
Pemandangan yang sangat di sayangkan kali ini terlihat di depan Hasna selaku wali kelas dari 1A. Jika biasanya pembuat onar berkelahi dengan para anak lelaki sekarang ini dia berkelahi dengan anak perempuan juga?.
Hasna menggelengkan kepalanya lelah.
Bocah yang saat ini seluruh pakaiannya kotor dengan sisa-sisa minyak dan nasi menempel di baju dan rambut nya, hanya berdiri tanpa ekspresi.
Sedangkan di sebelah nya ada bocah perempuan yang di kenal selalu ceria dan sering membantu guru-guru, kini malah berdiri bersama dengan pembuat onar di hadapannya karena terlibat perkelahian.
Pakaian kedua bocah itu sudah tidak karuan lagi bahkan di pipi mulus Arina terdapat bekas cakaran yang cukup panjang.
"Ibu tidak bisa lagi menanggung ke salahan mu Sean!" Hasna berkacak pinggang melayangkan tatapan tajamnya pada pembuat onar dari keluarga terpandang.
Sejak awal memang mereka sudah melakukan diskusi terait dengan Sean yang tidak bisa di atur, anak itu juga tidak mau mebuka suaranya saat guru-guru bertanya padanya. hanya murid-murid lain lah yang memberikan kronologis bagaimana bisa sering sekali Sean memukuli teman sekelasnya sendiri.
Akhirnya keputusan untuk memanggil orang tua bocah itu pun di layangkan, namun sayang kesibukan dari ayah Sean membuat pria itu tidak bisa hadir.
Sekarang Hasna menatap Arina heran.
"Arina? apa yang terjadi? tidak biasannya kamu terlibat masalah?"
Gadis kecil itu menatap wali kelas dengan mata bulatnya, enggan membuka mulutnya sedikit pun.
Begitu pun dengan Sean yang hanya diam sejak tadi.
Flashback
"Ini untuk mu"
Sean menatap datar kotak bekal berwarna pink pemberian gadis asing yang tidak di kenalnya, setelah menghajar satu anak lagi di kelasnya apakah ada yang ingin mencari masalah dengannya lagi?.
Arina merengut sebal saat Sean membuang wajahnya dan kembali melanjutkan membaca buku yang sedari tadi ia baca.
"Ayolah, bunda akan marah jika bekalnya tidak habis, jadi Arina berikan untuk kamu" Ucapnya lagi.
Karena tidak dapat respon dari Sean, Arina pun langsung menaruh kotak bekal tersebut di atas meja Sean.
Arina tersenyum senang, mungkin saja bocah itu malu makan di hadapan nya jadi dia taruh saja di sana pasti nanti akan di makan juga. hendak berbalik ke tempat duduknya Arina harus menahan diri ketika bekal yang tadinya berada di atas meja kini berhamburan di bawah kakinya.
Semua murid kelas 1A yang tidak seberapa itu menatap kasihan pada Arina, dan sebagian lagi ada yang merasa terganggu karena keributan tersebut.
"Singkirkan benda itu dari wajah ku!" Sean berdesis marah, kenapa orang-orang selalu mengganggu nya?.
__ADS_1
Arina menatap nanar nasi goreng buatan ibunya yang terbuang sia-sia, ibunya sudah menyiapkan semua itu sejak subuh hanya untuk nya, bukannya tumpah di perut nasi itu malah tumpah di lantai.
Gadis kecil itu kemudian memungut kembali nasi yang sudah jatuh kemudian memasuk kannya kedalam kotak bekal.
Semua murid menatap Arina bingung termasuk Sean si pelaku.
Sret!
Arina bangun lalu menatap tajam Sean tidak sampai beberapa detik nasi yang telah tumpah itu di jatuhkan oleh Arina ke atas kepala Sean.
Mengundang pekikan heboh anak-anak yang melihat keberanian Arina pada Sean.
Drek!
Kini tubuh Sean sudah di penuhi oleh bumbu-bumbu nasi goreng dan juga minyak yang terasa lengket mulai dari atas kepala sampai betisnya.
Tanpa takut Arina menatap tajam Sean yang sedang melotot marah padannya, maih dengan memeluk Kotak bekalnya Arina membalas tatapan tajam Sean.
Merasa terpancing dengan Arina, Sean langsung menarik rambut tergerai Arina sekuat tenanga bahkan karena terlalu tiba-tiba membuat jari Sean yang kukunya lumayan panjang mengenai sisi wajah Arina.
"AAKH!"
Arina membalas jambakan Sean, walau rambut Sean tidak panjang dan Licin akibat minyak nasi goreng miliknya tapi Arina tetap mencengkeram rambut itu sekuat tenaganya.
Flashback off
.
.
Jantung Serina tidak henti-hentinya berdetak cepat satu panggilan telpon dari wali kelas yang sangat tidak ia duga-duga membuat nya terkejut setengah mati. apalagi penyebab wali kelasnya menghubunginya karena Arina.
Tidak biasanya putri yang sangat penurut itu membuat masalah apalagi berkelahi, tapi wali kelas menghubunginya dan mengatakan jika Arina terlibat perkelahian hingga membuatnya tidak bisa berfikir jernih.
Setelah menghubungi Naura untuk menjaga kedai, Serina langsung bergegas menuju sekolah putri semata wayangnya.
Di perjalanan Serina tidak berhenti-henti nya berdoa agar masalah ini tidak akan menjadi besar nantinya.
Taxi yang di tumpangi berhenti di sebuah gedung tinggi tempat Arina dan teman-teman nya belajar menuntut ilmu, Serina sempat merasa heran bagaimana bisa di sekolah elit seperti ini ada saja siswa yang bermasalah.
Tujuan Serina menyekolahkan Arina di sekolah swasta yang terkenal di ibu kota adalah untuk menghindari pergaulan bebas putri nya, dia pikir jika Arina bersekolah di tempat elit tidak akan ada anak-anak nakal yang akan menggangu putri nya, tapi ternyata dia salah! Jangan lihat cover buku dari luarnya saja.
__ADS_1
Membayar taxi, kemudian Serina sedikit berlari menyusuri koridor menunjukkan ruangan tempat konsultasi siswa bermasalah. Karena jam pelajaran kedua telah dimulai Susana koridor sangat sepi memudahkan dia berjalan cepat tanpa terhalang anak-anak yang berlarian.
Sampai di tempat yang ia tuju terlebih dahulu Serina menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan nya perlahan.
Tok!tok!
Klek!
"Permisi..."
Semua pandangan mengarah pada Serina yang baru saja masuk kedalam.
Hasna selaku wali kelas langsung menyambut wali murid dengan ramah, mempersilakan wanita itu duduk tepat di samping Arina.
Setidaknya salah satu wali murid ada yang Hadir di sini, karena sudah sejak tadi ia menghubungi orang tua Sean tapi tidak ada yang mengangkat.
"Kita langsung saja"
Serina yang baru saja mengkhawatirkan putri nya langsung menatap Hasna.
"Kedua murid ini terlibat perkelahian, tapi saya tau jika Arina bukanlah murid yang suka mencari masalah. Tapi kami kesulitan mencari apa penyebab perkelahian mereka berdua karena keduanya sama-sama bungkam, mungkin ibu bisa membantu dengan bertanya pada Arina?"
Hasna menjelaskan pada Serina, dia tau jika kedua anak ini sama-sama bersalah tapi tidak ada asap jika tidak ada api, pasti ada penyebab dari perkelahian ini.
Serina menatap putri nya sendu, wajah mulus Arina sekarang terdapat luka goresan yang cukup panjang.
"Sayang katakan, apa yang membuat kami berkelahi dengan teman mu?"
Arina sering bercerita tentang anak bermasalah di kelasnya. Tapi dia hanya menjawab seadanya tanpa tau jika Arina akan terlibat seperti ini.
Gadis kecil itu tidak tega melihat wajah Sedih sang ibu dengan kedua tangan mungilnya Arina mengusap pipi ibunya yang sudah meneteskan air mata sejak tiba di sekolah nya.
"Jangan menangis..."
TBC......
aku berusaha ngetik di sela-sela jadwal kuliah 😭 biar bisa up tiap hari terus cepat namatin cerita ini hiks!
karena itu bantu vote ya teman-teman setidaknya usaha ku mencuri waktu tetbalasa dengan vote dari kalian.
spesial untuk bulan baru....
__ADS_1
terimakasih atas dukungannya ❤️❤️❤️