Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
12. Curiga


__ADS_3

"Dari mana saja kamu tadi?"


Serina mengoleskan selai cokelat keatas roti tawar yang hendak ia makan ini adalah roti ketiga yang sudah masuk kedalam perutnya, menggigit satu suapan sebelum ia menjawab pertanyaan dari kakak iparnya.


Venya berencana untuk mengambil air minum ke dapur saat dia melihat istri dari adik sepupunya tengah santai memakan rotiĀ  lewat tengah malam, mulanya ia mengira jika itu adalah pelayan tapi saat dia berjalan semakin dekat ternyata benar itu adalah Serina.


"Sebentar" Serina mengisi gelas kosong dengan air putih lalu meneguknya hingga tandas.


Perutnya sudah kenyang sudah saatnya dia menjawab pertanyaan dari kakak iparnya itu yang sepertinya sangat penasaran dengan keberadaanya.


"Setelah makan siang ayah dan ibu mengajakku berbicara jadi kami pergi menuju tempat yang lebih privasi, setelah itu aku merasa kelelahan jadi saat mengunjungi kebun di samping rumah aku tidak sengaja tertidur di kursi panjang" ungkapnya setengah berbohong, memang benar dia berbicara dengan ayah dan ibunya lalu karena merasa ingin menangis dia pergi ke kebun samping rumah bukan untuk tidur tapi untuk menangis dengan keras sampai lupa waktu.


Venya menatap Serina curiga, bukan karena jawaban dari istri Arga itu melainkan saat melihat perubahan dan sikap dari Serina lah yang membuatnya menaruh curiga.


Sedangkan yang menjadi objek tatapan penuh curiga dari Venya berusaha menghindari tatapan tajam dari kakak sepupu Arga itu. apa venya tidak mempercayai perkataanya?.


Serina mengindari tatapan tajam Venya dengan meminum kembali air putih di gelasnya tadi.


"Kamu hamil?"


"Uhuk!"


Melihat iparnya tersedak tentu saja membuat Venya panik dengan lembut ia menepuk punggung Serina dengan tangannya, saat dirasa sudah reda ia menjauhkan tangannya.


"Hati-hati! kenapa sampai terkejut seperti itu? aku kan hanya bertanya"


Serina berdehem menghilangkan rasa gugupnya.


"Kenapa kakak bisa berfikir seperti itu?"


"Kenapa tidak bisa? kamu kan sudah menikah dan memiliki suami, tentu saja kamu bisa hamil"


Benar juga! Serina meringis malu merasa bodoh dengan pertanyaannya yang konyol itu.


"Makan di tengah malam, dan tubuh kamu juga sedikit berisi dari terakhir kali aku lihat"ungkapnya dengan jujur.


"I-itu, sudah biasa! dan memang aku banyak makan akhir-akhir ini di tambah lagi di rumah tidak ada pekerjaan jadi lemak di tubuhku berkumpul seperti sekarang!!" balas Serina dengan cepat.


Venya hanya menggeleng-gelengkan kepala wanita beranak satu itu mengambil air di dalam teko kemudian menuangnya kedalam gelas yang ia bawa seperti tujuan awalnya ke dapur.


"Santai saja, aku hanya berucap lagi pula bagus jika kamu hamil"

__ADS_1


Tidak!


Ingin sekali Serina berteriak dengan kencang di depan Venya jika tidak akan baik-baik saja jika dia hamil di kondisi pernikahannya yang seperti sekarang.


"Menurut kakak seperti itu?" lirih Serina


Melihat raut sendu di wajah adik iparnya membuat Venya merasa sedih, dia tau betul apa yang terjadi dengan pernikahan adiknya itu, pasti banyak ketakutan yang dirasakannya saat kondisi seperti ini.


"Kakak tau Serina, cepat atau lambat kamu akan hamil dan anak yang akan kamu kandung adalah milik Arga, tidak peduli jika pria itu sudah kembali beristri"


Memang benar Serina juga tidak menyangkal semua itu tapi tetap saja keputusannya tidak akan berubah.


.


.


Suasana kediaman Wahyutama sangat ramai pagi ini keluarga besar tengah berkumpul di ruang keluarga, mereka semua bersandagurau dan membahas banyak hal bersama-sama. di tambah lagi kedatang si kecil Vania yang datang bersama dengan orang tua Kevin istri dari Venya, membuat suasana tambah ceria.


"Astaga cucu kakek sudah bertambah besar sekarang!" Satya menggendong Vania yang masih berusia tiga tahun itu dengan bahagia.


Bahkan demi menyambut kedatangan anggota termuda Wahyutama sang kepala keluarga rela mengambil cuti khusus untuk menyambut cucunya.


"Arga selamat atas pernikahan keduamu dan selamat untuk kehamilan istri mu" Ayah dari Kevin, Adriano mengucapkan selamat pada Jessie dan Arga, pria paruh baya itu juga membawakan sebuah hadiah untuk Arga.


Tidak seperti suaminya yang biasa-biasa saja terhadap pernikahan kedua dari anak besannya itu Puspa tidak merasa begitu, walaupun baru beberapa kali bertemu dia sudah sangat menyayangi Serina seperti putrinya sendiri, ibu mana yang tega melihat putrinya di duakan? tidak ada!.


Saat keluarga sedang asik bercengkerama Serina datang dengan membawa makanan ringan dan jus untuk mereka semua.


"Silahkan diminum" ucapnya lembut.


Puspa yang melihat Serina datang langsung menyambut wanita cantik itu kedalam pelukan hangat nya.


"Sayang bibi merindukan kamu!" ucap puspa di sela-sela pelukan erat keduanya.


"Bibi, Serina juga merindukan kalian" Balas Serina dengan pelukan tidak kalah eratnya.


"Lama tidak bertemu kamu bertambah cantik saja" Pujinya


"Terima kasih, bibi juga terlihat lebih muda sekarang"


Puspa menarik Serina untuk duduk di sampingnya tepat di hadapan Arga yang masih saja menempel ke Jessie.

__ADS_1


"Apa kabar Nak?" kali ini Adriano yang menyapa Serina.


"Baik paman, bagaimana dengan paman?"


"Paman-


"Sudah-sudah! nanti saja basa-basi nya! sekarang biarkan ibu berbicara dengan putrinya!" Ucap Puspa menyela, Serina hanya bisa tersenyum kikuk.


Semua orang kembali seperti semula, Satya dan Wanda sibuk bermain dengan Vania, sedangkan Arga dan Jessie? jangan ditanya entah sengaja atau tidak kedua orang itu terlihat sangat lengket, padahal Serina berada di depan mereka.


Kembali pada Puspa dan Serina.


Serina terlihat sangat bahagia berbicara dengan Puspa tidak peduli betapa cerewetnya wanita paruh baya itu Serina dengan senang hati menjawab semua pertanyaannya, di tengah kesenangan itu tiba-tiba saja si kecil Vania berjalan pelan mendekati Serina, mata bulat penuh damba gadis kecil itu menarik perhatian Serina.


"Eh? ada apa sayang?" Serina mengangkat Vania keatas pangkuannya, seperti sudah sangat akrab dengan Serina, Vania bersikap sangat manja pada Serina, semua orang yang melihat itu merasa heran tidak biasanya Vania bersikap seperti itu pada orang asing.


Ditengah kebisingan akibat sikap Vania yang tidak biasa tiba-tiba saja celetukan Puspa membuat Serina menegang.


"Apa kamu sedang hamil nak?"


Deg!


Serina yang tengah menggendong Vania langsung menegakkan tubuhnya, si kecil yang tengah nyaman di pangkuannya turut ikut terkejut akibat refleks yang di lakukan Serina.


"Benarkan? aku juga sempat mencurigai hal itu tadi malam" Venya yang sedari tadi tidak bersuara ikut menimpali ibu mertuanya.


Semua orang menatap penuh penasaran pada Serina, Arga dan Jessie yang sejak tadi sibuk berdua kini ikut menatapnya dengan pandangan berbeda.


Jessie, adalah orang yang paling tidak senang jika pertanyaan dari puspa ternyata benar tatapan nya menusuk penuh benci pada Serina.


"Tidak! aku tidak sedang mengandung! k-kenapa k-kalian berfikir seperti itu?" Jawab Serina cepat menahan ras gugup yang tiba-tiba saja menyerangnya.


Semua orang tampak menghela nafas kecewa begitupun dengan Puspa yang mendengar hal itu, padahal dia sangat yakin jika Serina saat ini tengah mengandung.


"Biasanya anak kecil akan bersikap akrab jika berdekatan dengan ibu hamil, bentuk tubuhmu juga terlihat lebih berisi aura yang keluar dari mu juga sangatlah cerah Nak, makanya bibi berfikir kamu sedang hamil" Perkataan Puspa mirip seperti yang Venya katakan tadi malam padanya.


Satya dan Wanda juga menyadari perubahan menantu pertamanya itu tapi mereka bersikap biasa saja, sedangkan Arga? jangan ditanya lagi. Sibuk dengan Jessie beberapa bulan ini membuatnya tidak menyadari perubahan yang di alami sang istri.


"Kamu terlihat pucat, apakah kamu baik-baik saja Serina?" Adriano menyadari jika Serina terlihat tidak sehat hari ini.


Serina menggeleng "Tidak paman, aku hanya kurang tidur saja"

__ADS_1


"Memangnya dimana kamu tidur tadi malam?" Venya bertanya pada Serina, padahal jelas dia tau dimana adik iparnya tidur tadi malam.


TBC....


__ADS_2