
Arina menatap bingung Sang ibu yang sepertinya sangat gelisah dia hanya menatap bagaimana ibunya mengemasi seluruh pakaian mereka kedalam koper besar.
Pertemuan mereka dengan Arga tadi sudah membuktikan jika mereka tidak aman jika terus berada di sini, selama ini ia sudah bersusah payah melupakan mantan suaminya itu tapi dengan seenaknya pria itu muncul lagi di hadapannya.
Serina memasukkan semua pakaian Arina dan dirinya sendiri kedalam koper, memastikan tidak akan ada yang tertinggal di apartemen ini nantinya.
Kenapa setelah sekian lama menghilang Arga muncul kembali?, Tidak menampik rasa rindu yang membuncah saat bertemu dengan mantan suami yang dulu sangatlah ia cintai.
"Unda kita mau libulan ya?" tanya Arina keheranan.
Serina menoleh pada putrinya, astaga dia melupakan gadis kecil itu karena emosinya bertemu Arga tadi.
Kegiatannya terhenti Serina memutuskan untuk menghampiri Arina sebentar, gadis itu duduk di kasur dengan tenang.
"Sayang kita akan pindah dari sini" Serina mengusap rambut lembut sang putri mencoba memberikan pengertian pada gadis itu.
Arina tampak bingung dahinya mengerut lucu tidak mengerti perkataan sang ibu. Serina tertawa kecil melihat itu semua.
"Arina bermain saja ya, bunda masih banyak pekerjaan" Pinta nya pada Arina.
Gadis kecil itu kemudian mengangguk lalu berlalu pergi ke luar dari kamar untuk bermain.
"Aku belum menghubungi Naura"
Pasti gadis muda itu terkejut ketika melihat mereka pindah nanti sebenarnya dia tidak tega harus memberi kabar ini pada Naura, tapi jika tidak di beri tau sekarang anak itu pasti akan marah padanya.
Serina mengambil ponselnya di atas kasur kemudian mencari kontak Naura di urutan paling atas daftar kontaknya, saat menemukan nomor tersebut Serina segera melakukan panggilan pada Naura.
Panggilan pertama tidak terjawab begitupun dengan panggilan seterusnya.
Sudah biasa jika Naura pulang kampung pasti saja gadis itu jarang sekali memegang ponselnya bukan karena sengaja melainkan jaringan di daerah sana lah yang sulit terjangkau.
Memutuskan untuk kembali berkemas dia akan menghubungi Naura nanti saja, lagipula banyak hal yang harus di selesaikan untuk mengurus kepindahan nya dari apartemen ini, mungkin saja Naura sedang tertidur sekarang.
Serina berjalan menuju ruang tamu tidak lama ia menggelengkan kepalanya saat melihat banyak mainan berserakan di lantai tapi dia tidak melihat keberadaan pemiliknya, mengedarkan pandangannya ke arah sofa di sana ia bisa melihat Arina yang tertidur pulas dengan boneka beruang putih kesayangannya.
Entah apa yang membuat Arina sangat menyukai beruang putih itu sejak bayi, mungkin karena dia tau jika itu adalah pemberian ayahnya? entahlah, pemikiran balita memang sangat sulit di tebak.
Memungut satu-persatu mainan milik Arina kemudian menaruhnya di wadahnya semula, kemudian Serina mengangkat tubuh Arina menuju kamar mereka, jam tidur Arina sudah terlewat dari biasannya pantas saja Gadis kecil itu tertidur tidak tau tempat.
.
.
__ADS_1
Kejadian tadi sangat membekas di ingatan Arga bagaimana Jessie dengan seenaknya mengungkapkan kebenaran yang susah payah Arga simpan, apalagi ketika melihat Putranya ketakutan akibat pertengkaran mereka.
Arga duduk di taman peninggalan Serina satu-satunya tempat yang bisa membuat pikiran nya tenan, sambil menikmati nikotin yang jarang-jarang ia sentuh otaknya terasa lebih tenang sekarang.
Andaikan tidak ada kedua orang tuanya tadi mungkin Arga akan melenyapkan Jessie saat itu juga, tapi keadaan sangat tidak mendukung di tambah lagi Sean harus melihat kemarahannya.
Malam semakin larut tapi matanya tidak kunjung terpejam, sepertinya dia harus tidur di kamar favoritnya lagi malam ini.
"Arga"
Satya menghampiri Putra tunggalnya yang tengah menghisap rokok di taman belakang rumahnya.pria paruh baya itu ikut duduk bersebelahan dengan Arga.
Tidak ada yang bersuara di antara mereka memang kedua pria tersebut di kenal irit bicara oleh semua orang.
"Sean?"
Pertanyaan yang tidak jelas tapi Satya yang memang sudah mengenal Arga sejak kecil tau apa maksud perkataan putranya itu.
"Ibumu sudah menidurkannya"Jawab Satya. Arga hanya mengangguk
"Pernikahan kalian tidak berjalan lancar?" Kali ini perkataan Satya menarik perhatian Arga.
Decihan terdengar dari bibir ayah dua orang anak itu, "Pernikahan yanga mana?" pasalnya kedua kali pernikahannya tidak berjalan lancar.
"Serina kamu mengusiknya lagi?" pertanyaan di balas pertanyaan.
"Dari awal aku hanya mengambil apa yang harusnya menjadi milikku" Ucap Arga sembari menghembuskan asap dari bibirnya.
"Seharusnya kita bisa menunggu lebih lama lagi, agar kejadian seperti ini tidak terjadi" Dialah yang paling merasa bersalah disini, akibat tekanan yang ia berikan pada Arga membuat putranya itu kehilangan jati dirinya.
Bahkan bukanya mendukung nya dia malah memberikan solusi dengan menikahkan kembali putranya dengan Jessie sekretaris putranya sendiri. bukan hanya menyakiti satu orang dia malah menyakiti banyak pihak dari tiga keluarga.
"Tidak ada gunanya menyesal" Arga bangun dari duduknya,"Lagi pula aku tidak akan melepaskan milikku lagi ayah"Lanjutnya lagi.
Satya terdiam dia menatap punggung tegap putranya yang berjalan pergi memasuki rumah, meninggalkan dirinya sendiri dengan pra duga yang tidak ada habisnya.
"Setidaknya pikirkan putramu Arga" Bocah laki-laki itu sangatlah kecil di masanya yang sekarang dia akan mengikuti apa yang dia lihat, ketakutan terbesar Satya adalah jiwa psikis anak itu terganggu akibat rumah tangga ayahnya yang kacau.
.
Segala persiapan telah siap Siang ini dia berencana untuk lapor pada pengelola apartemen terkait ke pindahannya, walaupun Apartemen yang saat ini ia tinggali di berikan sebagai hadiah tetap saja ada prosedur yang harus ia jalani tidak bisa seenaknya.
Serina membawa serta Arina di gandengannya menuju lantai dasar untuk bertemu pihak pengelola.
__ADS_1
Ting!
Mereka telah sampai di lantai bawah pemandangan orang-orang yang berlalu lalang memanjakan mata.
Serina menarik pelan lengan mungil Arina menuju Resepsionis.
"Bianca, selamat siang"
Resepsionis yang bernama Bianca itu tersenyum senang saat Serina menghampirinya.
"Siang Mbak! hallo kecil" Sapa nya pada Serina dan Putrinya.
Arina yang lumayan dekat dengan Bianca itu tertawa sambil melambaikan tangannya pada Bianca.
"Ada apa Mbak?"
"Aku ada perlu dengan pihak Pengelola Apartemen, bisa kamu beri tau nomornya"Pinta Serina menjelaskan maksud kedatangannya siang ini.
Bianca mengerutkan keningnya,"Apa terjadi masalah?"
Serina menggeleng, membuat Bianca yang tadinya merasa was-was kini bersikap biasa saja.
"Mbak berencana pindah Apartemen, karena itu bisa pertemukan kami?"
Raut wajah tenang Bianca pudar seketika mendengar jika Serina ingin pindah bisa-bisa pekerjaannya hilang saat ini juga.
"Tapi kenapa Mbak" Tanya nya terkejut.
"Bukan masalah besar, Mbak hanya ingin tinggal di rumah seperti dulu"
Gawat!
Bianca berperang dengan batinnya bagaimana cara agar Serina tidak meninggalkan Apartemen ini, satu-satunya cara adalah dengan menghubungi pimpinannya langsung agar Serina tidak jadi pergi. karena tugasnya disini adalah menjaga dan mengawasi Serina secara diam-diam atas perintah atasannya itu.
Bianca mengangguk yakin dengan keputusannya.
"Mbak bisa menunggu di ruang tunggu kan?"
Serina kemudian mengangguk tidak ada salahnya kan menunggu?.
Kemudian Bianca membawa Serina dan Arina menuju ruang tunggu, dia tidak ingin ambil resiko Serina mengetahui keterlibatannya dalam mengawasi Wanita itu di apartemen ini. sungguh Bianca sangat menghormati Serina dia tidak ingin kehilangan teman seperti wanita itu.
"Aku akan menghubungi pihak pengelola, mbak tunggu saja di sini ya"
__ADS_1
TBC....