
"Kalian resmi bercerai!!"
Bunyi ketukan palu dari hakim yang agung mengakhiri sidang perceraian yang Serina dan Arga jalani, kini mereka resmi bercerai.
Para orang tua juga turut menghadiri sidang perceraian keduanya, termasuk Venya dan kevin yang tengah menggendong si kecil Vania.
Orang tua Arga menghampiri Serina dengan perasaan bercampur, mereka tidak menyangka jika keputusan menikahkan Arga dengan Jessie akan mengakhiri ikatan yang sudah Serina dan putra mereka jalani selama enam tahun ini.
Walaupun sikap mereka sangat berubah pada Serina, tapi jauh dari lubuk hati mereka sangatlah menyayangi Wanita yang sudah menjadi bagian keluarga Wahyutama selama enam tahun terkahir.
Wanda menggenggam kedua tangan Serina lembut, ibu mertua dari Serina itu merasa dirinyalah yang paling bersalah di sini.
"Maafkan Mama, Serina" ungkapnya tulus.
Raut wajah sendu dari orang tua Arga membuat Serina tidak bisa berkutik, selama ini Serina sudah menganggap kedua orang tua Arga sebagai Orangtuanya sendiri, karena itulah ada rasa tidak senang saat kedua orang itu merasa sedih karena dirinya.
"Papa lah yang bersalah atas kemalangan yang kamu alami sekarang ,nak" Satya memang merasa paling bersalah di sini, karena tuntutan dari para pemegang saham agar Arga segera mendapatkan keturunan supaya bisa mengambil alih posisi Satya di perusahaan saat ini, membuatnya tidak punya pilihan lain selain menikahkan Arga dengan Sekretarisnya sendiri.
Serina menatap mantan ayah mertuanya tidak enak.
"Mama dan Papa hanya ingin yang terbaik untuk putra kalian, jadi keputusan kalian sudah benar untuk menikahkan Mas Arga kembali, jadi berhenti menyalahkan diri kalian" Serina membalas genggaman erat dari Wanda yang tidak bisa menahan air matanya keluar.
"Perpisahan antara Aku dan Mas Arga tentu tidak membuat hubungan kita berakhir kan? jadi Mama jangan menangis" ucap Serina sambil mengusap air mata Mama mertuanya menggunakan kedua tangan,
Sebelum pergi dari sana Serina berpamitan dengan kedua mertuanya lalu pada Arga dan juga Jessie.
"Kak terimakasih sudah membantu ku selama ini" Serina memeluk kakak iparnya dengan perasaan penuh rasa terimakasih.
"Sudah seharusnya sesama keluarga saling membantu" Balas Venya.
Orang tua Serina berpamitan kepada semua orang, lalu membawa putri mereka keluar dari ruang sidang.
Serina dan kedua orangtuanya sudah pergi meninggalkan gedung tempat dimana perceraian berlangsung, di dalam mobil Serina tidak bisa bergerak dengan nyaman dia tau jika orangtuanya tidak akan berbaik hati menampung wanita yang sudah menjadi janda seperti dirinya.
"Kamu tau perkataan ayah tempo hari bukanlah sebuah candaan kan?" Bram Pangestu, yang sedari persidangan berlangsung sampai akhirnya berakhir hanya diam tanpa suara, akhirnya membuka mulutnya.
Tas yang berada di pangkuan Serina menjadi sasaran rasa gugupnya saat berada di bawah tekanan sang ayah.
__ADS_1
Serina mengangguk
Bram menepikan mobilnya ke pinggir jalan yang agak lenggang kemudian matanya melirik tajam pada Serina lewat kaca spion.
"Kalau begitu kamu seharusnya tau apa yang harus kamu lakukan sekarang, kan?"
Tanpa di suruh Serina membuka pintu mobil, sebelum keluar ia sempat menatap kedua orangtuanya bergantian.
"Ayah,ibu, terimakasih! A-aku pergi" ucapannya sebelum keluar dengan tergesa-gesa.
Setelah Serina keluar mobil ayahnya melaju meninggalkan Serina yang menatap sendu mobil yang perlahan menjauh.
Ada rasa sesak di hatinya saat kedua orangtuanya pergi tanpa mengucapkan sepatah kata untuk nya, padahal sebagai orang tua seharusnya mereka memberikan sedikit kekuatan pada putri mereka yang baru saja mengalami hal yang buruk di hidupnya.
"Selamat tinggal ayah,ibu"
Serina menengadahkan kepalanya keatas mencegah bulir-bulir air mata yang akan keluar dari matanya.
Kehilangan suami yang selama enam tahun ini menjadi sandarannya mungkin Serina mampu melewatinya, tapi kehilangan orang tua yang selama ini merawat dan menjaganya? Entahlah, Serina berharap kedua orangtuanya masih mau mendoakan dirinya.
Berjalan menyusuri trotoar jalan yang sepi, Serina mengingat kembali kenangan nya bersama orangtuanya dulu.
Hari-hari Serina penuh warna saat orangtuanya tidak lagi menekannya, bahkan mereka selalu memberikan hadiah terbaik di hari-harinya sebelum meninggal kan rumah.
Di hari pernikahan nya bahkan ayah dan ibunya memberikan sebuah pohon Cherry yang sangat ia sukai, betapa bahagianya Serina saat itu.
Tapi sayangnya semua itu hanya bertahan sebentar, setelah menikah dengan Arga kedua orangtuanya tidak pernah menghubungi nya lagi.
Bahkan pertemuan mereka hanya terjadi saat keluarga dari suaminya mengadakan pertemuan di kediaman mereka.
Serina tersenyum miris saat mengingat semua itu.
"Bahkan orangtuaku Sendiri tidak menginginkan ku"
Lalu? Siapa yang menginginkan dirinya?.
.
__ADS_1
.
Rumah yang besarnya tidak seberapa berdiri kokoh berlokasi di pinggiran kota, suasana di sekitarnya yang sangat asri membuat rumah yang terbuat dari kayu berwarna cokelat terang itu terlihat sangatlah indah.
Serina tidak sabar untuk masuk kedalamnya, dan menata semua barang-barang bawaannya, walaupun tinggal sendiri di rumah nya Serina sangat yakin jika ia akan betah tinggal di sana.
Agak jauh dari para tetangga tapi tidak terlihat sepi karena banyak orang-orang yang melintas di depan rumahnya.
Serina menarik kopernya masuk kedalam rumah yang baru hari ini ia tinggali, untuk sekarang ini dia akan membersihkan rumah lalu beristirahat setelah itu baru dia akan menyapa para tetangga.
Kreet!
Saat pintu rumah terbuka bau kayu yang khas tercium lembut di hidungnya, dalamnya terlihat sangatlah luas karena barang-barang nya hanya sedikit.
Serina mengecek satu-persatu kamar-kamar yang ada di dalamnya, ada dua buah kamar.
Satu kamar utama dan satu lagi kamar tamu yang terletak agak jauh dari kamarnya, kamar mandinya pun sudah ada di dalam masing-masing kamar.
Serina meletakkan kopernya kedalam kamar yang akan ia tempati, lalu kaki jenjangnya melangkah menuju tempat favorit nya setelah kebun.
Dapur...
Senyum nya mengembang penuh saat melihat dapur yang tersusun sangat rapi lengkap dengan peralatannya, dengan penuh semangat dirinya melihat semua peralatan yang tersedia.
Keningnya mengerut heran saat melihat semua perlengkapan masak yang tersedia, seingatnya orang yang menjual rumah ini padanya mengatakan jika peralatan yang tersedia hanya sedikit untuk selanjutnya Serina harus membelinya sendiri.
Dari awal juga dia merasa heran saat harga yang di tawarkan turun drastis dari harga awal.
Saat Serina bertanya orang itu hanya mengatakan jika ada kesalahan dalam harga nya, sebenarnya Serina curiga jika ada orang yang membantunya, tapi siapa?.
Serina menggelengkan kepalanya, seharusnya dia bersyukur dengan semua yang di dapatkan, kenapa harus banyak berfikir?.
Memangnya siapa yang mau melakukan hal yang merepotkan seperti itu?
Kan?
TBC.....
__ADS_1
SLOW UPDATE BELUM KONTRAK 🤫