
Polisi tengah menyelidiki kasus pembakaran rumah yang terjadi pada Serina, setalah insiden itu Serina harus mengalami kerugian yang sangat besar.
Bukan hanya kehilangan rumah nya ia juga kehilangan semua barang-barang yang ada di dalamnya.
Belum lagi semua kenangan nya bersama dengan Arina harus hangus terbakar api.
Karena insiden tersebut Serina dan putri nya harus tinggal lebih lama bersama kedua orangtuanya. Padahal rencana nya Serina akan pulang kerumahnya sendiri pagi ini tapi memang dasarnya takdir berkata lain.
"Entah harus merasa senang atau tidak tapi ibu senang kamu bisa tinggal disini lebih lama lagi" Dinda menaruh buah-buahan di atas meja.
Serina tersenyum tipis mendengar ucapan ibunya.
"Aku akan di sini sampai mendapatkan tempat tinggal baru Bu"
Dinda merasa tidak masalah selagi putri dan cucunya disini ia sudah merasa sangat senang.
"Aku akan mencoba membantu Mbak" celetuk Naura.
"Terimakasih"
Serina mengangkat Arina kedalam gendongannya lalu membawanya menuju kamar untuk tidur siang.
Saat Serina menidurkan putri nya ternyata Malvin datang bertamu ke rumah orangtuanya tanpa sepengetahuan nya.
"Kamu siapa?" Dinda yang membukakan pintu bertanya heran.
Wanita paruh baya yang sepertinya ibu dari Serina membuat Malvin menampilkan senyum nya.
"Siang Bibi, saya Malvin apakah Serina ada?"
.
Balita berumur satu setengah tahun itu tertidur pulas setelah menghisap habis susu di dot nya.
Serina meregangkan otot-otot tubuhnya saat akhirnya Arina bisa tertidur juga setelah seharian merengek minta di gendong.
Memang beberapa hari ini Arina sedang tidak enak badan karena itulah balita tersebut merengek-rengek.
"Mbak ini daftar bahan pangan yang habis dari toko"Naura menunjukkan sebuah struk daftar belanja pada Serina.
Terlebih dahulu ibu satu anak itu memeriksa satu-persatu bahan-bahan yang di butuhkan.
"Siapa yang bertamu?" Tanya Serina tanpa mengalihkan perhatian nya dari daftar belanjaan.
Naura mengangkat bahunya acuh gadis muda itu malah asik menganggu Arina yang tertidur pulas.
"Saat Mbak pergi aku juga pergi ke kamar, jadi tidak tau siapa yang datang" jelas Naura.
Serina mengangguk paham
"Tolong jaga Arina, Mbak mau lihat siapa yang datang tadi"
"Siap Mbak!"
Langkah kaki berbalut celana bahan itu membawa Serina menuju lantai bawah. Saat ia tiba di sana tidak ada seorang pun yang ia lihat.
"Aneh, sepertinya tadi ada tamu" gumam Serina
Matanya memperhatikan sekitar jika saja ada tamu yang datang.
Tapi tetap saja tidak ada siapapun.
"Ibu!" Panggil nya
"Ibu ada di mana?!"
__ADS_1
"Ib-
"Ada apa sayang?" Serina menoleh saat ia melihat ibunya yang sepertinya dari luar.
Kening Serina mengerut heran
"Dari mana ibu?"
Dinda terlihat salah tingkah mendengar pertanyaan Serina.
"I-ibu dari luar, t-tadi ada pak RT datang" jawabnya gugup.
"Begitu?, Tapi kenapa tidak disuruh masuk?"
"Kamu banyak tanya! Sudahlah ibu ingin istirahat!"
Serina tertegun sejenak mendengar bentakan nyaring ibunya, sudah lama ia tidak mendengar bentakan ibunya yang dulu sering ia dengar.
"Sepertinya ibu memang lelah"
Tidak lama setelah ibunya pergi telpon miliknya berbunyi.
Ternyata Malvin menghubunginya.
"Hallo Malvin? Ada apa?" Serina berjalan menuju kamarnya.
"......"
"Benarkah? Kenapa ibu tidak bilang?"
Di seberang sana Malvin ikut merasa aneh tadi saat ia berkunjung ibu Serina mengatakan jika Serina sedang tidak berada di rumah.
"Bagaimana jika kita bertemu saja?"
"......."
Tuut!
Membuka pintu kamar di sana sudah ada Naura yang tengah berbaring di ranjangnya bersama dengan Arina.
Bersiap sebentar lalu Serina mengambil tasnya yang akan ia bawa.
.
.
Kurang dari sepuluh menit akhirnya Serina sampai di cafe tempat nya janjian bersama Malvin.
"Di sini!"
Senyum terbit di bibir ber poles Serina saat ia melihat Malvin terlihat tampan dengan setelannya.
"Lama menunggu?" Tanya Serina basa-basi.
"Tidak juga"
Serina mengangguk.
"Jadi bisa katakan maksud perkataan mu saat di telpon" tidak ada waktu untuk Serina berbasa-basi, jika menyangkut kehidupan nya Serina tidak bisa berlama-lama. Ditambah lagi ada Arina di sisinya sekarang.
Suasana antar keduanya berubah tegang, Malvin yang tadinya penuh dengan senyuman sekarang terlihat sangat serius.
Malvin melipat kedua tangannya di atas meja sambil menatap tajam Serina.
"Orang tua mu mencurigakan" ucapannya.
__ADS_1
Apa maksudnya?
"Aku tau kamu mungkin tidak percaya, tapi aku rasa semua insiden yang menimpa mu ada kaitannya dengan orang tuamu" jelasnya langsung.
Serina menatap Malvin tidak percaya.
"Bagaimana bisa kamu berfikir seperti itu mengenai orangtuaku?" Raut wajah Serina tidak suka bahkan nada suaranya terdengar ketus.
Menandakan jika wanita itu benar-benar tersinggung dengan perkataan Malvin.
"Jangan salah paham Serina, aku berbicara sesuai dengan apa yang aku lihat"
Serina seakan tuli, semua pandangan baiknya pada Malvin berubah hanya karena kalimat yang pria itu ucapkan.
"Aku akan melupakan kejadian hari ini"
Tanpa menunggu jawaban Malvin, Serina membereskan barang-barangnya lalu beranjak dari tempatnya duduk.
Grep!
"Tunggu"
Malvin menahan lengan putih Serina.
"Ingat kejadian sebelum rumah mu kebakaran? Lalu kedatangan ku ke rumah mu tadi"
Serina terdiam tanpa suara.
"Biarkan aku sendiri"
Malvin hanya bisa pasrah saat Serina melepaskan genggaman mereka, ia hanya bisa menatap punggung wanita yang perlahan menjauh itu.
"Dasar Bodoh"
Seorang pria duduk di pojok cafe di mejanya terdapat ice coffee yang tersisa setengah.
Dia melihat semua itu, bahkan saat pembicaraan keduanya dimulai dia bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan
Orang itu memperbaiki letak kacamatanya yang turun.
Tersenyum senang ternyata tanpa melakukan hal yang sulit untuk memisahkan kedua orang itu mereka akhirnya berjauhan dengan sendirinya.
"Orang ketiga tidak diijinkan untuk bermain" ucapannya melihat Malvin keluar cafe dengan tergesa-gesa.
.
Serina sampai di rumah nya, di perjalanan dia masih memikirkan perkataan Malvin di cafe tadi.
Apa benar orangtuanya melakukan hal buruk itu? Tapi mengapa?.
Tanpa sadar Serina sudah sampai di dalam kamarnya, posisi Naura dan Arina masih sama seperti tadi.
Serina duduk di sofa kamarnya, ia memijit pelipisnya yang terasa pening.
"Ingat kejadian sebelum rumah mu kebakaran? Lalu kedatangan ku ke rumah mu tadi"
Perkataan Malvin kembali terngiang-ngiang di telinganya.
Memang saat itu Serina merasa janggal dengan sikap kedua orangtuanya yang tiba-tiba saja berubah, kalaupun mereka peduli padanya kenapa tidak pada saat hari perceraian?.
Saat sehari sebelum rumahnya hangus terbakar orang tuanya juga melarang nya pulang sebelum besok pagi, tapi mungkin saja itu adalah firasat orang tua pada anaknya?.
Tapi kenapa ibunya tidak mengatakan jika Malvin datang ingin bertemu dengan nya?.
"Astaga! Apa yang harus aku lakukan?!"
__ADS_1
TBC.....