
Aqila menutup mulutnya kaget, dan semua orang juga sama kagetnya dengan dirinya, “Aduh ka Syifa maaf Qila gak sengaja menjatuhkan soup nya, biar Qila bantu bersihkan” ucap Aqila meminta maaf dan mengambil tisu di atas meja.
“Qila lo apa-apaan sih numpahin soup panas ke ka Syifa, kan kasihan dia jadi kepanasan” sungut Yuri menarik tangan Aqila yang hendak membersihkan baju ka Syifa dan mendorongnya menjauh.
“Ya Qila gak senga-” ucapan Aqila terpotong cepat oleh Yuri.
“Kalau lo marah sama ka Syifa karena lo gak jadi makan saefood jangan kaya gini juga kali, lihat ka Syifa jadi kepanasan lo tau kan soup itu panas dan dengan sengajanya lo tumpahin, jahat lo Qi” potong Yuri marah menunjuk tepat di wajah Aqila.
“Bukan gitu Qila beneran gak seng-” lagi-lagi ucapan Aqila terpotong.
“Qila jahat banget, dari awal Loli lihat Qila ketika ketemu sama ka Syifa juga Qila udah gak suka, tapi cara Qila jangan kaya gini juga jadi yang kena imbasnya kan ka Syifa” saut Loli cepat.
“Bukan git-”
“Qi kalau lo cemburu jangan kaya gitu juga, lo sama aja celakain orang yang gak tau apa-apa” sungut Yuri membantu Syifa membersihkan bajunya.
“Yuri buk-”
“Qila kaka gak nyangka banget sama kamu, lihat Syifa dia jadi kena imbasnya karena kecemburuan kamu” saut Sri ikut nimbrung.
“Iya, Qila udah beda” saut Loli.
“Qila gue gak nya-” ucapan Yuri terpotong.
“STOPP” teriak Aqila, matanya sudah berkaca-kaca.
“Ini bukan salah Qila, Qila gak sengaja, lagian kalian yang beda tau, Yuri dan Loli bukan lagi yang Aqila kenal dan abang juga sama, kalian berubah semenjak kedatangan WANITA INI” teriak Aqila mendorong Syifa ke belakang hingga terjatuh.
“AQILAAA”
PLAKK
Satu tamparan mendarat di pipi Aqila hingga sang empu menoleh ke samping, Aqila menatap tak percaya kepada sang pelaku begitu pun yang lain.
“Hehe abang... hahahaha.... abang berani nampar Qila” Aqila terkekeh menatap Iqbal dengan tatapan kecewa.
“Kenapa bang? Kenapa abang nampar Qila? Apa karena wanita ini? Iya?” tanya Aqila berturut-turut.
“Abang beneran berubah bang, cuman karena wanita ini abang berubah sifatnya sama Aqila hingga bermain kasar” Aqila berucap dengan gemetar karena menahan tangis.
Sedangkan Iqbal terdiam dan menatap tangannya yang sudah menampar Aqila tadi, dia menatap Aqila yang sudah menjatuhkan air matanya.
“Qila...” panggil Iqbal pelan.
“Kenapa bang abang mau nampar Qila lagi iya? Sini bang tampar pipi Qila yang satunya belum kena tamparan dari abang kasihan dia cemburu sama pipi yang udah terkena tamparan maut” ucap Aqila cepat dan menepuk pipi sebelah kanannya.
“Qila ka Syi-” ucapan Syifa terpotong.
“Diemm lo” tunjuk Aqila kepada Syifa yang hendak mengeluarkan suara.
“Kalau lo gak hadir di tengah-tengah kita semuanya gak akan kaya gini” ucap Aqila menatap tajam Syifa.
“Percuma bercadar kalau sifatnya kaya gini ka, apa gak malu hah?” tanya Aqila mengeluarkan unek-uneknya.
“Qila kaka...”
“Gue bilang diamm” bentak Aqila.
PLAKK
“Queeza Aqila jaga ucapan kamu, abang gak pernah ngajarin kamu kasar seperti itu” ucap Iqbal yang lagi-lagi menampar pipi Aqila sembari menunjuk wajah Aqila.
Aqila menatap Iqbal kecewa sangat kecewa, “Emang abang gak ngajarin Qila berkata kasar atau melakakan hal yang kasar, tapi tanpa abang sadari abang membuat Qila ingin melakukan hal yang kasar” ucap Aqila meneteskan air matanya.
“Abang jahat” isak Aqila.
“ABANG JAHAT... ABANG BERUBAH QILA BENCI ABANG” teriak Aqila memukul Iqbal, sedangkan Iqbal hanya diam saja ketika di pukul oleh gadis di depannya saat ini.
“Kalian semua udah berubah, kalian jahat” teriak Aqila menangis.
“Qila benci ka Syifa” ucap Aqila yang hendak memukul Syifa tapi tangannya di cekal kuat oleh Iqbal.
“Queeza Aqila... Yang berubah itu kamu, kamu menjadi wanita yang kasar dan tidak pernah dewasa” tekan Iqbal menatap tajam Aqila.
__ADS_1
“Abang lepasin sakit...” pinta Aqila menatap Iqbal yang mencengkram lengannya kuat.
Iqbal tidak sama sekali menghempaskannya malah semakin memperkuat cengkramanannya, “Abang lepasin... hiks...” isak Aqila.
“Iqbal lepasin tangan Qila kasihan dia” saut Syifa.
“Lihat Qila, bahkan setelah kamu melukainya dia masih membela dirimu” ucap Iqbal tajam.
“IYA DIA MEMANG MEMBELA QILA HANYA UNTUK MENDAPAT BELAS KASIH DAN PEMBELAAN DARI KALIAN, DIA WANITA LICIK YANG BERSEMBUNYI DI BALIK CADARNYA” teriak Aqila di depan wajah Iqbal.
PLAKK
Sekali lagi Iqbal menampar Aqila dengan sangat keras, dan lagi-lagi setelah dia menamparnya dia menatap tangannya.
“AQILAA”
PLAKK
Satu tamparan lagi, tapi kali ini mendarat di pipi Iqbal, dan sang pelaku menatap tajam Iqbal, “Lo berani nampar adik kesayangan gue hah?” tekan Ilham menatap tajam Iqbal.
“Qila lo gak papa?” tanya Ilham lembut memegang wajah Aqila yang sudah merah.
Aqila menggelengkan kepakanya dengan berderai air mata, Ilham yang melihatnya segera mendekap Aqila erat, “Jangan takut ada gue di sini sama lo” ucap Ilham mengusap kepala Aqila lembut.
Ilham menatap tajam mereka semua, “Kalian sahabat apaan hah? Ini yang di namain sahabat, hanya diam ketika sahabatnya di permalukan di depan umum, dan lo Iqbal gue kecewa banget sama lo, lo bener-bener berubah, Iqbal yang dulu gue kenal udah gak ada di diri lo” ucap Ilham tajam.
“Kalian jangan menyesal setelah menyakiti adik kesayangan gue demi membela wanita ini” tunjuk Ilham kepada Syifa.
“Qila ayo kita pulang” Ilham langsung menarik Aqila pergi.
Dan mereka semua menatap kepergian Ilham dan Aqila yang terus menangis, semuanya terdiam hening tidak ada yang bersuara bahkan orang-orang yang berkerumun sekarang sudah kembali melakukan aktivitasnya masing-masing.
“Yuri apa kita jahat?” tanya Loli mentap Yuri yang terdiam.
“Kita jahat” jawab Yuri.
“Iqbal... Ilham benar lo berubah” saut Faisal menepuk pundak Iqbal.
Iqbla segera berlari keluar Reataurant dan di susul Yuri dan Loli di belakangnya, sedangkan Syifa, Sri dan Faisal hanya diam saja tidak ikut menyusul Iqbal.
“Kenapa diam? Apa tidak ingin ikut mengejarnya?” tanya Faisal menatap Syifa.
Syifa hanya diam dan menggelengkan kepalanya, “Sri ini semua karena Syifa ya?” tanya Syifa mulai menangis.
“Buka Syif, ini bukan salah kamu” jawab Sri memeluk Syifa.
“Dan juga bukan salah Aqila” lanjut Faisal tersenyum simpul lalu menyuruh pelayan untuk membersihkan ke kacauan ini.
***
“Ka... Abang jahat sama Qila hiks...” isak Aqila yang terus menangis.
“Udah jangan nangis, jangan menangisi lelaki yang sudah menyakiti hati Qila” ucap Ilham mengusap air mata Aqila lembut.
“Hiks... Qila... hiks... hiks...” bukannya berhenti Aqila malah semakin terisak.
“Qila dengerin kaka” Ilham menangkup wajah Aqila dan menatap matanya yang sudah sembab.
“Iqbal berubah bukan karena alasan, kaka tau pasti Iqbal berubah karena ada alasannya” ucap Ilham lembut.
“Jangan menangis lagi hanya karena lelaki seperti itu, mana Aqila yang kaka kenal, Aqila yang nakal, Aqila yang jahil, dan Aqila yang suka membuat kaka kesal, ko sekarang malah jadi Aqila yang cengeng”
Tapi Aqila terus saja menjatuhkan air matanya, “Sudah jangan nangsi kaka gak suka melihat Qila menangis, apalagi nangisi si Iqbal itu” ucap Ilham kembali mengusap air mata Aqila.
“senyum dong” ucap Ilham tersenyum, Aqila dengan mata yang sudah sembab tersnyum.
“Nah gitu dong, Qila harus jadi wanita kuat, dan jangan di ambil hati dan pikiran tentang masalah yang tadi” Ilham mengusap lembut kepala Aqila.
“Qila harus kuat okey, dan gak boleh nangis lagi” lanjutnya.
“Okey” ucap Aqila sendu, dan mereka saling tersenyum.
“Ya sudah mari kita pulang” ucap Ilham, lalu mereka pergi meninggalkan mall.
__ADS_1
Dan ternyata sedari tadi Iqbal, Yuri dan Loli melihat mereka berdua dari kejauhan, Iqbal terdiam menatap kepergian Aqila bersama Ilham.
‘Qila maafkan abang’ batin Iqbal sendu.
Entah kenapa hatinya merasa sakit setelah melakukan hal seperti tadi kepada Aqila, ada persaan menyesal dan kecewa kepada dirinya sendiri, jika dia bisa dia mau mengulangnya kembali.
“Kita juga pulang” ucap Yuri dan menarik tangan Loli untuk pergi ketika melihat Syifa, Sri, dan Faisal yang menghampiri mereka.
“Iqbal Qila mana?” tanya Syifa ketika sudah berada di hadapan Iqbal.
“Pulang” jawabnya singkat lalu pergi yang di susul Faisal di belakangnya.
***
Setelah kejadian waktu di mall Aqila sudah jarang keluar rumah bahkan ketemu dengan Iqbal dan kedua sahabatnya itu tidak pernah, dan dia juga sudah tidak pernah ke sekolah lagi walau pun sebentar lagi ada kegiatan kelulusan tapi dia sudah tidak bersemangat dan hanya mengurung dirinya di kamar.
Tok... tok... tok
“Qila... sayang boleh bunda masuk nak?” tanya bunda Asih mengetuk pintu kamar Aqila.
“Iya bund masuk aja” saut Aqila dari dalam kamar.
Bunda Asih masuk ke kamar Aqila dan dia melihat Aqila yang hanya terdiam di sisi ranjang dengan menatap kosong ke arah luar jendela. Bunda menghampiri Aqila dan duduk di sampingnya.
“Sayang...” panggil bunda Asih mengusap bahu Aqila.
Bunda Asih menjeda ucapannya dia merasa tidak tega mengatakannya kepada anak semata wayangnya.
“Ada apa bund? Apa ada yang mau bunda ucapakan kepada Qila?” tebak Aqila tanpa menatap sang bunda.
“Iya tapi tidak jadi” jawab bunda Asih.
“Kenapa, apa bunda merasa khawatir jika Qila tau kalau abang akan segera mengkhitbah ka Syifa?” tanya Aqila menatap sang bunda yang terdiam.
“Qila udah tau ko bund, Qila cukup senang saja mendengarnya” lanjutnya kembali mentap luar jendela.
“Qila....” bunda langsung memeluk tubuh Aqila erat.
“Jangan sedih sayang, bunda tau kau mencintai Iqbal, tapi jika dia bukan takdirmu kau harus ikhlas dan jika pun dia adalah takdirmu sejauh apa pun dia pergi darimu dia akan kembali” ucap bunda Asih mengusap lembut kepala Aqila.
“Sabar nak, ini ujian untukmu” lanjutnya.
“Iya bund” saut Aqila.
“Bunda apa Qila boleh mengatakan sesuatu sama bunda?” tanya Aqila melepas pelukannya.
“Iya sayang mau mengatakan apa?” tanya bunda Asih lembut.
“Bunda Aqila mendapat e-mai dari sekolah, bunda lihat ini” Aqila memberikan ponselnya kepada bunda Asih.
Bunda Asih menerimanya dan melihat isi e-mail, dia terdiam setelah membacanya, dan menatap Aqila yang juga menatapnya.
“Qila ini...” ucapa bunda menggantung dan menatap Aqila.
“Jika bunda dan ayah mengizinkannya Qila besok mau ke sekolah” ucap Aqila cepat.
“Jika pun tidak di izinkan tidak papa, Qila akan membatalkannya” lanjutnya.
Bunda Asih menghela nafas pelan, “Bunda terserah ayah saja” ucap bunda Asih.
“Bunda, tolong bunda katakan pada ayah, tapi Qila berharap bunda dan ayah mengizinkannya” ucap Aqila menggenggam lengan bunda Asih.
“Iya akan bunda katakan kepada ayah” saut bunda tersenyum.
**To Be Continue....
***
Kira-kira bunda mau mengatakan apa ya sama ayah? Kenapa Aqila begitu berharap? Dan apa isi e-mail tersebut?
Tunggu jawabannya okey, saksikan terus cerita Aqila ya luplup.
Terimakasih udah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye**...
__ADS_1