
Sebulan sudah berlalu dengan cepat selama itu pula Serina harus melayani Jessie atas perintah dari Arga di rumah nya sendiri, di awal kehamilannya memang Serina jarang merasa mual ataupun mengidam tapi memasuki usia kandungan yang semakin besar gejala-gejala itu mulai terlihat.
Ada rasa iri di hati Serina saat Jessie bisa dengan mudahnya meminta apa yang ia inginkan pada Arga, bahkan semenjak Wanita itu tinggal disini Arga hampir tidak pernah pulang terlambat kerumah, setiap pria itu kembali ia selalu membawakan makanan yang Jessie pesan.
Berbeda dengannya yang harus pergi diam-diam saat menginginkan sesuatu.
Entah mengapa Serina merasa jika Bayi dikandungan Jessie seperti terhubung dengan bayinya, selama ini Jessie tidak pernah menghabiskan susu ibu hamil yang Serina buat pasti saja wanita itu menyisakan nya setengah, seakan-akan Bayi yang Jessie kandung tau jika ada saudaranya yang lain yang juga membutuhkannya.
Serina menatap Tv yang menampilkan Reality Show dengan bosan, seperti hari-hari sebelumnya dia akan menunggu Arga pulang ke rumah dengan membawa sebungkus makanan untuk Jessie.
Semua yang terjadi pada Rumah tangganya bersama dengan Arga membuatnya yakin jika keputusan yang sudah dia buat sudah benar, tidak lama lagi sebelum ia merasa tidak kuat lagi dengan pernikahan ini setidaknya dia tau apa yang akan di lakukan nantinya.
Jika keputusan untuk berpisah dengan Arga sudah benar Serina harus punya setidaknya satu jaminan yang bisa ia gunakan untuk kehidupan kedepannya bersama dengan calon bayinya.
Sebenarnya Serina berencana membuka toko makanan kecil-kecilan yang bisa dia gunakan untuk penghasilannya selama mengandung, walaupun dia tau jika selama ini uang yang Arga berikan sangatlah cukup untuk menopang hidupnya sampai persalinan nanti, tapi tidak ada salahnya jika Serina memutuskan untuk membuka Tokonya sendiri.
Seandainya orang tuanya sama seperti Orang tua lain di luar sana yang akan selalu mendukung putrinya dalam keadaan apapun, namun sayangnya orang tuanya bukanlah seperti yang ia harapkan.
Setidaknya saat orang tuanya tau dia berpisah dengan Arga dan mereka mengusirnya dari Rumah Serina mempunyai tempat tujuan lain.
Bel pintu berbunyi tidak lama kemudian, menghamburkan lamunan Serina, Sepertinya Arga sudah pulang.
"Selamat datang" Sambutnya setelah ia membukakan pintu, Arga berdiri dengan tegap terlihat lelah namun tidak bisa menutupi ketampanannya.
Anggukan singkat dari Arga menjadi percakapan terakhir mereka, dengan penuh perhatian Serina membawakan tas kantor yang Arga bawa kemudian meletakkannya di atas Sofa tempatnya duduk tadi, disusul oleh Arga yang juga duduk di sana sambil memijit keningnya kecil.
Serina berlalu meninggalkan Arga di ruang tengah sendirian untuk membuatkan suaminya itu kopi panas.
"Ini Kopinya Mas" Serina meletakkan Kopi itu di atas meja tepat dihadapan Arga.
"Hm..dimana Jessie?"
Mendengar pertanyaan Arga yang selalu menanyakan Wanita lain selalu berhasil membuat hatinya terasa sakit, tapi Serina mencoba untuk terbiasa.
"Mungkin di kamarnya" Jawab Serina seadanya.
Arga berdiri dari duduknya kemudian berbalik menuju kamarnya dengan Jessie di lantai atas.
"Kopinya Mas? kamu belum meminumnya"
"Nanti saja"
Serina menatap punggung Arga dengan sendu "Setidaknya minumlah sedikit" Gumam Serina.
__ADS_1
Malam semakin larut tapi sudah sejak tadi Serina terus berguling kesana-kemari seperti cacing kepanasan, sudah mencoba beberapakali untuk menutup matanya tapi dia tidak bisa juga berlalu ke alam mimpi.
Dengan malas Serina bangun dari kasurnya
"Sayang apa yang kamu inginkan? kenapa tidak membiarkan bunda istirahat?" Serina mengelus perutnya yang sudah agak membuncit, mencoba untuk mengajak bayinya berbicara.
Malam ini Serina sangat merindukan Arga, entah bawaan dari bayinya atau memang rasa rindunya Serina sangat ingin memeluk tubuh suaminya itu.
"Hiks! Maafkan bunda sayang"
Sebenarnya beberapa malam ini dia tidak bisa tidur hanya karena ingin di peluk Arga, tapi dia berusaha menahan keinginannya itu agar Arga tidak merasa curiga ataupun risih padanya.
Serina mencoba kembali menutup kedua matanya dengan erat berharap jika kantuk segera datang dan membuatnya tidur pulas, tapi tetap saja bukanya datang rasa kantuknya perlahan-lahan menghilang.
"Astaga!"
Tok! Tok!
Serina menoleh kearah pintu kamarnya, siapa yang mengetuk malam-malam begini? lagipula belum pernah ada yang mengunjunginya saat ia pindah ke kamar ini.
"Serina.."
Mendengar suara Arga yang berada di depan pintu kamarnya membuat Serina merasa heran, tumben Arga mendatanginya di malam hari begini.
"Mas Arga? kamu perlu sesuatu Mas?"
Pasalnya Arga tidak pernah mau berdekatan dengannya sejak Jessie berada di rumah ini.
Arga menatap Serina, entah apa yang membawanya ke kamar Istri pertamanya itu, dia sudah berusaha untuk tidur tadi tapi bukanya tidur tiba-tiba dia ingin sekali pergi menemui Serina malam ini.
"Entahlah"Gumam Arga tidak jelas, membuat Serina menatapnya heran.
"Kalau begitu akau tutup pintunya!"
"Tunggu!" Arga menahan Daun pintu yang hampir saja Serina tutup menggunakan sebelah tangannya.
"Biarkan aku masuk" Ucapnya akhirnya.
Serina tidak langsung mengijinkan Wanita itu terlebih dahulu menatap Arga heran sebelum mengijinkannya masuk kedalam kamarnya.
"Mm..Masuklah"
Arga masuk kedalam kamar yang di tempati istri pertamanya, sepertinya dia baru pertama kalinya menginjakkan kakinya di kamar yang luasnya tidak seberapa ini.
__ADS_1
Berbeda dari kamar nya, kamar milik Serina hanya sebesar kamar mandinya saja bahkan Arga merasa hawa di kamar itu sangatlah dingin sepertinya penghangat ruangannya rusak.
"Kenapa tiba-tiba kemari?" Serina bertanya pada Arga yang masih terlihat memindai seluruh sudut kamarnya.
Arga tidak menjawab lelaki itu lebih memilih merebahkan tubuhnya pada kasur milik Serina dengan nyaman, bahkan kasurnya pun terasa keras jika di bandingkan dengan kamarnya. Sepertinya karena ini adalah kamar tamu yang hampir tidak pernah di tempati makanya seluruh ruangan seperti kurang layak untuk seorang Nyonya seperti Serina.
"Kenapa tidak pernah bilang jika kamar ini sudah tidak layak?" Akhirnya setelah sekian lama Arga membuka suaranya.
Serina menghela nafas memangnya kamu peduli?, ingin sekali dia berucap seperti itu tapi Serina hanya bisa terdiam membisu.
"Serina?"
"Kamar ini masih layak Mas, lagi pula hanya untuk sementara" Ucapnya tanpa sadar
Arga menatap Serina memicing saat kata Sementara keluar dari bibir mungil istrinya itu.
"Sementara ?"
Ah! Serina merutuki emosinya yang selalu tersulut saat berduaan dengan Arga, di tambah lagi matanya yang sudah sangat mengantuk sekarang membuatnya tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang bisa saja menyinggung Arga.
"Bukan apa-apa! Mas jika tidak ada yang di bicarakan lagi sebaiknya Mas pergi"
"Kamu mengusir Saya?"
"Tidak Mas, Kasur ku sempit jadi akan tidak nyaman saat kamu juga ikut tidur di situ!"
"Biasanya kita tidur berdua, kenapa sekarang tidak bisa?"
Perkataan Arga membuat Serina ingin tertawa rasanya
"Itu dulu Mas, sekarang semuanya sudah berbeda" Serina berusaha menahan air matanya yang akan keluar kapan saja.
"Kenapa tidak bisa? kamu istri saya juga Serina, kamu lupa?"
Sudahlah berdebat dengan Arga tidak akan pernah ada habisnya, lebih baik Dia mengalah jika ingin tidur dengan cepat malam ini.
"Mas Bisa tidur di sini, aku akan keluar'
Grep!
Lengan kekar Arga yang selama ini tidak pernah menyentuh tubuhnya tiba-tiba saja melingkari tubuhnya yang kecil, ada perasaan hangat yang tidak bisa ia utarakan ketika Arga memeluk perutnya dengan lembut.
"Saya rindu kamu Serina"
__ADS_1
TBC....