
Serina dengan cepat menarik Arina kebelakang tubuhnya berusaha menutupi gadis kecil itu dari pandangan pria yang tengah menatap mereka berdua.
Seharusnya dia tidak terkejut lagi melihat kedatangan Arga di Apartemen ini, karena bawahan pria itulah yang memberikan nya.
Arina sesekali mengintip dari belakang sang ibu untuk melihat paman yang wajahnya tidak asing di pengelihatannya.
Tidak ada pembicaraan antar keduanya hanya seorang pria yang menggunakan kaca mata berdiri di sebelah Arga lah yang sepertinya sedang berbicara dengan mantan suaminya itu.
Serina menarik putrinya melewati Arga tapi suara pria itu menghentikan langkahnya.
"Lama tidak bertemu Serina?"
Tubuh Serina menegang di tempat, wanita tersebut bahkan tidak mau repot-repot membalikan badannya untuk menatap mantan suaminya.
"Putri mu sudah sangat besar dari terakhir kali kita bertemu" Pria yang dari tadi di sebelah Arga hanya diam tanpa bersuara, akhirnya bos nya bertemu kembali dengan wanita yang selama ini ia awasi.
"Tuan sebaiknya kita cepat pergi"
Arga tidak bergeming pria itu berbalik untuk melihat Serina dan putrinya? entahlah apakah masih bisa di anggap putri nya karena dulu ia dengan sengaja menukarnya dengan Putra wanita itu.
"Bagaimana kabar mu?"
Serina berbalik
"Jangan bersikap seolah kita ini dekat Tuan Arga" Jawab Serina yang mulai jengah dengan Arga yang selalu terlibat dalam hidupnya.
"Hubungan kita tidak sebaik itu untuk bisa saling menyapa seperti ini" Nada suara Serina memang terdengar tenang, tapi tidak bisa menutupi bahwa ada emosi yang terpancar dari raut wajah wanita itu.
Bahkan Arina saja sedikit terkejut mendengar perkataan ibunya pada paman yang sepertinya bukanlah orang baik itu.
Arga tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan mantan istrinya, karena tanpa mendapat jawaban wanita itu pun Arga bisa tau bagaimana kehidupan Serina selama ini.
Nafas Serina mulai tidak beraturan, saat melihat Arga ia selalu mengingat betapa kejamnya pria itu merenggut Putranya yang baru ia lahirkan, karena hal itu lah Serina hanya bisa mengandalkan Media untuk melihat wajah putranya.
"Saya rasa kamu cukup baik, melihat dari cara mu berbicara pada saya" Serina tanpa sadar meremas keras tangan mungil Arina ketika melihat Seringai menjijikan dari Arga.
Melihat kondisi yang sepertinya kurang baik ini Dengan inisiatif Sekretaris dari Arga itu mencoba mengentikan Tuannya.
"Tuan, kita tidak punya banyak waktu lagi" bisiknya pada Arga
__ADS_1
Sayang sekali dia tidak bisa menyapa putri nya untuk sekarang, tapi tidak apa mungkin nanti dia bisa berbincang kembali dengan kedua orang itu, Serina dan Putrinya.
"Baiklah, sepertinya sampai di sini saja, sampai jumpa lagi"
Dalam hati Serina mengutuk pria yang tidak tau malu itu, lebih tidak tau malu lagi Serina yang harus tinggal di tempat mantan suaminya berada.
.
.
Arga mendesis marah saat Ibunya tiba-tiba saja menelfon ya dan mengatakan jika wanita tidak tau diri di rumahnya berusaha mencelakai Sean.
"Hans! Putar balik ke rumah!" Ucap Arga setelah memutuskan panggilan telpon dari ibunya.
"T-tapi Tuan bagaimana pertemuannya?" Baru kali ini Arga membatalkan janji nya, pasti ada hal yang sangat penting yang terjadi.
"Wanita tua itu tidak akan berani mengeluh"
Keputusan Tuan nya sudah bulat Hans hanya bisa mengikuti perintah Arga sekarang, yang dia yakini jika ada kaitannya dengan sang Putra.
Kurang dari setengah jam mereka akhirnya sampai di depan rumah mewah milik Arga, tanpa menunggu Hans membuka pintu mobilnya, Arga langsung bergegas masuk kedalam meninggalkan Hans begitu saja.
Di dalam rumah sudah ada kedua orang tua Arga yang mengisi sofa tengah memeluk Sean yang hanya menampilkan wajah datarnya saat sang ayah datang. Bocah itu terlihat santai ketika neneknya baru saja menghubunginya dengan heboh tadi.
"Jadi?" Arga duduk santai di samping ibunya yang tengah memangku Sean.
Wanda pun menjelaskan kronologi kejadian bagaimana Jessie mendorong cucunya kelantai bersama dengan Pengasuhnya tadi, Arga hanya diam mendengarkan cerita ibunya.
"Ibu tidak menyangka jika Menantu keluarga Wahyutama adalah seorang peminum" Ucap Wanda menatap tidak percaya Menantu yang ia pilih untuk menikah dengan Arga.
"Apa hal seperti ini sering terjadi?" Satya melabuhkan pertanyaan pada Yuni, sejenak Pengasuh itu terlihat ragu untuk berbicara jujur, tapi melihat Tuan Mudanya yang sangat kecil itu membuat ia tidak tega.
"Nyonya sudah bersikap seperti ini sejak Tuan Muda masih bayi nyonya" Adu nya.
Jessie langsung menatap tajam pengasuh Sean, bisa-bisanya wanita tua itu mengadu yang tidak-tidak pada mertuanya.
Namun dia harus menelan ludahnya ketika matanya bertatapan dengan Arga, suaminya itu sedang menahan emosinya di hadapan orang tuanya, namun jauh di lubuk hati pria itu Jessie tau jika Arga tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Putranya.
"Apa-apaan itu Jessie? kenapa kamu bersikap seperti itu pada putramu sendiri?" Tanya Wanda menatap tidak percaya menantunya.
__ADS_1
Begitupun dengan Satya yang tiba-tiba saja merasa menyesal telah menggantikan Serina dengan Jessie.
"Seharusnya kamu bangga memiliki Putra seperti Sean" Timpal ibu mertuanya lagi.
Wanda sangat menyayangi cucunya, karena perlu bertahun-tahun untuk Putranya baru bisa mendapatkan Sean di hidupnya, dia tidak akan membiarkan Cucunya di sakiti oleh siapapun.
"Sebagai seorang ibu seharusnya kamu bisa menyayangi Putramu, Jessie. karena banyak orang di luar sana yang menginginkan seorang anak, jadi kamu jangan menyianyiakan putramu sendiri" Satya mencoba membuat Menantunya mengerti, karena dia tau apa yang di rasakan oleh Mantan istri putranya dulu saat mereka sangat ingin memiliki seorang anak.
"Kamu dan Arga beruntung memiliki Sean, dan Arga juga mengharapkan seorang anak sejak dulu"
"Putramu_
"Sean bukan putraku!!"
Jder!
Semua orang menatap tidak percaya pada Jessie yang mengatakan jika Sean bukan lah putranya di hadapan bocah itu sendiri.
"Apa-apaan kamu Jessie!" Wanda menutup telinga Cucunya yang terlihat sangat kaget itu, memang Sean hanyalah bocah berumur tiga setengah tahun, tapi Cucunya itu memiliki kepintaran di atas rata-rata anak lain seumurannya.
Wanda tau jika Sean pasti mengerti dengan jelas apa perkataan ibu kandungnya tadi.
"Bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu di hadapan Putramu sendiri!" Kali ini Satya bersuara sangat keras pada Menantunya.
Jessie lelah sangat lelah saat dia harus bersikap baik-baik saja padahal kenyataanya berbalik, ketika Jessie bersikap baik seperti keinginan Arga pria itu tidak pernah menghargainya sedikitpun, dan sekarang dia harus di salahkan hanya karena anak yang bahkan bukan anak kandungnya.
Apa kata ayah mertuanya tadi? banyak orang diluar sana yang menginginkan seorang anak? dan salah satunya Arga?. lalu kenapa pria itu membuang putrinya dulu dan menukar nya dengan anak orang lain?.
"Untuk apa aku harus menyayangi anak yang bukanlah putraku! Sean bukanlah putraku dia adalah putra dari menantu lama kalian! Serina!"
Prang!
Sean semakin kuat memeluk neneknya ketika Arga dengan entengnya melemparkan Handphonenya pada Jessie begitu saja, untung saja meleset dan mengenai vas buka di samping wanita itu.
"M-mas?"
Hampir saja wajahnya menjadi sasaran Arga.
Jessie menatap vas yang hancur oleh Arga, apa jika Handphone yang di lempar Arga tadi mengenainya dia akan bernasib sama dengan benda itu?.
__ADS_1
"Wanita Sialan!"
TBC....