
Aqila menoleh ke arah belakang, dia terdiam ketika melihat seseorang yang sangat dia kenal, “Bisakah abang minta waktunya sebentar?” tanya Iqbal mendekati Aqila.
“Ya” jawab Aqila singkat dan memalingkan wajahnya.
“Apakah benar jika kamu akan pergi ke Kairo sekarang? Dan kuliah di sana?” tanya Iqbal menatap Aqila.
“Ya” lagi-lagi Aqila hanya membalasnya singkat.
“Kenapa gak kuliah di sini aja?” tanyanya lagi.
“Gak papa” jawab Aqila ketus.
Iqbal menghela nafas pelan, “Aqila... Abang mau minta maaf, soal waktu itu abang beneran khilaf, abang gak mak-” ucapan Iqbal terpotong cepat oleh Aqila cepat.
“Cukup bang” Aqila menatap Iqbal yang juga menatapnya.
“Cukup, bisakan gak mengungkit waktu itu, kalau abang mengungkitnya sama aja abang membuka luka Aqila” Aqila menatap Iqbal dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Lagian kalau Aqila pergi juga keinginan abang bukan, abang ingin Aqila menjauhi abang, okey Aqila turutiin. Dan sekarang Aqila mau pergi jauh dari abang, harusnya abang senang dong” lanjutnya.
“Senang karena udah gak ada lagi yang ganggu abang, senang karena udah gak ada lagi yang ganggu abang dengan ka Syifa, harusnya abang bersyukur dong” Aqila terus saja menatap Iqbal, dia berbicara dengan suara bergetar karena menahan tangis.
Sedangkan Iqbal hanya diam saja, melihat Iqbal yang terdiam Aqila tersenyum kecut.
“Waktu Aqila gak banyak, kalau hanya membicarakan yang gak penting mending gak usah bicara, permisi Aqila pamit, assalamualaikum” setelah berucap seperti itu Aqila langsung saja pergi.
Dia menarik nafas dalam, sakit bukan menahan tangis? Iya sakitlah sangat sakit, tapi bagaimana lagi Aqila tidak mau menangis di hadapan Iqbal apalagi ketika nanti orang tuanya melihatnya, tidak.
Aqila berjalan menuju mobil yang sudah terparkir dan langsung saja memasukinya, ternyata sudah ada kedua orang tuanya yang menunggunya, “Udah nak?” tanya ayah menatap Aqila.
“Iya yah, udah” jawab Aqila berusaha tersenyum.
“Mang jalan” ucap ayah kepada mang Tono, supir pribadinya.
“Baik tuan” dan mobil pun meninggalkan rumah yang mungkin tidak akan Aqila lihat lagi beberapa tahun kedepan.
Iqbal menatap kepergian mobil yang membawa Aqila, ‘Ya Allah kenapa rasanya sakit ketika dia bicara seperti itu?’ batin Iqbal menyentuh dadanya sebelah kiri.
‘Dan kenapa juga gak ikhlas ya melihatnya pergi?’ Iqbal menatap mobil yang sudah menghilang di pertigaan dengan tatapan sendu.
“Iqbal, mari nak siap-siap” panggil umi Fatimah.
“Iya umi” Iqbal langsung saja memasuki rumahnya.
Di sisi lain Aqila hanya diam saja menatap luar jendela mobil, keadaan mobil benar-benar hening, “Qila, gak ada lagi yang di butuhin?” tanya bunda menatap Aqila.
“Gak ada bund” jawab Aqila tanpa menatap sang bunda.
“Ya sudah kalau tidak ada” setelah bunda berbicara seperti itu ke adaan kembali hening.
***
__ADS_1
Sesampainya di bandara Aqila langsung saja turun, dan menunggu beberapa menit lagi dia akan take off.
“Aqila” panggil seseorang tersenyum ke arahnya.
Aqila menatap orang tersebut dan juga ikut tersenyum, “Ka Ilham” Aqila langsung menghampiri Ilham.
“Kaka ko ada di sini?” tanya Aqila.
“Iya lah kan mau lihat Aqila” jawab Ilham tersenyum.
Aqila hanya terkekeh dan memukul pelan lengan Ilham, “Mau berangkat jam berapa Qi?” tanya Ilham.
“Bentar lagi ka” jawabnya.
“Perhatian kepada seluruh penumpang pesawat nomer 03, penerbangan ke Kairo untuk segera bersiap, penerbangan akan di laksanakan 5 menit lagi”
“Yah 5 menit tersisa” ucap Ilham ketika mendengar pemberitahuan tersebut.
Aqila menghembuskan nafasnya pelan, lalu menatap bunda dan ayahnya, tanpa banyak bicara Aqila langsung memeluk mereka erat.
“Aqila pasti akan kangen banget sama kalian” ucap Aqila di dalam pelukannya.
“Kami juga nak” saut bunda.
“Aqila sayang, jaga diri kamu baik-baik ya, jangan nakal, belajar yang benar, jangan tinggalin sholat lima waktunya harus tetap di jaga sesibuk apapun kamu nantinya” nasihat bunda mengusap kepala Aqila lembut.
“Anak ayah udah besar, ayah cuman mau bilang jaga diri kamu dan jaga sikap kamu, karena di negara orang bukan seperti di negara kita, negara orang lebih kejam dari pada negara kita, mau itu negara islam sekalipun, tetap saja” nasihat ayah memeluk erat anak gadis satu-satunya.
“Tidak, kamu sudah menjadi anak yang baik” bantah ayah.
Aqila melepas pelukannya dan mengusap air mata kedua orang tuanya, “Aqila janji akan pulang dengan membawa kebanggaan untuk kalian” janji Aqila tersenyum.
“Cukup kamu pulang dengan keadaan selamat dan sehat walafiat itu sudah membuat kami senang dan bersyukur” saut bunda mengusap wajah Aqila lembut.
“Ayah sayang sama putri kecil ayah” ayah langsung memeluk anak gadisnya lagi erat.
“Aqila juga” saut Aqila membalas pelukannya.
Ayah melepas pelukannya dan mencium kening Aqila penuh kasih sayang, “Ingat jangan nakal ya” ucapnya tersenyum.
“Iya yah” Aqila menganggukan kepalanya.
“Aqila juga sayang bunda” Aqila langsung memeluk sang bunda kembali.
“Bunda sayang banget sama Aqila” saut bunda.
Aqila kembali melepas pelukannya dan bunda mencium kedua pipi dan kening Aqila, “Sehat-sehat selalu nak” ucap bunda mengusap wajah Aqila lembut.
“Iya bunda” Aqila menganggukan kepalanya.
“Gue gak di peluk nih” saut Ilham meregangkan tangannya.
__ADS_1
Aqila terkekeh dan langsung memeluk Ilham, “Adik kecil gue mau pergi” ucap Ilham parau karena menahan tangis, bagaimana pun dia pasti sedih karena dari kecil hingga sekarang selalu bareng dengan Aqila.
“Ka...” paggil Aqila ketika tidak mendengar suara Ilham lagi, Aqila mendongak menatap wajah Ilham yang ternyata sudah menangis.
“Kenapa nangis?” tanya Aqila melepas pelukannya dan mengusap air mata Ilham.
“Gue gak nangis ya” bantah Ilham memalingkan wajahnya, gengsi.
Aqila, ayah, dan bunda terkekeh melihatnya, Ilham mengatur nafasnya lalu kembali mentap Aqila.
“Qi gu-” ucapan Ilham terpotong oleh pengumuman di Bandara.
“Perhatian kepada seluruh penumpang pesawat nomer 03 untuk segera masuk ke dalam pesawat karena sebentar lagi pesawat akan segera berangkat” suara pengumuman kembali terdengar dan memotong ucapan Ilham.
Aqila menghela nafas pelan, lalu tersenyum, “Aqila pergi dulu ya” ucap Aqila.
“Iya nak hati-hati ya” ucap ayah Fikri.
“Iya, assalamualaikum” Aqila menyalimi tangan kedua prang tuanya lalu menarik kopernya.
“AQILA CEPAT PULANG YA” teriak Ilham melambaikan tangannya.
Aqila yang sudah berada di ambang pintu pesawat tersenyum, “IYA” balas teriak Aqila lalu malambaikan tangannya.
Ayah, bunda, dan Ilham menghela nafas pelan ketika Aqila sudah duduk dan masuk ke pesawat, dan tak lama kemudian pesawat lepas landas.
“Anak kita udah jauh bund sama kita” ucap ayah.
“Iya yah” saut bunda.
“Gak ko, anak bunda dan ayah masih ada satu di sini” saut Ilham tersenyum.
Lalu mereka tertawa bareng dan ayah merangkul Ilham dan mereka kembali pulang ke rumah, karena masih ada acara lain di rumah.
Sedangkan Aqila di dalam pesawat melihat keluar jendela dan dia melihat kedua orang tuanya dan Ilham yang sudah pergi meninggalkan bandara.
Bandara Soekarno-Hatta adalah bandara yang membuat garis perpisahan antara dirinya dan orang terkasihnya, bandara ini pernah membuat garis antara dirinya dan Iqbal dan kali ini untuk dirinya dan keluarganya.
‘Bismillah dengan ridho Allah dan ayah, bunda Aqila akan membuka lembaran baru’ batin Aqila tersenyum tipis.
‘Dan apapun kedepannya Aqila pasti bisa melewatinya, karena Aqila adalah anak kuat, kata ka Ilham Aqila harus jadi wanita kuat, ya Aqila kuat’ batin Aqila mengepalkan tangannya dan tersenyum.
‘Good bye Indonesia, Kairo I’m coming’ batin Aqila tersenyum.
**To Be Continue...
***
Wohhh akhirnya Aqila berangkat juga ke Kairo, kota impian semua orang buat menuntut ilmu gak sih, gue juga pengen ke sana OMG...
Nah luplup, bagaimana kehidupan Aqila di Kairo ya? Apakah berjalan dengan mulus hingga dia kembali ke Indonesia lagi atau ada hambatan dan gelombang arus yang menerpanya hingga membuatnya lama kembali ke Indonesia nya atau mungkin tidak kembali? OMG.... Kalau penasaran saksikan terus kelanjutan ceritanya ya...
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye**...