
Sean tidak berani menatap wajah sang ibu yang kini mengobati luka-luka nya, dia tak mau melihat bagaimana wajah cantik ibunya itu bersedih karena kondisinya saat ini.
"Terimakasih sudah mau menjemput Sean, Malvin"
Malvin menoleh pada Serina kemudian mengangguk kan kepalanya.
"Bicaralah dengan bocah itu, mulutku sampai berbusa karena lelah bertanya padanya" kemudian Malvin meninggalkan Serina dan Sean di dalam ruang inap Arga berdua saja.
Serina menghela nafas panjang harus mulai dari mana?
"Kenapa berkelahi?" Sean tidak menjawab wajah itu senantiasa menunduk di hadapan ibunya.
"Kamu senang terluka seperti ini?" Nada suara Serina mulai bergetar, setelah kehilangan Arina kini Arga yang terbaring lemah dan sekarang? Sean juga terluka.
Sean menggeleng
"Lalu? Kamu ingin meninggalkan ibu seperti ayah dan Arina?"
Ucapan terkahir Serina membuat Sean langsung menatap kearah ibunya.
Ibunya menangis dan semua itu karena dirinya.
"Maaf" Sean berucap lirih
"Nak, ibu hanya punya kamu sekarang, jika kamu terus seperti ini siapa yang akan menjaga ibu Nanti?" Serina kemudian menoleh pada Tubuh terbaring Arga.
"Lihat ayahmu, apa yang harus ibu katakan pada ayah jika nanti dia...sadar" benarkah? Serina sendiri tidak yakin apakah ayah dari putra nya itu akan sadar.
Sean mengikuti arah pandang Serina.
Ayahnya yang adalah panutan nya kini tidak sadarkan diri.
"Katakan kenapa kamu berkelahi?"
Sean bingung apakah dia harus mengatakan yang sejujurnya?
"Apa rumah ayah akan di sita Bu?"
Serina terdiam bingung harus menjawab apa.
"Teman-teman mengejek ku dan mengatakan jika ayah bangkrut dan mereka mengatakan jika ayah tidak akan pernah bangun lagi"
Betapa jengkelnya Sean mendengar ejekan anak-anak itu, orang tua mereka adalah bawahan ayahnya dulu tapi setelah kejadian yang menimpa keluarga nya malah mereka bersikap tanpa tau terimakasih.
Grep
Serina menarik Sean kedalam pelukannya mendekap tubuh mungil putranya itu, didikan orang tua yang kurang membuat anak-anak itu menjadi seperti ini.
"Tidak apa Jangan dengarkan perkataan mereka, ayah pasti akan bangun" Serina menenangkan Sean.
Semuanya tidak benar sekarang Sean tidak aman diluar sana, jika Arga belum sadar maka Sean belum aman dari bahan gunjingan orang-orang.
"Sean, kamu mau homeschooling saja?" Hanya itu cara agar Sean tidak lagi terlibat perkelahian dan membuat pikiran nya tercemar oleh hasutan orang luar.
Dan Serina merasa lega saat Sean menyetujui permintaan nya.
.
.
Hampir sebulan lamanya serina harus bolak-balik antara apartemen dan rumah sakit dan selama itu pula Arga belum membuka matanya sedikitpun, dia sedikit merasa lega karena Sean sekarang homeschooling.
__ADS_1
Naura juga turut membantu nya menjaga Sean sesekali saat dia senggang, Venya juga ingin membantu tapi dia tidak bisa sesering mungkin karena wanita itu juga punya keluarga sendiri.
Saat ini Serina menyiapkan makanan dan minuman untuk Malvin yang berkunjung ke Apartemen nya, setelah Naura memiliki pasangan memang Malvin yang sering membantu nya.
"Seperti itu"
Sean tersenyum senang gambar nya sudah jadi sekarang.
"Terimakasih paman!"
Sean dan Malvin menjadi akrab belakangan ini, mungkin karena pria itu selalu bersamanya saat ia pergi ke rumah sakit.
"Wah, kalian sudah selesai?" Tanya Serina menghampiri Sean dan Malvin.
"Malvin terimakasih telah menjaga Sean" senyum Serina tulus, yang langsung di jawab oleh Malvin tidak kalah tulus nya.
"Kita adalah keluarga jadi tidak perlu berterimakasih"
"Kalian ingin kerumah sakit kan? Biar aku antar" lanjut Malvin.
Serina berfikir sejenak mumpung Malvin masih disini dia akan meminta pria itu sekalian mengantar nya ke kedai.
"Aku ada sedikit urusan di kedai, bisa kamu mengantar ku ke sana?" Tanya Serina.
"Tentu saja!"
Merekapun pergi menuju kedai terlebih dahulu baru setelah sampai sana Serina meminta Malvin mengantarkan Sean ke rumah sakit.
"Kami akan menunggu mu saja" saran Malvin.
"Tidak apa aku bisa naik taxi nanti"
"Jika selesai cepat datang ya"
Serina langsung mengangguk.
"Hati-hati!"
Kendaraan roda empat milik Malvin melaju perlahan meninggalkan kedainya.
"Serina! Ayo masuk" teriakan salah satu pegawainya yang menyuruh nya lekas kedalam membuat Serina mau tak mau langsung masuk.
.
"Kenapa ibu tidak ikut dengan kita?" Tanya Sean heran, Malvin yang tengah mengendarai mobil nya itu hanya tersenyum tipis.
"Ibumu hanya sebentar tenang saja"
Sean hanya menunduk tidak ingin membahas lagi.
Mereka sampai di depan rumah sakit setelah memarkir mobil nya Malvin menggandeng Sean menuju ruang inap Arga.
Klek!
Malvin tidak bisa menahan rasa terkejutnya ketika melihat pemandangan yang sangat amat tidak bisa dipercaya di depannya, lalu ia menoleh pada Sean yang juga menatap objek yang sama.
"Ayah?"
Sean benar ayah nya sudah bangun sekarang, bahkan pria yang mengenakan pakaian rumah sakit tersebut terduduk linglung di atas ranjang.
"Ayah!"
__ADS_1
Malvin membiarkan Sean berlari kearah sang ayah, dia masih tidak bisa menahan rasa terkejutnya.
"Iya-iya, setelah Arga bangun aku ak-....Arga!!" Venya mematikan sambungan telefon genggam di tangan nya saat melihat adik sepupunya tengah duduk di atas ranjang dengan Sean di pelukannya.
Venya dan Hans baru saja dari luar tidak sampai Lima belas menit mereka meninggalkan Arga, pria itu ternyata sudah sadar.
"Hans panggil dokter untuk memeriksa Arga!"
Hans langsung berlari keluar dari ruangan menuju dokter.
"Apa yang kamu rasakan? Tidak ada yang sakit kan?" Venya memeriksa seluruh tubuh Arga.
"Sean menjauh sebentar dari ayah ya?" Venya mencoba memberi pengertian pada bocah itu.
Namun dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saat Sean menolak perkataan nya, lalu venya beralih pada Malvin yang masih saja terdiam di depan pintu.
"Ibunya Sean dimana?"
Malvin yang merasa Venya berbicara dengan nya pun langsung tersadar.
"Oh? Serina ada urusan sebentar" jawabnya
Mendengar nama mantan istrinya disebut Arga sedikit merespon, berarti Serina selalu bersamanya saat ia tidak sadar.
Senyum samar terlihat di bibir tipis nya, kemudian tangan terbalut perban itu mengusap kepala sang putra penuh dengan sayang.
Tidak Lama kemudian dokter datang bersama dengan Hans.
"Mohon keluarga bisa menunggu di luar"
Venya menarik Sean dari pelukan Arga.
"Sayang nanti kita bertemu ayah lagi, ok?"
Ada rasa tidak tega ketika melihat wajah Sean yang dulu begitu angkuh kini terlihat sangat lemah, keadaan yang berubah membuat perubahan begitu terlihat di wajah Sean.
Klek!
Malvin menutup pintu kamar milik Arga membiarkan dokter memeriksa kondisi pria itu terlebih dahulu.
"Sebaiknya kamu hubungi Serina" usul Venya.
Dia akan menghubungi suaminya dulu, dan memberikan kabar ini pada keluarga mertuanya.
Malvin mengangguk kemudian mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Serina.
"Hallo?"
"......"
"Arga sudah siuman sekarang, sebaiknya kamu cepat datang"
"......."
"Iya tad-...."
Tut!Tut!
Malvin Hanya bisa menghela nafas nya saat Serina mematikan sambungan telefon begitu saja.
TBC...
__ADS_1