Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
29. Apartemen


__ADS_3

Kedua lawan jenis yang dulu pernah menghabiskan waktu mereka selama enam tahun lamanya itu masih berdiri berhadapan.


Serina menatap Arga dengan pandangan Benci,sedih, sekaligus kecewa sedangkan Arga sendiri hanya menatap mantan istrinya itu dengan pandangan yang tidak dapat diartikan.


Saking lamanya tenggelam dalam lamunannya Serina tidak sadar jika Arga berdiri sejengkal lebih dekat dengannya, bahkan saat Pria itu menyentuh ujung rambut nya Serina masih tidak sadar.


"Bagaimana kabar mu?"


Mendengar suara Arga yang terdengar dekat dengannya membuat Serina tersadar dengan posisi mereka saat ini. Karena terkejut Serina tanpa sadar mundur kebelakang namun naas saat ia tidak sadar jika di belakangnya ada sofa yang tadi ia duduki.


Serina memejamkan kedua matanya bersiap merasakan sakit yang akan ia rasakan akibat terjatuh kelantai.


Tapi sebelum Serina merasakannya Arga dengan sigap memeluk pinggangnya agar Wanita itu tidak jatuh.


Bukanya menjauh posisi mereka malah menjadi sangat intim, saat Serina akan menarik tubuhnya menjauh dari Arga pria itu malah semakin mendekapnya erat.


"M-mas" Lirih Serina memohon dia khawatir jika ada yang memergoki posisi intim keduanya, apalagi Arga sudah memiliki istri entah apa yang akan orang-orang pikirkan tentangnya nanti.


Tatapan datar Arga menusuk kedalam bola mata bening milik mantan istrinya, Ada rasa rindu yang tidak bisa ia gambarkan di wajahnya saat akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan wanita ini. wanita yang pernah menemaninya selama Enam tahun lebih sebagai istrinya.


Serina melotot kan kedua matanya saat melihat gerak-gerik Arga yang akan memajukan wajahnya lebih dekat dengannya, tatapan pria itu tertuju pada bibirnya!.


Serina berusaha mendorong Arga sekuat tenaga bermaksud menyadarkan pria itu agar sadar dengan apa yang akan ia lakukan. tenaga Arga sangat kuat menahan tubuh nya, bahkan Serina harus menahan nafasnya saat hidung nya dan Arga saling bersentuhan.


"Maaf Nona saya terlalu lama!."


Bruk!


Akhirnya Serina berhasil mendorong tubuh kekar mantan suaminya itu menjauh sebelum pak Handoko melihat apa yang tengah klien dan Boss nya perbuat.


Sialan Arga!


Pria brengsek itu bermaksud menggoda dengan wajah nya yang tampan itu ya!! untung saja Serina masih waras dengan tidak tergoda.


Setelah 'insiden' di ruangan Arga tadi di gagalkan oleh Pak Handoko, pembicaraan mereka kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai ucapan terimakasih dan ucapan selamat saja, Serina berbicara dengan canggung dan gugup sedangkan Arga pelaku yang hendak berbuat mesum tidak terlihat bersalah sama sekali.


Pembicaraan mereka hanya bertahan hanya bertahan kurang lebih selama 10 menit saja selain karena tidak nyaman Serina juga beralasan jika Putrinya sedang membutuhkannya.


Pak Handoko mengantar Serina sampai keluar lobi Apartemen berlebihan hanya untuk orang biasa seperti Serina.


"Terimakasih banyak sekali lagi Pak Handoko" Ucap Serina menjabat tangan Pria paruh baya itu sekali lagi.


"Saya juga sangat berterimakasih Nona"


"Kalau begitu saya pamit Pak"


"Tunggu!" Pak Handoko menahan pergelangan tangannya.


Serina mengerutkan keningnya, apalagi sekarang?


"Terima ini Nona" Serina semakin heran saat Pak Handoko tiba-tiba saja menyerahkan sebuah kartu akses padanya.


"Sebagai ucapan terimakasih saya bermaksud memberikan Kartu Akses Apartemen ini untuk Nona"Jelasnya


Serina mengibaskan kedua tangannya di udara bermaksud menolak pemberian Pak Handoko yang ia rasa berlebihan itu.


"Tidak perlu pak, saya sudah sangat bersyukur bapak memesan makanan dari kedai kami" Tolaknya pada Pak Handoko.

__ADS_1


"Saya mohon Nona terimalah, anda bisa datang jika ingin berkunjung saja"


Melihat wajah penuh permohonan pak Handoko membuat Serina luluh, entah apa penyebab Pria paruh baya ini sangat baik padanya, jangan-jangan ada hubungannya dengan Arga?. Serina menggelengkan kepalanya tidak mungkin pria itu.


Dengan terpaksa akhirnya Serina menerima Kartu itu dari tangan Pak Handoko.


"Terimakasih banyak pak"


Serina melambaikan tangannya pada Pak Handoko saat Taxi yang ia tumpangi berjalan menjauhi area gedung.


"Saya sudah melakukan apa yang Tuan perintahkan"


"Hm"


"Apa saya melakukan kesalahan?" Sepertinya dia tidak melakukan kesalahan apapun lalu mengapa wajah Tuannya terlihat keruh?.


"Pikir saja sendiri"


.


.


Seminggu telah berlalu sejak acara peresmian Apartemen milik keluarga Wahyutama, setelah acara tersebut Serina sama sekali tidak pernah bertemu dengan Arga ataupun Pak Handoko.


Kedai pun sudah mulai buka sejak beberapa hari yang lalu karena Arina sering rewel beberapa hari ini terpaksa Kedai dialihkan pada Naura sementara, karena hanya gadis itulah yang bisa ia percaya saat ini.


Selagi ia membuat Susu bubuk untuk Arina, balita mungil itu asyik bermain dengan boneka-bonekanya di lantai berlapis beludru.


"Ayo sayang minum dulu"


Serina membawa Arina kepangkuan nya meletakkan kepala Balita perempuan itu di lengannya kemudian menyuapinya dengan dot berisi susu.


Ponsel Serina tiba-tiba berbunyi saat melihat siapa yang memanggil ternyata Ayahnya.


"Hallo?"


"......"


"Baik Bu,bagaimana dengan kalian"


"......"


"Tidak memangnya kenapa?"


"....."


"Entahlah apakah bisa menginap atau tidak"


"......"


"Iya nanti aku kabari"


"...."


"Hm.. jaga diri kalian baik-baik"


Tut....

__ADS_1


Panggilan telpon berakhir ketika menoleh kearah Arina ternyata gadis mungil itu tengah tertidur pulas, Serina tersenyum gemas melihat betapa mungilnya putri nya ini.


Serina membawa balita mungil itu ke kamarnya untuk di baringkan.


Ting-Tong!


Bel rumahnya berbunyi, biasanya di jam segini bu Maya lah yang sering mengantar kue bolu untuknya.


Merapikan sedikit pakaiannya, Serina berjalan cepat menuju pintu rumahnya.


Klek!


Ketika Serina membuka pintu yang pertama kali ia lihat adalah punggung seorang pria yang membelakanginya. melihat pakaiannya yang hanya memakai kaos oblong dan kolor berwarna abu-abu sepertinya orang ini baru saja bangun tidur.


"Ada perlu apa ya?"


Seperti sebuah slow motion pria itu memutar tubuhnya kebelakang saat Serina menyapanya.


Deg!


Kedua matanya yang tadinya mengantuk karena di bangunkan paksa oleh ibunya tiba-tiba saja terbuka lebar saat melihat sosok bidadari dengan baju rumahan di hadapannya.


Serina merinding ketika melihat pria di hadapannya menatapnya tanpa berkedip, bahkan mulutnya terbuka lebar.


"S-siapa Ya?"


Dulu ibunya pernah mengatakan jika ada tetangga baru di dekat rumah, yang ia dengar ibunya mengatakan jika wanita tetangga itu adalah seorang janda tapi dia tidak berfikir jika janda bisa secantik ini.


Jika tau Janda di sebelah rumahnya secantik ini sudah dari dulu dia mengiyakan perintah ibunya untuk mendekati wanita tetangga ini.


"T-tuan!"


"Eh?!"


Pria yang sering di panggil Malvin putra tunggal dari bu Maya itu tersenyum kikuk dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa malu dengan penampilannya saat ini. jika tau ada bidadari janda secantik ini dia pasti akan dandan dulu tadi.


"Ini"


Serina menatap bingkisan yang pria sayu di depannya ini sodorkan, ya pria sayu padahal sepertinya tidak mabuk tapi di tengah hari seperti ini kenapa masih muka bantal? bahkan terlihat di wajahnya jika pria ini masih belum puas tidur.


"Apa ini?"


"Ibu menyuruhku memberikannya pada mu"


Serina menerima bingkisan yang pria itu sodorkan, saat bingkisan sudah berpindah ke tangannya dia bisa mencium aroma Bolu yang sering Bu Maya berikan untuknya.


"Ah! Apakah anda Putra dari Bu Maya?" tanya Serina antusias, setelah sering membicarakan putranya akhirnya ia bisa bertemu dengan pria ini.


Malvin menahan nafasnya ketika senyum lebar tersungging di wajah Serina.


"Kalau begitu terimakasih!"


Serina menutup pintu rumahnya.


Grep!


Wanita yang mengenakan baju rumahan itu terkejut saat tiba-tiba saja Malvin menahan pintu yang baru saja akan ia tutup.

__ADS_1


"Bolehkah aku mampir!"


TBC.....


__ADS_2