Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
58. Melanjutkan hidup 2


__ADS_3

Setelah mendapat panggilan dari Malvin yang mengatakan jika Arga telah siuman Serina langsung bergegas menuju rumah sakit.


Disinilah dia sekarang berdiri di depan pintu ruang rawat Arga, ada keraguan untuk masuk kedalam, Serina takut jika kabar yang di bawa Malvin hanyalah bualan saja.


Wuhh


Memberanikan dirinya Serina membuka pintu tersebut perlahan.


Klek!


Semua orang yang berada di dalam langsung menoleh kearah Serina, bahkan Sean langsung memanggil ibunya ketika dia datang.


Serina tidak memedulikan semua tatapan yang terarah pada nya, yang menjadi fokusnya adalah Arga yang tengah duduk di ranjang tanpa mau menoleh sedikitpun kearah nya.


Puk!


Venya menepuk pundak Serina pelan.


"Kami sudah memberi tau semu yang terjadi pada Arga"


Tatapan tidak percaya Serina layangkan, bagaimana bisa? Bahkan Arga belum lama sadar tapi dia harus menerima kenyataan bahwa keluarga nya telah hancur sekarang.


"Lebih cepat lebih baik Serina, sebaiknya kamu bicara dengan nya" Venya tidak punya pilihan lain selain mengatakan kebenaran pada Arga, pria itu akan lebih terkejut lagi jika tau dari orang lain.


Venya meminta suaminya dan mertua nya untuk meninggalkan Serina dan Arga sendiri, wanita itu juga menyuruh Malvin untuk membawa Sean keluar.


Ada rasa tidak suka saat Melvin harus membiarkan Serina bersama Arga, tapi dia tidak punya pilihan lain lagi untuk saat ini.


"Sean ayo"


Klek!


Pintu tertutup kini hanya tinggal serina dan Arga di dalam ruangan itu, melihat Arga yang sama sekali tidak meliriknya membuat Serina merasa sedih.


Langkah kakinya membawa Serina lebih dekat dengan ranjang Arga, wanita itu tidak mengatakan apapun dia hanya diam sambil terus menatap Arga yang masih membuang muka tidak ingin melihat kearah nya.


"Bagaimana keadaan kamu Mas?" Serina membuka suaranya, sudah jelas dia tau betul jika Arga tidak baik-baik saja saat ini.


Arga tidak bersuara, hal itu tidak membuat Serina menyerah agar mantan suaminya itu mau membuka mulutnya.


"Semua orang menunggu kamu sadar, terutama Sean sering kali bocah itu merengek hanya ingin mendengar suara kamu, pasti tidak terbayang kan? Bagaimana bisa anak yang pendiam seperti Sean merengek karena merindukan ayahnya" Serina terkekeh geli ketika mengingat hal itu.


Senyumnya menghilang ketika Arga sama sekali tidak meresponnya, jangan kan mendengarkan Arga bahkan tidak mau menoleh padanya sedikit pun.


"Apa kamu membenciku?"


Tidak! Ingin sekali Arga mengatakan pada Serina jika dia sama sekali tidak pernah membenci wanita itu, Arga hanya malu dan sedih semua yang di alaminya terasa tidak nyata.

__ADS_1


Kehilangan orangtuanya lalu kehilangan semua kerja keras nya selama ini, dan sekarang Arga harus bersabar karena cedera yang di alaminya.


Serina tersenyum kecut setelah dia lama menunggu Arga Sadar selama ini, tapi ternyata pria itu sama sekali tidak ingin berbicara dengan nya.


"Maaf, aku akan keluar"


Serina bangun dari kursi lalu berjalan keluar.


"Aku hancur Serina..." Langkah nya terhenti begitu suara lirih Arga terdengar begitu pilu.


Ketika ia berbalik wajah penuh air mata yang sangat jarang Arga tampilkan kini ia saksikan sendiri di sana.


Arga menangis tersedu-sedu mengeluarkan seluruh beban yang begitu berat di hidupnya.


Serina berlari menerjang tubuh mantan suaminya lalu memeluknya begitu erat, membiarkan Arga menumpahkan air matanya dalam dekapan nya.


"Hiks!...ayah dan ibu pergi...tapi aku bahkan tidak bisa mengantarkan mereka ke peristirahatan terakhir, dan sekarang kerja keras yang ayah bangun sejak dulu hancur perlahan" Arga mencurahkan isi hatinya.


Mendengar rumah utama milik keluarga Wahyutama di sita oleh bank membuat Arga seperti kehilangan seluruh hidupnya.


"Rumah itu adalah peninggalan terakhir keluarga ku"


Serina mengusap punggung dan kepala Arga berusaha menenangkan pria yang saat ini terlihat begitu rapuh.


"Kemana aku harus pergi?" Arga mengangkat wajah nya yang pucat berlinang air mata, menatap Serina putus asa.


Serina mengusap wajah Arga kemudian menangkup wajah itu dalam genggaman nya.


Bagaimana caranya memperlakukan wanita itu dulu? Apa yang dia lakukan hingga gadis sebaik ini begitu menderita, bahkan Serina masih Sudi merawatnya seperti sekarang.


Grep!


"Maafkan aku"


Serina tidak menjawab dia hanya membalas pelukan Arga tidak kalah eratnya.


.


Sean tidak bisa menjauh dari Arga sedikit pun, semua yang ada di sana hampir tidak percaya bocah bar-bar seperti Sean bisa bersikap manja dengan Ayah nya.


Venya hanya menggelengkan kepalanya melihat hal itu, begitu jelas dalam kepalanya bagaimana bocah itu dulu merusak mainan Vania hanya dengan genggaman nya saja, bahkan ekspresi horor Sean dulu begitu terekam jelas di benaknya.


Tapi apa itu? Sean yang sekarang terlihat sangat jinak di pelukan ayahnya sambil menerima suapan potongan buah apel yang seharusnya di makan oleh Arga.


Di dalam ruangan itu hanya ada mereka berempat, keluarga venya pulang untuk mencari penginapan terdekat mengingat rumah Arga sekarang bukan lagi menjadi milik mereka, sedangkan Malvin memiliki perkejaan di bengkelnya yang tidak bisa di tinggal.


Tidak lama kemudian Hans masuk kedalam ruangan milik Arga.

__ADS_1


"Tuan, apakah Anda sudah lebih baik?" Tanyanya setelah sampai di dekat Arga.


"Tidak perlu memanggil saya dengan sebutan 'Tuan', kamu bukan lagi bawahan saya sekarang" Arga menginstruksikan kepada Hans agar tidak lagi memanggil nya dnegan sebutan Tuan.


Plak!


Arga meringis saat Serina memukul bahunya lumayan kencang.


"Jangan seperti itu!" Peringat nya mengingat Hans begitu berjasa dalam membantu Arga.


"Panggil dengan nama saja mulai sekarang" sambung Arga.


Hans tentu saja tidak bisa melakukan hal itu, semiskin apapun Arga saat ini tetap saja pria itulah yang membantu nya dulu saat ia kesulitan.


"Saya lebih nyaman memanggil anda Tuan"


Arga berdecak sebal memang sebuah kebiasaan akan sulit di hilangkan.


"Hans kamu punya keluarga yang harus kamu nafkahi, maaf karena membuat posisi mu menjadi sulit sekarang, tapi saya sangat berterimakasih atas bantuan mu selama ini, sekarang kamu bebas memilih pekerjaan mu sendiri" Serina tersenyum mendengar ucapan Arga, atensinya beralih pada Hans yang terlihat sangat bingung.


"Maafkan saya karena tidak bisa membantu anda Tuan, terimakasih banyak untuk kebaikan nya selama ini" Hans membungkuk pada Arga.


"Hm, lanjut kan hidup mu" karena aku juga akan melanjutkan kehidupan ku.


Hans berjalan keluar setelah berpamitan dengan mereka semua.


"Kamu beruntung memiliki sekretaris seperti Hans" Venya bersuara.


Arga tidak mengelak karena ucapan venya adalah kebenaran.


"Bukan hanya Hans tapi kamu juga harus melanjutkan hidup" sambung nya lagi.


"Mbak" Serina menegur Venya, Arga belum sembuh total bagaimana bisa berbicara seperti itu?


"Apa? Aku benarkan? Kamu bukan lagi Tuan muda sekarang jadi kamu harus bekerja untuk melanjutkan hidup"


"Mbak!"


Serina menoleh kepada Arga melihat bagaimana ekspresi keras yang di tampilkan oleh nya.


"Mas jangan dengarkan Mbak Venya, yang pertama kamu harus pulih terlebih dahulu baru setelah itu kamu bebas melakukan apapun" Serina bersuara.


Arga terdiam kakinya lumpuh perlu setidaknya 3 bulan untuk bisa berjalan dengan normal maka selama itu dia akan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.


"Aku tidak miskin, tetapi hanya perlu memulai nya dari bawah lagi kan?"


Venya dan Serina terdiam apa maksudnya?

__ADS_1


"Sebelum itu aku perlu melakukan satu hal"


TBC....


__ADS_2