Takdir Untuk Aqila

Takdir Untuk Aqila
MAAFIN KITA


__ADS_3

Tok... Tok... Tok


“Qila, nak makan malam dulu yu” bunda Asih mengetuk pintu kamar Aqila.


“Iya bunda nanti Qila nyusul” saut Aqila dari dalam kamar.


“Ya sudah kalau begitu” bunda Asih pun segera turun menuju meja makan.


“Bunda di mana Qila?” tanya ayah Fikri ketika tidak melihat anak gadisnya.


“Nanti katanya nyusul” jawab bunda Asih duduk di samping ayah Fikri.


Tak berselang lama Aqila turun menghampiri ayah dan bundanya, “Maaf lama” ucap Aqila dan langsung duduk di kursinya.


Tanpa banyak bicara Aqila segera mengambil makan dan langsung memakannya setelah membaca do’a.


Sedangkan ayah dan bunda yang melihatnya hanya menghela nafas pelan, mereka sudah tau kenapa Aqila bisa jadi seperti ini, karena mereka sudah di ceritakan oleh Ilham tentang masalah di mall tempo hari.


“Nak... Bunda sudah bicara kepada ayah tentang keinginanmu, jika itu yang terbaik untukmu ayah dan bunda tidak akan bisa melarangmu dan jika itu juga bisa membuatmu bahagia” ucap ayah Fikri tiba-tiba yang menghentikan aktivitas Aqila.


Aqila menatap ayahnya, “Apakah tandanya ayah dan bunda mengizinkannya?” tanya Aqila.


“Iya sayang” jawab bunda Asih tersenyum.


Aqila juga terenyum, “Makasih ayah bunda” ucap Aqila dan kembali melanjutkan aktivitasnya.


“Iya sama-sama” saut ayah dan bunda bareng.


Mereka kembali makan malam tanpa ada yang bersuara lagi, terutama Aqila biasanya gadis itu akan banyak bicara tapi kali ini dia hanya diam saja.


***


Pagi harinya seperti yang Aqila katakan kemarin jika ayah dan bundanya mengizinkannya dia akan pergi kesekolah, dan sekarang Aqila sudah siap dengan seragam sekolah.


Yang biasanya Aqila akan menaiki motornya sendiri sekarang dia akan di antar oleh supir pribadi ayahnya, karena ini perintah dari ayah Fikri.


“Ayah... Bunda... Aqila berangkat sekolah dulu” ucap Aqila dan menyalimi tangan ayah dan bundanya.


“Iya nak hati-hati, kalau ada masalah tinggal telepon ayah saja” ucap ayah Fikri.


“Iya yah, assalamualaikum” saut Aqila.


“Waalaikummussalam” jawab ayah dan bunda.


Aqila segera masuk ke dalam mobil, sebelum dia masuk ke mobil netra matanya tak sengaja menangkap sosok yang selama ini dia hindari. Iqbal? Iya pria tersebut sedang ada di luar rumahnya dan sepertinya akan menuju ke rumah Aqila, tanpa senyum atau basa-basi Aqila segera masuk ke dalam mobil.


“Mang jalan” ucap Aqila datar.


“Baik non” saut mang Tono.


Mobil pun pergi meninggalkan pekarangan rumah. Iqbal? Pria tersebut melihat kepergian Aqila, ‘Qila...’ batin Iqbal sendu.


“Ehh nak Iqbal, ada apa nak?” tanya ayah Fikri ketika melihat Iqbal di depan pagar rumahnya.


Iebal tersenyum tipis lalu segera menyalimi ayah Fikri, “Duduk dulu nak” ucap ayah Fikri.


“Iya yah makasih” saut Iqbal dan segera duduk di samping ayah Fikri.


“Ada apa nak?” tanya ayah Fikri menatap Iqbal.


“Gini yah...”


***


Sesampainya di sekolah Aqila segera turun dari mobilnya dan dia segera pergi keruang kepala sekolah, iya dia langsung ke ruang kepala sekolah ketimabng ke kelasnya.


Tok... Tok... Tok...


“Assalamualaikum” salam Aqila mengetuk pintu yang sebenarnya sudah terbuka.


“Waalaikummussalam, eh Qila, sini nak masuk” jawab bapak kepala sekolah mempersilahkan Aqila masuk.


“Iya pak makaih” ucap Aqila dan segera masuk.


“Duduk dulu nak” titahnya.


“Iya pak” Aqila segera duduk di hadapan kepala sekolah.


“Jadi bagaimana nak?” tanyanya to the point.


“Iya pak, saya akan menerimanya” jawab Aqila.


“Alhamdulillah jika kamu memang mau menerimanya, bukan hanya kamu aja ko, ada 2 orang lagi yang mendapatkannya dari kelas IPS 1, jadi nanti kamu tidak usah khawatir” ucap pak kepala sekolah.


“Iya pak” saut Aqila mengangguk pelan.


“Kamu hanya perlu menyiapkan baju ganti saja, karena buku dan kebutuhan serta uang jajan suda di dapatkan dari pemerintah” ucapnya lagi tersenyum.


“Iya pak terimakasih” Aqila membalas senyumannya.


“Ohh ya pak, kalau boleh tau kapan akan berangkatnya?” tanya Aqila menatap kepala sekolah.


“3 hari setelah hari kelulusan” jawabnya.


“Huh... Pak Qila juga mau sekalian bicara tentang kelulusan, kalau boleh Aqila tidak mau mengikuti acara itu” ucap Aqila menghela nafas pelan.


“Lho kenapa?” tanyanya menatap Aqila bingung.


“Gak papa pak, apakah boleh?” tanya Aqila lagi.


“Jika itu kemauan kamu bapak tidak bisa memaksanya, karena ini juga hari bebasnya siswa/i jadi mau datang atau tidak juga tidak papa” jawabnya tersenyum.


“Iya pak makasih ya” saut Aqila tersenyum tipis.


“Sekali lagi bapak ucapkan selamat ya nak sama kamu bapak bangga sama kamu, bapak kasih bocorn ya, kamu adalah lulusan terbaik tahun ini” ucapnya tersenyum hangat.


“Alhamdulillah pak, makasih ya, Aqila juga mau ngucapin terimakasih kepada dewan guru dan bapak yang udah mengajar Aqila selama 3 tahun ini, karena mungkin setelah ini Aqila tidak akan ke sekolah lagi, karena setelah kelulusan Aqila akan langsung berangkat saja” ucap Aqila tersenyum tipis.


“Huhh, iya nak semoga kamu bahagia selalu ya” bapak kepala sekolah menghela nafas pelan dan tersenyum.


“Iya pak makasih, kalau begitu Aqila pamit dulu pak” Aqila berdiri dari duduknya setelah dia memberikan sebuah surat.


“Iya nak” sautnya.


“Assalamualaikum” salam Aqila.


“Waalaikummusalam” jawabnya.


Aqila segera keluar dari ruang kepala sekolah, dan dia langsung menuju parkiran saja karena dia tidak mau berlama-lama di sekolah, entahlah kenapa.

__ADS_1


“AQILA” teriak seseorang.


Dari arah belakang ada yang memanggil Aqila, Aqila sempat berhenti tapi kembali melanjutkan jalanya karena dia mengenali suara siapa.


“Aqila tunggu” ucapnya dan berlali hingga sudah berada di hadapan Aqila.


“Hoshh... Hosh... Tunggu sebentar” ucapnya mengatur nafas.


“Huuuhhh.... Aqila gue mau minta maaf” ucap Yuri setelah membuang nafas panjang dan menatap Aqila.


“Iya Qila, Loli juga mau minta maaf” saut Loli.


“Iya” jawab Aqila singkat.


“Aqila kita bener-bener minta maaf, lo jangan diemin kita dong sampe gak mau ketemu kita, kita jadi merasa bersalah banget sama lo” ucap Yuri menggenggam tangan Aqila.


Tapi Aqila segera menghempaskannya pelan, “Iya, kalau gak ada yang penting, saya duluan permisi, assalamualaikum” ucap Aqila dan langsung segera pergi meninggalkan mereka berdua yang hanya diam melihat kepergian dirinya.


“AQILA KALAU LO UDAH GAK MARAH LO BISA KABARIN KITA ATAU LO BUTUH SESUATU, KARENA KITA AKAN SELALU ADA UNTUK LO, MAAFIN KITA QUEENZA AQILA” teriak Yuri seraya meneteskan air matanya.


Loli menatap Yuri yang mengusap air matanya, “Yuri ko tumben nangis?” tanya Loli polos.


Sedangkan Yuri langsung menatap datar Loli, “Gue gak nangis tapi gue keselek” ucap Yuri ketus dan langsung pergi meninggalkan Loli yang terdiam.


“Keselek ko bisa mengeluarkan air mata ya?” gumam Loli bingung tapi dia segera menyusul Yuri.


“Yuri tungguin Loli” teriak Loli berlari kecil.


Sedangkan Aqila tersenyata sedari tadi belum benar-benar pergi dia melihat kedua sahabatnya dari balik tembok.


“Maafin Aqila, Yuri, Loli Qila terlanjur kecewa sama kalian, Qila butuh waktu” gumam Aqila sendu dan meneteskan air matanya lalu segera di hapus kembali dan segera pergi.


“Mang ayo jalan” ucap Aqila setelah masuk ke dalam mobil.


“Ohh iya neng” saut mang Tono.


Mobil pun segera pergi, Aqila menatap sekolahnya dari jendela mobil, dan netra matanya tak sengaja melihat Yuri yang di kejar oleh Loli entah mereka memperebutkan apa.


Aqila tersenyum tipis melihatnya, ‘Bahagia selalu kalian’ batin Aqila sendu, dan bayangan mereka semakin mengecil dan menghilang.


‘Akankah Qila memulai hidup baru tanpa mereka?’ batin Aqila menatap keluar jendela.


Hampa? Ya itulah mungkin yang akan di rasakan Aqila, bagaimana tidak akan hampa biasanya hari-harinya akan di warnai dengan senda gurau bareng kedua sahabatnya, tapi untuk kali ini dan mungkin seterusnya tidak akan ada lagi senda gurau tersebut.


***


Hari-hari berlalu dan besok adalah hari keberangkatan Aqila, kali ini Aqila sedang mempersiapkannya dan memastikan agar tidak ada barang yang tertinggal.


“Sayang apa ini sudah semua barang yang kamu butuhkan?” tanya bunda Asih yang membantu Aqila juga.


“Iya bunda sepertinya sudah semua” jawab Aqila menutup kopernya.


“Huhh nak, kamu bener akan pergi dan kuliah di sana?” tanya bunda Asih memastikan.


“Iya bund, Qila yakin” jawab Aqila penuh keyakinan.


“Baiklah semoga kamu sehat-sehat selalu ya” do'a bunda mengusap kepala Aqila lembut.


“Aamiin” Aqila mengaminkan.


“Bunda... Qila...” panggil ayah yang muncul dari balik pintu kamar.


“Itu di bawah ada Ilham” jawab ayah Fikri.


“Ohh ya sudah ayo kita turun” ucap bunda dan di angguki oleh Aqila.


Sesampainya di bawah memang betul sudah ada Ilham yang sedang duduk di sofa dan... Seekor kucing?.


“Ka Ilham, itu si gembul?” tanya Aqila langsung mengambil si gembul dari pangkuan Ilham.


“Iyalah” jawab Ilham tersenyum.


“Lucukan?” tanya Ilham menatap Aqila.


“Iya, tambah lucu” Aqila memeluk si gembul gemas.


“Ilham” panggil bunjda.


“Eh bunda” Ilham segera menyalimi tangan bunda Asih.


“Sendiri aja nak?” tanyanya.


“Iya bund, kalau berdua mah belum ada calonnya hehe” ucapnya terkekeh, bunda Asih yang mnedengarnya menggelengkan kepalanya.


“Ya segeralah Ham masa kamu kalah sama sepupumu” saut ayah tiba-tiba yang membuat semuanya langsung terdiam.


“Ehh iya minum dulu, di minum” ucap ayah tersenyum.


“Iya yah” saut Ilham dan mengambil minuman yang berada di atas meja.


“Ibu kamu dan ayah kamu gimana kabarnya?” tanya bunda Asih.


“Alhamdulillah bund seperti biasa” jawabnya sembari meletakan gelas di atas meja.


“Sekarang ibu dan ayah ada di rumah om dan tante” lanjutnya sembari mengelus si gembul yang ada di pangkuan Aqila.


Bunda Asih mengangguk pelan, “Ohh iya Qi, besokan lo mau pergi ya, nah gue ada sesuatu sebelum lo pergi” ucap Ilham menatap Aqila.


“Apa ka?” tanya Aqila mengerutkan keningnya.


“Ada aja, lo mau tau?” tanyanya tersenyum.


“Iya lah” jawab Aqila.


“Ya... Ituuu, bantuin gue menyelesaikan gambaran gue” ucapnya menyengir sedangkian Aqila menatapnya datar.


“Gak mau” ucapnya.


“Kenapa? Kan lo pinter ngegambar, ayolah Qi bantuin gue ini masalahnya gambar yang spesial” ucap Ilham memohon.


“Gak mau males” saut Aqila ketus.


“Ayah... Bunda lihat Aqila gak mau bantuin Ilham” adu Ilham sembari menunjuk Aqila yang bodo amat dan fokus dengan si gembul.


“Dasar bisanya ngadu” saut Aqila ketus.


“Biarin wlee” ucap Ilham menjulurkan lidahnya.


“Ihh...” Aqila kesal ingin sekali dia mencakar wajah Ilham.

__ADS_1


“Haha sudah kalian ini masih terus bertengkar, nanti kalau kalian jauhan pasti akan saling kangen” ucap bunda terkekeh.


“Iya, mangkanya jangan berantem terus” saut ayah ikut terkekeh.


Sedangkan mereka berdua saling pandang lalu memalingkan wajahnya, “Ihhh gak akan” ucapnya bareng.


“Iya deh terserah kalian aja” saut bunda menggelengkan kepalanya.


“Ohh iya Qila, gak papa ayah dan bunda tinggal dulu, gak enak bunda sama umi Fatimah” ucap bunda Asih.


“Iya bunda, gak papa” jawab Aqila.


“Gak papa bund, yah, Aqila aman ko kalau bareng Ilham” ucap Ilham tersenyum.


“Ya sudah, jangan berantem ya” peringat bunda.


“Iya bund, siap” saut Ilham mengacungkan jempolnya.


Bunda dan ayah pun pergi keluar rumah menuju rumah umi Fatimah, karena besok adalah hari spesial anaknya, ya taulah maksudnya apa 🗿.


“Aqila bantuin kaka dong ya plis” ucap Ilham memohon.


“Ck... Iya, mana cepet” ucap Aqila malas dan menurunkan si gembul.


“Gembul diem dulu ya, jangan nakal okey” ucap Aqila mengelus si gembul lembut.


Meow


“Pinter” Aqila tersenyum lalu kembali menatap Ilham datar.


“Mana” ucap Aqila menyodorkan tanganya.


“Bentar-bentar” Ilham berlari keluar rumah dan tak lama kemudaian datang lagi dengan kanvas yang berukuran cukup besar.


“Ini dia jreng... Jreng... Jreng” ucap Ilham memperlihatkan sebuah gambaran yang belum sempurna.


Aqila yang melihatnya mengerutkan keningnya, “Apa ini?” tanyanya bingung.


“Nanti juga tau ko, ayo bantuin selesain” ucapnya dan meletakannya di lantai.


“Boleh” saut Aqila.


Mereka akhirnya menyelesaikan gambarnya, “Qii...” panggil Ilham.


“Hmmm” hanya deheman saja sebagai jawabannya.


“Lo beneran mau ke Kairo?” tanya Ilham menatap Aqila yang fokus menyelesaikan lukisannya.


“Iya” jawabnya singkat.


“Kenapa Qi?” tanayanya lagi.


Aqila menghentika aktivitasnya dan menatap Ilham, “Huhh, gak papa ka mau cari suasana baru aja” jawabnya dan kembali melanjutkan aktivitasnya.


“Bener?” tanyanya lagi memastikan.


“Iya” jawab Aqila singkat.


“Gue hanya bisa mendukung lo aja Qi, Apa Iqbal tau?” tanya Ilham yang lagi-lagi mambuat Aqila terdiam.


“Gak tau, dan jangan sampai tau” ucap Aqila datar.


“Kenapa?” tanya Ilham mengerutkan keningnya.


“Gak papa” jawab Aqila ketus.


“Apa kedua temen lo juga tau?” tanya Ilham lagi.


“Sama, gak tau” jawabnya ketus.


“Qi sekecewa itu lo sama mereka?”


Aqila terdiam lagi, dia menghela nafas pelan, “Kaka coba ada di posisi Qila deh” ucap Aqila.


“Iya Qi, kaka tau, tapi jangan sampai segitunya ini sama aja lo memutus tali persaudaraan” nasihat ilham.


“Iya ka Qila tau, tapi Qila butuh waktu” saut Aqila.


“Iya okey kaka tau, ya udahlah lanjutin lagi bentar lagi hampir selesai” ucap Ilham dan kembali melanjutkan.


Setelah cukup lama mereka menyelesaikannya, akhirnya sebuah lukisan telah jadi, Aqila melihat lukisan tersebut.


“Gimana cantik gak?” tanya Ilham tersenyum melihat Aqila yang hanya terdiam.


Aqila menatap Ilham terharu dan matanya sudah berkaca-kaca, dia mengagaguk pelan sebagai jawaban.


“Hei kenapa menagis?” tanya Ilham ketika air mata Aqila lolos jatuh.


“Ka ini beneran?” tanya Aqila terharu menatap Ilham yang tersenyum.


“Iya lah, masa kaka bohong sama princes” jawab Ilham tersenyum dan mengusap kepala Aqila yang terbalut kerudung.


Aqila segera memeluk Ilham dan menangis di dalam pelukannya, Ilham memeluk balik Aqila dan mengusap lembut punggungnya.


“Jangan nangis, kenapa nangis? Gak suka ya?” tanya Ilham.


“Gak ka Aqila suka, suka banget malah, makasih ya ka” ucap Aqila dan melepas pelukannya.


“Iya sama-sama, buat princes mah apapun akan kaka kasih, agar Qila bisa tersenyum lagi” ucap Ilham mengusap air mata Aqila.


“Dah jangan nangis lagi lihat tuh beleknya jadi keluar” ucap Ilham tersenyum mengejek.


DUG


“Aws..” ringis Ilham.


“Apaan sih ka” ucap Aqila kesal memukul lengan Ilham pelan.


Meow


Mereka lalu saling pandang dan tertawa bersama, dari kejauhan ternyata ada Iqbla yang sedari tadi terus memprhatika mereka.


‘Qila bahagia selalu, maaf’ batin Iqbal tersenyum tipis lalu berbalik arah hendak keluar rumah.


PRANGG


**To Be Continue....


***

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye**...


__ADS_2