
Serina tidak bisa berfikir jernih saat mendengar perkataan Hans beberapa saat lalu, akibat kematian dari pimpinan perusahaan Wahyutama dan tragedi kecelakaan yang menimpa satu-satunya pewaris perusahaan besar tersebut kini kondisi perusahaan sedang tidak baik-baik saja.
Beberapa orang yang bekerja sama dengan perusahaan Wahyutama memutuskan kontrak begitu saja, padahal belum genap sehari Arga mengalami kecelakaan.
Tapi kondisi sekarang sudah sangat tidak terkendali.
"Sebagian karyawan memilih mengundurkan diri dari perusahaan, dan beberapa investor meminta ganti rugi mengenai perusahaan saat ini" Hans menjelaskan masalah yang terjadi di kantor.
Belum lagi beberapa karyawan yang memang belum mendapatkan gaji mereka bulan ini, dan beberapa perusahaan mulai menarik dana mereka dari perusahaan sekarang.
Wahyutama group sedang berada di ambang kehancuran sekarang.
"Bagaimana jika Mas Arga bangun nanti? Apa yang harus kita katakan padanya Hans?" Serina menutup wajahnya, menyembunyikan wajah yang kembali berlinang air mata.
"Saya juga tidak dapat berbuat apapun nyonya" karena Hans punya keluarga yang harus ia nafkahi, bertahan di perusahaan milik Arga sekarang tidak ada gunanya.
Bahkan mereka belum tau kapan Arga akan sadar, ketakutan terbesar nya adalah jika pria itu tidak akan membuka matanya kembali.
"Ada masalah yang lebih besar nyonya"
Serina mendongak menatap Hans, "A-apa?"
"Rumah utama Wahyutama akan di sita oleh pihak bank"
Deg
"Bagaimana bisa?!" Venya menyela pembicaraan Hans dan Serina.
Wanita satu orang anak itu bergabung dengan Serina dan juga sekretaris sepupunya.
"Rumah itu adalah peninggalan keluarga besar kami! Bagaimana bisa mereka mengambil nya begitu saja?!" Seru Venya tidak terima.
"Saya tidak memiliki wewenang nyonya venya, pihak bank mengatakan semua aset milik Wahyutama akan di sita untuk menutupi seluruh ganti rugi yang sekarang di alami Tuan Arga dan keluarga"
Serina mengusap punggung kakak iparnya, Venya dan Kevin mungkin bisa membantu membiayai pengobatan Arga tapi jika untuk menyelamatkan perusahaan Wahyutama mereka tidak akan mampu.
"Kita bicarakan ini setelah Mas Arga siuman"
.
.
Tubuh terbaring lemah Arga di pasang berbagai jenis alat entah apa gunanya, lelaki itu kini sudah melewati masa kritisnya tapi dokter tidak tau pasti kira-kira kapan Arga akan sadar, seluruh keluarga hanya bisa berdoa untuk kesembuhan pria itu.
Klek
__ADS_1
Serina memasuki ruangan Arga dengan perlahan di kedua tangannya terdapat kantung berisi makanan berat dan ringan, kepalanya menoleh kanan-kiri mencari keberadaan Venya yang bertugas menjaga Arga.
Wanita itu tidak terlihat dimana-mana.
Langkahnya mendekat menuju Arga yang masih setia memejamkan kedua matanya Erat, Serina meletakkan belanjaan nya di atas meja lalu ia duduk di kursi samping ranjang Arga.
Menatap lekat wajah tampan Arga yang sekarang hampir tidak terlihat akibat tertutup dengan perban, bahkan kaki dan tangan kokohnya sekarang juga terbungkus perban.
Serina menatap sendu Arga, pria ini adalah pria yang beberapa waktu lalu masih bisa bersikap arogan, pria yang juga mendekapnya Erat saat Arina pergi meninggalkannya.
Tanpa sadar cairan bening mengalir di pipinya ketika menatap Arga.
Serina menggenggam telapak tangan Arga yang tertancap jarum infus.
Dalam hatinya berdoa agar Tuhan cepat membuat Arga sadar dan bisa beraktivitas seperti biasanya, bagaimana nanti saat Arga Sadar dan tau jika perusahaan keluarganya hancur? Dan apa yang harus ia jawab saat Sean bertanya tentang ayahnya?
"Kumohon sadarlah Mas" Serina membawa tangan Arga kearah bibirnya, mengecupnya sambil berdoa untuk kesembuhan pria itu.
Venya yang baru saja kembali dari mengangkat telepon terdiam saat melihat Serina tengah menjaga Arga, dia bisa merasakan bagaimana wanita itu masih mencintai Arga yang sangat jahat padanya.
Ibu dari Vania itu bingung apakah ia harus masuk kedalam atau menunggu sampai Serina keluar?
"Nyonya?" Hans mengerutkan keningnya heran melihat Venya yang berdiri di depan kamar Arga.
"Sstt!" Venya mengisyaratkan Hans untuk diam, bisa gawat jika Serina terganggu dengan kedatangan mereka.
"Mbak?"
Nah kan!
Venya tersenyum canggung saat Serina keluar dari dalam ruangan Arga, wanita itu sepertinya sudah selesai dengan kegiatan nya tadi.
"Kenapa tidak masuk?"
Venya melirik Hans yang juga tengah menatapnya.
"I-itu mbak baru saja datang, dan kebetulan bertemu dengan Hans tadi"
Hans hanya diam ketika namanya di bawa-bawa, sedangkan Serina hanya mengangguk paham.
"Kamu mau kemana?" Tanya Venya ketika melihat Serina siap dengan tas nya.
"Oh, Aku mau pulang Mbak, Sean pasti mencari orangtuanya di rumah"
"Kalau begitu biar saya mengantar anda nyonya"
__ADS_1
Serina dan Hans berpamitan dengan Venya, kemudian pergi meninggalkan wilayah rumah sakit untuk menuju apartemen miliknya.
Bicara dengan apartemen yang sekarang ia tinggali.
Serina menoleh pada Hans yang tengah mengemudikan mobil pribadinya sendiri karena pihak bank sudah menyita seluruh aset milik Arga tanpa tersisa.
"Hans.."
"Ya nyonya?"
Ibu dari Sean itu terlihat ragu untuk berbicara, tapi setelah tarikan nafas akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka suaranya.
"Bagaimana dengan Apartemen yang kami tinggali sekarang?" Sebenarnya Serina tidak masalah tinggal di mana pun jika Apartemen itu juga di sita, tapi dia juga perlu Persiapan untuk membenahi perlengkapan nya.
Hans mengerti dengan keresahan yang di rasakan oleh Serina.
"Nyonya tenang saja, Tuan sudah membeli apartemen itu atas nama nyonya Serina, pihak bank tidak berhak mengambil fasilitas yang anda miliki" jelas nya pada Serina, mendengar hal itu Serina sedikit merasa lega.
Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di benaknya.
"Bagaimana jika kita jual apartemen itu untuk menutupi kerugian perusahaan?"
Hans menatap Serina dengan pandangan beragam, sebenarnya sebaik apa mantan istri dari boss nya ini?
"Jika anda mengatakan nya pada Tuan Arga, saya yakin beliau akan sangat marah nyonya"
Serina mengerenyit heran tidak paham mengenai perkataan Hans.
"Tuan membeli apartemen tersebut sebagai hadiah untuk nyonya, dan pantang bagi Tuan untuk menarik kembali hadiah yang ia berikan" Hans mengerti betul bagaimana dengan Arga, walau sesusah apapun pria itu nanti dia pastikan jika Arga tidak akan pernah meminta bantuan orang lain, walaupun itu adalah wanita yang ia cintai.
Pembicaraan mereka berakhir tepat setelah mobil yang di Kendarai Hans berhenti di depan gedung apartemen nya.
"Terimakasih banyak Hans, tidak ingin mampir dulu?" Tawar Serina melalui kaca mobil yang terbuka.
Hans menggelengkan kepalanya "Saya ada sedikit urusan di luar nyonya, lain kali saja"
"Baiklah, hati-hati di jalan"
Mobil Hans berlalu menjauh meninggalkan Serina di belakangnya.
Sampai di depan unitnya Serina langsung menekan pin nya lalu pintu langsung terbuka.
Tidak terlihat siapapun di dalam apartemen sekarang, kemana Sean dan Naura?
Lalu Serina melihat jam dinding yang menunjukkan waktu lewat dini hari pantas saja tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terlihat.
__ADS_1
Sean dan Naura pasti sudah tertidur pulas sekarang.
TBC......