Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
6. Pernikahan kedua


__ADS_3

Lagi-lagi kenyataan pahit menghantam dirinya.


.


.


Serina menatap nanar pada makanan yang sudah ia siapkan sejak sore demi memberikan sebuah kejutan untuk suaminya di hari yang sangat spesial di pernikahan mereka.


Bukan sebuah pelukan, bukan sebuah ciuman, apalagi sebuah ucapan hangat yang dirinya terima, melainkan rasa sakit yang di terimanya karena kabar pernikahan kedua suaminya tanpa sepengetahuannya.


Menatap Amplop di tangannya dengan getir, Serina kemudian memasukannya kedalam kantung plastik bersamaan dengan semua makanan yang sudah dia siapkan tadi. terlalu banyak untuk dia habiskan seorang diri jika dipanaskan pun akan terasa tidak enak nantinya.


Serina membawa kantung sampah itu untuk di buang di luar, tapi keberadaan sang suami yang tidak di duga membuatnya terkejut.


Arga dan Serina hanya saling menatap tanpa mau membuka suara, sampai akhirnya Arga mengalah dan lebih dulu memberitahu apa yang dia perlukan.


"Mulai malam ini kamu tidur di kamar bawah"


Serina berusaha tidak terkejut sepertinya sekarang dia harus mulai terbiasa dengan kata-kata beracun yang terucap dari bibir Arga.


Tidak mendapat jawaban dari istri pertamanya membuat Arga merasa marah.


"Kamu dengar saya bicara!" bentaknya


Serina mengangguk


Merasa sia-sia berbicara dengan Serina yang mungkin saja merasa tidak menyukai pernikahannya Arga memutuskan pergi dari sana.


Melihat Arga pergi Serina kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi.


"Satu lagi"


Menghela nafas lelah Serina menatap Arga.


"Buatkan susu ibu hamil untuk Jessie"


Kuatkan Serina tuhan.....


Bagaimana bisa dia membuatkan Susu ibu hamil untuk Jessie saat dirinya juga membutuhkan nya......


Arga terlalu kejam.

__ADS_1


Seperti perkataan Arga beberapa saat lalu Serina benar-benar membawakan susu untuk Jessi, jangan tanya bagaimana dia bisa mendapatkan susu itu karena Arga lah yang membelikannya.


Meremas gelas berisi susu yang dia genggam Serina tidak menyangka saat ini dia harus mengetuk terlebih dahulu kamar yang sudah bertahun-tahun ia tiduri.


Arga membuka pintu kamar setelah ketukan ketiga


"Masuk!" Titahnya


Serina mengerenyitkan dahinya heran untuk apa dia harus masuk?


"T-tidak Mas, aku cuma mau memberikan susu ini" Ucapnya sembari menyodorkan susu di tangannya.


Bukannya menerima gelas itu Arga hanya terdiam dengan pandangan tidak lepas dari Serina "Berikan langsung pada Jessie, jika bekerja jangan setengah-setengah" Setelah mengucapkan kata-kata pedasnya pada Serina Pria itu langsung berbalik meninggalkannya begitu saja.


Bekerja?


Apa sekarang dia bekerja di rumah nya sendiri?


Serina Menghembuskan nafasnya berkali-kali sebelum menginjakkan kakinya kedalam kamar.


Tidak banyak yang berubah dari kamarnya itu, karena memang dia baru saja meninggalkan kamar kurang dari dua jam lamanya setelah kepulangan Arga dengan istri barunya. yang membuat kamar itu terlihat berbeda adalah bertumpuk-tumpuknya paper bag yang tergeletak di kasur dengan pemiliknya di sebelah.


"Permisi, aku membawakan susu untuk mu"


"Pantas saja Mas Arga bosan dengan Mbak" Ucapnya dengan senyum meremehkan


Serina yang mendengar hal itu tidak pernah menyangka jika gadis baik-baik yang dulu dia kenal bisa berucap seperti itu.


Dia baru saja akan membalas perkataan Jessie jika saja Arga tidak kembali dengan cepat.


Melihat suaminya telah kembali Jessi langsung berjalan mendekati Arga dan langsung memeluknya manja di hadapan Serina.


"Mas kamu lama sekali, aku rindu sekali dengan kamu" rajuk nya manja di pelukan Arga. padahal mereka belum berpisah terlalu lama.


Senyum Jessie langsung mengembang saat Arga mengelus punggungnya lembut di hadapan Serina.


Tidak ada yang bersuara, Jessie dan Arga sibuk berpelukan di hadapan Serina yang hanya menunduk tidak ingin merasa sakit saat melihat kemesraan di depannya saat ini.


"Minum susu mu" Arga memecah keheningan


Dengan sigap Serina memberikan Gelas di tangannya kepada Arga, tanpa mau menatap wajah suaminya itu.

__ADS_1


Mengaduk susu di gelas itu sebentar sebelum memberikannya pada Jessie.


"Suapi"


Arga memicing menatap Jessie jengah, seakan mengerti kekesalan darI suaminya Buru-buru dia mengalihkan ucapannya.


"Mas ini permintaan Baby" Jessie mengelus perutnya yang masih rata lalu menatap Arga memelas.


Arga menghela nafas tapi tetap saja pria itu melakukan kemauan dari istrinya yang tengah mengandung itu.


Mereka tidak memedulikan Serina yang merasa sakit melihat semua itu, apakah Arga akan melakukan hal yang sama padanya saat dia mengatakan kehamilannya sekarang?.


Serina menggeleng kan kepalanya, melihat Jessie dan Arga yang terlihat saling mencintai itu membuatnya tidak yakin jika Arga masih mengharapkan bayi darinya.


"Sudah, aku tidak mau lagi mas" Rengek Jessie saat Arga memaksanya menghabiskan Susunya.


"Jika ingin bayi dan ibunya sehat, kamu harus menghabiskannya" Arga tidak mau kalah, dia sangat menginginkan seorang anak apapun akan dia lakukan untuk kesehatan calon bayinya.


"Tapi aku mual, tolong jangan paksa aku Mas"


Sepertinya Istri keduanya itu memang benar-benar tidak bisa minum lagi, pandangan Arga beralih menatap Serina yang hanya diam mengamati mereka.


"Bawa ini keluar, Kami harus istirahat"


Serina tidak percaya jika sekarang Arga mengusirnya dari kamarnya sendiri, tanpa mengucapkan sepatah-kata pun Serina keluar dari sana sembari menahan tangisnya yang akan keluar kapan saja.


.


Menatap gelas berisi susu yang tinggal setengah di tangannya, Serina rasa akan sangat sayang jika susu itu harus dibuang sedangkan dia juga membutuhkan susu itu.


Sebenarnya bisa saja Serina meminum diam-diam susu yang masih ada di dalam wadahnya, tapi akan menyebabkan kecurigaan saat Arga menyadari jika susu yang dia belikan untuk Jessie habis dengan cepat.


Dengan segala bentuk pertimbangan akhirnya Serina meminum Susu itu hingga habis, tidak apa menurutnya dari pada membuang susu yang mungkin saja ibu-ibu di luar sana tidak mampu membelinya.


"Maafkan Bunda sayang, sepertinya kita harus bertahan sedikit lagi" Serina mengusap perutnya lembut berharap jika Calon bayinya bisa menerima kekurangan mereka saat ini.


Malam semakin larut Serina juga merasa lelah dengan semua yang menimpa dirinya malam ini, tidak ingin membuat kondisinya memburuk hanya karena Arga dan Jessie dirinya memutuskan untuk pergi ke kamarnya yang baru sekarang.


Merebahkan tubuhnya di kasur Serina berusaha menghangatkan dirinya dengan selimut yang tebalnya tidak seberapa itu, penghangat ruangan di kamar itu mati tentu saja dia harus kedinginan semalaman suntuk.


Dalam keheningan Serina memikirkan bagaimana rencananya kedepan, jika ingin merahasiakan kebenaran mengenai kehamilannya pada Arga, sepertinya dia punya waktu sampai perutnya tidak terlalu membuncit, dan jika sudah waktu kehamilan terlihat dia harus segera menyiapkan keputusan yang tepat nantinya.

__ADS_1


TBC......


__ADS_2