Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
41. Sakit


__ADS_3

Entah sudah berapa hari dia terkurung di ruangan pengap ini, ruangan yang luas membuat nya merasa penuh.


Tidak ada jendela ataupun sesuatu yang bisa mengirim sinar matahari masuk ke ruangan yang ia tempati, hanya ada satu pintu yang di gunakan oleh para pelayan mengantar makan dan minum untuk nya.


Jessie tidak pernah mengira jika hidupnya akan berakhir di tempat isolasi ini, ada penyesalan di dalam hidupnya ketika Berani melawan Arga.


Hari itu Arga benar-benar dengan ancaman nya dengan tidak mengijinkannya keluar dari rumah, bahkan saat itu Jessie sudah merencanakan apa yang akan dia lakukan untuk melaporkan Arga.


Tapi ternyata saat dia tidur di rumah mertuanya tiba-tiba saja saat ia terbangun dari tidurnya dia sudah tidak berada di kamar sebelumnya.


Dan sampai sekarang dia hanya terkurung di ruangan luas ini.


Klek!


"Nyonya ini makanannya"


Jessie menatap pelayan wanita itu.


"Tunggu!"


Pelayan yang baru saja akan keluar dari kamar miliknya berbalik.


"Ya nyonya?"


Ini kesempatan terakhir nya dia pastikan tidak akan gagal.


"Bisa bantu aku?"


Pelayan itu terlihat ragu tapi sepertinya tidak apa karena penjaga pasti menolong nya jika terjadi sesuatu.


"B-baik Nyonya"


.


.


Hah! Hah!


Seorang wanita dengan dress berwarna kuning berlari menyusuri jalanan yang sepi, bahkan saking jauhnya ia berlari dari rumah terkutuk itu kakinya lecet tidak berbentuk.


Berhasil mengelabui pelayan Arga dengan menguncinya di kamar mandi akhirnya ia bisa lolos.


Walaupun ada rasa tidak percaya saat dengan mudahnya ia lolos, bahkan para penjaga di rumah itu tidak terlihat. Tapi biar saja Jessie tidak peduli.


Bruk!


"Aduh!"


Jessie meringis ketika tidak sengaja menabrak seseorang di depannya, akibat terlalu sering menengok kebelakang dia tidak sadar akan orang di depannya.


"Nyonya Jessie?" Pria itu bertanya tidak yakin.


Siapa orang ini?


Ketakutan dirasakan Jessie saat orang yang tidak dia kenal menyapanya.


"S-siapa?"


Pria itu tersenyum tipis


"Sepertinya anda kesusahan" ucapannya melihat keadaan Jessie yang mengenaskan.


Tidak ada yang mengenal nya selain orang-orang kantor Arga dan keluarga pria itu.


Refleks dia berjalan mundur menjauhi pria itu.


"Jangan takut nyonya! Saya hanya ingin menolong Anda!" Sahutnya melihat Jessie yang ketakutan.

__ADS_1


Tidak ada orang di sekitar sini bagaimana jika orang ini berniat buruk padanya?.


"T-tidak perlu, saya baik-baik saja" balas Jessie.


"Anda ingin kemana? Saya bisa mengantarkan" pria tersebut berusaha bersikap ramah.


"Dari mana anda mengenal saya?" Jessie curiga dengan keberadaan pria ini.


Pria tersebut tertawa merasa lucu dengan pertanyaan Jessie.


"Siapa yang tidak mengenal Nyonya Wahyutama?"


Jessie mengangguk mengerti pandangan nya menatap pria itu menyelidik, lalu tiba-tiba pandangan nya beralih pada mobil di belakang pria yang mengenal nya.


Tidak terlalu besar tapi Jessie bisa melihat logo perusahaan milik suaminya di pinggir kaca belakang mobil.


Melihat Jessie yang sedang fokus melihat ke belakang nya pria itupun ikut menolehkan kepalanya.


Tiba-tiba saja suara tawa dari pria itu membuat Jessie merinding.


Sialan! Pria itu penipu!


"Ah ketahuan ya" kekeh nya


Jessie bersiap melarikan diri


"Brengsek!" Umpatnya


Tubuhnya mundur kebelakang kemudian kakinya melangkah secepatnya menjauhi pria yang pasti adalah suruhan Arga.


Grep!


"Lepaskan aku!"


Pria itu menarik kencang Jessie hingga menabrak tubuhnya, kemudian mengukung istri dari Arga itu menggunakan lengannya.


"Sayang sekali, padahal saya berniat membawa anda baik-baik, tapi ternyata Tuhan tidak berkehendak"


Semakin besar usaha Jessie melepaskan dirinya saat pria itu mengeluarkan sebuah suntikan dari sakunya.


Jessie menggelengkan kepalanya tidak mau.


"Tidak!"


"Tidak akan sakit nyonya, anda hanya akan tertidur sebentar saja"


Tangisnya pecah kenapa sekarang keadaan nya menjadi seperti ini?.


Suntikan itu menyentuh kulit lehernya membuat nya memejamkan mata menahan rasa sakit itu.


'sialan Arga, aku bersumpah akan membalas segala rasa sakit ini'


Kegelapan semakin merenggut kesadaran Jessie. Kemudian tubuhnya terkulai tidak berdayanya.


"Saya sudah mendapatkan nya Tuan"


.


.


"Ibu masih tidak percaya jika Jessie menjadi seperti ini"


Venya merangkul bibinya, dia juga terkejut dengan diagnosis dokter yang mengatakan jika Jessie mengalami gangguan jiwa.


"Ini salah ku terlalu mengekang nya belakangan ini" Keluarga menatap Arga yang terlihat sangat menyesal dengan semua yang terjadi dengan rumah tangga nya.


Bahkan Venya yang tau betul dengan kelakuan Arga selama ini ikut merasakan kesedihan pria itu.

__ADS_1


"Sean masih terlalu kecil untuk menghadapi semua ini" gumamnya penuh sesal.


"Tidak apa nak, kita bisa menjaga nya bersama-sama" Wanda menghampiri sang putra yang terlihat sangat rapuh itu.


Tanpa menyadari jika pria yang sedang mereka khawatir kan itulah penyebab keretakan Rumah tangga nya sendiri.


Bahkan tidak cukup menghancurkan satu wanita dalam hidupnya dia juga menghancurkan kehidupan yang lain.


Keluarga itu kemudian mulai melakukan segala proses di rumah sakit tempat Jessie di rawat, dokter mengatakan pihak keluarga belum di ijinkan bertemu dengan pasien entah apa sebabnya.


.


Semalaman lebih Serina memikirkan tentang Jessie yang tiba-tiba saja di kabarkan mengalami gangguan jiwa, seberat apa kehidupan wanita itu? Sebenarnya dia merasa jika semua itu terlalu ganjil.


Jika Arga saja bisa melakukan apapun padanya apalagi dengan Jessie?.


Serina menggeleng cepat. Tidak mungkin! Arga dan Jessie saling mencintai satu sama lain dulu saja mereka dengan tidak tau malu bermesraan di hadapannya.


Apa kah semua ini karma?


Jika iya Serina lebih berharap jika Arga lah yang mendapat kan nya.


Rencana nya dia hari ini akan berkunjung ke tempat Jessie di rawat, bukan karena kasihan atau apapun melainkan ingin memastikan kebenaran berita yang ia dengar.


Tapi beberapa menit yang lalu kakak sepupu Arga ingin bertemu dengannya dia bilang rindu pada Arina.


Memang keberadaan Venya yang jauh dari kota ini membuat nya tidak bisa bebas datang dan pergi, di tambah lagi ada putri nya yang harus ia rawat.


"Mbak kita kapan pergi belanja?"


Serina menoleh


"Nanti saja. Mbak Venya bilang akan datang kesini"


Naura antusias


"Benarkah? Kalau begitu nanti saja!"


"Bagaimana dengan kedai?"


Belakangan ini Serina jarang berkunjung ke sana, karena Arina mulai memasuki paud tahun depan dia berencana menyiapkan gadis kecil itu.


"Aman terkendali!" Semangat nya sambil mengacungkan kedua jempol nya.


Serina tersenyum tipis, pikirannya masih tidak tenang.


Bertepatan jam makan siang Venya datang bersama dengan Vania, Kevin tidak ikut karena harus kembali ke rumah mereka lebih dulu karena ada urusan pekerjaan.


Siang itu di habiskan mereka dengan berbincang bincang bahkan Arina dan Vania terlihat sangat dekat satu sama lain.


Kabar mengenai Jessie tidak lagi ia pikirkan karena Venya mengatakan jika tidak ada gunanya memikirkan orang lain yang sudah jahat pada nya.


Serina berharap semoga hari-harinya bisa damai seperti ini selama-lamanya.


Melihat orang-orang terdekat nya sangat peduli padanya membuat hidupnya sangat bahagia.


TBC.....


Kayaknya sekarang enggak bisa up setiap hari deh, gak tau kalian biasa aja atau malah senang wkwk.


jadwal kuliah padet banget jadi gak terlalu bisa buka hp atau laptop.


mana banyak tugas lagi jadi maaf ya


untuk komentar yang jarang ke balas maaf ya soalnya aku sekarang takut kolo buka komentar 🙏


baru-baru ini aja aku mulai berani buka komentar karena ada pembaca yang menghargai cerita aku.

__ADS_1


terimakasih semua..


__ADS_2