
Kunjungan nya ke rumah mantan suaminya sudah terlewati beberapa Minggu, setelah kejadian itu Serina hampir setiap hari bertemu dengan Arga.
Bukan karena sengaja atau apa melainkan Sean yang sekarang selalu bergantian dengan Arina main kerumah masing-masing.
Seperti saat ini Sean dan Arina tengah bermain di ruang tamu apartemen nya, Serina hanya menatap kedua bocah itu sesekali dia mengajak keduanya berbicara jika perlu.
Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, ternyata panggilan dari salah satu pegawainya mereka ingin memastikan mengenai bahan-bahan apa saja yang harus di siapkan untuk besok.
Serina menatap kedua anaknya bingung, di saat seperti ini biasanya dia meminta tolong pada Naura tapi karena Gadis itu sudah memiliki pasangan sekarang membuat nya ragu untuk minta tolong.
"Bibi? Ada apa?" Sean melihat kegelisahan di wajah ibunya.
"Sean... Bibi harus pergi ke kedai, sekarang bibi bingung bagaimana dengan kalian?" Resah nya bingung harus bagaimana.
"Bunda tenang saja, aku dan Sean akan baik-baik saja" Arina menengahi mencoba membuat sang ibu tidak khawatir.
Serina tersenyum menatap kedua putra-putri nya, tidak terasa mereka sudah sebesar ini sekarang.
"Kalau begitu jaga diri kalian baik-baik ya"
"Baik!"
.
.
Selesai mengurus masalah kedai miliknya sekarang Serina berencana mengunjungi toserba untuk membeli makanan ringan.
Menghampiri rak berisi jajanan wanita itu mengambil beberapa makanan ringan yang menurut nya menyehatkan, seperti bolu, Snack, dan susu.
Setelah dirasa cukup Serina berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
Keluar dari toserba dengan membawa belanjaan Serina menyetop taksi yang kebetulan lewat.
Di perjalanan Serina sedang menduga-duga apa yang sedang kedua anaknya lakukan, ini pertama kalinya dia meninggalkan anaknya seorang diri.
Jika di pikir Serina tidak pernah menyangka kini Sean berada di rumah nya bahkan sesekali bocah itu menginap, walaupun dia memanggil nya BiBi itu sudah cukup.
"Sudah sampai nyonya"
Serina turun dari taxi setelah membayar sejumlah uang.
Memasuki gedung apartemen yang ia tinggali lalu menaiki lift yang akan membawanya menuju unitnya.
Ting!
Serina keluar dari pintu lift kemudian menuju unitnya nomor 1707.
Menekan password apartemen nya beberapa digit angka lalu pintu pun terbuka.
Jreng!
Serina menutup mulutnya ketika melihat kondisi apartemen nya yang sangat berantakan, bahkan keterkejutan nya belum juga usai ketika melihat Malvin dan Arga berada di unitnya.
__ADS_1
Tawa Serina pecah ketika melihat kondisi kedua pria dewasa itu sekarang.
"Ahaha! A-apa yang terjadi?" Serina memegangi perutnya akibat tertawa berlebihan.
Bagaimana tidak?
Arga yang berwajah datar yang selalu berpenampilan rapi dan bersih kini terlihat lucu karena rambut nya di ikat lucu seperti ini, belum lagi bibir nya di berikan lipstik berwarna merah.
Sedangkan Malvin lebih mengenaskan lagi, Sean bocah itu benar-benar melampiaskan kekesalannya pada pria yg dia anggap sebagai perusak rumah tangga orangtuanya.
Wajah Malvin penuh dengan coretan tinta spidol, entah itu bisa hilang atau tidak.
Serina menggelengkan kepalanya, tatapan nya mengarah pada Arina dan Sean yang tengah duduk nyaman di atas sofa.
"Siapa yang mengajarkan kalian bersikap tidak sopan begini?" Serina berkacak pinggang menatap marah kedua anaknya.
Sean dan Arina menunduk, siapa suruh kedua orang dewasa itu mau.
"Kalian juga! Bagaimana kalian bisa masuk?" Serina menunjuk mantan suaminya dan Malvin.
Arga Tidak menjawab pria itu malah sibuk mencabut karet yang diikat oleh Arina di rambutnya.
"Aku hanya ingin bertemu dengan putri kecil, tapi entah mengapa orang ini juga datang bersamaan" Malvin melirik sinis Arga di sebelahnya.
"Saya tinggal di unit sebelah, apa masalahnya ingin berkunjung?" Balas Arga tak kalah sengit.
Sean menatap sang ayah bingung sejak kapan mereka punya apartemen di sini?.
"Cukup! Bersihkan wajah kalian dulu" Serina berseru.
"Sialan" Arga mengumpat pada tukang bengkel yang berani beraninya menyerobot antrian.
Serina datang dengan membawa handuk bersih untuk mereka, tapi yang ia lihat hanya lah Arga yang sibuk menggedor pintu kamar mandi dari luar.
"Mas?" Panggil Serina
Arga menoleh wajah cemberut pria itu kentara sekali, di tambah lagi bibir milik nya yang masih terlihat merah walaupun sudah di bersihkan.
Serina menahan senyumnya, dia bisa melihat perubahan dari ekspresi Arga, pria kejam yang dulu sangat egois dan serakah kini bisa berekspresi seperti itu.
Serina merasa jika Arga yang dulu membuat nya jatuh cinta kini sudah kembali.
"Sebaiknya Mas pakai kamar mandi yang ada di dalam kamar saja" usulnya, melihat wajah Malvin yang begitu banyak coretan pasti memerlukan waktu yang lama untuk membersihkan nya.
Arga mengikuti serina dari belakang, tubuh mungil mantan istri nya tidak berubah tubuh itulah yang dulu menjadi penyemangat nya.
Klek!
"Silahkan"
Arga memandang seluruh penjuru ruangan kamar Serina, bukan yang pertama kali ia lihat karena memang dia juga memasang CCTV di kamar ini.
Tapi melihat langsung kamar yang ditiduri Serina, Arga merasa senang.
__ADS_1
"Aku akan antar handuk untuk Malvin dulu"
Sret!
Arga menarik lengan Serina tidak membiarkan wanita itu pergi meninggalkan nya.
"Ada apa?"
Serina merasa panas di tatap oleh wajah tampan Arga.
"Bantu aku membersihkan nya"
.
Entah hasutan apa yang membuat Serina mau-mau saja membantu Arga membersihkan coretan di wajah nya.
Saat ini Arga duduk di pinggiran bathtub dan Serina sedang melakukan tugasnya, mengusap wajah tampan itu menggunakan air lalu membilas nya perlahan.
Arga tidak bergeming, dia hanya menatap bagaimana Serina membersihkan wajahnya.
Tatapan Serina jatuh pada bibir merah milik Arga, bibir ini lah yang mengecupnya tempo hari.
Sadar apa yang ia pikirkan Serina bergegas membersihkan wajah Arga dengan cepat.
"Selesai"
Grep!
Serina menatap Arga yang tiba-tiba saja memeluk pinggangnya.
Arga sedikit mendongak karena posisi Serina yang memang lebih tinggi darinya sedikit, Serina mencengkeram Pundak Arga.
"Kamu tau aku sangat merindukan saat-saat seperti ini" ucap Arga masih terus memandangi wajah Serina.
"Mungkin jika saat itu aku tidak egois, kita masih menjadi suami-istri yang bahagia"
Serina menatap Arga yang berbicara, dari jarak sedekat ini Serina bisa melihat kilatan bening air mata milik pria yang tengah memeluk nya ini.
Grep
Arga semakin merapatkan pelukan mereka, membawa kepalanya bersandar di dada mantan istrinya.
Serina membiarkan saja, Serina yang memiliki hubungan sejak lama dengan Arga saja tidak mengerti bagaimana jalan pikiran pria itu, di awal pernikahan Arga sangat lembut dengannya tapi ketika menginjak pernikahan yang lumayan lama pria itu perlahan mulai berubah.
Satu hal, Mungkin jika saat itu Arga tidak menikah dengan Jessie dia tidak akan pernah bertemu dengan Arina.
Arina adalah putri nya sekarang gadis itu hadiah yang di berikan oleh Tuhan atas perceraian nya dengan Arga.
Pelukan di tubuhnya semakin mengerat membuat Serina sedikit kesulitan bernafas.
"M-mas" Serina mencoba melepaskan pelukannya.
"Kembalilah pada ku, Serina"
__ADS_1
TBC....