
Venya berniat mengunjungi adik iparnya di rumah pagi ini tapi betapa terkejutnya dia saat melihat tubuh lemah milik Serina terbaring di lantai dapur yang sangat dingin.
Melihat kondisi adik iparnya Venya langsung membawanya ke rumah sakit terdekat, di perjalanan dia juga sempat menelfon Arga tapi entah kemana pria itu pergi sehingga tidak mengetahui jika istrinya pingsan di rumah seorang diri.
Tubuh lemah Serina terbaring di ranjang rumah sakit, di lengan kirinya tertancap jarum infus yang mengalirkan cairan kedalam tubuh nya.
Banyak sekali pertanyaan di benaknya untuk adik iparnya itu, penjelasan Dokter mengenai tubuh Serina membuat Venya sangat Syok bahkan ia sempat tidak percaya dengan penjelasan Dokter tadi.
"Kenapa kamu merahasiakannya?" Venya menatap wanita yang tengah mengandung itu dengan tatapan bercampur aduk, bagaimana bisa istri pertama dari Arga itu menyembunyikan kehamilannya yang sekarang sudah memasuki minggu ke-14?.
Sepertinya kecurigaannya dengan ibu mertuanya beberapa bulan yang lalu ternyata benar, jika Serina tengah mengandung tapi mengapa Wanita ini merahasiakan kabar gembira yang mungkin saja bisa membuat Arga dan orang tuanya senang?.
Lamunan Venya terhenti ketika lenguhan pelan Serina terdengar.
"Sshh"
"Kamu baik-baik saja?"
Serina menoleh ke asal suara
"Kak Venya?"
"Kamu pingsan di lantai dapur saat aku mengunjungi rumah kalian tadi" Jelas Venya saat melihat tatapan penuh tanya Serina.
Mengambil air untuk Serina, kemudian Venya mengubah ranjang menjadi lebih tinggi di bagian kepala agar Serina bisa duduk dan minum dengan nyaman.
"Terima kasih"Serina menyerahkan gelas nya yang isinya tinggal setengah.
"Bisa kamu jelaskan kenapa rumah yang kalian tinggali bisa sangat sepi, seperti itu?" Venya melipat tangannya di dada sambil menatap tajam pada adik iparnya itu.
"I-itu, karena aku masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah kak" Jawabnya gugup, tidak ingin kakak iparnya tau jika Arga sengaja tidak memperkerjakan mereka agar Serina tidak berdiam saja di rumah.
"Apa kamu membersihkan rumah sebesar itu sendirian?"
"T-tidak kak! setiap pagi dan sore akan ada orang yang membantu membereskan rumah, setelah itu mereka pergi" Serina menjawab dengan jujur "Aku hanya membantu sedikit, selebihnya aku hanya memasak makanan untuk kami" lanjutnya lagi.
"Kamu memasak dan membersihkan rumah sendiri tanpa bantuan pelayan lain, kan?"Venya mendesak Serina.
Apa yang harus Serina katakan? jika dia salah menjawab sedikit saja pasti kakak iparnya ini mengira jika Arga tidak memperlakukan Serina dengan baik dan mereka akan bertengkar lagi nanti.
"Aku baik-baik saja kak, memasak adalah hobi ku jadi aku senang melakukanya"
__ADS_1
"Di kondisi mu yang seperti sekarang?"
Serina menatap kakak iparnya dengan bingung
Venya menghela nafas berat "Aku tau kamu sedang hami sekarang Serina"
Deg!
Jantung Serina berdetak dengan kencang ketika mendengar perkataan kakak iparnya itu, bagaimana dia bisa tau? apa yang harus Serina lakukan sekarang?.
"A-aku....
"Dokter mengatakan jika kamu kelelahan akibat stres dan pekerjaan yang berat, bagaimana kamu bisa mengelak Serina?"
Mata Serina berkaca-kaca siap meluruhkan air dari matanya yang tengah menatap Venya takut.
"Jangan katakan apapun pada Mas Arga atau siapapun kak! aku mohon" Kedua telapak tangan Serina menyatu di depan dada, memohon pada Venya agar wanita itu tidak mengatakan kebenaran yang dengan susah payah ia sembunyikan.
Tidak ada kata yang keluar dari bibir Venya, ia hanya diam bersusah payah menyembunyikan air mata yang siap meluncur kapan saja di hadapan Serina, betapa malang nasib adik iparnya itu kabar yang seharusnya sangat ia tunggu-tunggu harus dengan terpaksa ia sembunyikan rapat-rapat.
"Memangnya siapa yang harus ku beri tau?" Air mata Venya tidak bisa di tahan lagi, biarlah adik iparnya mengetahui sisi lemah yang selama ini ia sembunyikan.
Grep!
"Kenapa wanita sebaik kamu bisa mendapatkan suami seperti Arga?" Serina menangis di pelukan Venya, wanita itu tidak ingin mengatakan apapun saat ini.
"Sudah berkali-kali aku menelpon pria itu, tapi tetap saja dia tidak mengangkatnya! aku juga menghubungi supir pribadinya itu, tapi dia hanya mengatakan jika Arga sedang menemani Jessie jalan-jalan dan tidak ingin di ganggu!" Ungkap Venya di sela tangisannya merasa iba pada Serina. bagaimana bisa seorang suami tidak ada saat istrinya sedang membutuhkannya sekarang.
"Kak, sudahlah aku tidak apa-apa"
"Bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu?! pasti karena sikap Arga yang seperti ini kan, yang membuat kamu menyembunyikan kehamilan ini?" tuduh Venya
Serina tidak mengelak ataupun membenarkan tuduhan dari Venya, karena tuduhan kakak iparnya itu benar adanya.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Tanya Venya saat dirasa emosinya mulai stabil "Kehamilan kamu tidak bisa di sembunyikan lebih lama lagi" lanjutnya.
Serina mengusap air matanya yang mengalir di pipinya, dengan penuh tekad ia menatap Venya dengan yakin. Kakak iparnya sudah tau mengenai kebenaran yang ia sembunyikan tidak ada lagi rahasia yang bisa ia tutupi dari Vena sekarang.
"Cerai!
"Aku akan bercerai dari Mas Arga kak" Ucapnya dengan yakin
__ADS_1
Keputusan ini adalah hal yang paling benar menurut Serina, dengan perceraian antara dirinya dengan Arga tidak ada siapapun yang tersakiti. biarlah Serina merelakan cintanya untuk Arga demi kebahagian dari suaminya itu.
.
.
Pukul sembilan malam Serina kembali ke rumahnya dengan Arga di antar oleh Venya, Dokter bilang jika Serina hanya kelelahan biasa jadi mereka hanya meresepkan obat dan vitamin untuk menguatkan janin dan ibunya.
Saat tiba di rumah keadaan sangatlah sepi tapi beberapa lampu sudah menyala bertanda jika di rumah Arga dan Jessie sudah kembali.
"Wah-wah..Mbak baru pulang jam segini? aku dan Mas Arga kelaparan sejak tadi, tapi Mbak malah enak-enakan main di luar seharian!" belum sampai di ruang tamu, Jessie datang menghadang Serina dan Venya.
Plak!
Serina menutup mulutnya terkejut dengan tamparan yang dilayangkan oleh Venya pada Jessie, saking kerasnya wajah Jessie sampai menoleh kearah samping.
"Mbak! apa yang kamu lakukan!"
Setelah tamparan yang di layangkan Venya, Arga yang baru saja turun ketika mendengar suara mesin mobil di bawah melihat jika kakak sepupunya menampar istrinya tiba-tiba.
"Mas! Hiks!"
Jessie yang melihat keberadaan Arga langsung datang dan memeluk nya dengan erat,.
"Apa maksud Mbak?! kenapa menampar istri ku?" Tatapan tajam Arga menghunus tepat pada kakak sepupunya itu.
"Kenapa katamu?! jika wanita ular itu terus berbicara omong kosong di hadapan ku,aku akan merobek mulutnya itu!" Jawab Venya tidak kalah tajam.
"Aku hanya bertanya kenapa mereka pulang larut Mas, tapi Kak Venya malah menampar ku"Adu Jessie pada Arga.
Mendengar ucapan dari Jessie membuat amarahnya semakin meletup-letup jika Jessie terjatuh akibat tamparan yang di layangkan kakak sepupunya entah apa yang akan terjadi dengan anaknya nanti.
Tatapannya beralih pada Serina yang berdiri di samping Venya.
"Kamu diam saja saat melihat Mbak Venya menampar istriku?! jika terjadi sesuatu pada istri dan bayiku apa yang akan kamu lakukan?! kamu tidak bisa punya anak seharusnya kamu bisa menjaga Jessie yang tengah bersedia mengandung anakku!"
"Tutup mulut mu Arga!" Teriak Venya
Kata-kata Arga sukses menghancurkan hatinya, kata istri yang terus terucap dari bibir pria yang selama enam tahun ini menjadi suaminya begitu menyayat hati Serina, tidak bisa punya anak? bahkan Arga tidak sadar jika dirinya tengah mengandung saat ini.
"Sebenarnya aku istri kamu atau bukan Mas?" Ucap Serina pilu.
__ADS_1
TBC....
SLOW UPDATE BELUM KONTRAK 🤫