
Kediaman keluarga besar Wahyutama terlihat sangat ramai hari ini kedatangan cucu tunggal membuat semua orang sangat senang, di tambah lagi sepupu jauh Arga datang bersama dengan suaminya.
Sejak kejadian Jessie mabuk dan bermaksud mencelakai putranya sendiri dan pengasuhnya membuat Wanda dan Satya memutuskan untuk keluarga putranya untuk tinggal di rumah keluarga besar mereka.
Venya melipat tangannya di dada enggan bersi tatap dengan adik sepupu dan istrinya.
Sedangkan Vania putri Venya dan Kevin yang sudah berusia enam tahun itu dengan telaten mengajak Sean bermain, saat keluarga sedang berbincang-bincang kedua bocah itu asik dengan mainan mereka.
Vania terlihat sangat cerewet berbanding terbalik dengan Sean yang sepertinya tidak tertarik dengan bocah itu.
"Sean, ini kamu pegang boneka yang ini" Vania menyodorkan boneka barbie pria untuk Sean, sedangkan dirinya memegang yang wanita.
Sean menerimanya tanpa bantahan bocah laki-laki itu membolak-balikkan boneka yang asing di matanya.
Krek!
"Sean!"
Teriakkan Vania mengalihkan perhatian semua orang, terutama Venya dan suami ketika mendengar teriakan putrinya.
Boneka yang tadi dia berikan untuk Sean rusak boneka berbentuk manusia itu terbelah di tangan mungil Sean.
"Astaga ada apa nak?" Venya menghampiri putrinya, sedangkan Wanda menghampiri Sean yang masih menggenggam erat Boneka Vania.
"Mama, Sean merusak Ken" bocah perempuan itu menahan tangisnya merasa sedih saat boneka yang ia beri nama Ken di rusak oleh Sean.
Venya menenangkan putrinya, lalu beralih pada Sean yang sama sekali tidak menampilkan ekspresi apapun di wajahnya.
"Tidak apa sayang, Sean tidak sengaja"
"Nak? kenapa merusaknya?" Wanda berbicara pada Sean"
Tak ada jawaban bocah itu hanya menatap neneknya kosong lalu meletakkan boneka yang ia rusak di depan Vania,"Maaf" Lirihnya.
Vania hanya diam putri dari Kevin dan Venya itu memeluk mainannya yang di rusak Sean.
"Maafkan Sean sayang" Pinta Venya, gadis kecil itu mengangguk tidak ikhlas kemudian berlari ke pada sang ayah, Venya yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.
Satya menatap iba pada cucunya, Sean tidak baik-baik saja ketakutan yang selama ini dia khawatirkan sudah menunjukkan tanda-tandanya, jika saja mereka dari awal mengetahui kondisi rumah tangga orang tua Sean, mungkin mereka bisa mencegah kondisi sean sekarang.
"Jessie, Bawa putra mu masuk kedalam" Satya menyuruh Jessie yang sedari tadi enggan menatap putra nya.
Istri Arga itu menatap ayah mertuanya dengan kening berkerut, "Sean bukan putraku ayah" Jawab Jessie untuk kesekian kalinya.
Venya yang mendengar hal itu menggeram marah.
"Bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu?" Venya yang dari awal membenci Jessie semakin membenci wanita itu.
"Lalu aku harus bicara apa?! memang kenyataan nya seperti itu!" Sahutnya nyaring, membuat Vania yang berada di pelukan sang ayah semakin menyembunyikan dirinya.
__ADS_1
Venya bangkit menatap nyalang Jessie,"Tidak kah kamu bisa bersikap seperti seorang ibu untuk bocah itu?"
Jessie terkekeh sinis.
"Tidak akan pernah" balasnya
"Bahkan setelah Serina merawat Putri mu dengan baik?"
"Sean masuk kedalam!" Arga memerintahkan putranya untuk masuk ke dalam, menghindari kenyatan-kenyataan pahit yang mungkin akan bocah itu dengar.
Dengan patuh Sean berdiri dari duduknya lalu pergi dari sana, Wanda yang melihat hal itu pun langsung mengikuti nya.
"Sayang ayo kita beli ice cream" Kevin yang merasa jika keluarga mertuanya itu perlu privasi langsung mengajak anaknya untuk keluar.
Setelah kepergian Kevin kini tinggal lah Arga, Jessie, Satya dan Venya.
"Jadi?, apa yang kamu pikirkan saat menukar bayi Serina dan Jessie?" Venya membuka suaranya, bertanya pada sepupunya.
"Mungkin Wanita mu itu tidak masalah dengan semua itu, karena aku yakin yang di butuhkan nya hanya lah harta saja, tapi bagaimana dengan Serina?"
Jessie mendengus sebal, memang perkataan Venya tidak sepenuhnya salah tapi tetap saja di sangat tersinggung.
"Ayah bahkan tidak tau semua itu, bahkan Serin tengah mengandung pun Ayah tidak tau" Sahut Satya yang memang tidak mengetahui apapun, karena kehamilan Jessie mereka mulai melupakan Serina saat itu.
"Serina pasti sangat menderita, setelah suaminya di rebut sekarang bayinya"
"Serina! Serina! Serina!" Jerit Jessie, "Tidak kah kalian kasihan pada ku?!" Lanjutnya.
"Kecilkan suara mu, Jessie" Arga tidak ingin suara wanita itu mengganggu semua orang.
Jessie menatap Arga nyalang bahkan saat ini dia berdiri di hadapan pria itu.
"Jelaskan pada mereka semua apa yang kamu lakukan pada ku selama ini, Mas" Jessie yang selama ini berusaha terlihat kuat akhirnya menangis di hadapan sang suami.
Arga mengerutkan alisnya menatap Jessie jengah.
"Bayi ku, bayi yang seharusnya lahir minggu depan saat itu! tapi harus keluar bahkan sebelum waktunya"
Ucapan Jessie membuat semua mengingat saat insiden wanita itu terpeleset di kamar mandi sehingga harus di bawa ke rumah sakit, dan harus mengambil bayinya secara premature.
"Kenapa tiba-tiba ke sana?" Venya bertanya heran, saat kejadian itu dia tidak berada di kota ini, bahkan saat Serina melahirkan dia hanya mendengar lewat telpon.
Tatapan Arga menggelap wanita di hadapannya ini mencari mati jika berani membuka mulutnya.
"Jawab Mas?" Jessie tersenyum remeh.
"Katakan dengan Jelas Jessie" Bahkan Satya pun tidak sabar.
Jessie tidak boleh mundur hanya karena tatapan Arga, dia harus membongkar betapa kejamnya Arga pada nya dan Bayinya saat itu.
__ADS_1
"Mas Arga, saat itu_Hmph!"
Grep!
Semua orang terkejut saat Arga langsung mencengkeram mulut Jessie di hadapan mereka, bahkan Jessie tidak menyadari tindakan cepat Arga membungkam mulutnya.
"Saya tidak pernah main-main dengan berkata akan membuat mu menyesal jika membuka mulut" Desis Arga masih dengan membungkam mulut Jessie dengan telapak tangannya.
"Umph!"
Jessie berusaha melepaskan tangan Arga dari mulutnya, bukanya mengendur cengkeraman Arga semakin menguat.
"A-arga! lepaskan istrimu" Satya panik apalagi wajah Jessie yang memerah karena kesulitan bernafas.
Sreet!
Melepaskan Jessie, Arga langsung menarik tangan Istri keduanya meninggalkan Venya dan Sang Ayah. mengabaikan teriakan-teriakan memanggil di belakang sana.
Bruk!
Arga mendorong Jessie kasar saat mereka berdua sudah sampai di kamar, Jessie mengusap mulutnya yang terasa kebas oleh cengkeraman Arga, bahkan kini tangannya memerah karena Arga
"Sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan tadi" Arga menatap Jessie
Tubuh Jessie bergetar hebat, bahkan di hadapan keluarganya Arga bisa bersikap seperti itu padanya, apalagi sekarang saat mereka hanya berdua saja.
"A-aku akan mengatakan pada semua orang, j-jika kamu yang telah mendorong ku di kamar mandi!" Ancamnya pada Arga.
Kekehan terdengar dari bibir pria arogan itu, merasa lucu dengan ancaman murahan dari Jessie.
"Kamu berfikir semudah itu?" Tanyanya mengejek.
"A-aku akan membongkar semua kejahatan kamu Mas!"
Senyum di wajah Arga memudar bergantian dengan wajah datar penuh amarah Pria itu yang menghunus Jessie.
"Bagaimana kamu melakukanya?"
Arga berjalan mendekat pada Jessie, membuat langkah wanita itu berjalan mundur semakin kebelakang, bagaimana bisa wanita yang bahkan tidak bisa menatap wajahnya ingin melaporkanya ke kantor polisi?.
Tidak Jessie ataupun Serina, kedua wanita itu bersalah dengan mengancam seorang Arga Wahyutama.
"Ja-jangan mendekat Mas!"
"Saya tanya bagaimana kamu melakukanya?"
Jessie tidak bisa bergerak lagi punggungnya sudah menabrak dinding di belakangnya membuat ruang geraknya menjadi terbatas.
"Bagaimana kamu melakukanya? huh!
__ADS_1
.....saat kamu bahkan tidak bisa keluar dari rumah ini" Arga menyeringai ketika wajah sang istri berubah menjadi pucat.
TBC....