
Hari ini adalah hari terakhir Serina di Rumah Sakit, Kata Dokter yang menangani nya besok Serina sudah boleh pulang ke rumah beserta dengan bayinya. Karena itulah Naura sejak tadi sudah mulai mengemasi barang-barang Serina untuk di bawa pulang.
Selagi gadis muda itu mengemasi barang-barangnya Serina bertanya-tanya mengenai keberadaan Laras yang tidak kelihatan sejak pagi tadi.
"Mbak Laras kemana ya?"
Tanya Serina, sambil menepuk-nepuk punggung Sean yang tengah ia susui.
"Tidak tau! Mbak Laras memang sering menghilang tiba-tiba, Mbak" jawab Naura tanpa menatap Serina.
Serina tidak lagi bertanya memang Laras sering menghilang beberapa hari ini padahal kedai miliknya tutup untuk beberapa hari.
Senyum terbit di wajah Serina saat Sean menatap wajah nya.
"Ada apa sayang? Kamu sudah kenyang?" Bayi mungil di gendongan Serina hanya menguap.
Serina tertawa kecil
"Kamu ngantuk ya?"
Cup!
Sean merengek kecil ketika Serina mencium wajahnya.
Klek!
Serina dan Naura sontak melihat kearah pintu kamar yang terbuka.
Laras....tapi di belakangnya
Senyum yang terukir di bibir Serina menghilang ketika tau siapa orang yang berada di belakang Laras.
"Silahkan Tuan" seperti sudah mengenal pria itu lama, Laras mempersilakan Arga untuk masuk.
Dengan angkuh Arga mendorong kursi roda yang di tempati oleh Jessie dan bayi perempuan nya, mengarah lebih dekat pada Serina.
Melihat mantan suami Serina datang Naura bangun dari tempatnya duduk tadi lalu beralih ke samping Serina yang masih menggendong Sean.
Tatapan penuh tanya Serina layangkan pada orang-orang yang baru saja datang ke kamar rawatnya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Serina bertanya dengan nada tidak bersahabat, lagipula siapa yang memberitahu kamar inapnya pada Arga?.
Tatapannya beralih pada Laras yang berdiri tegap di belakang Arga.
Sepertinya dia tau siapa yang sudah memberitahu mantan suaminya itu.
Di hari akan melahirkan dia sempat mendengar nama Jessie terdengar di telinganya sedang mengalami pendarahan, waktu ia menyuruh Naura untuk melihat apakah Jessie yang dimaksud sama dengan Jessie yang dikenalnya saat itu Laras melarang, karena itulah selama ini dia tidak mengetahui jika Jessie dan mantan suaminya berada di rumah sakit yang sama dengan nya.
"Apa kabar mu?" Serina memalingkan wajahnya tidak suka, saat Arga bersikap seolah peduli terhadapnya.
__ADS_1
"Sudah waktunya.."
Serina menatap Arga heran tidak mengerti dengan perkataan mantan suaminya itu.
"Putra ku....aku akan mengambilnya!" perkataan Arga sukses membuat Serina menajamkan tatapannya pada Mantan suaminya, bahkan Naura ikut terkejut mendengar perkataan pria itu.
Berusaha menahan rasa terkejutnya, Serina terkekeh, "Sejak kapan Sean menjadi putra mu?," Tanyanya mengejek, tapi tetap saja pelukannya di tubuh Sean menguat seakan menghalau siapa saja yang akan merebutnya.
"Sejak kamu menolak Penawaran di Caffe waktu itu" Tidak ada raut yang terpancar di wajah Arga saat lelaki itu berucap.
Serina mengingat kembali perjumpaan mereka saat di Caffe, Arga pernah menawarkan untuk menjadi Istri pria itu kembali tapi Serina menolak karena itu Arga memberikan penawaran lain yaitu membiarkan Pria itu membiayai seluruh kebutuhan bayinya selama Serina mengandung.
"Aku rasa hubungan kita sudah berakhir setelah perceraian Mas!, begitu pun dengan Bayi ku!" Bentaknya pada Arga, amarah menguap begitu saja merasa jika Arga akan kembali merenggut kebahagiaanya.
Di sampingnya ada Naura yang hanya bisa terdiam sambil menenangkan wanita yang sudah ia anggap sebagai keluarganya sendiri.
Arga tertawa kecil, Seolah-olah perkataan Serina terdengar sangat lucu di telinganya.
Kaki berlapis celana kain berwarna hitam khas seorang Arga, berjalan kearah Serina. sontak membuat Wanita yang baru menjadi seorang ibu itu memeluk erat putranya.
"Untuk yang terakhir kalinya" Ucap Arga setelah tawanya mereda, "Kembalilah menjadi Istriku" Lanjutnya sembari mengulurkan tangannya di hadapan Serina.
Mereka yang berada di sana sangat terkejut, terutama Jessie yang berusaha menahan mati-matian rasa sesak di dadanya ketika mendengar langsung Suaminya ingin kembali rujuk dengan Mantan Istrinya.
Serina merasa tidak percaya pada pria yang dulu sangat ia hormati.
"Kamu gila Mas..." Lirihnya menatap dalam bola mata Arga, bagaimana bisa pria ini lagi-lagi menyakiti istrinya.
"Ya! Saya gila, Karena itulah pilihan ada di tanganmu! Menikah dengan Saya atau....-Serahkan Putramu yang berharga itu, pada Ku!"
Serina menggeleng "Aku tidak sudi!" Teriaknya
"Ok! Laras!"
Laras yang sedari tadi tidak bersuara berjalan cepat kearah Arga "Ya Tuan!"
"Ambil Putraku dari wanita ini" Titah Arga sambil menatap remeh Serina.
Mendengar perkataan Arga membuat Serina ketakutan, wanita itu menatap Laras memohon.
"Jangan Mbak..." Mohon Serina.
Tapi sayangnya Wanita yang dulu pernah bekerja dengan Serina itu memanggil anak buah nya yang berjaga di luar kemudian menyuruh mereka untuk menahan Naura.
"Mbak apa yang kamu lakukan?!" Panik gadis muda itu di sela-sela pria yang menahan tubuhnya.
"Mas!" Jerit Serina saat dengan susah payah ia menahan Sean di pelukannya namun dengan mudah Laras mengambilnya.
"Jangan Mas!" air mata mulai mengucur deras saat Laras menyerahkan Sean pada Arga, Tubuh lemahnya ikut di tahan dengan salah satu penjaga milik Arga.
__ADS_1
Sean yang turut menangis karena mendengar keributan sudah berada dalam gendongan Ayahnya, ada rasa haru saat tubuh mungil putranya berada dalam rengkuhannya.
"Jessie..."
Deg!
Dengan Ragu Jessie menoleh kearah Arga, "Ya?"
"Lakukan" Titahnya tanpa mengalihkan wajahnya dari bayi laki-lakinya.
Jessie meneguk ludahnya kasar, tatapannya beralih pada bayi perempuan di gendongannya, dia tidak boleh lemah keputusannya sudah ia pikirkan dengan matang, lagipula Hidupnya akan berat jika harus mengurus bayi.
Jessie menyerahkan bayinya pada Laras, yang langsung diterima oleh wanita itu.
"Berikan pada Serina"
Laras mengangguk patuh.
Serina yang masih memberontak di cekalan Penjaga Arga sontak terdiam saat Laras kembali mendekatinya dengan bayi milik Jessie.
Dahinya mengerut saat Laras menyerahkan Bayi itu.
"Apa maksudnya Mbak?" Serina tidak menginginkan bayi orang lain, di hanya memerlukan Sean, Putranya.
"Sudah cukup! ayo kita pergi dari sini" Arga mendorong kursi Roda Jessie keluar sambil menggendong Sean di sebelah tangannya.
Serina menggeleng dengan keras, dia tidak bisa membiarkan Arga membawa Sean darinya.
"Aku akan menuntut kamu Mas!"
Tep!
Langkah Arga terhenti mendengar kalimat yang keluar dari mulut Serina, senyum di bibirnya tersungging merasa lucu dengan perkataan Mantan istrinya.
Arga berbalik, "Silahkan! kita lihat, apakah tuntutan mu di proses atau tidak"
Benar! Arga bukanlah orang yang bisa di sentuh hukum dengan mudah, Serina mengepalkan kedua tangannya hampir putus asa untuk mempertahankan putranya.
"A-aku akan membunuh bayi ini!" Ancamnya tanpa sadar.
"Terserah kamu saja! lagi pula aku tidak membutuhkan bayi perempuan!" Jessie tidak bersuara, sama seperti Arga ia juga tidak memerlukan seorang anak.
Setelah mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkan untuk anaknya sendiri Arga berjalan keluar bersama dengan anak buahnya. meninggalkan Serina yang merasa tidak percaya kata-kata itu bisa keluar dari bibir Arga.
Tatapannya beralih pada bayi perempuan di gendongannya, cairan bening kembali keluar dari matanya jatuh mengenai wajah mungil bayi perempuan milik Jessie, Bayi ini begitu mirip dengan Arga tapi pria itu dengan mudahnya membuang dirinya versi perempuan begitu saja.
Bayi di gendongannya menggeliat tidak nyaman karena wajahnya yang terkena air mata Serina.
"Hiks!" Serina membawa bayi itu kedalam pelukannya, melihat bagaimana bayi yang begitu mirip dengan ayahnya di buang begitu saja oleh orang tuanya, membuat Serina kembali mengingat masa lalunya yang juga tidak diinginkan orang tuanya.
__ADS_1
"Tidak apa, I-ibu b-bersamamu, Hiks"
TBC....