Takdir Untuk Aqila

Takdir Untuk Aqila
Pergi


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


“Masuk” saut Ilham ketika ada yang mengetuk pintu kamar rawat Aqila.


“Assalamualaikum” salam Salsa memasuki ruangan.


“Waalaikummussalam” jawab Iqbal, Ilham, dan Aqila.


Salsa menghampiri brangkar Aqila di susul Fauzan di belakangnya, “Aqila, bagaimana keadaanmu?” tanya Salsa dan Iqbal mempersilahkan Salsa duduk di samping Aqila.


“Alhamdulillah baik” jawab Aqila.


“Tapi tidak ada yang sakitkan, maksudnya luka yang parah?” tanya Salsa terlihat raut wajah khawatir.


“Gak ada paling bekas operasian yang sakit” yang menjawab bukan Aqila melainkan Ilham.


“Maafin gue ya Qi” ucap Salsa merasa bersalah.


“Iya gak papa” saut Aqila tersenyum tipis.


“Gue denger lo kurang darah AB+, siapa pendonornya?” tanya Salsa lagi.


“Gak tau” jawab Aqila menggelengkan kepalanya.


Tiba-tiba ada seorang suster masuk dan menghampiri mereka, “Maaf menganggu” ucapnya.


“Ini ada surat untuk nona Aqila” lanjutnya dan memberikan secarik kertas kepada Aqila.


“Dari siapa?” tanya Aqila menerima surat itu.


“Saya kurang tau” jawabnya.


Aqila menganggukan kepalanya, “Makasih ya” ucap Aqila.


“Iya, Kalau begitu saya permisi dulu, mari” sautnya dan segera pergi.


“Buka Qi, bacain kepo gue” ucap Ilham dan mendekat kepada Aqila.


Aqila membuka surat tersebut, sebelum dia membacanya Ilham terlebih dahulu merebutnya.


Aqila menatap kesal Ilham, tapi dia juga hanya diam menunggu Ilham membacakannya.


“Assalamualaikum Aqila, maaf kalau saya banyak salah sama kamu, mungkin dengan saya mendonorkan darah saya sama kamu rasa bersalah saya ke kamu berkurang, sekali lagi saya meminta maaf padamu, semoga cepat sembuh dan sehat kembali, dari saya yang berdosa, wassalamualaikum” setelah Ilham selesai membacakan surat tersebut semuanya terdiam.


“Suratnya dari mba Sri” saut Salsa ketika melihat tulisannya dan mengenalnya.


Semuanya masih terdiam, “Sekarang bagaimana dengan kak Sri?” tanya Aqila.


“Entah, gue juga gak tau” jawab Salsa menganggkat bahunya acuh.


Tok... Tok... Tok


Semua orang menatap pintu ruang rawat dan tak lama kemudian munculah dua orang paruh baya dan di susul satu keluarga cemara.


“Mami, papi” ucap Salsa dan memeluk kedua orang tuanya.


“Sayang kamu gak papakan, papi denger kamu pingsan?” tanya Om Hartono.


“Gak papa kok pih, Salsa baik-baik aja” jawab Salsa menatap sang papi.


“Syukur alhamdulillah” saut istrinya Om Herman.


“Nak Qila, bagaimana keadaanmu?” tanya tante Ratih, istrinya Om Herman.


“Alhamdulillah tante jauh lebih baik” jawab Aqila


“Alhamdulillah” sautnya.


Semuanya terdiam, “Mmm istrinya bang Hasan?” tanya Salsa kepada Syifa.


“Iya, saya Syifa” jawab Syifa mengangguk.


Dan Salsa mengangguk paham, “Kak Syifa” panggil Aqila.


“Iya Qi” saut Syifa.


“Mmm maafin Aqila soal yang waktu itu menuduh kak Syifa, Qila terbawa emosi, dan selamat atas pernikahannya” ucap Aqila merasa tak enak hati.


“Iya gak papa, yang lalu biarlah berlalu, kita sama-sama belajar dari kesalahan masa lalu, dan makasih ya” ucap Syifa tersenyum di balik cadarnya.


Aqila mengangguk dan tersenyum, “Ini keponakan ku ya?” tanya Salsa mencubit pipi gadis kecil di gendongan Hasan.


“Iya, namanya Aulia” jawab Hasan tersenyum.


“Kak Aul, salim sama aunty Salsa” ucap Hasan kepada anaknya.


“Assalamualaikum Aunty” salamnya menyalimi tangan Salsa.


“Ihh lucunya, waalaikummussalam cantik” jawab Salsa tersenyum.

__ADS_1


Dan semuanya tersenyum melihatnya, “Dan ini adiknya?” tanya Salsa heboh sembari menoel pipi gembul bayi laki-laki di gendongan Syifa.


“Iya namanya Muhammad Ikhsan” jawab Syifa.


“Mas Sya Allah, tampannya” ucap Salsa.


“Iyalah hasil cetak siapa dulu” bangga Hasan tersenyum.


Syifa menatap kesal suaminya, “Maaf sayang gak bermaksud, janganlah ngambek” ucap Hasan tersenyum.


Dan yang melihatnya menggelengkan kepalanya, “Sudah-sudah, kalian ini ya haha” kekeh tante Ratih.


“Ohh iya om, kalau boleh tau kak Sri kemana ya? Bagaimana keadaannya?” tanya Aqila tiba-tiba.


Tante Ratih menatap suaminya dan Om Herman menganggukan kepalanya pertanda boleh.


“Sri tidak di penjara kami meminta membebaskannya, tapi kami mengirim Sri ke Tarim agar dia belajar dan bertaubat atas kesalahannya, dan dia meminta maaf sebesar-besarnya kepada kamu nak Qila, baru saja kami mengantar dia kebandara” jawab tante Ratih.


Aqila menganggukan kepalanya, “Qila udah maafin kak Sri, semoga kak Sri benar-benar bisa berubah” ucap Aqila.


“Aamiin” yang lain mengaminkan.


‘Qi kamu memang baik, tapi sayang kamu bukan miliku’ batin seseorang menatap Aqila sendu.


‘Dek, kamu orang yang baik, abang bangga sama kamu’ batin Iqbal menatap Aqila tersenyum.


“Aqila memang is the best, tambah sayang” saut Ilham tersenyum.


Aqila memutar bola matanya malas tapi setelah itu dia juga tersenyum.


“Ya sudah kamu istirahat yang banyak biar cepat sembuh” ucap Om Herman.


“Iya Om, makasih” saut Aqila menganggukan kepalanya.


...***...


Dua minggu telah berlalu, Aqila sudah jauh lebih baik dan di bolehkan untuk pulang ke rumah, dan keadaan pun jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.


“Qila gue ada kabar gembira” heboh Yuri berlari menghampiri Aqila yang sedang duduk di sofa depan tv.


“Kabar baik apa?” tanya Aqila menatap Yuri yang sudah berdiri di hadapannya.


Kini semuanya berkumpul di rumah Aqila, termasuk Umi dan Abi, terkecuali orang tuanya Salsa.


“Lihat perut gue ada yang menjendol gak?” tanya Yuri memperlihatkan perutnya dan berputar-putar.


“Sayang jangan berputar-putar nanti pusing” peringat Faisal.


“Ihh ada kok, perhatiin baik-baik” ucap Yuri kesal.


“Buncit? Lo hamil?” tanya Aqila menatap Yuri yang tersenyum dan menganggukan kepalanya.


“Iya gue hamil, aaaa” heboh Yuri senang.


“Alhamdulillah, berapa bulan?” tanya Aqila dan mempersilahkan Yuri duduk.


“Baru dua bulan” jawab Yuri.


“Kok gak bilang-bilang sih Sal bini lo hamil?” tanya Ilham kesal kepada Faisal.


“Baru ketahuan satu minggu yang lalu” jawab Faisal santai.


“Selamat ya Yuri” saut Salsa.


“Iya makasih banyak semuanya” saut Yuri senang.


“Wihh satu sahabat kita bakal jadi ayah nih, gue kapan ya?” ucap Ilham dan melirik Iqbal juga.


“Nanti belum waktunya” jawab Fauzan.


“Ehh Iqbal juga kapan ya, kan udah hampir kepala tiga nih” saut Faisal menatap Iqbal.


“Tau nih, kapan bang nikahnya Umi udah gak sabar mau nimbang cucu” saut Umi Fatimah ikut nimbrung.


“Nanti Umi, belum ada jawaban” saut Iqbal dan melirik Aqila sekilas.


Aqila memalingkan wajahnya yang sudah memerah, “Waduh, kasihan amat” ejek Ilham.


“Pak amatnya aja gak kasihan ama kak Ilham” saut Aqila kesal.


“Haha sudah, nanti juga kalau ada jawaban Abi kasih tau, nanti kalian tinggal tunggu kartu undangannya aja” saut Abi Syam tersenyum.


“Lah kok gitu sih bi” ucap Ilham tak terima.


“Kalau mau langsung kartu undangan tuh sekalian punya Ilhamnya dong” lanjutnya.


“Lah emang udah ada calonnya?” tanya Juna.


“Ada dong, si neneg geulis” jawab Ilham dan melirik Loli yang menahan senyum.

__ADS_1


“Idih bucin lo” saut Faisal.


“Biarin lo juga kali, buktinya sampai buncit tuh perut bini lo” ucap Ilham ketus.


Dan Yuri mengijak kaki Ilham kesal, “Aws... Sakit bumil” ringis Ilham menatap Yuri.


“Biarain sipa suruh mulutnya gak sekolah” saut Yuri kesal dan bersedekap dada.


“Mampus rasain tuh” ucap Faisal tersenyum mengejek.


Ilham menatap kesal, tiba-tiba Fauzan berdiri, “Semuanya saya mau pamit, saya mau kembali ke Bandung dan mungkin akan jarang main ke sini” ucap Fauzan dan semuanya menatapnya.


“Kok tiba-tiba sih Zan?” tanya Fira.


“Iya, maaf ya” jawab Fauzan.


“Sekarang banget bro?” tanya Ilham.


“Iya” jawab Fauzan seadanya.


Aqila menatap Fauzan, ‘Zan maaf ya’ batin Aqila menatap sendu Fauzan.


“Ya sudah saya pamit, Umi, Abi” Fauzan menyalimi tangan Umi dan Abi.


“Aqila semoga cepat sembuh ya” lanjutnya tersenyum kepada Aqila.


“Iya, makasih” saut Aqila membalas senyuman tipis.


“Hati-hati nak” ucap Abi Syam.


“Iya assalamualaikum” salam Fauzan dan segera pergi.


“Waalaikummussalam” jawab semuanya.


Setelah kepergian Fauzan suasana hening dan Salsa tiba-tiba berdiri, “Salsa juga pamit, assalamualaikum” salam Salsa setelah menyalimi tangan Umi dan Abi lalu pergi.


“Kenapa dengan tuh anak, buru-buru banget?” tanya Yuri bingung.


“Entah” jawab semuanya menganggkat bahunya acuh.


Ting


Satu pesan masuk ke ponsel Aqila, Aqila membuka dan membacanya, setelah membacanya dia terdiam.


______________________________________________


Fauzan


______________________________________________


Today.


-Semoga bahagia selalu Qi, gak usah jawab lamaran dadi gue, gue udah tau jawabannya, gue gak akan ganggu lo lagi, makasih untuk waktu dua tahun ini, gue sayang lo-. 10.34//


______________________________________________


...***...


“Fauzan” panggil seorang wanita.


Fauzan menoleh kebelakang, “Salsa? Lo ngapain ngikuti gue?” tanya Fauzan.


Salsa menghampiri Fauzan, dia tersenyum dan memberikan sebuah paper bag kecil kepada Fauzan.


“Di bukanya nanti ya kalau gue udah pulang, semoga lo selamat sampai tujuan, kebali lagi ya gue akan tunggu lo” setelah mengucapkan kata demi kata Salsa segera berlari pergi dan memasuki mobil putih yang terparkir setelah itu melesat pergi.


Fauzan menatap mobil yang sudah membawa Salsa pergi dan menatap paper bag kecil tersebut.


Fauzan membukanya dan dia mendapati sebuah gantungan berbentuk setengah hati, dan sebuah surat.


Fauzan mengambil surat tersebut dan membukanya, isi surat :


_____________________________________________


...Assalamualaikum, Fauzan...


Maaf gue gak bisa kasih lebih dari hanya sekedar sebuah gantungan kunci, tapi gantungan kunci ini memiliki arti, hati terbelah tandanya hati kita terpisah sebagian di lo dan sebagian di gue. Fauzan gue jatuh cinta sama lo saat pandangan pertama kita di Kairo, walaupun gue tau hati lo untuk Aqila, tapi mungkin masih ada kesempatan untuk gue, lo pergi semoga untuk kembali, gue akan selalu menunggu lo dan jawaban dari lo, cepat kembali.


^^^Wassalamualaikum, Salsa.^^^


_____________________________________________


Fauzan melipat kembali surat setelah membacanya dia tersenyum tipis dan memasukan surat kedalam saku celananya setelah itu pergi.


“Gue akan kembali jika sudah waktunya” gumam Fauzan.


...To Be Continued...


...***...

__ADS_1


...Guyss gimana part kali ini baper gak atau kurang, author nulisnya senyum-senyum sendiri tau, udah ahh lupakan. Guys Sri sudah pergi dan Fauzan ikut pergi, kira-kira mereka akan kembali lagi gak ya? Dan Yuri pun sudah hamil, dan juga bagaimana dengan Aqila selanjutnya apakah akan bersatu dengan lelaki pujaannya atau tidak? Penasaran? Saksikan terus kelanjutan ceritanya.......


...Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye.......


__ADS_2