
Sesi diskusi akhirnya selesai merasa malas mengikuti pelajaran kedua Arina merengek untuk pulang bersama nya, untung saja wali kelas mengijinkan.
Serina menggandeng putri nya setelah berpamitan mereka lalu berjalan keluar dari ruangan wali kelas.
Baru beberapa langkah Serina keluar dari ruangan itu tiba-tiba saja ujung bajunya terasa di tarik dari belakang.
Sret
Serina menoleh kebelakang dan ternyata anak yang berkelahi dengan Arina menarik bajunya.
"Ibu...."
Bukan! Bukan Arina yang memanggil nya melainkan anak lelaki dengan tubuh berlumuran minyak itulah yang memanggil nya,Ibu.
Terkejut! Tentu saja siapa yang tidak terkejut saat anak orang lain memanggil mu ibu.
"Ibu.." ulanginya sekali lagi
Tak sampai beberapa detik Serina tersadar, wajah itu tidak asing di matanya, wajah tegas dengan mata tajam yang hampir sama dengan milik putri nya.
Dan jika itu benar anak lelaki ini tidak lain adalah putra dari mantan suaminya yang tidak pernah ia temui lagi.
"S-sean?"
.
Setelah berita Jessie mengalami gangguan jiwa dan terpaksa harus di bawa ke rumah sakit jiwa selama itu Serina tidak pernah melihat berita atau kabar tentang Sean lagi.
Hanya Arga yang sering tampil di TV atau majalah tapi selama itu Serina sama sekali tidak pernah mendengar mereka membicarakan Sean.
Karena efek terkejut mendengar putri nya terlibat perkelahian Serina tidak menyadari jika Anak yang menjadi lawan Arina adalah Sean, putra kandungnya.
"Maaf, bibi"
Serina tersadar
Kemudian wanita itu berjongkok menyamakan tinggi nya dengan Sean yang kondisinya terlihat buruk sekarang.
Serina membersihkan sisa-sisa nasi yang menempel di tubuh Sean, dia juga mengusap wajah berminyak Sean menggunakan tisu basah yang selalu ia bawa di tas nya.
Setelah selesai, kemudian dia menatap bocah laki-laki itu.
"Maafkan Arina ya? Mungkin bibi tidak mengajarinya dengan benar selama ini" ada rasa sesak di hatinya saat harus memanggil dirinya sendiri bibi di hadapan putra kandungnya.
Dia sempat merasa terkejut sekaligus senang ketika Sean memanggil nya ibu tadi, tapi ternyata dia salah mengira. Sean juga mungkin merindukan ibunya.
Arina terkejut saat Sean yang dikenal sangat dingin tiba-tiba saja meminta maaf, bahkan dia tidak tau jika anak itu mampu berekspresi lembut seperti itu.
"Bunda ayo pulang"
Mendengar rengekan Arina, Serina langsung berdiri dari tempat nya.
"Sean? Tidak apa kan bibi tinggal di sini?"
Tidak mau!
__ADS_1
Andai saja Sean bisa berteriak seperti itu, tapi sayangnya dia hanya mampu mengangguk dan membiarkan anak orang gila itu membawa ibunya.
Sean mengepalkan tangannya tatapan tajam penuh amarah terpancar ketika Serina menggandeng lembut Arina, seharusnya dialah yang berada di sana bukan gadis itu.
"Lihat saja nanti" gumamnya
.
.
Sean menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk yang berada di kantor sang ayah. Tidak ada orang saat dia masuk seperti nya semua orang sedang melakukan rapat.
Melihat komputer sang ayah yang menyala, Sean memutuskan untuk menuju meja kerja ayahnya.
"Ck,CK, ayah terlihat seperti pria mesum"
Layar komputer tersebut menampilkan pergerakan dari seorang wanita dan gadis kecil yang sedang melakukan aktifitas di apartemen mereka.
Mulai dari ruang tamu, dapur, balkon, dan kamar terdapat di layar komputer.
"Setidaknya ayah tidak menyadap kamar mandi juga" celetuknya.
Tidak terkejut lagi dengan kegilaan sang ayah karena Sean tau ayahnya bukan orang yang bisa menahan diri selama ini, mungkin sebab itulah orang tua itu menaruh CCTV di setiap sudut apartemen ibunya.
Dari layar persegi itu Sean bisa melihat bagaimana dengan tulus dan mata berkaca-kaca, Serina mengobati luka di pipi Arina.
Kenapa harus orang lain yang mendapatkan ketulusan ibunya? Kenapa bukan dirinya?
Sebuah tekad muncul tiba-tiba di pikiran Sean, sepertinya dia harus berhenti menjadi pembuat onar untuk bertemu sang ibu.
Sean tersenyum puas
"Aku harus mandi" gumamnya
Klek!
Bertepatan dengan Sean yang masuk ke kamar mandi tidak lama kemudian Arga dan Hans datang beriringan.
"Lakukan penerbangan besok pagi"
"Baik Tuan"
Arga mengerenyitkan dahinya saat sebuah Tas sekolah Yang tidak asing tergeletak begitu saja di sofa.
Lalu pria itu melirik pada asistennya.
Hans kemudian menjelaskan mengenai kedatangan Sean yang tidak biasanya.
"Anak itu mau keluar?" Karena Arga tau betul tabiat sang anak, bocah lelaki nya tidak suka berkeliaran setelah pulang sekolah.
"Ya Tuan, sebenarnya wali kelas menelfon tadi. Tapi karena sedang rapat anda tidak mengangkat nya" jelas Hans pada boss nya.
Arga tersenyum tipis
"Sepertinya bocah itu suka membuat masalah,huh?"
__ADS_1
Hans mengikuti Arga menuju kursi kebanggaan nya.
"Pesan kan makanan untuk kami"
Pria berkacamata itu membungkuk sebelum meninggalkan Arga dari ruangan nya.
Melihat layar komputer yang menyala dan menampilkan gambar Serina yang tengah mengobati anak perempuan nya, Arga tau jika Sean sudah mengetahui mengenai hal ini.
Tunggu!
Mengobati?
Perkataan Hans tadi terngiang di telinga nya, seharusnya ini juga bukan jam pulang sekolah lalu kenapa kedua putra-putri nya sudah berada di rumah?.
"Mereka berkelahi ya?" Kekehan ringan keluar dari bibir Arga, memikirkan kedua anaknya bertengkar membuat dadanya menghangat.
"Seharusnya seperti itulah saudara" lirihnya.
Klek!
Pintu kamar mandi terbuka Sean keluar dengan pakaian rapi dan rambut basah yang masih menetes kan air dari ujung rambut nya.
"Jadi? Apa yang kamu lakukan kali ini?"
Sean melirik sejenak sang ayah kemudian menghampiri pria itu dengan handuk kecil di tangan nya.
Ia mengulurkan handuk tersebut pada ayahnya.
Arga tersenyum tipis.
Lalu mengambil bangku dan menaruhnya di depan kursi nya setelah itu mengangkat Sean untuk duduk di sana.
Dengan telaten Arga mengeringkan rambut putranya yang basah, sesekali Sean terpejam karena merasakan pijatan lembut sang ayah.
Usapan Arga adalah yang terbaik, Sean lebih memilih mengeringkan rambutnya dengan handuk dari pada menggunakan hairdryer.
Dan selama ini ayahnya lah yang selalu menjadi pengering rambut alaminya, jika sang ayah tidak ada Sean hanya akan membiarkan rambut nya mengering dengan sendirinya.
Sebuah kebenaran yang tidak akan orang-orang percaya tentang Arga.
Pria arogan itu sangat menyayangi putra nya.
"Kamu bertemu dengan nya?" Arga bertanya pada Sean di sela-sela kegiatan nya.
Sean membuka mata mengerti dengan maksud sang ayah.
"Hm, aku sudah cukup menunggu kan?"
"Ya dia ibumu kamu bisa bertemu dengan nya kapan saja sekarang" ada maksud tertentu di dalam perkataan dari seorang Arga.
Dan Sean cukup cerdas untuk mengetahui nya.
"Tidak menyangka jika Arina akan mendatangi ku terlebih dahulu, jika begitu langsung saja kan?" Sahutnya
Perkelahian antar Sean dan Arina adalah bagian dari rencana Sean sendiri, karena dia tau dengan berkelahi dengan Arina maka sang ibu akan datang ke sekolah dan menemui bocah itu.
__ADS_1
"Sudah saatnya dia kembali kepada kita ayah"
TBC.....