Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
52. Gone


__ADS_3

Arga memijit kepalanya yang terasa sakit akibat kesibukan nya belakangan ini, belum lagi orang tuanya berencana pergi keluar negeri untuk mengecek keadaan perusahaan di sana yang sekarang sedang tidak kondusif.


Sebenarnya Arga ingin pergi menggantikan mereka tapi sang ayah tidak ingin jika Arga meninggalkan Sean terlalu lama, agak terkejut karena ayahnya peduli dengan Sean.


"Hans, cek jadwal Minggu depan" Arga memijit keningnya.


Sekretaris Arga itupun langsung membuka jadwal Arga di tab milik nya.


Memperbaiki letak kacamatanya sebentar, "Minggu depan anda memiliki jadwal pertemuan dengan klien" lanjutnya.


"Hanya itu?"


Hans mengangguk


"Batalkan, dan siapkan kepergian kita Minggu depan menyusul ayah dan ibu"


"Baik Tuan!"


Belakang ini tubuh Arga merasa tidak enak bahkan sekarang dia selalu kesulitan tidur dengan baik.


Arga menghembuskan nafasnya


"Ada apa dengan ku" gumamnya


Tidak ingin tambah pusing Arga mengambil jas nya di kursi lalu memakainya.


"Anda ingin kemana Tuan?" Mila sekretaris Arga bertanya pada bos nya.


"Pulang"


.


Mobil mewah Arga terparkir di halaman rumah milik keluarga Wahyutama, supir membukakan pintu untuk nya.


Arga keluar dari mobilnya lalu bergegas masuk kedalam rumah.


Dahinya mengkerut saat melihat koper milik orangtuanya sudah di persiapkan di ruang tamu.


"Arga? Kamu pulang nak?" Wanda menghampiri putra semata wayangnya itu, karena kepindahan putranya dengan membawa serta Sean ke apartemen pribadi, Arga sekarang jarang berkunjung ke rumah utama.


"Hm..Ayah dan ibu pergi hari ini?"


Wanda ikut duduk di sebelah Arga.


"Ayah mu terburu-buru sekali kemarin saat mendengar kabar dari asistennya" keluh Wanda, seharusnya di masa tua mereka sekarang mereka hanya perlu beristirahat dengan tenang.


"Gunakan jet pribadi kita saja" Arga memberi usul Entah mengapa dia gelisah sekarang.


"Tidak perlu!" Satya sudah siap dengan persiapan nya, datang menuruni tangga menghampiri putra dan Istrinya.


"Kenapa?" Tanya Arga heran.

__ADS_1


Satya menepuk pundak Arga


"Ayah rindu bepergian bersama dengan orang-orang"


Decakan sebal keluar dari bibi Arga, apa-apaan alasan itu?.


"Pesawat umum tidak aman Ayah" bujuk Arga, apalagi melihat kondisi perusahaan belakangan ini yang tiba-tiba saja menurun drastis, pasti ada sesuatu di dalamnya.


"Setengah jam lagi kami akan berangkat" Satya mengecek jam tangan milik nya.


Wanda mengelus pundak Arga memberikan ketenangan agar putranya bersabar dengan sikap ayahnya.


"Selagi kami pergi jaga diri baik-baik ya? Jangan terlalu sibuk sampai mengabaikan Sean sendirian" Wanda memberikan nasihat pada putranya.


Mengingat tragedi beberapa waktu lalu yang menyebabkan kondisi Sean tidak terlalu baik, walaupun akibatnya Satya mulai bersikap baik pada cucunya itu tapi tetap saja ada yang harus mereka korban kan.


"Kamu adalah seorang ayah tunggal untuk nya, jangan biarkan dia sendirian menghadapi kesedihannya" Ayahnya ikut menimpali.


"Kalau perlu menikah lagi saja dengan mantan istri mu" sambung Satya yang langsung mendapatkan persetujuan sang istri.


"Ayah mu benar nak, Serina pasti bisa menjagamu dan Sean setelah kami tiada nanti" ucap nya dengan tulus.


Arga menatap wajah ibunya, wajah lembut itu selalu berhasil membuat nya tidak bisa berkutik, sejahat atau sekejam ataupun Arga dia tidak akan bisa melawan ibunya.


"Kalian harus menyaksikan pernikahan ku dengan Serina nanti" jawab Arga.


Satya dan Wanda saling berpandangan, kemudian sama-sama menatap putra mereka satu-satunya itu.


"Tanpa kami pun kamu harus bahagia nak" lagi-lagi Wanda membuat perasaan Arga tidak tenang.


"Jangan pernah menyakiti Sean ataupun Serina lagi, karena kami tau Serina bisa menjadi cahaya untuk hidup mu kedepannya" lanjutnya Satya.


"Ayah juga ingin meminta maaf karena menjadi ayah dan kakek yang buruk untuk kalian" Satya tersenyum lembut.


"Jadilah orang baik nak" Wanda berucap lembut menarik Arga kedalam pelukannya.


Satya mengecek jam di tangannya lagi.


"Sudah waktunya"


Wanda melepaskan pelukannya dari Arga.


"Aku akan mengantarkan kalian"


Kompak kedua orangtuanya itu menggeleng cepat.


"Urusan mu banyak, jangan menjadi bos yang tidak bisa disiplin!"


Arga mengalah menatap kedua orangtuanya untuk terakhir kalinya sebelum keduanya pergi meninggalkan rumah ini.


"Jangan tinggalkan aku" kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Arga entah apa sebabnya.

__ADS_1


"Kami tidak meninggalkan mu nak, kami pasti kembali untuk menyaksikan pernikahan mu dengan Serina nanti" Satya menggandeng istri nya untuk segera pergi.


Meninggalkan Arga yang hanya bisa menatap punggung kedua orangtuanya bergantian.


"Berjanjilah..."


.


.


Ada beberapa hal yang berubah belakangan ini, pertama Serina tidak terbiasa dengan kepergian Arina banyak kegiatan yang selalu mengingat kan nya pada putrinya itu.


Kedua Malvin jarang berkunjung ke apartemen Serina karena pria itu tidak lagi menjadi supir antar jemput Arina, lalu yang paling menonjol adalah perubahan Sean.


Sejak kematian Arina, Arga memutuskan untuk pindah ke unit apartemen di sebelah Serina yang selama ini hampir tidak pernah di tempati. Jangan lupa dengan sikap Sean yang kembali seperti dulu saat belum mengenal Arina.


Pernah suatu hari Serina mencoba menjemput Sean di sekolah nya tapi betapa terkejutnya dirinya saat melihat banyak luka-luka lebam di wajah bocah itu, dan saat ia mencoba bertanya baik-baik Sean malah mengucapkan jawaban yang membuat hatinya terenyuh.


"Mereka mengejek Saudariku, mulai sekarang aku akan menghabisi anak-anak yang berani mengejek Arina"


Serina terkejut saat Sean ternyata mengetahui jika Dirinya adalah ibu kandung nya. Mungkin jika saat itu Serina tidak mengajak Sean mengunjungi Jessie dan mendapatkan penolakan bocah itu Serina tidak akan pernah tau.


Kegiatan Serina sehari-hari belakangan ini di sibukkan dengan Kedai yang lumayan Ramai, dirinya mulai kewalahan saat tidak Ada Naura yang membantunya.


Naura berencana menikah bulan depan dan banyak persiapan yang harus Gadis itu kerjakan, awalnya Serina berencana membantu persiapan itu tapi Naura malah menolaknya dengan tegas.


"Mbak hanya perlu datang saat hari H"


Mengingat hal itu Serina kadang mengumpat jengkel.


Menekan password pintu apartemen nya Serina melirik kearah unit sebelah nya, dirinya menduga-duga apakah Sean dan Arga ada di dalam?.


Sebagai seorang ibu sebenarnya serina ingin sekali bisa tinggal dengan Sean, tapi Arga melarang nya untuk sementara ini, pria itu bilang Sean tidak stabil dan membutuhkan perawatan khusus.


Klek


Tidak ada lagi seorang gadis kecil yang akan menyambut kepulangan nya dengan ceria, bahkan saat ini Serina masih bisa merasakan pelukan hangat Arina biasanya setelah dia pulang ke apartemen.


Serina Menyalakan lampu, seketika ruangan menjadi terang benderang.


Malam ini sebenarnya Serina berencana menginap di rumah orangtuanya tapi sebelum itu dia ingin membersihkan tubuhnya yang lengket.


Belum sempat Serina membersihkan dirinya tiba-tiba saja pintu apartemen nya di gedor dengan kuat.


"Kenapa tidak tekan bel saja sih" Serina mendengus.


Melihat dari layar intercom ternyata Arga yang mengunjungi nya.


Klek!


"Ada ap-

__ADS_1


"Tolong jaga Sean selagi aku pergi!" Serina tersentak kaget saat Arga memotong perkataan nya. kenapa pria ini terkesan terburu-buru?


TBC....


__ADS_2