Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
54. Kritis


__ADS_3

Serina menidurkan Sean dengan perasaan tidak menentu sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Arga pergi begitu saja dan terkesan terburu-buru.


Sean di pelukan Serina tidak bisa tidur apalagi karena dia tau penyebab kepergian sang ayah.


"Ibu..." Sean bergumam


"Ada apa sayang?" Jawab Serina sambil menepuk-nepuk punggung Sean.


"Pesawat kakek dan nenek.."


Serina menunggu perkataan yang akan di ucapkan putra nya itu, ada apa dengan mantan mertuanya?


"Pesawat mereka.... jatuh"


Serina berhenti menepuk punggung Sean, perkataan yang sukses membuat tubuh Serina menegang tidak percaya.


.


Serina menggigit kukunya gelisah dia menelpon Hans tadi untuk mencari tau kebenaran Perkataan Sean, tapi ternyata semua itu benar dan sekarang Arga berencana mengambil jasad kedua orangtuanya.


Melirik berita di TV ternyata pesawat jatuh saat ingin lepas landas, akibatnya seluruh lintasan bandara di tutup akibat tragedi itu, tidak lebih dari lima orang yang selamat dalam tragedi tersebut, dan Malang nya kedua orang tua Arga menjadi salah satu korban.


Sudah lama sekali semenjak kepergian Arga tapi pria itu sama sekali belum memberikan kabar.


Ting Tong!


Serina menoleh kearah pintu apartemen yang berbunyi, apa itu Arga?


Klek!


"Serina!"


Dugaannya salah ternyata yang datang adalah sepupu dari Arga, Venya.


"Masuk Mbak"


Kedua wanita tersebut berjalan beriringan Venya duduk di sofa sedangkan Serina berlalu membuat kan minuman untuk Tamunya.


"Mbak sudah dengar kabar ya?" Serina meletakkan gelas berisi jus di atas meja.


Venya mengangguk


"Aku berniat menyusul Arga tadi, tapi sayangnya jalan menuju bandara ditutup" keluhnya.


Kedua terdiam Serina sedang mencemaskan keadaan Arga lelaki itu sudah pergi sejak tadi tapi dia belum juga memberi kabar.


"Apa mas Arga menghubungi mbak?" Tanya Serina


Venya menggeleng kemudian dia menunjukkan handphone nya yang tengah mencoba menghubungi Arga.


"Perasaan ku tidak enak Mbak"


Venya tahu betul bagaimana Serina mencemaskan Arga sekarang tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk saat ini.


"Dimana Sean?" Venya tidak melihat keberadaan Sean sedari tadi.


"Anak itu baru saja tidur"


Di tengah pembicaraan mereka tiba-tiba saja telfon rumah milik Serina yang jarang sekali berbunyi sekarang berdering.


Serina menatap Venya sebentar sebelum mengangkat gagang telepon nya.

__ADS_1


"Hallo?"


Deg!


Venya menatap Serina yang seperti nya sangat terkejut.


Sebelah tangannya menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


Klek


Venya menghampiri Serina mencoba menopang tubuh adik Iparnya itu agar kuat berdiri.


"Ada apa Serina?!"


Wajah Serina basah oleh air mata.


"Mbak, M-mas Arga"


Apalagi sekarang?


.


.


Serina tidak berhenti untuk meminta keselamatan Arga, menyatukan kedua tangannya dan berdoa untuk keselamatan mantan suaminya.


Venya dan Serina sekarang sedang berada di perjalanan menuju rumah sakit.


Bayangkan betapa terkejutnya Venya, Ternyata orang yang menghubungi Serina tadi adalah pihak rumah sakit yang mengatakan jika Arga mengalami kecelakaan di perjalanan menuju bandara, mobil nya terperosok kedalam jurang dan baru beberapa saat lalu berhasil di evakuasi.


Mobil yang dikendarai Venya berhenti di parkiran rumah sakit Serina langsung bergegas masuk kedalam tanpa menunggu Venya.


"Ruangan atas nama Arga Wahyutama?"


Suster yang berjaga itupun langsung menunjukkannya.


"Tuan Arga berada di UGD Nyonya"


Venya yang baru saja sampai memanggil Serina yang kembali berlari entah kemana. Kenapa wanita itu begitu khawatir pada orang yang sudah melukainya selama ini?


Saat Serina sampai lampu operasi UGD tempat Arga di rawat masih berwarna merah itu berarti Serina tidak tau bagaimana keadaan Arga kedepannya.


"Serina"


Venya menghampiri adik iparnya yang tengah menatap ruangan Arga di rawat.


"Duduklah"


Karena paksaan Venya akhirnya Serina mau duduk di kursi tunggu.


"Bahkan Jenasah ayah dan ibu mertua belum datang Mbak, tapi Mas Arga malah menjadi seperti ini" Serina menutup wajahnya mengunakan kedua tangannya menyembunyikan tangisan yang kembali keluar.


Padahal Serina berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menangis lagi setelah kematian Arina, tapi Arga malah mematahkan semuanya.


Venya membawa tubuh Adik iparnya kedalam pelukan.


"Berdoalah semoga Arga baik-baik saja" gumam Venya mencoba menguatkan Serina yang sang rapuh.


Lima jam lebih mereka menunggu proses Operasi Yang Arga jalani di dalam belum ada tanda-tanda proses itu akan selesai, untung saja Serina sudah menitipkan Sean pada Naura jika tidak bocah itu pasti akan kesepian.


"Minumlah"

__ADS_1


Serina menerima sebotol air dari Venya.


"Jasad Paman dan bibi telah tiba di rumah sakit" Venya bersuara


Serina menatap kearah venya terkejut.


"Mbak tau dari mana?" Serina yang dari tadi di menunggu di lorong rumah sakit saja tidak tau jika jenazah para korban sudah dibawa menuju rumah sakit.


"Kevin datang tadi"


Serina menoleh pada pintu Operasi yang samasekali belum terbuka dan menunjukan tanda-tanda akan selesai, Arga pasti ingin sekali mengantar orangtuanya menuju peristirahatan terakhir mereka.


Tapi jangankan mengantar mereka saja tidak tau kapan Arga akan bangun.


"Bisa kamu jaga Arga di sini? Mbak dan suami akan menyiapkan proses kremasi paman dan bibi"


Serina mengangguk lagipula Tidak ada yang bisa ia lakukan di sana.


"Mbak pergi dulu ya"


"Hati-hati"


Ibu dari Sean itu duduk kembali di kursinya, tidak lama setelah kepergian Venya lampu UGD berganti menjadi hijau itu berarti proses operasi telah selesai.


Serina bangkit dari duduknya kemudian menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang Operasi.


"Keluarga korban?"


"Saya dokter" Serina menyahut


"Operasi berjalan lancar tapi luka-luka yang di alami begitu parah, kita hanya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan kapan Tuan Arga akan sadar" Dokter bernametag Johan tersebut menjelaskan keadaan Arga saat ini.


Penjelasan dokter mengatakan seolah-olah jika mereka hanya menunggu apakah Arga akan bangun atau tidak.


Dokter Johan tidak bisa berbuat apa-apa saat air mata Serina mengalir begitu saja.


"Berdoalah Nyonya, saya yakin Tuan Arga akan baik-baik saja"


"Tolong selamatkan nyawanya Dokter" Serina memohon


Dokter tersebut mengangguk paham dengan permintaan Serina tapi mereka bukan tuhan yang bisa mengendalikan hidup dan mati seseorang.


"Kami akan berusaha nyonya"


Prosesi pemakaman berjalan dengan khidmat jika dulu Serina tidak bisa hadir di pemakaman putri nya maka sekarang Arga yang tidak bisa hadir di pemakaman orangtuanya.


Bagaimana lagi saat ini Arga sedang berjuang hidup dan mati.


Orang-orang berlalu pergi meninggalkan Serina yang masih menatap kuburan kedua mertuanya.


Serina menyatukan kedua tangannya, "Aya, ibu, berikan kekuatan untuk Mas Arga dari tempat kalian berada, jangan biarkan dia meninggalkan ku seperti Arina, aku mohon" Serina meminta doa pada kedua orang tua Arga.


"Nyonya"


Hans berdiri di belakang Serina.


"Hans?"


"Bisa berbicara sebentar?"


TBC ....

__ADS_1


__ADS_2