
Seperti dejavu lagi-lagi dia berakhir di ruangan ini, ruangan tempat Arga dan dirinya bertemu hari itu.
Serina mengusap punggung Arina yang tengah terbaring di sofa tepat di sebelahnya, cukup lama mereka menunggu pihak pengelola tapi sampai sekarang tidak ada tanda kedatangannya.
Padahal banyak yang harus di lakukan setelah ini tapi orang yang di tunggu tidak datang juga.
Sambil menunggu Serina juga berusaha menelpon Naura lagi karena sejak tadi malam gadis itu tidak bisa di hubungi ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada nya.
Klek!
Perhatian nya teralih mendengar pintu terbuka.
Di sana sudah ada Bianca dan Seorang pria berkacamata yang dia lihat tadi malam bersama dengan Arga.
Nafasnya tersendat saat di belakang pria itu ada Arga yang tengah menatapnya tajam. lalu Bianca terlebih dahulu mengundurkan diri dari sana.
Tanpa sadar Serina berdiri dari duduknya bagaimana bisa dia lupa jika Bianca adalah pegawai Arga?, tapi kenapa hanya hal seperti ini saja Arga harus datang dengan sendirinya?.
"Maaf menunggu nyonya Serina?, saya Hans, Sekretaris Tuan Arga" Pria berkacamata yang hari itu ia temui memperkenalkan diri.
Serina tidak fokus bagaimana caranya dia pergi dari Arga jika pria itu terus menjadi tali yang harus di putuskan dalam hidupnya.
"Duduklah"
Lamunan nya tersadar ketika Arga membuka suaranya, pria itu terlihat angkuh duduk di kursi tepat di seberangnya, Sedangkan pria yang bernama Hans itu berdiri menjulang di samping Arga.
"Apa maksudnya ini?" Tanya nya tajam pada Arga,"Haruskah kepindahan ku kamu juga yang mengatur?"
Arga tidak menjawab tapi dia mendengarkan dengan jelas kemarahan Serina yang keluar bersamaan dengan ucapannya.
"Apa alasan mu pindah dari sini?" Arga tidak menjawab pertanyaan Serina, melainkan melayangkan pertanyaan balik pada wanita itu.
"Bukan urusanmu"Sentak nya
Arga tersenyum miring
"Apartemen ini adalah hadiah perceraian kita, sudah sepantasnya kamu mendapatkannya"
"Tidak! tidak perlu, tanpa harta mu itu aku bisa hidup dengan baik" Untuk apa dia hidup di bawah kaki Arga? jika begini terus bisa-bisa pria itu makin kelewatan.
"Di mana kalian akan tinggal?" Arga menaikan sebelah alisnya menatap remeh Serina.
"Kami bisa tinggal di mana pun, kamu tidak perlu tau"
"Perlu! selagi putri saya ada dengan kamu dia akan terus berada dalam pengawasan saya"
Serina yang mendengar hal itu rasanya ingin tertawa putri siapa yang dia maksud?.
"Arina hanya putri ku Mas, bukan putri mu"
Di rasa percuma berbicara dengan Arga, Serina bergegas mengangkat Arina yang masih tertidur dengan pulas lalu membawanya pergi dari sana.
__ADS_1
"Berhenti!" Nada tinggi Arga membuat Serina mematung seketika, masih dengan memeluk Arina wanita itu enggan berbalik sedikitpun.
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki terdengar mendekat kearahnya dia tau itu pasti Arga, Serina sangat takut sekarang jika tiba-tiba saja Arga mengambil putrinya. tubuh nya bergetar saat di rasakan jika Arga berdiri tepat di belakang tubuhnya.
"Jangan buat Saya repot Serina" Bisiknya di belakang telinga Serina,"Apa perlu saya bakar rumah kamu lagi?"Lanjutnya sukses membuat jantung Serina terasa sesak.
Sret!
Mendengar perkataan Arga dengan tiba-tiba Serina langsung berbalik kearah pria itu, jarak yang terlalu dekat membuat Serina memundurkan tubuhnya.
"Apa maksud mu?" Dengan tubuh bergetar Serina berusaha terlihat kuat di hadapan Arga.
Aura yang terpancar dari mantan suaminya membuat Serina kesulitan bernafas, di tambah lagi pengakuan secara tidak langsung oleh pria itu.
"Saya tau kamu cukup pintar untuk mengerti semua ucapan saya" Arga mengangkat tangan nya untuk menyelipkan rambut Serina yang menghalangi wajah cantik nya.
Tatapan penuh damba Arga bertemu dengan tatapan penuh amarah milik Serina.
"Dasar gila" umpatnya pada Arga.
Bisa-bisanya pria itu mengatakan kejahatan nya yang tidak kecil langsung di hadapannya.
Arga tersenyum tipis,"karena itu jangan buat saya marah"
"Pergilah.....lalu kita lihat apakah besok kaki cantik mu itu bisa berjalan lagi?"
Deg!
Lagi-lagi Arga menghentikan nya Serina berbalik menatap sendu mantan suami yang sangat ia cintai dulu.
"Aku mohon Mas.... biarkan kami hidup dengan tenang" sendunya, pelukannya pada Arina semakin menguat tapi tidak sampai membangun kan gadis kecil itu.
"Hiduplah dengan tenang di bawah pengawasan saya"
.
.
Apartemen nomor 1707 yang di tempati oleh Serina dan putri satu-satunya terlihat sangat sepi, bahkan lampu apartemen belum di nyalakan mengingat waktu sudah menjelang waktu malam.
Koper terbuka lebar dan pakaian yang sejak kemarin malam Serina persiapkan berhamburan di mana-mana.
Di sudut dinding kamar Serina meremas rambutnya bingung, perkataan Arga tadi bukanlah sebuah bualan semata dia tau betul jika pria itu tengah mengancamnya sungguhan.
Tak terasa air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya meluncur deras, Serina menutup mulutnya agar Isak tangisannya tak keluar hingga membangunkan putri nya.
"Bagaimana ini..."lirihnya
__ADS_1
Naura, dia membutuhkan gadis itu di samping nya tapi jangan kan bersamanya bahkan dia belum bisa menghubungi nya sejak tadi.
Orang tua? Serina tidak tau lagi harus percaya pada siapa, berkali-kali orang-orang yang dia percaya mengkhianati nya.
Tangisannya sedikit mereda ketika melihat Arina menggeliat dalam tidurnya, sepertinya gadis itu terganggu oleh suara tangisannya.
Serina mengusap air mata yang mengalir di pipinya lalu berjalan mendekati kasur dimana putri nya berada.
Bruk!
Menjatuhkan dirinya di samping sang putri, Serina membawa Arina kedalam pelukannya.
Biar saja pakaian yang masih berserakan tenaganya sudah habis hanya untuk mengkhawatirkan dirinya dan juga Arina.
.
Tit!
Tit!
Kedua matanya terbuka perlahan saat mendengar bel apartemen yang tidak berhenti berbunyi.
Serina meregangkan otot-otot tubuhnya, bahkan sekarang matanya terasa sakit akibat menangis terlalu lama semalam.
Menengok ke sebelah ternyata Arina tidak terganggu sedikit pun.
Turun dari ranjang dia bisa melihat keadaan kamar yang sangat berantakan, memutuskan untuk melewati nya begitu saja Serina berjalan menuju pintu apartemen yang terus saja berbunyi.
"Siapa yang datang pagi-pagi begini?" Gumamnya setelah melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Serina membuka pintu apartemen betapa terkejutnya dia saat melihat orang yang sangat dirindukan nya semalam datang pagi ini.
"Mbak Serina!"
Grep!
Naura datang dan langsung memeluk Serina begitu saja.
Ibu satu orang anak itu membalas pelukan Naura tidak kalah eratnya, seperti ada ikatan batin antara mereka Naura datang saat dia membutuhkan gadis itu.
"Hiks!"
Naura melepaskan pelukannya ketika suara tangisan terdengar di telinga nya.
Grep
"Sebentar saja" Serina enggan melepaskan pelukan mereka.
Merasa jika Mbak nya sedang tidak baik-baik saja Naura hanya membiarkan semua itu, sesekali ia mengusap punggung wanita yang sudah dia anggap keluarga nya sendiri.
"Aku di sini Mbak"
__ADS_1
TBC.....