
Serina melambaikan tangannya saat mobil yang di kendaraan orang tuanya melaju meninggalkan pekarangan rumahnya. Akhirnya sekarang ia bisa bernafas dengan tenang saat mereka pergi meninggalkan dirinya sendiri.
Ada rasa tidak nyaman ketika orang tua yang tidak pernah bersikap hangat padanya tiba-tiba datang dan bersikap seolah sangat menyayangi nya. bukan nya ia membenci orang tuanya, atas semua perilaku tidak mengenakan ayah dan ibunya Serina sama sekali tidak pernah menyimpan rasa benci terhadap mereka.
Ibu satu anak itu kembali kedalam rumah, setelah kedua orang tuanya masih ada Naura yang harus ia interogasi.
Bicara tentang interogasi tadi ia bertanya pada Ayahnya mengenai Rumahnya, mulai dari rumah yang harganya murah sampai semua perabotan di dalamnya yang masih terlihat baru saat pertama kali ia membeli rumah ini.
Diluar dugaan ternyata Ayah dan Ibunya sama sekali tidak tahu-menahu mengenai Pembelian Rumah miliknya sekarang.
Lalu siapa?
Ada terbesit dipikiran Serina mengenai siapa yang meringankan bebannya, satu nama yang ada di dalam kepalanya.
Arga.....
Serina menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menghilangkan nama Arga dari pikirannya saat ini. tidak mungkin pria itu!.
Saat Serina mengunci pintu Rumah, samar-samar di telinganya mendengar suara Naura yang tengah tertawa dari arah kamar Arina. kemudian langkah kakinya membawanya menuju kamar milik putrinya itu.
"Kenapa kamu bisa seimut ini sayang" Naura mencium seluruh permukaan wajah Arina gemas, tidak menyadari jika Serina berada di belakangnya sejak tadi.
"Lihat pipi gembul ini! sebentar lagi pasti akan meledak" candanya, Baby Arina yang melihat bibinya tertawa pun ikut tertawa seolah mengerti apa yang di ucapkan oleh Naura.
Melihat kebahagiaan yang terpancar dari kedua orang penting dalam hidupnya Serina merasa hangat meliputi hatinya. Gadis itu adalah putri dari pengasuhnya dulu salah satu orang yanng sangat menyayanginya seperti anaknya sendiri, setelah ibunya sekarang putrinya lah yang menjadi bagian penting di hidupnya.
Naura adalah gadis muda yang selalu mendukungnya dari belakang, membantu dan merawatnya seperti keluarga gadis itu sendiri. Ada rasa prihatin saat ia mengetahui ternyata Naura adalah putri dari Pengasuhnya dulu, itu berarti Naura sudah hidup bertahun-tahun tanpa orang tuanya.
Lamunan Serina terpecah ketika Arina merengek ketika melihat dirinya, Naura yang mengetahui itupun ikut menoleh kebelakang dirinya terkejut saat melihat Serina berdiri di belakangnya.
"Mbak?"
Naura meletakkan Arina di dalam Box Bayinya kemudian mendekati Serina sambil menunduk.
Tidak tau apa yang harus Serina lakukan apakah ia harus memarahi gadis ini karena menjadi mata-mata orag tuanya?, atau harus memeluk gadis itu karena harus kehilangan Ibunya saat ia masih sangat kecil?.
Grep!
Serina tetaplah Serina yang tidak akan pernah melupakan kebaikan sekecil mungkin hanya karena kejahatan yang orang lain perbuat padanya.
Naura memeluk Serina erat, gadis itu menangis deras di pelukan Serina.
"Maaf kan aku Mbak" Isak nya
"Kamu tidak salah" Balas Serina menenangkan Naura.
__ADS_1
.
Berbulan-bulan telah berlalu saat ini Serina dan para karyawan di kedai miliknya sedang merayakan ulang tahun Arina yang pertama. Gadis mungil yang menjadi pemeran utama hari ini itu terlihat sangat cantik dengan gaun pink yang melekat di badan gembul nya.
Para tamu undangan yang memang hanya karyawan Serina dan juga para tetangga memberikan banyak hadiah dan ucapan selamat pada gadis mungil itu.
"Tumbuhlah menjadi gadis kuat seperti ibumu" Ibu Maya tetangga nya yang sering membantunya mengucapkan selamat pada Arina, wanita paruh baya itu juga memberikan sebuah kotak kado pada Arina.
"Terimakasih Bibi" Ucap Serina, sedangkan Arina sepertinya sangat menyukai kado pemberian wanita itu.
"Silahkan dinikmati hidangannya Bibi"
Bu Maya tertawa kecil, "Baiklah-baiklah, sebenarnya Bibi mau membawa Malvin kemari tadi, tapi anak itu menolak dan memilih tidur sampai malam katanya" ada nada sebal Maya saat membicarakan Putra nya yang sampai sekarang masih membujang. padahal umurnya sudah menginjak kepala tiga.
Serina hanya bisa tertawa canggung, Tetangganya yang satu ini memang sering membicarakan putranya saat bersama dirinya. dan ia tau betul arah pembicaraan ini.
"Seandainya Malvin bisa memiliki istri seperti kamu Serina" Benarkan, Ibu Maya memang sering menjodohkannya dengan Putranya, bahkan para tetangga yang lain juga ikut-ikutan karena ibu Maya sering membicarakannya pada tetangga yang lain. untung saja rumahnya agak berjauhan dengan tetangga-tetangga yang lain.
'Kenal saja tidak' ucap Serina dalam hati
"Saya tidak sebaik itu bi" Sanggah Serina, karena memang betul jika ia sebaik itu tidak mungkin pernikahannya bisa hancur seperti sekarang.
Bu Maya mengibaskan tangannya di udara, "Setidaknya kamu lebih baik dari putraku" balasnya Menyanjung Serina.
Mendengar hal itu Serina yang tengah menggendong Arina hanya bisa meringis ketika Bu Maya malah menjelekkan putranya sendiri.
"Maaf Bibi, sepertinya Arina lapar"
"Pergilah, jangan sampai cucuku kelaparan"
Setelah berpamitan pada yang lain Serina meminta Naura untuk menghandle acara saat ia pergi memberi makan Arina.
Mendudukkan bayi mungil itu di atas ranjang kemudian Serina mulai membuatkan buburnya, setelah siap Serina menyuapi Arina dengan telaten, sesekali gadis mungil itu bergumam lucu yang membuatnya tidak bisa berhenti tertawa.
Klek!
Naura masuk kedalam kamar Arina sambil membawa kotak kado besar di tangannya, bahkan hampir saja ia tidak bisa manahan berat beban benda yang di bawa.
"Apa yang kamu bawa?"
Naura meletakkan kotak itu di bawah
"Ada kiriman untuk Arina Mbak" Ucapnya lalu berjalan menghampiri Arina.
Serina mengerutkan kening nya heran, siapa yang mengirimkan kado itu? ayah dan ibunya tidak mungkin mengirimkannya karena mereka berdua sedang berada di luar kota dan mereka juga sudah mengirimkan kado dua hari sebelum acara. lalu siapa yang mengirimkan nya?.
__ADS_1
"Mbak!"
Teriakan Naura menyadarkan Serina, "Ya?"
Lagi-lagi Mbaknya melamun, "Sebaiknya Mbak buka kadonya, biarkan aku yang menyuapi Bayi gembul ini" Ucapnya sambil mencubit pipi Arina sampai memerah.
Serina mengangguk ibu dari Arina itu mulai membuka ikatan yang mengikat erat kado Arina.
Saat kotak kado terbuka yang pertama terlihat adalah sebuah surat yang terbungkus amplop berwarna emas, ketika Serina membaca tulisan dalam amplop itu, hanya bertuliskan tiga kata 'Selamat Ulangtahun Arina'.
Meninggalkan Suratnya lalu Serina beralih pada isi dalam kotak itu, pertama ada boneka beruang putih ukuran sedang namun cukup besar untuk Arina pegang, lalu lima tumpuk buku dongeng, satu set gaun berwarna Navy yang terlihat , terakhir Mata Serina membulat saat melihat perhiasan mulai dari anting, kalung, dan juga gelang yang tersimpan apik di kotak beludru di dalamnya.
"Astaga!" Pekik Naura ikut kaget melihat semua perhiasan itu.
"Siapa yang mengirim semua ini?" Resah Serina, bagaimana bisa ia menerima semua ini saat belum jelas siapa pengirimnya.
"Tadi yang mengantar hanya kurir Mbak" Ucap Serina.
Serina kembali memasukkan semua barang itu kedalam kotaknya, saat ia akan menaruh boneka beruang berwarna putih itu kembali tiba-tiba saja Arina merengek sambil menunjuk boneka itu.
"Tidak sayang bunda bisa belikan yang lain nanti" Tolak Serina.
Bukanya mengerti bayi mungil itu malah merengek lebih keras lagi.
"Berikan saja Mbak" Usul Naura lagi pula itu hanya boneka pikirnya.
Serina menghela nafas panjang tidak mungkin bisa menolak permintaan dari putri kecilnya yang imut itu.
"Baiklah hanya boneka ini saja"
Arina tertawa senang bahkan gadis mungil itu memeluk bonekanya dengan bahagia. Serina dan Naura yang melihat itupun ikut bahagia bersama bayi gembul mereka.
.
.
.
"Saya sudah mengirimkan hadiahnya Tuan" Pria berseragam kurir antar itu menghubungi tuan yang memberikannya tugas.
"Hn"
Tut...
Pria yang menjadi pelaku pengiriman Kado misterius untuk Arina mematikan sambungan telponnya setelah menerima pesan.
__ADS_1
Senyum miring tersungging di bibir tipisnya, "Selamat ulang tahun" Gumamnya, diantara kegelapan.
TBC.....