosinya.


Jessi menggigit bibir bawahnya gugup, "Istri kamu"


"lalu? kenapa kamu menyuruh Yuni membawa Sean pada ibunya?"


"........." Tidak ada jawaban yang keluar di bibir merah milik Jessie.


"Ibu sean adalah kamu....itupun jika kamu masih mau menjadi Istri saya di rumah ini" Jessie menatap Arga, penuh tanya.


"Kamu masih ingin menjadi nyonya Arga kan?"


Jessie mengangguk.


Perlahan tubuh Arga mendekat pada Jessie, pria itu mengarahkan bibirnya mendekat pada telinga sang istri, "lakukan tugasmu sebagai ibu dari Sean, jika ingin uang terus mengalir di rekening mu" Bisik nya, Lirih lalu berjalan pergi melewati tubuh Jessie yang terdiam membeku.


Ada banyak pertanyaan di dalam kepala Jessie, kenapa bisa ia mencintai pria seperti Arga?.


Saat dulu dia menjadi sekretaris pria itu Arga bukanlah pria yang kasar dan dominan seperti sekarang, yang Jessie tau Arga adalah pria lembut yang sangat menyayangi Istri dan keluarganya, karena itulah saat Ayah dari Arga melamar kan dirinya  untuk putranya, Jessie sama sekali tidak menolaknya.


Betapa beruntungnya dia bisa menjadi Istri dari Seorang Arga Wahyutama walaupun menjadi yang kedua Jessie sama sekali tidak masalah, di awal-awal pernikahan mereka pun Arga bersikap baik padanya walau pria itu sedikit bersikap Dingin dengannya.


Tapi sekarang? entah apa yang merasuki pria itu hingga menjadi monster menyeramkan seperti sekarang.


Apa katanya tadi? merawat Sean seperti ibu kandungnya sendiri? mana bisa dia bersikap seperti ibu untuk anak yang bukanlah darah dagingnya sendiri.


Jessie jatuh duduk di sofa tempatnya tadi tubuhnya masih terasa bergetar karena bisikan Arga yang sangat mengancam dirinya.

__ADS_1


"Apa aku kabur saja?" Gumamnya tanpa sadar.


.


.


Setelah beristirahat sebentar tubuh Serina terasa lebih segar dari sebelumnya, sambil menggosokkan handuk kering pada rambutnya yang basah Serina berjalan menuju kamar tempat Arina berada.


Dari luar ia bisa mendengar suara Naura yang sedang bermain dengan Bayi berusia Tiga minggu itu.


Klek!


Bunyi pintu saat Serina membuka knop kamar Arina.


"Mbak? sudah istirahatnya? istirahatlah lagi" Ada nada khawatir dari suara Naura saat melihat Serina kembali dengan cepat.


Serina hanya membalas ucapan Naura dengan senyuman, pandanganya beralih pada Arina yang tengah menatap dirinya dari tempatnya tidur, ibu satu anak itu mendekati bayi perempuannya lalu mengangkatnya untuk dia berikan Asi.


"Mbak benar sudah istirahat kan?" Naura masih tidak percaya dengan pengelihatannya jika Serina sudah segar bugar, pasalnya Serina tidak bisa tidur dengan nyenyak beberapa minggu ini jadi Naura sangat khawatir.


"Iya Naura..." Jawab Serina yang tengah menyusui Arina. Naura hanya bisa menunduk pasrah.


"Aku akan menyiapkan makan malam" Ucap Naura sambil berlalu dari sana, tanpa mau menunggu perkataan Serina.


"Dasar anak itu" Serina menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Naura.


Di dapur Naura tidak langsung menyiapkan bahan-bahan masakan terlebih dahulu ia pergi ke samping rumah agar Serina tidak mendengar pembicaraannya, Naura memencet nomor kontak lalu melakukan panggilan.


Suara telpon yang tersambung terdengar saat orang yang di panggil belum mengangkat telpon dari Naura.


"Hallo.."


Sapa orang diseberang ketika panggilan keduanya tersambung.


Naura mulai bercakap-cakap dengan orang di sebrang hingga kurang lebih sepuluh menit lamanya mereka berbincang panggilan di putus.


"Ini yang terbaik untuk Mbak Serina" Gumamnya.


Gadis yang memakai kaos oblong dan celana olah raga itu kembali masuk kedalam rumah, sampai tiba-tiba saja Serina sudah berdiri di hadapannya tengah menatap curiga.


"Sedang apa kamu di sana?" Tanya Serina memicing merasa janggal dengan tingkah Naura.

__ADS_1


TBC......


__ADS_2