Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
19. Kesepakatan


__ADS_3

Caffe di ujung jalan yang bersebrangan dengan Rumah Sakit bersalin tempat Serina melakukan USG, saat ini sangatlah lenggang bukan karena sepi melainkan karena seseorang dengan uang berlebih telah menyewa tempat itu.


Arga Wahyutama


Mantan suami dari Serina lah yang telah menyewa tempat itu, pria itu beralasan tidak ingin percakapan mereka terganggu oleh orang-orang.


Sebenarnya beberapa pelanggan dan pegawai Caffe itu terkejut saat melihat Arga datang membawa kedua wanita yang sama-sama sedang hamil besar.


Tapi mereka semua masih ingin bekerja, jadi mereka diam.


"Jadi? Bisa jelaskan apa maksudnya ini?" Arga membuka suara terlebih dahulu, di sampingnya ada Jessie yang hanya membuang wajahnya tidak peduli, awalnya ia terkejut tapi berusaha mengabaikan nya.


Entah mengapa Serina merasa jika wanita itu sedikit berbeda dari terakhir kali berjumpa dengan nya.


"Apanya?"


Arga berdecih, merasa jika serina pura-pura tidak mengerti. Padahal Arga tau sendiri jika IQ yang dimiliki mantan istrinya itu di atas rata-rata.


"Beberapa bulan yang lalu kita berpisah karena kamu tidak bisa memiliki anak, tapi sekarang? Bagaimana bisa seorang wanita yang baru saja di ceraikan suaminya bisa hamil besar seperti ini?" Arga tidak habis pikir, jikapun Serina telah menikah lagi tidak mungkin usia kehamilannya sudah seumuran kandungan Jessie.


Yang Arga tau sepertinya Serina tengah mengandung saat mereka resmi bercerai atau bisa jadi sebelum itu!.


Serina merasa tidak suka mendengar perkataan Arga seolah-olah pria itulah yang menceraikannya, padahal kan mereka bercerai karena permintaan dirinya. Lagipula alasan perceraian keduanya bukan karena masalah bisa mengandung atau tidak! Melainkan adanya orang ketiga dalam hubungan mereka.


Dalam hati Serina tertawa mendengar ucapan Arga yang kelewat percaya diri.


"Mas, kita sudah memiliki kehidupan masing-masing sekarang, tidak perlu ada yang di bicarakan" Serina memilih bungkam tanpa mau repot-repot menjelaskan mengenai kehamilannya.


Rahang Arga mengeras menahan luapan emosi yang kian membuncah.


"Terlihat dari besarnya kandungan kamu sekarang, tidak menampik kemungkinan jika bayi itu adalah milik kita"


Serina merasa tidak terima "Tidak ada milik kita! Hanya ada aku! Bayi yang aku kandungan adalah putraku Mas! Bukan milik kamu!" Teriaknya dengan geram.


"Putra?"


Sudut bibir Arga terangkat pria itu menyeringai saat ucapan 'putra' keluar dari bibir mantan istrinya, sedangkan Serina yang melihat seringai di wajah Arga merasa jika pria itu memiliki pikiran licik di otaknya.


"Jessie.." panggil nya datar tanpa menolehkan wajahnya pada wanita di sebelahnya.


"Pergilah"


Tanpa bantahan Jessie pergi meninggalkan Serina dan Arga berdua saja, cukup sekali ia melihat amarah Arga yang seperti orang gila! Mulai sejak beberapa bulan yang lalu dia tidak ingin lagi berurusan dengan Arga, selagi pria itu terus membiayai hidupnya Jessie tidak berani ikut campur.


Melihat kepergian Jessie begitu saja membuat Serina merasa tambah heran dengan wanita itu.

__ADS_1


'ada apa dengannya?' batin serina mengikuti kepergian Jessie.


Tuk!tuk!


"Di sini nona!"


Arga kembali duduk dengan tenang setelah Serina kembali fokus dengan nya.


"Setelah anak itu lahir saya akan meng-


"Tidak bisa!" Serobot Serina, mengetahui ucapan apa yang akan Arga keluarkan dari bibirnya.


Arga mengangkat alisnya menatap tajam Serina yang berani memotong perkataan nya.


"Anak ini adalah milikku! Hanya milikku! Kamu sudah memiliki segalanya! Kenapa tidak mengikhlaskan satu benih pada ku! Mas" Serina terisak tangisan yang sejak tadi ia tahan saat berjumpa dengan pria yang sangat ia cintai, kini tangisan itu tidak terbendung lagi.


Arga tidak menjawab pria itu hanya menunggu Serina mengeluarkan keluh kesahnya.


"Kamu punya harta, keluarga, jabatan, dan seorang istri yang akan melahirkan anak untuk kamu! Tapi apa yang aku punya? Tidak ada Mas! Aku hanya punya bayi yang aku kandung" Serina mengeluarkan keluh kesahnya berharap Arga mengerti dengan semua kesulitan yang ia hadapi.


"Menikah kembali dengan saya" Ucapannya santai seolah perkataan Serina hanyalah angin lalu.


Serina tersenyum kecut, ternyata Arga tidak sebaik itu.


"Kamu gila Mas!"


"Ada satu pilihan lain" ucap Arga memberikan sebuah harapan bagi Serina.


"A-apa?"


"Kamu bisa bersama bayi itu, tapi biarkan saya membiayai seluruh kebutuhan nya"


.


.


Dengan lunglai Serina berjalan kaki meninggalkan Caffe tempat Arga dan dirinya berbicara, awalnya Arga ingin mengantar Serina tapi wanita itu menolak dengan berbagai alasan.


Dalam kebisingan jalan raya Serina berperang dalam pikirannya, Apakah benar jika membiarkan Arga membiayai seluruh kebutuhan bayi nya?.


Rencana awal ingin menjauh dari mantan suami, Serina malah kembali terikat dengan status berbeda.


Serina memanggil taxi setelah taxi berhenti ia langsung memberikan alamat rumah nya, lalu mereka melaju menjauh dari sana menuju rumah Serina.


"Lelahnya" keluh Serina, padahal bekerja di kedainya berat, dia sama sekali tidak pernah mengeluh, tapi ini? Hanya berbicara dengan Arga kurang dari setengah jam saja Dirinya sudah kelelahan.

__ADS_1


.


Di tempat lain Arga dan Jessie berada di dalam mobil yang di kendarai oleh supir pribadi Arga, Pak Toni.


Dalam perjalanan tidak ada siapapun yang membuka suara, Jessie tidak ingin menjadi sasaran amarah Arga dengan membuka suaranya.


Apalagi saat mengetahui jika bayi yang di kandung nya adalah seorang perempuan.


Memang tujuan awal mereka bisa berada di sekitar taman adalah karena habis mengunjungi Dokter pribadi Arga, pria itu ingin mengetahui jenis kelamin bayi yang Jessie kandung.


Awalnya Jessie merasa jika dengan mengandung bayi Arga pria itu akan mencintai dan menghargai nya, tapi ternyata belum cukup!.


Arga ingin bayinya laki-laki!


Dan sialnya bayi yang Jessie kandung adalah bayi perempuan.


Bersusah payah Jessie menenangkan rasa takutnya pada Arga, entah beruntung atau tidak mereka malah bertemu dengan mantan istri dari Suami nya, Serina.


Betapa terkejutnya ia saat mengetahui jika Serina tengah mengandung jika dilihat usia kandungannya kurang lebih dengan kandungannya.


Tapi ada rasa tenang saat Serina mengatakan jika bayi nya adalah laki-laki, itu berarti Arga tidak akan mencelakainya akhirnya ia bisa merasakan ketenangan.


Jessie tidak peduli dengan apa yang terjadi antara Arga dan Serina, setidaknya Arga tidak akan menyakiti dirinya itu sudah cukup.


.


"Mbak? Sudah pulang! Bagaimana hasilnya?!" Baru saja Serina menutup pintu kedainya, Naura sudah menyambutnya dengan antusias.


"Biarkan Serina duduk dulu Naura!" Pekerja Serina yang usianya lebih tua dari mereka semua menarik kursi untuk serina duduk.


Sedangkan Naura hanya mengerutkan bibirnya sebal.


"Terimakasih Mbak Laras" ucap wanita hamil itu, memang Laras adalah orang yang sangat peka terhadap sesama.


"Jadi gimana Mbak?"


Serina tersenyum "laki-laki" lirihnya namun penuh semangat.


Mendengar hal itu para pekerja memberikan selamat pada Serina, diikuti oleh Naura dan Laras yang sangat senang mendengar hal itu.


"Dia akan menjadi pelindung ibunya nanti"ucap Laras.


Perkataan Laras membuat Serina tersadar dengan pertemuan nya dengan Arga tadi.


"Apa Arga akan membiarkan putranya bersama ibunya?" Gumam serina pelan.

__ADS_1


TBC.....


Spesial my birthday 🎉🎉😌😌 double up


__ADS_2