Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
17. Ikatan


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Serina menjalani hidupnya seorang diri, bukan sebagai seorang istri ataupun seorang menantu dan putri dari keluarga kaya, melainkan hanya sebagai orang biasa yang sedang menjalani kehidupan nya dengan damai.


Bangun pagi-pagi sekali hari ini Serina berencana untuk ke kedainya lebih awal.


Saat menjadi seorang istri dulu dirinya agak kesulitan menyesuaikan waktu antara mengurus rumah tangga dan berbisnis, tapi sekarang semuanya telah berubah, Serina bisa mengelola kedainya tanpa memikirkan pekerjaan rumah.


"Selamat datang!" Sambut seorang gadis muda berambut pendek di bawah teling dengan ceria, saat Serina masuk kedalam kedai yang luasnya tidak seberapa itu.


"Mbak Serin?!" Naura terkejut saat melihat kedatangan dari pemilik kedai tempat nya bekerja.


Serina tersenyum


"Apa kabar? Maaf tidak memberitahu kamu terlebih-lebih dahulu" ucap Serina tidak enak ketika melihat keterkejutan dari pekerjaannya.


Naura menggeleng cepat


"Tidak Mbak! Ini kan kedai mbak Serina, terserah Mbak mau datang kapan saja" balas Naura, merasa jika boss nya ini terlalu ramah.


"Baiklah, sebaiknya kita masuk kedalam" ajak Serina.


Toko memang tidak terlalu ramai saat Serina datang, mungkin karena masih terlalu pagi. Para pengunjung biasanya datang saat waktu makan siang atau sore hari untuk mengisi perut.


Serina dan Naura duduk di salah satu meja yang kosong, sebelum itu Naura pergi ke dapur untuk membuatkan minuman dan membawakan makanan ringan untuk Serina.


"Terimakasih" ucap Serina setelah Naura membawakan nya makanan dan minuman.


Naura mengangguk


"Oiya, tumben Mbak kemari? Apa pekerjaan rumah Mbak sudah beres semua?" Bukan maksud Naura melarang Serina datang, hanya saja selama ia mengenal Serina dia tau jika boss nya itu enggan meninggalkan rumah.


Bukan karena Serina malas, tapi lebih ke khawatir saat dia pergi dari rumah suaminya akan pulang dan tidak melihat dirinya di rumah, makanya Naura agak terkejut tadi.


Serina tidak langsung menjawab, memang Naura tidak mengetahui jika Arga menikah lagi, selama ini Serina hanya beralaskan jika dia harus mengurus rumah saat Naura menanyakan kehadiran nya di kedai.


"Naura..." Panggil Serina ragu


"Iya Mbak?"


"Sebenarnya Mbak baru saja bercerai" jawab Serina dengan jujur.


Naura tidak bisa berkata-kata mendengar perkataan Serina, Naura tidak bisa percaya jika rumah tangga yang selama ini Naura kira sangatlah kuat, bisa runtuh.


Siapa pria bodoh yang mampu meninggalkan wanita baik hati seperti Serina?.


"Jadi mulai sekarang Mbak akan membantu kamu di kedai" lanjutnya lagi, Serina merasa tidak nyaman saat Naura menatap nya iba.


"Mbak baik-baik saja kan?"


Serina tersenyum sendu, setelah Venya sekarang ada Naura yang juga mengkhawatirkan dirinya.

__ADS_1


"Tentu saja! Sekarang tidak ada lagi pekerjaan yang membuat Mbak tidak bisa ke kedai" Jawab Serina dengan senyum mengembang, terlihat bebas tanpa beban.


Tapi Naura tau satu hal


Selama ini pernikahan Serina dengan suaminya tidak sebahagia yang ia pikirkan.


.


.


Arga menghela nafas panjang


Lagi-lagi dirinya dengan Jessie bertengkar.


Entah apa masalahnya pasti ada saja hal-hal yang membuat mereka berdua beradu mulut saat bertemu.


Seperti sekarang saat ia akan berangkat kerja, Arga tidak tau apa masalahnya dia hanya mengatakan jika Jessie tidak pandai memasak, tiba-tiba wanita yang tengah mengandung itu marah dan mengunci pintu kamar dari luar.


Memang apa salahnya berkata jujur?


Dulu saat dia masih bersama Serina, mantan istrinya itu tidak pernah marah ataupun melawan perkataan nya, wanita itu selalu ingin jika dirinya bisa jujur mengenai apapun.


Tapi, karena satu kejujuran yang dia ungkapkan pada Serina, Wanita itu meninggalkan nya.


Tanpa sadar langkah kakinya mengarah pada kamar tamu yang berada dekat dengan dapur.


Ruangan yang tidak begitu besar perabotan yang tidak seberapa tersusun dengan rapi, bahkan wangi yang selama ini menemaninya masih tertinggal di dalam sana.


Tubuhnya perlahan terbaring dengan lelah keatas ranjang milik mantan istrinya dulu, walaupun tidak selembut kasur king-size miliknya tapi ranjang ini terasa sangat nyaman untuk nya.


Entah sadar atau tidak perlahan-lahan matanya mulai terpejam menikmati segala aroma yang tertinggal di sana sambil memejamkan mata.


"Serina..." Gumam Arga sebelum tertidur dengan lelap.


.


Menjelang siang adalah waktu yang tepat untuk mencari makanan pengisi perut, berbondong-bondong orang-orang mencari tempat untuk menikmati waktu istirahat sambil berbincang-bincang menunggu waktu bekerja.


Seperti saat ini Serina dan Naura sangat sibuk menyiapkan setiap pesanan dari para pelanggan yang bergantian masuk kedalam kedai.


Satu orang keluar maka satu irang lagi akan masuk untuk mengisi bangku yang kosong, seperti sebuah keberuntungan kedai sangat ramai hari ini.


Serina dan Naura hampir kewalahan menjamu para pengunjung yang datang lebih banyak dari biasanya, tapi mereka senang.


Pukul 17:00 akhirnya kedai kosong melompong, para pengunjung sudah pergi keluar dari kedai milik Serina.


"Wah! Sepertinya Mbak membawa keberuntungan" ucap Naura sambil membersihkan meja-meja yang terkena noda-noda.


Serina yang juga sedang mengepel lantai hanya tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"Rasanya menyenangkan bisa melayani pelanggan" Serina tersenyum tipis.


"Benar Mbak! Ak- Mbak?!"


Naura berteriak panik saat Serina berlari tergesa-gesa menuju dapur.


"Huek!"


Perutnya terasa tidak nyaman sekarang, sebenarnya ia sudah menahan rasa mual sejak tadi tapi syukurlah mual itu kembali datang saat kedai sudah sepi.


Naura yang melihat Serina memuntahkan isi perutnya langsung memijit tengkuk wanita itu.


"Mbak, sebaiknya kita ke dokter"


Serina merasa lega setelah berhasil mengeluarkan rasa mual yang dari tadi ia rasakan.


"Tidak perlu, sudah biasa untuk ibu hamil mengalami hal seperti ini"


"H-hamil?" Tanya Naura tidak percaya.


Merasa salah berucap Serina langsung menatap Naura cepat.


"I-itu"


Melihat boss nya panik Naura jadi merasa bersalah.


"Mbak punya suami, jadi wajar jika Mbak hamil" jelas Naura agar Serina merasa nyaman.


Naura menuntun agar Serina duduk di kursi lalu gadis muda itu berlalu untuk mengambilkan air hangat untuk nya.


"Sudah enakan?"


Serina mengangguk


"Jika aku tau Mbak sedang hamil aku tidak akan membiarkan Mbak Bekerja terlalu keras" Naura merasa bersalah saat tau apa yang sedang Serina alami.


Setelah bercerai dengan suaminya, Serina pasti harus merawat bayinya seorang diri.


Tiba-tiba saja Naura merasa jengkel dengan mantan suami boss nya.


Serina tersenyum kecil melihat wajah Naura yang penuh sesal itu.


"Sudah hampir malam, tidak baik untuk seorang gadis pergi malam-malam"


Naura Yang mendengar hal itu mendengus.


"Seharusnya aku yang bilang seperti itu, tidak baik untuk ibu hamil berjalan seorang diri di malam hari" balasnya.


Memang rumah yang Serina tempati tidak jauh dari kedai ini hanya berjalan beberapa menit mereka akan sampai di rumah milik Serina.

__ADS_1


TBC......


SLOW UPDATE BELUM KONTRAK 🤫


__ADS_2