
Di dalam ruangan rumah sakit ada seorang ibu yang berjuang melahirkan putranya, Serina berusaha mengeluarkan bayi nya dengan normal, setelah berjuang melawan kontraksi selama kurang lebih lima jam lamanya, akhirnya bayi yang selama ini ia tunggu akan segera lahir.
Bukan hanya Serina yang berjuang, tetapi ada Naura dan Laras yang juga terus mendoakan ibu dan anak didalam sana, tidak peduli jika waktu sudah lewat tengah malam, mereka tetap setia menemani Serina yang tengah berjuang didalam sana.
"Tarik nafas dalam... keluarkan"
Serina mencengkeram erat bantal untuk mengalihkan rasa sakit yang dirasakannya.
"Satu,dua,Dorong"
Suara tangisan bayi yang menggelegar terdengar nyaring di ruangan tempat Serina berjuang, putra yang ia tunggu akhirnya lahir kedunia.
Semua orang yang berada di dalam ruangan mengucapkan selamat pada Serina karena telah berhasil melahirkan seorang bayi tampan.
"Bayi mu sangat tampan, Serina" Dokter yang membantu Serina bersalin menyerahkan bayi yang masih berwarna merah pada ibunya setelah dibersihkan, dengan nafas yang masih terengah-engah kedua tangan nya menyentuh bayi mungil miliknya.
"Bayiku"
Pukul dua lewat dua puluh lima menit Serina melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat sehat.
.
Sedangkan ditempat lain Arga tengah menunggu dengan bosan di depan ruangan operasi, di dalam ruangan itu ada Jessie yang tengah berjuang bersama dengan bayinya.
Seharusnya kelahiran dari putri Jessie dan Arga masih beberapa hari lagi, tapi karena istri kedua Arga itu tidak hati-hati saat berjalan ke kamar mandi ia terpeleset sehingga mengalami pendarahan.
Sudah lebih dari lima jam Arga menunggu operasi selesai, ia sudah menghubungi orang tuanya untuk datang ke rumah sakit, mungkin mereka kan datang sebentar lagi.
"Arga!"
Benar saja ibu dan ayahnya datang saat setelah ia menghubungi beberapa saat lalu.
"Bagaimana dengan Jessie dan bayinya?" Wanda bertanya dengan nada khawatir, sedangkan Satya dibelakangnya lebih bersikap tenang.
"Seperti yang ibu lihat, operasinya belum selesai"
Wanda duduk dengan lemas di samping sang putra, saat Arga menelpon dan mengatakan jika Jessie mengalami pendarahan mereka langsung bergegas untuk mengunjungi rumah sakit.
"Seharusnya ayah dan ibu datang besok saja, tidak baik keluar malam-malam begini" Arga berucap dengan nada datar.
"Bagaimana bisa?! menantuku tengah berjuang didalam sana! dan ibu hanya diam saja tidur di rumah?!" Serobot Wanda tidak terima dengan perkataan putra nya itu.
Satya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat pertengkaran Istri dan Putranya.
"Bukan hanya Jessie yang berjuang ibu" Arga bergumam lirih.
Gumaman Arga yang tepat berada di sampingnya dapat di dengar oleh Wanda dengan Jelas, keningnya berkerut mendengar perkataan sang putra.
"Apa maksudmu Arga?"
Satya yang tidak mengerti menoleh kearah istrinya heran.
"Tidak ada" singkatnya.
"Siapa yang tengah berjuang selain Jessie?!"
Tanpa menghiraukan Ibunya Arga berdiri dari tempatnya duduk, berjalan menjauh dari kedua orang tuanya saat ponselnya berdering. Di belakang sana Ibunya masih aja berteriak memanggilnya.
__ADS_1
"Ya?" Saat dirasa sudah jauh dari kedua orang tuanya Arga mengangkat panggilan teleponnya.
"Serina sudah melahirkan"
Arga menganggukkan kepalanya
"Apa saya harus mengambilnya sekarang?" Tanya orang di seberang telepon.
"Tidak! biarkan mereka bersama beberapa hari, setelah itu Saya yang akan menjemputnya sendiri" balas Arga
"Baiklah Tuan"
Tuut..
Panggilan telepon terputus, Arga menatap koridor rumah sakit yang terlihat sangat sepi, entah apa yang ia pikirkan saat ini yang pasti pria itu terlihat mengeraskan rahangnya.
"Sebentar lagi"
.
.
"Naura?" Panggil Laras pada gadis yang sepertinya baru saja mengangkat telpon itu.
"Eh..Mbak Laras?"
"Siapa yang menelpon malam-malam begini?" Tanyanya heran.
Naura tersenyum canggung "Ibu, Mbak" Singkatnya.
"Malam-malam begini?" Sepertinya Laras masih belum percaya pada Naura.
"Toilet, sudah ayo kita melihat keadaan Serina"
Naura bernafas dengan lega saat Laras tidak membahas lebih jauh lagi.
Kedua pegawai Serina itu pergi beriringan menuju tempat Boss mereka dirawat.
Klek!
Serina yang sedang menyusui bayinya menoleh ketika pintu kamar rawatnya terbuka, menampilkan Naura dan Laras yang tengah melemparkan senyum padanya.
"Bagaimana keadaan mu sekarang?" Laras meletakkan plastik berisi makanan di atas meja di samping ranjang Serina, wanita itu kemudian duduk di bangku tunggu sambil menyiapkan barang-barang yang tadi Serina suruh siapkan.
"Baik Mbak" Saat bayinya sudah merasa kenyang Serina kembali menutup bajunya.
Naura tersenyum gemas melihat bayi yang tengah tertidur pulas di pelukan ibunya.
"Mbak sudah memikirkan nama untuk bayi tampan ini?" tanyanya sambil menyentuh pipi tembam berwarna agak kemerah-merahan itu.
Benar juga Serina belum memberitahu nama bayinya pada kedua wanita yang sudah sangat berjasa padanya.
Dengan wajah berseri Serina menjawab pertanyaan Naura, "Sean Pangestu"
Laras dan Naura menatap Serina dan Sean bergantian.
"Sangat bagus" Ucap mereka bersamaan.
__ADS_1
"Dengan ini aku berharap jika putra ku akan selalu di berkati oleh Tuhan" Serina mengusap penuh kasih putra pertamanya, ada perasaan tidak tenang saat Serina menatap wajah putranya, ia merasa jika putranya akan menghilang dari genggamannya saat dirinya berpaling sedikit saja.
Karena itu Serina berharap jika tuhan akan selalu melindunginya dan putranya.
.
.
"Aku akan mengabari ayah dan ibu saat Jessie sudah sadar"
tut..
Arga memasukkan ponselnya kedalam kantung celana, Mantan suami Serina itu kemudian melangkah mendekati incubator yang digunakan untuk menampung putrinya.
Wajah mungil itu sangat mirip dengannya andaikan dia adalah seorang laki-laki sudah pasti Arga akan sangat senang, tapi sayangnya kenyataan tidak berpihak dengannya.
Sekali lagi Arga menyentuh incubator itu, dia akan mengingat wajah bayi kecil perempuannya dengan baik sebelum wajah itu akan hilang dari hadapannya.
"Kenapa Mas berbohong pada ayah dan ibu?"
Arga masih menatap kearah bayinya tanpa mau menoleh kearah ibu sang bayi, ya. Jessie memang sudah sadar sejak sejam yang lalu tapi entah mengapa Arga mengatakan pada ayah dan ibunya jika Jessie belum sadar?.
"Kamu punya waktu untuk merawat bayi mu"
Jessie mengerutkan dahinya tidak paham, apa maksudnya?.
Arga berbalik menuju arah istri keduanya.
Lengan kekar Arga terangkat untuk mengelus rambut halus milik istrinya, Jessie yang diperlakukan seperti itu bukannya merasa senang ia malah merasa terancam.
Jessie menggigit bibir bawahnya mencoba menahan rasa takut yang keluar dari tubuhnya jika berhadapan dengan Arga.
"Sayang, di dalam hidupku hanya ada Putra, bukan Putri" Arga berbisik di depan wajah Jessie, "Kamu mengerti maksudku?" Lanjutnya.
Jessie tidak menjawab, baju rumah sakit yang ia kenakan menjadi sasaran cengkeraman erat dari jari-jarinya, Arga sangat menakutkan.
"Kamu masih ingin menjadi Istri dari seorang Arga Wahyutama, bukan?"
Jessie mengangguk patuh, tentu saja dia masih mau menikmati segala kemewahan yang Arga berikan.
"Kalau begitu kamu harus bersiap kehilangan sesuatu yang berharga" Ucap Arga, beralih mengusap wajah cantik Jessie yang pucat, entah karena sakit atau karena merasa takut.
Tatapan penuh tanya di layangkan Jessie pada Arga, dia tidak mengerti perkataan Arga dari tadi.
"Sebaiknya rawat putrimu dengan baik sekarang, karena sampai waktunya tiba nanti kamu tidak akan melihatnya lagi"
Deg!
Perkataan terakhir Arga membuat tubuhnya bergetar, pandangannya terarah pada bayi mungil yang selama sembilan bulan ia kandung.
Walaupun Jessie tidak terlalu berharap pada bayi itu, tapi dia adalah ibu kandungnya, setelah di keluarkan secara paksa apakah Arga akan membuangnya?.
Paksa?
Ya!
Karena Jessie tau kecelakaan yang ia alami adalah karena ulah dari Arga, miris memang tapi itulah kenyataannya.
__ADS_1
TBC.....