Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
42. Berlalu


__ADS_3

Beberapa tahun berlalu......


Serina tidak berhenti-hentinya mengomel pada putri satu-satunya itu, sudah sejak subuh tadi dia membangun kan Arina untuk menyuruhnya lekas mandi tapi gadis itu tidak mendengarkannya dan malah kembali tidur.


Dia mengira jika Arina sudah bangun tapi ternyata setelah dia selesai masak tidak ada tanda-tanda gadis kecil itu akan menyusulnya ke dapur.


"Cepat Arina! kamu bukan pemilik sekolah bisa datang kapan saja!"


Serina merapikan seragam putrinya sambil terus mengoceh.


"Paman Malvin sudah menunggu kamu sejak tadi, tapi kamu malah asik tidur"


"Bunda berhenti, telinga Arina sakit" Arina mengerucutkan bibirnya jengah dengan omelan ibunya yang tidak ada habisnya.


Serina mendelik seram mendengar ucapan gadis yang tengah mengenakan seragam sekolahnya itu, gadis nya yang penurut sekarang berubah menjadi gadis pembangkang karena bergaul dengan Naura.


"Dasar nakal!"


"Aduh!" ringis Arina ketika ibunya mencubit kedua pipinya sampai memerah.


"Cepat sarapan setelah itu berangkat"


Arina mengusap pipinya yang masih terasa sakit kemudian segera bangkit dari atas kasur menuju ruang makan, meninggalkan sang ibu dengan pekerjaannya.


"Paman Tampan!"


Bruk!


Malvin yang sedang meminum kopi buatan Serina itu langsung terbatuk-batuk akibat tersedak, tanpa di duga-duga Arina memeluk dirinya dari belakang sehingga terkejut.


"Uhuk!"Malvin menepuk-nepu dadanya menghilangkan rasa sesak akibat tersedak.


"Paman kenapa baru lama tidak datang?"


Lihat gadis kecil itu, bahkan dia tidak peduli dengan paman tampan nya yang tersedak akibat ulahnya.


Setelah sedikit mendingan, Malvin langsung mengangkat Arina ke pangkuannya.


"Putri kecil merindukan paman?"


Arina mengangguk gemas.


"Bagaimana sekolah mu? semua baik-bai saja kan?" Tanya Malvin, sudah menjadi kebiasaan nya jika  bertemu dengan Putri Serina dia pertama kali akan menanyakan tentang kegiatan sekolah Gadis itu.


"Semua baik" Arina mengetuk-ngetuk jarinya di dagu seolah berfikir apa saja kejadian yang baru-baru ini terjadi di lingkungan sekolahnya.


Arina kemudian berseru kencang membuat Malvin sedikit terkejut.


"Ada murid di kelas Arina yang suka membuat masalah" Adunya pada sang paman.


Malvin mengerut heran, bahkan di jenjang pendidikan Sekolah Dasar pun masih ada pembuat onar.

__ADS_1


"Siapa dia?"


Arina menghela nafas, kemudian menggeleng


"Tidak tau, karena dia anak nakal semua orang menjauhinya, Arina juga termasuk" Jawab seadanya.


"Memang kamu harus menjauhi murid yang bermasalah seperti itu!" Malvin berseru menyetujui perkataan Arina, jika Arina bergaul dengan anak seperti itu pasti ibunya akan kesusahan nanti.


Arina tertawa, ucapan Paman Tampannya berbeda sekali dengan sang ibu. "Jika paman adalah bunda, pasti jawaban kalian berbeda" Celetuknya membuat Malvin penasaran.


"Memangnya Bunda mu akan berbicara apa?"


"Bunda itu sangat baik, walaupun ada anak nakal di seluruh dunia pasti dia tidak akan menyuruh Arina menjauhinya, malahan bunda akan menyuruh Arina untuk berteman dengannya, Tapi bunda selalu berpesan tidak peduli berteman dengan siapapun asalkan kita membatasi diri agar tidak terlibat terlalu jauh maka semua akan baik-baik saja" Jelasnya panjang lebar, karena Arina sering menceritakan anak itu pada ibunya dan tanggapan ibunya berbeda dengan tanggapan Paman Tampan.


Arina pasrah rencananya dia ingin mengetahui kecocokan Paman Tampan dan Sang ibu, tapi ternyata mereka berdua sangat berbeda dari segi pendapat atau apapun, yang menyamakan mereka hanyalah keduanya adalah orang baik.


Jika orang baik semua orang di dunia ini juga baik, pernikahan tidak akan berjalan lancar hanya jika mereka sama-sama baik.


Paman Malvin dan Ibunya tidak bisa bersama, itulah pendapatnya saat ini.


Malvin tertegun Serina memang seperti itu, karena itulah dia bisa sangat menyukai wanita seperti Serina, sejauh ini wanita itu sudah mendidik putrinya hingga menjadi seperti sekarang.


Malvin menangkup wajah Arina, "Perkataan ibu mu benar, jadi jangan pernah membeda-bedakan teman, oke!"


"Oke!"


"Arina! Malvin!"


Malvin dan Arina saling bertatapan.


"Jam berapa sekarang?! lihat! Astaga bahkan kalian belum menyentuh sarapan sama sekali!"


Serina berjalan kearah mereka kemudian megambil Arina dari pangkuan Malvin.


"Sebenarnya apa yang kalian berdua lakukan sejak tadi?!" Serina berjalan menuju lemari tempat ia menyimpan perkakasnya, mengambil satu lagi wadah tempat bekal lalu mengisinya dengan nasi goreng yang ia masak.


"Tidak ada waktu untuk sarapan! kamu bawa saja dua bekal ini lalu sarapan di kelas!" Malvin dan Arina hanya bisa menatap Serina yang bergerak kesana-kemari menyiapkan bekal untuk Arina.


Setelah siap Serina memasukkan bekal tersebut kedalam tas sang putri.


"Ini untuk Mu" Serina menyerahkan bekal satu lagi untuk Malvin.


"Sebaiknya kalian berangkat sekarang sebelum terlambat"


Malvin tersadar saat Serina memberikannya bekal, kemudian melangkah menuju pintu dengan menggandeng Arina di sebelahnya.


"Hati-hati!"


Mungkin seperti ini lah rasanya memiliki seorang istri, tanpa sadar Malvin malah tersenyum-senyum tidak jelas.


.

__ADS_1


.


Arina melambaikan tangannya pada mobil Malvin yang berjalan menjauh dari sekolahnya.


"Hallo pak Satpam, selamat pagi!" Sapa Arina pada penjaga sekolah yang tengah membukakan pintu gerbang pada Arina.


"Selamat pagi Arina, Hari ini terlambat" Sapa nya, walau gerbang sudah di tutup Satpam tersebut tetap membukakan gerbang untuk Arina.


"Terimakasih pak!"


Semua orang tau Arina, terlebih penjaga sekolah seperti dirinya, karena gadis kecil itu sangat ramah dan ceria membuat siapa saja menyukainya, tak terkadang gadis itu sering membantu mereka mengurus sekolah ini.


Saat Arina sampai di kelas Guru belum terlihat sama sekali itu tandanya Arina tidak harus mendengar ocehan wali kelas karena terlambat.


Setelah menyapa teman-teman sekelas Arina kemudian duduk di kursinya lalu mengeluarkan kotak makanan yang di berikan sang ibu. Memakan nya dengan lahap karena memang dia belum sarapan sejak pagi tadi.


Di tengah-tengah suasana yang nyaman dan tentram di kelas Arina dan kawan-kawan, pembuat onar yang tadi di bicarakan Arina dan Malvin datang dengan wajah datarnya.


Jika di lihat-lihat bocah lelaki itu bukan lah anak yang suka mencari masalah pada teman-teman sekelasnya, tapi karena sering terganggu dengan ejekan anak-anak lain mengenai ibunya membuat bocah itu tidak segang-segan melayangkan tinjunya.


Arina tidak peduli dia kemudian melanjutkan acara sarapannya tanpa terganggu sedikitpun. Arina memang tidak memiliki teman dekat, selain karena murid-murid di sini begitu pemilih, mereka juga sering mengejek nya tidak punya ayah.


Bukan hanya bocah laki-laki itu saja yang jadi bahan ejekan dirinya juga menjadi bahan ejekan, tapi bedanya saat bocah itu melawan Arina hanya diam dan membalas mereka dengan nilainya.


Bugh!


Brak!


"Kyaa!"


Semua murid terkejut melihat salah satu teman sekelas mereka terkapar di lantai setelah mendapatkan bogeman mentah dari pembuat onar, bahkan tidak tanggung-tanggung bocah lelaki itu mengangkat Kursi menggunakan tangannya lalu bersiap melemparkan pada lawannya, tapi untung saja wali kelas cepat datang.


Suasana seperti ini sudah sering terjadi di kelas 1A, tap entah kenapa Guru-gur tidak juga mengeluarkan pembuat onar itu dari sekolah.


.


Jam istirahat telah tiba, Arina menatap kotak bekalnya dengan bingung apa yang harus dia lakukan ya?.


Arian mengusap perutnya, dia masih kenyang.


Lalu tatapannya beralih pada Pembuat onar yang tengah duduk tenang yang tengah membaca bukunya.


Apa dia berikan saja pada anak itu ya? hitung-hitung menjadi perkenalan untuk mereka berdua yang sama-sama tidak memilik salah satu pelengkap orang tua.


TBc....


Sekarang kita sudah masuk ke tahap anak-anak dari Jessie dan Serina dewasa ya.


mulai sekarang kita akan lebih sering lihat permasalahan anak-anak yang kurang kasih sayang vs anak dengan kasih sayang berlebih.


sekali lagi yang komentar nya ga aku balas maaf ya, soalnya aku masih ragu buat buka komentar.

__ADS_1


takut kena mental breakdown...


__ADS_2