
Pagi-pagi sekali Serina sudah menyiapkan sarapan untuk Naura dan Sean, hari ini putra nya itu akan kembali ke sekolah setelah mengambil libur beberapa hari.
Sebenarnya Serina sedikit ragu untuk kembali menyekolahkan Sean di Saat kondisi sedang tidak baik-baik saja, Serina takut anak-anak lain melukai Sean karena dia tidak lagi menjadi Tuan muda dari keluarga kaya.
"Mbak kapan pulang?" Naura sedikit terkejut melihat keberadaan Serina di dapur.
Serina tersenyum tipis
"Dini hari, terimakasih sudah menjaga Sean ya"
Naura mengangguk kemudian duduk di kursi makan.
"Sean baik-baik saja?"
"Tenang saja, dia lebih pendiam dari Arina" jawaban dari Naura sama sekali tidak membuat nya tenang, lebih baik jika Sean ceria seperti Arina daripada diam seperti perkataan Naura.
Serina berdiri dari duduknya, hari ini Sean sekolah dan Dia Belum melihat keberadaan anak itu sejak tadi.
Sampai di depan pintu kamar sang putra Serina langsung masuk kedalam kamar tersebut.
Benar saja Sean masih bergelung dengan selimut nya.
Serina menggelengkan kepalanya.
"Sayang, ayo bangun"
Sean tidak bergerak bocah itu malah semakin menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut.
"Ayo nak" Serina menarik lengan kecil Sean pelan berusaha membuat putra nya itu duduk dengan benar.
Serina menahan senyumnya melihat bagaimana wajah tampan Putra nya terlihat sangat mengantuk, kemudian Serina menggendong Sean menuju kamar mandi.
"Mau ibu mandikan?" Tanya Serina menggoda Sean.
Wajah mungil yang tadinya mengantuk itupun langsung terbelalak mendengar perkataan ibunya.
"Tidak mau!"
"Hahah, baiklah sekarang cepat mandi"
Serina langsung keluar dari kamar mandi, sambil menunggu Sean mandi Serina merapikan tempat tidur dan memunguti beberapa mainan dan baju yang tergeletak begitu saja di lantai.
Menyiapkan seragam sekolah untuk Sean lalu meletakkan nya di atas kasur, setelah nya Serina keluar dari kamar untuk menyiapkan bekal.
"Dimana Sean?" Tanya Naura Gadis itu tengah menyantap makanan nya.
"Mandi" jawab Serina seadanya
"Mbak hari ini aku tidak bisa menjemput Sean"
Serina menghentikan kegiatannya memasukkan nasi kedalam wadah bekal, kemudian menatap Naura dengan penuh tanya.
"Apa terjadi sesuatu?"
Naura menggeleng cepat menyanggah prasangka Serina yang mungkin saja berfikir negatif.
__ADS_1
"Mas Vino mengajak aku berlibur Mbak" Naura menjawab dengan malu-malu.
Serina mendengar hal itu tentu saja merasa sangat senang, hubungan keduanya semakin lengket dari waktu ke waktu dan hanya Tinggal menunggu waktu sampai mereka akhirnya melangsungkan pernikahan.
"Tidak apa-apa, kamu juga punya kehidupan mu sendiri Naura"
Naura menatap Serina dengan pandangan berkaca-kaca, mengapa wanita sebaik ini bisa mendapatkan berbagai macam kemalangan dalam hidupnya?
Perhatian mereka beralih pada Bocah lelaki lengkap dengan seragam sekolah nya, Sean sudah terlihat rapi saat ini hanya tinggal mengenakan sepatu dan Sean sudah siap berangkat ke sekolah.
"Sarapan dulu" Serina menghampiri Sean kemudian mengambilkan nya nasi untuk nya sarapan.
"Kenapa tidak makan?" Naura terlihat bingung dengan Sean yang hanya menatap nasi di piringnya, Serina yang sedang sibuk dengan bekal Sean pun turut menatap sang putra.
"Ada apa nak?"
Sean ingin bertanya tapi dia takut jika pertanyaannya nya akan membuat sang ibu merasa sedih.
"Tanyakan saja" Serina tersenyum lembut.
"A-ayah" gumamnya lirih
Serina dan Naura tersentak mendengar gumaman lirih anak itu, apa yang harus mereka lakukan?
Sean tau semuanya, malam itu Sean tidak tidur saat ibunya pergi dengan buru-buru bersama dengan bibinya, dan saat dia menguping ternyata ayahnya terlibat kecelakaan saat ingin menjemput Kakek dan neneknya.
Dia ingin tau bagaimana keadaan ayahnya saat ini.
Serina menahan air matanya ternyata sanga Sulit menyembunyikan kebenaran dari Sean.
Grep
"Ayah baik-baik saja nak, kamu hanya perlu belajar dengan rajin setelah itu kita bertemu dengan ayah" Serina mengusap wajah Sean lembut.
"Benarkah?"
Serina mengangguk
Grep!
Tiba-tiba saja Sean langsung memeluknya dengan erat, untung saja Serina mampu menahan bobot tubuh keduanya jika tidak mereka akan jatuh tadi.
"Jangan khawatir, ayah baik-baik saja sekarang" ucap Serina menenangkan Sean di pelukannya.
.
.
Selepas mengantarkan Sean ke sekolah nya Naura langsung mengantar Serina menuju rumah sakit tempat Arga di rawat.
Klek
Di dalam tidak ada siapapun yang berjaga, mungkin Venya sedang ada urusan di luar.
Serina menghampiri Arga yang terbaring di ranjang tidak ada perubahan apapun sampai saat ini, usapan lembut Serina berikan di wajah Arga yang terlihat pucat.
__ADS_1
"Sean rindu kamu Mas" Serina tersenyum kecil entah bagaimana cara Arga yang arogan merawat bocah seperti Sean, dia tidak menyangka jika Sean akan sangat lengket dengan Arga.
"Aku yakin Sean akan tumbuh seperti kamu Mas, mulai dari wajah sampai perilaku nya menurun dari kamu" Serina menggenggam tangan Arga.
"Tapi aku senang jika dia bisa tumbuh menjadi orang hebat seperti Arga, hanya satu yang aku khawatir kan tentang putra kita, sifatnya"
Serina terkekeh geli tidak bisa membayangkan jika Sean kecil akan berperilaku seperti ayahnya.
"Aku berdoa supaya putra kita bisa tumbuh dengan baik, dan ketika besar nanti dia bisa menikah dengan wanita yang baik juga" Serina berdoa dengan tulus
Rasanya lebih leluasa jika berbicara dengan Arga yang tengah tertidur daripada dengan Arga yang berbicara sambil menatap nya tajam.
Tapi saat ini Serina berharap bisa berbicara sambil bertatap muka dengan Arga.
"Serina kamu sudah datang?" Venya masuk kedalam ruangan Arga ternyata ada Serina di dalam.
"Iya mbak, aku ingin mengantar nasi untuk sarapan"
Venya tersenyum senang sebenarnya dia sudah lama menahan lapar.
"Wah, terimakasih ya"
"Apa ada perkembangan mengenai kondisi Mas Arga mbak?" Serina duduk di samping Venya yang tengah asik menyantap makanan nya.
"Belum ada, tapi dokter mengatakan jika Arga akan bangun tidak lama lagi"
Kapan?
Serina menghela nafas panjang Bagaimana perasaan sean nanti saat tau ayahnya belum membuka matanya sampai sekarang?
"Bagaimana kedai mu sekarang?" Tanya Venya.
Masalah kedai Serina menyerahkan seluruhnya pada para pegawai nya, melihat beberapa hari terakhir Serina tidak bisa fokus mengontrol kedainya.
"Baik, aku hanya bisa berkunjung sesekali untuk melihat kedai" jawab Serina.
Venya mengerti
"Kamu terlalu sibuk dengan kehidupan orang lain Serina"
Tidak ada yang salah dari perkataan Venya hanya saja Serina tidak pernah menganggap Arga dan keluarga nya adalah orang lain.
Telepon Serina berbunyi memecah keheningan yang terjadi antara dia dan Venya.
Wali kelas?
"Hallo?"
.
Serina meringis ketika melihat wajah Sean yang penuh dengan lebam, bahkan kaus putih yang di kenakan nya berubah warna menjadi merah karena tetesan darah.
Wali kelas menelfon nya dan mengatakan jika Sean terlibat dengan perkelahian dengan teman sekelas nya, bahkan jantung Serina hampir saja berhenti berdetak saat tau jika putra nya di keroyok oleh beberapa anak.
"Ada apa Sean?"
__ADS_1
TBC.....