
“Mau di antar kemana nona manis?” tanya si pria menatap Aqila yang ada di sampingnya yang sedang bersedekap dada.
”Pulanglah” jawab Aqila ketus memalingkan wajahnya.
Sedangkan pria tersebut terkekeh pelan, memang tadi Aqila terpaksa menerima tawarannya, dari pada dia terjebak di tengah hujan terus dan dia tidak bisa pulang.
“Maksudnya rumah kamu dimana?” tanyanya kembali fokus menyetir mobil.
“Ke perumahan Citra Indah blok Merah Jl. Mahmud Salim no. 13” jawab Aqila ketus.
Pria tersebut kembali terkekeh mendengarnya, “Sedetail itu ya, kenapa gak sekalian sama rt/rw dan no rumahnya” ucapnya tersenyum melirik sekilas Aqila
“Rt. 04 rw. 12 no rumah. 06 rumahnya warna coksu pagar hitam banyak bunga cantik di halaman rumahnya” saut Aqila.
“HAHAHA... Beneran dong di sebutin, lucu ya lo, hahaha” ucapnya tertawa, sedangkan Aqila menatapnya kesal.
“Gue tau gue ganteng jangan segitunya dong liatinnya, hahaha” lanjutnya kembali tertawa, yang membuat Aqila semakin kesal dan memalingkan wajahnya yang sudah memerah.
“Hahaha, liat mukanya sampe merah gitu” pria tersebut terus saja tertawa ketika melihat wajah Aqila.
“IHHH DIAMM” teriak Aqila kesal, pria tersebut bukannya berhenti malah semakin tertawa.
“Terserah” saut Aqila ketus dan memalingkan wajahnya ke luar jendela.
“Huhh cape juga ketawa ya, huh mana lampu merah lagi” ucapnya menghela nafas pelan.
“Oh iya, lo sekolah di SMAIN 1?” tanyanya.
“Heh ko diam aja sih?” pria tersebut lalu menoleh ke arah Aqila yang hanya diam saja dan menatap keluar jendela.
Dia melihat Aqila yang mulai meneteskan air matanya, lalu dia mengikuti arah pandangnya, dia menghela nafas pelan, “Bissmillah jalan lagi” ucapnya dan melajukan kembali mobilnya ketika sudah lampu berwarna hijau.
Dia dapat melihat Aqila yang menghapus air matanya lewat ujung matanya, “Kenapa hmm?” tanyanya lembut, tidak seperti sebelumnya.
“Hah? Bukan apa-apa” jawab Aqila menatap lurus ke arah depan.
“Kalau ada masalah lo bisa cerita sama gue, gue bisa dengerinnya” ucapnya.
“Apaan sih, udah fokus aja nyetir nanti kalau nabrak gimana? Qila masih muda ya belum nikah, dan Qila juga gk mau meninggal muda” ucap Aqila ketus memukul pria tersebut dengan kopiah yang berada di dalam mobil.
“Aww... Iya-iya, jangan mukul juga kali” sautnya sembari satu tangannya mengusap lengannya yang di pukul.
“Ihh lebay cuman di pukul gitu aja udah kesakitan, apa lagi kalau pake ini” ucap Aqila sembari menunjukan kepalan tangannya.
“Hmm iya-iya terserah aja deh” ucapnya dan kembali fokus menyetir mobil.
***
“Alhamdulillah udah sampe, udah turun” ucapnya dan memberhentikan mobilnya.
Aqila menatap rumah di sampingnya, dia melongo lalu menatap si pria dan berkedip dua kali, “Ko tau sih rumah Qila” ucap Aqila polos.
Pria tersebut terkekeh pelan, “Tau lah, gue gitu” ucapnya dan menyibakan rambutnya kebelakang sedangkan Aqila memutar bola matanya malas.
“Qila turun dulu, makasih” ucap Aqila, ketika ingin membuka pintu di tahan oleh si pria.
“Tunggu sebentar, ini pake payung, di luar masih hujan” ucapnya menyodorkan payung kepada Aqila.
Aqila menatap payung tersebut lalu menggeleng pelan, “Gak usah, deket gini ko” ucap Aqila menolak.
“Deket juga pake aja payungnya, kalau baju lo basah terus lo sakit nanti gue juga yang salah dan lo nanti kena omel sama nyokap lo” ucapnya memaksa Aqila untuk memakai payung.
“Tapi...”
“Udah pake aja nih” potongnya cepat.
“Huh, ya udah Qila pake ya, tapi nanti balikin laginya kaya giamana?” tanyanya menatap si pria setelah menerima payungnya.
“Gampang, udah pake aja dulu” sautnya tersenyum.
“Ya udah Qila pulang dulu, makasih ya” Aqila lalu turun dari mobil.
“Qila” panggil si pria.
“Apa lagi?” tanya Aqila menatap si pria.
“Nama lo Qila kan?” tanyanya.
“Iya”
“Gue Fauzan, inget ya Fauzan yang ganteng tiada tara” ucapnya yang akhirnya memperkenalkan dirinya dengan senyuman khasnya.
Aqila memutar bola mata malas, “Iya, udah sana pergi ngapain masih di sini?” tanya Aqila menatap malas Fauzan yang tidak pergi-pergi.
“Tunggu nona manis masuk rumah biar memastikan masuk rumah dengan selamat” sautnya tersenyum.
Lagi-lagi Aqila memutar bola matanya malas, “Terserah” lalu kembali melakangkahkan kakinya memasuki rumah.
Setelah di pastikan Aqila masuk rumah Fauzan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Aqila dengan senyuman yang terus mengembang sempurna di bibirnya.
Sedangkan Aqila melihat di balik gorden kepergian mobil Fauzan, dia menghela nafas pelan, “Huh, melelahkan” ucapnya dan mulai menaiki tangga.
“Non Aqila” panggil bibi.
“Ehh bibi, iya bi?” tanya Aqila menatap wanita paruh baya yang sudah lama bekerja di rumahnya.
“Udah pulang ya non, oh ya non tadi ibu dan tuan berpesan sebelum pergi, beliau bilang akan pulan malam jadi non Aqila gak perlu khawatir dan makan malam duluan saja” ucap bibi menyampaikan pesan.
“Iya bi, makasih ya, kalau gitu Qila kekamar dulu” ucap Aqila dan segera menuju kamarnya, dan bibi pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Huhh cape banget” gumam Aqila merebahkan tubuhnya di kasur empuknya.
__ADS_1
“Jam berapa sekarang?” Aqila melihat jam di kamarnya.
“Asstagfirullah, udah jam empat, Qila belum ashar” Aqila lalu bangkit dan mulai kekamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah itu sholat ashar.
***
Setelah melaksanakan sholat ashar Aqila kembali merebahkan tubuhnya, “Abang...” Aqila menatap atap-atap kamarnya dan tak terasa meneteskan air matanya.
Sedih? Itu yang Aqila rasakan setelah melihat orang yang dia sayang membuatnya kecewa, hampir dua jam dia menunggu tapi yang di tunggu malah sedang asik dengan yang lain, sakit bukan?
...< Flashback On >...
“Terserah” saut Aqila ketus dan memalingkan wajahnya keluar jendela.
DEG...
‘Abang... itu abangkan?’ batin Aqila bertanya.
Dia melihat Iqbal yang sedang tersenyum bahagia dengan Faisal, Syifa, dan kedua sahabatnya Yuri dan Loli, di sebuah cafe.
‘Huh ternyata lagi sibuk ya?’
‘Pantesan aja lupa sama janjinya’
‘Bahagia banget mereka’
Aqila terus saja membatin dan tanpa terasa air matanya keluar, apa lagi ketika dia melihat Iqbal yang terus memandang Syifa dan... Seperti mengambil sesuatu di atas kepala Syifa.
‘Abangg...’
“Kenapa Hmm?”
...< Flashbck Off >...
“Abang jahat... hiks...” Aqila menyembunyikan wajahnya ke bantal.
JLEGAR...
Bahkan langit pun tau kesedihan Aqila dan mendukungnya, dengan terus menurunkan air hujan tanpa ingin berhenti. Cukup lama Aqila menangis hingga dia tertidur dengan mata yang sudah sembab.
***
Esok harinya seperti biasa Aqila melakukan aktivitasnya untuk berangkat sekolah, dan dia juga sudah siap tinggal berangkat sekolah saja.
“Semangat Qila ujiannya satu hari lagi” ucap Aqila sembari memakai helmnya.
“Aqila” panggil seseorang dari arah belakang.
Aqila menoleh, dia terdiam melihat seseorang yang sangat familiar, “Mau berangkat sekolah? Mau bareng lagi gak biar abang anter” ucap Iqbal membuyarkan lamunan Aqila.
“Gak usah bang, makasih” saut Aqila menolak.
“Qila soal yang kemarin... Abang minta maaf ya, abang ada urusan sebentar dan abang juga lupa” ucap Iqbla meminta maaf.
“Huh, maaf ya, abang anter ya sekolahnya” ucap Iqbla menghela nafas pelan.
“Gak us-”
“Abang gak nerima penolakan” potong Iqbal cepat.
“Tapi...”
“Qila abang gak nerima penolakan, naik” ucap Iqbal kembali memotong ucapan Qila.
“Huh ya udah deh” pasrah Aqila dan kembali membuka kembali helmnya.
Ketika Aqila hendak membuka pintu mobil terhenti lantaran ada yang memanggil Iqbal, “Bang” panggil umi Fatimah menghampiri mereka.
“umi udah siap, ayo nak pasti Syifa dan temannya sudah menunggu” ucap umi Fatimah.
“Ehh ada Qila” ucapnya ketika melihat Aqila.
“Iya umi, umi mau pergi juga?” tanya Aqila tersenyum dan menyalimi tangan umi Fatimah.
“Iya, umi mau ke panti asuhan, Qila mau ikut?” ajak umi Fatimah kepada Aqila.
“Gak umi, makasih, Qila masih ujian jadi Qila gak bisa ikut” ucap Aqila menolak.
“Yah sayang banget, semoga lancar ya nak ujiannya” ucap umi Fatimah tersenyum.
“Iya umi, aamiin” saut Aqila mengaminkan.
“Ya udah bang, ayo kasiahan Syifa dan temannya pasti udah nunggu” ucap umi Fatimah menatap Iqbal.
“Iya umi” saut Iqbal mengangguk.
“Qila mau ikut bareng juga” tawar umi Fatimah.
“Ehh, gak deh umi makasih Qila naik motor aja” tolak Aqila tersenyum kikuk.
“Lho bukannya tadi mau ikut” saut Iqbal menatap Aqila.
“E-nggak” jawab Aqila gugup.
“Tapi-”
“Udang bang kasihan umi nya udah nunggu, ka Syifa juga kasian” potong Aqila tersenyum.
Iqbal menghela nafas pelan, “Ya udah Qi, umi berangkat duluan ya, assalamualaikum” ucap umi Fatimah tersenyum.
“Waalaikummussalam” jawab Aqila lalu mobil Iqbal pun pergi dari pandangannya.
__ADS_1
Aqila menghenala nafas pelan, entah kenapa dia merasa kesal dan sedih secara bersamaan ketika dia mendengar nama Syifa di sebut. Setelah itu Aqila kembali memakai helmnya dan pergi menuju sekolahnya.
***
“Assalamualaikum” salam Aqila ketika sudah masuk ke kelasnya.
“Waalaikummussalam” jawab teman kelasnya.
“Kenapa tuh anak lesu gitu?” tanya Yuri ketika meliaht Aqila duduk di bangkunya dengan. wajah di tekuk.
“Entah” jawab Loli.
“Qi lo kenapa dah, kusut gitu tuh muka?” tanya Yuri menatap Aqila.
Aqila tidak menjawab melainkan menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya, “Qii... Woi lo denger gua kagak sih?” tanya Yuri sedikit berteriak di telinga Aqila.
“Denger” jawab Aqila tanpa menatap lawan bicaranya.
“Lo kenapa Qi, lo marah sama kita soal yang kemarin?” tanya Yuri dan di angguki Loli.
“Gak ko” Aqila menatap kedua sahabatnya dan tersenyum.
“Kalua gak marah terus kenapa Qila diemin kita terus” ucap Loli.
“Qila lagi males aja” saut Aqila cemberut.
“Qi soal yang kemarin kita minta maaf karena gak bales chat lo dan angkat telepon lo” ucap Yuri meminta maaf.
“Maaf ya Qi” lanjutnya.
“Iya Qila maafin Loli juga ya, terus kemarin Qila pulang sama siapa?” tanya Loli polos.
Aqila menghela nafas pelan ketika mengingat soal yang kemarin, “Iya gak papa ko, Qila tau kesibukan kalian, kemarin Qila pulang di anterin sama temen Qila” ucap Aqila tersenyum.
“Temen? Temen yang mana?” tanya Yuri menetapa bingung Aqila.
“Ya ada deh, kalian belum pernah ketemu sama orangnya” jawab Aqila.
“Lo ko gak bilang kalau punya temen selain kita?” tanya Yuri mengintrogasi.
Aqila hanya terkekeh saja, “Kalian juga gak bilang kalau punya temen baru yang lebih asik dari pada Qila” ucap Aqila tersenyum.
“Qi...” Yuri dan Loli menatap Aqila yang tersenyum.
KRINGGGG
“Udah bel” ucap Aqila lalu mengeluarkan alat tulisnya.
Sedangkan Yuri dan Loli hanya diam saja melihat Aqila dan mereka saling pandang lalu menghela nafas pelan dan kembali duduk di bangkunya masing-masing.
***
“Qii nonton dulu yu” ajak Yuri ketika mereka sudah berada di parkiran sekolah, mereka sudah pada pulang sekolah.
“Nonton apa?” tanya Aqila sembari memakai helmnya.
“Nonton film yang baru rilis kemarin, ayo Qila nontong yu” ajak Loli juga.
“Baiklah, Yuri traktir” ucap Aqila tersenyum menatap yuri
“Ta-” ucapan Yuri terpotong oleh Loli.
“Yeayy nonton gratis Yuri traktir, asikkk.... udah Ri itung-itung ngerayain karena kita udah selesai ujian” saut Loli cepat.
Yuri menghela nafas pelan, “Iya deh” pasrahnya dan menaiki motornya.
“Asikkkk” sorak Aqila dan Loli bebarengan.
Lalu mereka melajukan motornya meninggalkan parkiran sekolah dan meuju mall untuk menonoton film sesuai rencana mereka.
Sesampainya di tempat tujun mereka segera memesan tiket nonoton, “Asikk nonton lagi, udah lama kita gak nonton” ucap Loli tersenyum senang.
“Iya” jawab Yuri ketus.
Sedangkan Aqila dan Loli ketawa melihat raut waja Yuri yang masam, “Elah Ri masam gitu wajahnya, kan jarang-jarang kamu traktir kita, senyum dong” ucap Aqila dan membentuk senyuman di wajah Yuri.
“Iyaa.... IIIIII” ucap Yuri tersenyum.
Mereka lalu tertawa bareng, “Ehh ini masih setengah jam lagi mulainya, gimana kalau kita cari makanan dulu, Qila traktir” ucap Yuri tersenyum.
“Boleh-boleh-boleh” seru Loli tersenyum dan mengikuti gaya bicara Upin&Ipin.
“Baiklah, ayoo Qila traktir makanan banyak” saut Aqila tersenyum.
Lalu meraka pergi mencari makanan dengan canda gurau sepanjang perjalanan, “Hmmm kayaknya enak banget” ucap Loli ketika mencium wangi bakso yang mereka pesan.
Sekarang merka sudah berapa di tempat bakso favorit mereka kalau mereka sedang jalan-jalan di mall seperti sekarang.
“Hummm, selamat makan, bismillah” lalu mereka memakan baksonya.
Setelah selesai makan mereka mencari cemilan untuk di makan nanti ketika di bawa ke dalam bioskop, “Kita beli itu yu” tunjuk Loli kepada penjual permen kapas.
“Bolehh” saut kedua temannya.
Setelah membeli permen kapas mereka akhirnya kembali ke tempat awal karena 15 menit lagi film akan di mulai.
“Ehh guys itu bukannya...” ucapan Yuri menggantung sembari menunjuk ke arah segerombolan pemuda/i.
**To Be Continue....
***
__ADS_1
Terimakasih udah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya bye-bye**...