
Di rumah sakit lebih tepatnya di ruangan Aqila di rawat, Fauzan duduk di tepi ranjang sembari terus memandang wajah damai Aqila yang belum sadar-sadar.
“Qila sedar dong, lo kok pingsan mulu sih” gumam Fauzan.
“Apa gak cape tuh mata merem terus” Fauzan menghela nafas pelan.
Cukup lama Fauzan menunggu, hingga akhirnya dia melihat pergerakan dari tangan Aqila, “Qi, lo udah sadar?” tanya fauzan menatap senang Aqila.
Perlahan Aqila membuka matanya, yang pertama dia lihat adalah ruangan serba putih, dan menoleh ke samping dia melihat Fauzan yang tersenyum manis ke arahnya, Aqila memegang kepalanya yang pusing, “Qi, lo kenapa? Ada yang sakit? Mana-mana di mana?” tanya panik Fauzan.
Aqila terkekeh pelan, “gak ada hanya pusing sedikit, gue di mana?” tanya Aqila.
“Lo di rumah sakit” jawab Fauzan.
Aqila tidak berbicara lagi, dia memejamkan matanya, “Aqila, lo kenapa? Jangan tutup mata lo, Qi, woii bangun jangan tinggalin gue” ucap Fauzan mengguncang-guncangkan ranjang rumah sakit.
“Ihh apaan sih, Fauzan gue cuman pengen menghilangkan rasa pusing gue doang” saut Aqila ketus menatap Fauzan datar.
“Ohh kirain gue lo ma-” ucapan terhenti ketikan dia melihat Aqilan menatapnya tajam.
“Hehehe, lo mau apa? Mau minum?” tanya Fauzan cengegesan.
Aqila hanya menganguk sebagai jawaban, dan Fauzan mengambilkan minuman untuknya, Fauzan membantu Aqila untuk duduk, “Nih minum dulu” ucap Fauzan memberikan segelas air putih kepada Aqila.
Aqila menerimanya dan meminumnya setelahnya dia mengembalikan kembali kepada Fauzan, “Makasih” ucap Aqila.
“Iya sama-sama” saut Fauzan tersenyum.
“Lo laper gak?” tanya Fauzan menatap Aqila.
Aqila terdiam dia memikirkan sesuatu setelah itu mengangguk, “Iya, gue laper banget, tapi gue gak mau makan-makanan rumah sakit” jawab Aqila sembari melihat makanan di atas nakas.
“Ya udah gue beliin makanan ya, lo mau makan apa?” tanya Fauzan.
Aqila tersenyum tipis, “Gue mau bubur kacang ijo, sama pecel lele khas bandung yang jualannya deket hotel gue” jawab Aqila tersenyum.
“Baiklah, lo tunggu di sini, jangan ke mana-mana” ucap Fauzan berdiri dari duduknya.
“Iya, makasih ya Zan dan maaf” ucap Aqila lirih di akhir kaliamat.
“Maaf untuk apa?” tanya Fauzan menatap Aqila yang menunduk.
“Maaf, selama ini sikap gue kayak gitu sama lo, maaf” jawab Aqila, Fauzan tersenyum.
“I’ts okey, gue maafin ko” ucap Fauzan.
Aqila menatap Fauzan, “Ya udah sana beliin” usir Aqila ketus.
“Hmm mulai lagi, iya-iya” ucap Fauzan.
Aqila terkekeh pelan dan melihat Fauzan yang menghilang di balik pintu, dia menghela nafas panjang, “Ponsel? Ponsel Aqila di mana?” tanya Aqila kepada dirinya sendiri.
Aqila melihat ponselnya di atas nakas, dia mencoba meraihnya dan setelah menggapainya, dia mencoba menyalakannya.
“Yahh gak bisa, pasti akibat jatuh, gak papa deh nanti Aqila ngabarin bunda dan ayah lewat ponsel satunya aja, tapi yang satunya ada di hotel” gumam Aqila kembali melekatakan ponselnya di atas nakas.
__ADS_1
CKLEK
Aqila menoleh ke arah pintu yang terbuka dan nampaklah sosok lelaki dan perempuan di belakangnya, Aqila terdiam ketika mereka menghampirinya.
“Qila” panggil Fira menatap Aqila yang juga menatapnya.
Aqila tidak menjawab, dia hanya diam saja, Fira yang melihatnya menghela nafas pelan dan menatap Juna yang mengangguk, “Qila, maafin gue ya” ucap Fira meminta maaf dan meraih tangan Aqila untuk di genggam, Aqila tidak menolak tapi tidak juga merespon.
“Gue tau Qi, gue salah, gue minta maaf, gue sadar kalau gue udah di gelapkan dengan kebencian dan keirian sama lo” Fira terus menggenggam tangan Aqila.
“Tapi setelah itu ada cahaya yang datang kepada gue dan menyelamatkan gue dari kegelapan itu” lanjutnya sembari menatap Juna yang tersenyum ke arahnya.
“Gue juga sadar, bahwa semua ini takdir yang kuasa, gue gak bisa menolaknya, sekuat apapun gue berjuang, tapi pada akhirnya, lo yang akan tetap menang” Fira kembali menatap Aqila yang juga menatapnya.
“Gue minta maaf ya Qi, lo maukan maafin gue, walaupun gue tau gue gak pantas untuk di maafkan setelah apa yang telah gue lakukan kepada lo, tapi setidaknya gue udah minta maaf sama lo udah bikin hati gue tenang dan gue balik ke Indonesia juga gak kepikiran lagi” ucap Fira tersenyum yang membuat Aqila kaget.
Aqila menghela nafas, dia tidak menjawab melainkan menarik Fira ke dalam pelukannya, Juna yang melihatnya tersenyum senang.
“Sebelum lo minta maaf, gue udah maafin lo, kalau Allah aja memaafkan hambanya yang banyak dosa, lantas kenapa kita manusia yang sama-sama memiliki dosa tidak saling memaafkan” ucap Aqila mengelus kepala Fira.
“Lo memang baik Qi, gue menyesal udah nyakitin hati dan fisik lo, maafin gue ya Qi” ucap Fira menangis di dalam pelukan Aqila.
“Iya” saut Aqila.
Fira melepas pelukannya, dan dia menghapus air matanya lalu tersenyum menatap Aqila, “Tapi lo gak kenapa-napa kan?” tanya Fira.
“Gak ko, gue sehat wal 'afi’at” jawab Aqila tersenyum tipis.
Fira dan Juna terkekeh mendengarnya, “Tapi Fira, gue boleh nanya sesuatu sama lo?” tanya Aqila menatap Fira.
“Iya lo mau tanya apa?” tanya balik Fira.
Tiga hari sebelum kejadian ini terjadi Aqila tak sengaja melihat Fira bersama seorang wanita di sebuah cafe seperti sedang membicarakan sesuatu yang penting, tapi Aqila tidak tau mereka membicarakan apa, karena posisinya jauh dan dia tidak berani untuk mendekat.
Fira menghela nafas pelan, “Gue takut kalau gue bilang, dia akan menghancurkan keluarga gue” ucap Fira menunduk.
“Fira, jangan takut, ada gue di sini sama lo, gue akan selalu menjaga lo, tenag aja” saut Juna tersenyum.
Fira menatap Juna, dia menghela nafas pelan lalu menatap Aqila, “Dia orang yang sangat berpengaruh di Indonesia, dia anaknya pengusaha terkenal dan terkaya di Indonesia, kalian tau siapa itu” jawab Fira membuat mereka kaget.
“Gak mungkin dia anaknya, pak Hartono, pak Hartono dan istrinya sangat baik, dan yang gue tau anaknya juga baik” kaget Juna.
“Gue juga gak tau, tapi dia ancam gue kalau gue gak melakukan perintahnya untuk menghancurkan Aqila, dia bisa menghancurkan keluarga gue karena keluarga gue punya banyak hutang sama bapaknya” jelas Fira menunduk.
“Itu hanya sebuah ancaman Fira, gue yakin pak Hartono gak akan setega itu untuk menghancurkan keluarga lo kalau gak ada sebab dan akibat” saut Juna.
“Jadi selama ini gue di perbudak sama dia?” tanya Fira tak percaya.
“Bisa di bilang seperti itu” jawab Juna dan di angguki oleh Aqila.
“Sialan tuh cewek, awas aja nanti gue bilangin bapaknya biar dia tau rasa, lihat aja lo, Salsa” geram Fira kesal.
“Udah gak papa, biarkan saja” saut Aqila menenangkan Fira.
CKLEK
__ADS_1
Mereka bertiga menoleh ke arah pintu dan ada Fauzan yang juga menatap mereka, “Ngapain lo di sini?” tanya Fauzan sengit kepada Fira.
“Mau celakain Aqila lagi?” tanya Fauzan tajam.
“Apaan sih lo” sengit Fira kesal.
Jujur memang dulu dia menyukai Fauzan tapi lama kelamaan dia kesal sama Fauzan yang selalu membuatnya gak mood, beda sama Juna yang selalu mengembalikan mood nya.
“Udah Zan, Fira kesini mau minta maaf, dan dia juga sudah mengakuinya” saut Juna menengahi.
Fauzan menatap Fira tajam dan Fira tak kalah tajamnya menatap Fauzan, “Udah ahh, gue mau balik aja, gue mau beres-berse, karena besok gue harus berngkat ke Indonesia” ucap Fira.
“Lo mau kembali dan gak nerusin kuliah lo?” tanya Aqila.
“Gak Qi, beasiswa gue di cabut, tapi gak papa, gue pantas mendapatkannya” jawab Fira tersenyum, Aqila mengehela nafas pelan.
“Iya lo memang pantes” saut Fauzan ketus.
Fira menatap sinis Fauzan, “Gue balik dulu ya Qi, gue juga mau pamitan sama lo, jaga kesehatan lo ya, dan semoga lo berhasil selalu, sampai ketemu di Indonesia lagi” ucap Fira memeluk Aqila.
Aqila membalas pelukannya dan kembali melepaskannya, “Iya, lo juga, maaf gue gak bisa bantu lo” saut Aqila.
“Gak papa, kalau gitu gue duluan, assalamualaikum” salam Fira lalu segera pergi.
“Gue antar Fira dulu” saut Juna dan menyusul Fira pergi.
Aqila dan Fauzan menatap kepergian mereka berdua, “Ohh iya, mana pesanan gue?” tanya Aqila menyodorkan tangannya.
“Nih” Fauzan menyodorkan plastik yang isinya pesanan Aqila.
“Makasih” ucap Aqila dan mulai membukanya dan memakannya.
Fauzan tersenyum melihatnya, ‘Gue seneng lihat lo kembali tersenyum Qi, walaupun lo sedikit berbeda dengan Aqila yang pertama kali gue lihat lo’ batin Fauzan.
Sedangkan di sisi lain, seorang wanita nampak begitu kesal di dalam kamar apartementnya, “Sial... Sial... Sial, kenapa bisa ketahuan sih, ahh dasar bodoh” umpatnya kesal.
Suara dering di ponselnya mengalihkan perhatiannya, dia menatap nama di layar ponselnya, dan menghela nafas pelan ketika melihat nama siapa yang menelponnya.
“Iya mba, ada apa?” tanyanya ketika sudah tersambung.
“.....”
“Iya mba, rencana kita gagal, si bodoh itu sudah ketahuan, dan mungkin aku pun terancam jika dia sampai bilang kalau aku yang menyuruhnya” ucapnya kesal.
“.....”
“Gak tau, mungkin langkah selanjutnya aku akan membiarkannya dulu” sautnya.
“.....”
“Iya mba, iya, hmmm dah assalamualaikum” salamnya menutup panggilan.
Dia menghela nafas pelan, “Biarkan saja dulu, lihat aja nanti” gumamnya smirk.
To Be Continued....
__ADS_1
Wow siapa ya dalangnya? Dan siapa Salsa? Dan juga ada berapa banyak sih dalangnya? Banyak kah atau sedikit? Hmm aku juga tidak tau, dan apa kejahatan selanjutnya? Eh tapikan Fira udah maaf-maafan dan siapa pelaku kejahatan selanjutnya? Wow penasaran gak? Saksikan terus kelanjutan ceritanya...
Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye...