
Pembicaraan nya dengan Arga tempo hari sukses membuat Serina tidak bisa tidur dengan nyenyak, semudah itu Arga mengajak nya untuk rujuk setelah semua yang dia lakukan padanya dulu.
Serina tidak membenci Arga sepenuhnya dia hanya tidak bisa saja jika harus kembali lagi dengan pria itu.
"Bunda..!" Arina memanggil ibunya yang tengah melamun, hari ini mereka sedang me time bertiga tapi bundanya hanya melamun sejak tadi.
"Iya?" Serina meringis melihat wajah cemberut putri nya, dia sampai lupa jika hari ini mereka sedang piknik.
"Berikan Arina satu lagi"
Serina mengambil sandwich dari wadah lalu memberikan nya pada Arina.
"Sean ingin lagi?" Tawarnya melihat sandwich di tangan bocah itu sudah habis.
Sean menggeleng
Putranya terlihat sangat aneh hari ini, walaupun Sean adalah anak yang pendiam tapi sejak bertemu dengannya dia tidak pernah se diam ini.
"Ada apa nak?" Serina menatap Sean.
"Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa tidak enak" Sejak tiba di taman ini perasaan Sean menjadi gelisah, entah apa sebabnya.
Serina mengelus rambut lebat Sean, "Bermainlah bersama Arina, mungkin kamu akan membaik nanti" usulnya pada sang putra.
Sean setuju, bocah itu kemudian bergabung berasa Arina yang tengah bermain dengan gelembung sabun yang tadi mereka beli.
Duduk sendiri sambil mengamati bagaimana kedua putra-putri nya bermain bersama adalah impian nya sejak dulu, tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika dia bisa bertemu dengan Sean lagi.
Mengenai perasaan Sean sebenarnya Serina juga merasakan hal yang sama dengan bocah itu, tapi dia hanya menganggap perasaan tidak nyaman nya hanyalah perasaan tidak berarti.
Tapi ternyata Sean juga merasakan hal yang sama dengannya, mungkin ikatan batin antara ibu dan putranya.
Brak!
Suara tubrukan nyaring terdengar tidak jauh dari tempat Serina duduk, tidak lama setelah suara itu terdengar banyak orang-orang berkerumun mendekati asal suara.
Serina bangun dari duduknya, tiba-tiba saja perasaan tidak enak yang ia pendam kembali muncul kepermukaan, pandangan nya mencari keberadaan kedua putra-putri nya.
"Sean... Arina..."
.
.
Jessie menatap datar tubuh tidak berdaya seorang dokter pria yang selama ini selalu merendahkan nya, jangan tanya bagaimana tubuh pria itu tergeletak dengan bersimbah darah.
Siapa suruh merawat orang waras seperti orang gila, mungkin itu karma yang ia dapatkan.
Jessie mengusap darah yang menempel di pipinya, baju pasien nya juga terkena percikan darah dari dokter gangguan jiwa yang sekarang sudah tidak bernyawa.
Sekarang waktunya dia keluar dari gedung sialan ini.
Mantan istri dari Arga itu melangkah keluar dari ruang isolasi yang selama empat tahun ini menjadi rumah nya.
Mantan?
__ADS_1
Ya! Dengan kejamnya setelah memasukkan nya kedalam rumah sakit jiwa Arga langsung menceraikan nya begitu saja.
Lihat saja! Setelah keluar dari sini dia akan membalas dendam nya pada pria itu.
Di seluruh lorong rumah sakit tidak terlihat orang yang berlalu lalang, baik dari pihak dokter ataupun dari pasien gangguan jiwa lainnya, karena memang rumah sakit ini bukanlah tempat biasa.
Melainkan penjara berkedok rumah sakit, tempat di mana orang gila yang tidak bisa lagi di sembuhkan yang di isolasi di ruangan sangat tertutup tanpa cahaya apapun ini.
Entah kejahatan apa yang ia lakukan sampai dia bisa berada di sini, bahkan dia tidak gila.
"Apa yang kamu lakukan di sini!!" Penjaga yang kebetulan berjaga di depan pintu melihat keberadaan Jessie.
Pria paruh baya itu kaget melihat Jessie yang keluar dengan cipratan darah di bajunya, bahkan tangan wanita itu menggenggam sebuah pistol, yang dia ambil dari dokter gadungan tadi.
"Menyingkir!" Jessie menodongkan senjata nya pada pria paruh baya yang mencoba menghadangnya.
Merasa terancam pria tersebut perlahan menyingkir membiarkan Jessie lewat.
Bahkan saat wanita itu menaiki mobil milik dokter rumah sakit dia hanya diam, baru setelah mobil meninggalkan rumah sakit dia menghubungi pimpinan nya.
.
Hans menutup panggilan telpon dari anak buahnya yang bertugas mengawasi Jessie, mereka mengatakan jika wanita itu melarikan diri setelah berhasil menembak salah satu dokter disana hingga tewas.
Pria berkacamata itu mencari keberadaan Tuan besarnya di ruangan, namun saat dia masuk tidak ada tanda-tanda Tuan nya berada di sana.
"Dimana Tuan Arga?" Hans bertanya pada sekretaris yang berjaga di depan ruangan.
"Maaf Tuan, pak direktur belum terlihat sejak tadi"
"Gawat" desisnya khawatir.
Memang Arga pernah berpesan padanya jika pria itu mungkin saja akan jarang ke kantor karena urusan pribadi, tapi sungguh Hans tidak menyangka jika Tuan nya sama sekali tidak bisa di hubungi seperti ini.
Hans bernafas lega saat panggilan nya yang entah ke berapa puluh kali itu akhirnya di angkat.
"Ada apa?" Tanya Arga di sebrang sana, pasalnya tidak biasanya asisten nya menelfon sebanyak ini.
"Tuan! Nyonya Jessie melarikan diri!"
Arga awalnya tidak terlalu terkejut mendengar bahwa Jessie kabur, tapi tubuhnya menjadi tegang saat mendengar perkataan selanjutnya dari Hans.
"Nyonya Jessie melarikan diri setelah membunuh Dokter Roni Tuan!"
Deg!
Arga mematung, sekarang yang ada dalam pikirannya hanya satu nama.
Serina....
"Hans! Perintah kan beberapa pengawal untuk mengawasi Serina dan anak-anak!"
Tut!
"Sialan! Seharusnya aku membunuhnya saat itu"
__ADS_1
Arga mengambil jas nya di atas kasur kemudian berlari secepat mungkin untuk menyusul Serina dan anak-anak nya di taman.
.
Seperti sebuah keberuntungan Jessie tersenyum ketika melihat keberadaan orang yang sangat ia benci berada di sana, seorang wanita tengah menggandeng dua orang anak baru saja turun dari mobil.
"Jadi kalian bersama setelah berhasil menyingkirkan ku?!" Kilat amarah terpancar begitu tajam, apalagi saat melihat bagaimana tawa bahagia itu keluar.
Tatapan nya teralih pada seorang anak laki-laki yang sangat ia kenal, terimakasih untuk dokter gadungan yang selalu menunjukkan wajah kecil Sean.
Jessie tersenyum hanya tinggal menunggu waktu nya tiba sampai balas dendam nya berjalan.
.
Sean meniup balon sabun bergantian dengan Arina, gadis kecil itu merasa senang saat gelembung sabun itu mengelilingi nya.
Mereka berlarian kesana kemari mengejar gelembung-gelembung kecil tersebut.
"Sean... Kamu sayang bunda kan?" Ucap Arina di sela-sela tawannya bermain gelembung.
Sena yang tengah meniup gelembung itupun mengangguk cepat.
"Memangnya kenapa?" Heran nya
"Entahlah, yang pasti tolong jaga bunda ya" Arina tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba berbicara seperti ini.
Sean menggeleng cepat, "Aku tidak bisa menjaga nya sendiri, kita harus bersama-sama" sahutnya, awalnya dia tidak suka Arina dekat dengan ibunya, tapi lama kelamaan Sean juga menyayangi gadis itu.
Kemudian kedua bocah itupun tertawa bersama.
Tiupan angin membawa balon-balon yang Arina dan Sean tiup kepinggir jalan, tanpa sadar mereka mengejar gelembung-gelembung tersebut tanpa melihat sekitar.
Di seberang sana Jessie tersenyum senang melihat mangsanya berjalan mendekat.
"Sean... Putra ku kamu akan mati hari ini nak" Jessie menghidupkan mesin mobilnya, bersiap memajukan mobil itu da menabrak kan nya pada Tubuh mungil Sean.
Arian memanggil Sean yang sudah berada jauh dari jangkauan nya.
"Sean! Kemari!" Jika terlalu jauh Arina takut jika ibunya mencari mereka.
Sean tidak mendengarkan, anak itu terus mengejar gelembung tanpa menghiraukan teriakan Arina.
"Dasar!" Arina berkacak pinggang.
Lalu tiba-tiba saja matanya melihat mobil sedan berwarna putih yang tengah melaju kearah Sean, gadis itu panik saat melihat mobil tersebut melaju tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya yang juga ikut terserempet.
"Tidak-tidak, Sean!"
Arina berlari sekuat tenaganya menuju Tempat Sean berada.
BRAK!!
TBC....
MewekðŸ˜
__ADS_1
Ga tega sebenarnya ðŸ˜
Tapi memang sudah plot nyaðŸ˜ðŸ˜