Takdir Seorang Istri

Takdir Seorang Istri
59. Kunjungan dan Terlambat


__ADS_3

Awalnya serina tidak mengerti setelah Arga di ijinkan pulang kerumah, pria itu tidak langsung menyuruh nya pulang melainkan mampir terlebih dahulu ke pusat tahanan.


Setelah sampai di sana akhirnya Serina mengerti mengapa Arga membawanya ke sana, pria itu berniat mengunjungi mantan istri kedua nya.


Jessie Kimberly


Dengan mendorong kursi roda Serina membawa Arga menemui Jessie.


"Kenapa kamu ingin bertemu dengannya?" Tanya Serina saat mereka berjalan menuju tempat Jessie di tahan.


Arga terdiam entahlah tapi sepertinya dia memang harus melakukan hal ini terlebih dahulu sebelum benar-benar melanjutkan hidupnya.


"Kamu akan tau sebentar lagi"


Setelah itu Serina hanya diam seperti perkataan Arga dia akan tau sebentar lagi.


Serina dan Arga berada di luar ruangan yang bersekat kaca transparan, di seberang seorang polisi wanita membawa Jessie untuk duduk di hadapan mereka berdua yang hanya terbatas dengan kaca transparan.


"Ada apa?!" Tanyanya dengan ketus melihat kedatangan dua orang yang sangat ia benci.


Serina tidak bisa menahan rasa terkejutnya melihat penampilan Jessie sekarang, wanita itu terlihat sangat kurus dan pucat.


"Mungkin terlambat untuk mengatakannya, tapi kedatangan kami kesini adalah untuk meminta maaf yang sebesar-besarnya pada mu, terutama saya yang sangat-sangat berdosa terhadap kamu dulu" Arga mengucapkan permohonan maaf nya dengan sungguh-sungguh.


Serina hanya diam membiarkan kedua orang itu berbicara berdua.


Jessie menangis tertahan sekarang doanya benar-benar terkabul, Arga hancur sekarang sama seperti dirinya bahkan pria itu harus berakhir dengan kursi roda.


"Karena kamu hidup ku menjadi seperti ini! Bahkan aku harus menjadi penjahat kerena membunuh putri ku sendiri!"


Arga terdiam membiarkan Jessie menumpahkan rasa benci nya.


"Saya tau, karena itulah saya ada di sini" jawab Arga seadanya "Saya harap kamu bisa memaafkan semua kesalahan yang saya buat"


Arga tidak terlalu berharap Jessie memaafkan nya tapi setidaknya dia sudah mengutarakan maksud dan tujuan nya di hadapan mantan istrinya itu.


Dan sekarang Arga bisa menata hidup dengan tenang tanpa rasa penyesalan lagi.


.


.


Kedatangan Serina dan Arga disambut hangat oleh keluarga Venya, Sean yang lebih dulu menghampiri kedua orangtuanya dan memberikan kue untuk kepulangan sang ayah.


"Terimakasih Mbak" Serina berucap pada Venya yang sudah sangat baik membantu nya selama ini.


Sambutan hangat di terima dengan baik, Serina mengantar Arga terlebih dahulu untuk beristirahat di kamar yang sudah di sediakan.


Serina membantu Arga berdiri kemudian membawa nya agar menyender di senderan ranjang, Arga tidak lumpuh total tapi tetap saja penyembuhan nya memerlukan banyak waktu.


"Terimakasih"


Serina hanya membalasnya dengan senyuman, menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh Arga.


"Apa Mas butuh sesuatu lagi?"

__ADS_1


Arga berfikir sejenak ponselnya hilang akibat kecelakaan yang menimpa nya, sedangkan untuk membangun kembali perusahaan Wahyutama dia perlu ponselnya.


"Bisa pinjam ponsel mu?"


Serina langsung menyetujuinya lagi pula di ponselnya tidak ada apapun.


"Ini" Serina menyerahkan benda persegi itu pada Arga.


"Akan aku kembalikan setelah selesai"


Serina mengangguk kemudian dia pergi meninggalkan Arga seorang diri di kamar, usai pesta kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan Arga tadi pasti venya dan keluarga kerepotan jadi serina berniat membantu mereka.


Saat sampai dapur ibu mertua Venya dan Menantunya sedang berkutat di dapur.


"Ada yang bisa aku bantu?" Tanya nya menghentikan pembicaraan menantu dan mertua itu.


Mertua dari Venya itupun tersenyum Senang melihat kedatangan Serina.


"Sudah selesai nak, kamu istirahat saja" ucap Puspa yang langsung di setujui oleh menantunya.


"Mbak Venya dan Bibi tidak menginap disini saja?" Padahal Serina sangat senang jika mereka ada di sini.


Puspa tersenyum lembut kemudian mengusap rambut Serina pelan.


"Tidak bisa nak, kami juga tidak bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama, kasihan juga Kevin yang harus bolak-balik untuk mengecek perusahaan" jelas Puspa.


Perusahaan mereka memang tidak sebesar milik keluarga Wahyutama, tapi sama pentingnya untuk keberlangsungan hidup keluarga kecil mereka.


Serina menatap Puspa sendu


"Kalian akan pergi?" Lirihnya, rasanya terlalu cepat mereka pergi meninggalkan nya sendiri lagi.


"Janji ya"


Mertua dan menantu itupun tersenyum kemudian mengangguk.


.


Serina tidak berhenti-henti nya mengelus dadanya sabar menghadapi kelakuan Arga yang sangat keras kepala, setelah kepulangan Venya dan keluarga Serina sendiri lah yang mengurus mantan suaminya.


Awalnya dia tidak masalah merawat Arga karena menurutnya merawat orang sakit itu mudah saja jika kita tau caranya, tapi ternyata pemikiran nya salah besar.


Arga bukanlah orang yang mudah menyerah dengan keadaan.


Berkali-kali Serina harus mengurus emosinya di hadapan pria itu hanya agar Arga istirahat dengan benar.


Memang kondisi nya sudah lebih baik dari sebelumnya, tapi kan tetap saja perlu waktu untuk Arga bisa berjalan dengan normal lagi, bukanya menerima kenyataan itu dan bersabar, Arga malah semakin menjadi-jadi.


Seperti saat ini Serina tidak bisa berkata-kata lagi saat Arga dengan entengnya melakukan push-up ringan tanpa sepengetahuan nya.


"Mas!"


Arga melirik Serina sekilas kemudian lanjut melakukan olahraga nya.


Serina baru saja pulang dari kedai dan saat dia sampai di rumah pemandangan Arga yang seperti ini membuat nya terkejut setengah mati.

__ADS_1


Wanita itu baru saja menghampiri mantan suaminya setelah pria itu selesai, mengambil handuk kecil kemudian Serina mengusap peluh yang keluar dari tubuh Arga.


"Dokter memang mengatakan kami harus banyak olahraga di rumah, tapi bukan berarti kamu melakukan nya setiap waktu seperti ini!"


Arga tersenyum tipis menatap wajah Serina yang terlihat lucu saat marah.


"Jangan tersenyum! Setelah ini kamu harus istirahat! Lakukan olahraga yang biasa saja" Serina memperingati pria yang masih saja tersenyum ini.


Bagaimana lagi? Arga selalu melakukan olahraga ekstrim untuk orang yang tengah sakit, bahkan waktu istirahat pria itu dilakukan sambil memainkan ponselnya, entah apa yang di lakukan Arga.


"Baik-baik" jawab Arga seadanya


Serina kemudian membantu Arga bangun dari matras lalu mendudukkan nya di kursi roda.


Baru saja Serina ingin membawa Arga kedalam kamar nya, suara bel apartemen terdengar.


"Ada tamu?" Tanya Arga yang juga mendengar bunyi bel.


"Sepertinya iya"


"Pergilah aku bisa pergi sendiri" ucap Arga, Serina terlihat ragu meninggalkan Arga tapi setelah bujukan pria itu akhirnya Serina meninggalkan Arga seorang diri.


Serina berjalan cepat menuju pintu.


Klek


"Malvin?" Ternyata yang bertamu adalah Malvin.


Pria itu tersenyum lebar kemudian mengangkat tangan nya di hadapan serina.


"Hai"


"Masuklah"


Kemudian mereka berdua masuk kedalam apartemen, Malvin hanya mendengus melihat Sean sudah duduk anteng di depan TV.


"Halo Boy" sapa nya pada Sean


Bocah lelaki itu tersenyum senang menyambut kedatangan Malvin.


"Hai Paman" sapa nya balik.


Kedatangan Malvin di sambut baik oleh Sean dan Serina, ketiga orang itu berbincang bincang senang hingga melupakan ada lagi seorang yang terlupakan.


Arga menatap mereka dari jauh dengan pandangan sendu, Serina terlihat sangat bahagia bersama dengan Malvin, begitu pun dengan Sean.


Dulu dia pernah membuat Sean begitu membenci pria itu tapi akhirnya Sean juga menyukai nya, Arga sadar sekarang jika pria itu adalah yang terbaik untuk Serina.


Arga tau betul bagaimana Serina berjuang dalam hidupnya dengan bantuan Malvin.


Melihat pria yang begitu baik padanya seperti itu, Arga yakin Serina tidak akan pernah kembali pada nya lagi.


Tes...


Tanpa sadar setetes air mata yang tidak ia duga-duga jatuh begitu saja.

__ADS_1


"Sudah terlambat" ucapannya lirih.


TBC....


__ADS_2