Takdir Untuk Aqila

Takdir Untuk Aqila
Terjebak hujan


__ADS_3

“Assalamualaikum” salam Aqila ketika masuk kelas dengan senyuman yang mengembang di wajah cantiknya.


“Qi kenapa lo senyum-senyum sendiri?” tanya Yuri ketika melihat Aqila yang sudah duduk di bangkunya.


Tapi tak ada respon dari Aqila membuat Yuri kesal, “Nih anak waraskan Li?” tanya Yuri kepada Loli.


“Entahlah, mungkin obatnya sudah habis” jawab Loli mengangkat bahunya acuh.


“Woii Aqila, lo waras?” teriak Yuri tepat di telinga Aqila.


“Ihh Yuri apaan sih, teriak-teriak emang Qila budeg ya” ucap Aqila kesal menatap Yuri.


“Iya lo budeg, dari tadi gue tanya tapi lo hanya diam aja, lagian lo kenapa sih?” tanya Yuri lagi dan di angguki oleh Loli.


“Gue itu.... AAAA... seneng banget” teriak Aqila tersenyum senang.


“Woi kalau mau teriak jangan di sini, berisik tau” ucap salah satu siswa yang sedang membaca buku.


“Ihh ya gak papa, kelas juga bukan punya nenek moyang kamu, lagian kalau mau baca buku biar tenang tuh di perpus bukan di sini” sungut Aqila sinis.


“Tau lagian nih human satu” saut Yuri juga dan di angguki lagi oleh Loli.


Sedangkan siswa tersebut segera keluar kelas dengan wajah yang masam, tak lupa dengan membawa bukunya.


“Uuuu dasar anak bapak Yanto” saut Yuri yang masih terdengar oleh siswa tadi.


“Hah apa lo bilang?” tanyanya menongolkan kepalanya dengan menatap tajam Yuri.


“Apaan sih udah sana, lagian bukan apa-apa” sinis Yuri.


“huh awas lo” ucapnya kesal lalu berlalu pergi.


“Udah ihh ko malah ributin tuh cowok, tadi Qila mau cerita apa?” tanya Loli menatap Aqila.


“Tadi itu... Qila... berangkatnya di anterin sama calon suami aaaaa... Seneng banget” ucap Aqila teriak tertahan sembari menangkup wajahnya sendiri.


“Hah calon suami? Emang Qila udah tunangan?” tanya Loli polos.


“Ehh Lilo maksudnya Aqila itu di anterin sama si Iqbal-Iqbal itu, cowok yang kemarin diem mulu” ucap Yuri memperjelas.


“Ohhh, eh Yuri nama Loli itu, Loli... L-O-L-I di bacanya LOLI bukan Lilo” ucap Loli membenarkan namanya dengan menekan setiap hurufnya.


“Iya-iya Loli-pop” saut Yuri tersenyum mengejek.


“Ihh Yuri mah gitu” Loli bersedekap dada.


“Eh iya nanti mamanya Loli mau buka toko baru lagi, nanti kalian ke sana ya buat ikut membukanya secara resmi” ucap Loli tersenyum menatap kedua sahabatnya.


“Wahh kayaknya seru, boleh-boleh, asal ada makanannya” Ucap Yuri tersenyum dan menaik turunkan alisnya.


“Ihh dasar Yuri pikirannya makanan terus, ehh Li ada es krim juga kan?” tanya Aqila tersenyum.


“Ehh Juned, lo juga kali” saut Yuri kesal sedangkan Aqila hanya cengegesan saja.


“tenang aja ko banyak berbagai makanan, gratis lagi” ucap Loli tersenyum.


“Wahh mantap, kapan Li di bukanya?” tanya Yuri.


“Nanti siang, sehabis pulang sekolah” jawab Loli.


“Kalian dateng ya” lanjutnya tersenyum.


“Gue sih pasti kalau ada makanan mah, ya kan Qi?” tanya Yuri pada Aqila.


“Iya, hmm tapi kan Qila nanti pulang sekolah ada janji sama seseorang” ucap Aqila lesu.


“Yah jadi Qila gak ikut?” tanya Loli sedih.


“Iya, maaf ya lain kali aja, nanti kita main bareng” ucap Aqila tersenyum.


“Ya udah deh gak papa, tapi nanti kita main ya?” tanya Loli meyakinkan.


“Iyaa”


“Qi lo beneran kagak ikut?” tanya Yuri lagi memastikan.


“Iya, soalnya Qila udah punya janji sama seseorang” jawab Aqila.


“Siapa sih seseorangnya?” tanyanya lagi.


“Rahasia, hehe” jawab Aqila terkekeh.


“Ohhh udah main rahasia-rahasian ya lo sama kita” ucap Yuri menyipitkan matanya.


“Hehe gak ko, lagian kalian tau ko orangnya nanti pulang sekolah dia jemput Qila jadi kalau mau lihat nanti pulang sekolah” ucap Aqila tersenyum.


“Gak mau, gue maunya se-” ucapan Yuri terpotong oleh salam seorang bapak guru yang masuk kelas.


“Assalamualaikum anak-anak” salamnya sembari meletakan buku di atas meja guru.


“Waalaikummussalam” jawab seluruh murid.


“Oke, kita langsung saja mulai jam ulangan pertama” ucapnya dan mengeluarkan selembaran soal.

__ADS_1


“Pak, kan belum ada bel, ko udah masuk aja?” tanya Yuri mengangkat tangnnya.


“Kebetulan bel sekolah sedang di perbaiki jadi tidak ada bel sekolah” jawabnya dan mulai membagikan soalnya.


“Isi dengan jujur, jangan menyontek” ucapnya sembari menatap tajam semua murid di kelas.


“I-Iya pak” jawabnya gugup.


“Jangan lupa membaca do’a dalam hati sendiri-sendiri, dan silahkan mulai” ucapnya dan kembali duduk mengawasi para murid.


***


Kini semuanya sudah pada keluar kelas masing-masing untuk pulang, karena tidak ada bel jadi setelah mereka selesai ujian terakhir segera membubarkan diri mereka masing-masing, begitu pun dengan Aqila, Yuri, dan Loli.


“Qi mana orang yang mau jemput lo, kagak nonghol-nonghol?” tanya Yuri yang sudah duduk manis di atas motornya bersama Loli.


“Bentar lagi juga dateng ko” jawab Aqila tersenyum.


“Ahh lama, kita duluan aja ya, nanti kalau lo udah beres sama kepentingan lo langsung dateng aja nanti gue sharelock” ucap Yuri yang mulai menyalakan mesin motornya.


“Iya, hati-hati ya” ucap Aqila tersenyum.


“Dadah Qila” teriak Loli melambaikan tangannya ketika motor sudah mulai meninggalkan Aqila sendiri.


“Dadah” Aqila membalas lambaian tangannya


“Tinggal sendiri, Qila duduk di situ aja deh sambil nunggu abang jemput” ucap Aqila lalu menuju halte bis untuk menunggu Iqbal.


“Hmm abang ko lama banget ya, ini kan udah waktunya jam pulang sekolah, apa abang gak tau... Ahh mending Qila chat saja” gumam Aqila lalu mengeluarkan ponselnya.


__________________Via Chat____________________ Abang Iqbal ><


______________________________________________


^^^Abang Qila udah pulang sekolah nih, Qila tunggu di halte bis ya. 14.18 /^^^


______________________________________________


Aqila sudah mengirim pesan kepada Iqbal tapi centang abu satu, yang tandanya Iqbal tidak sedang online, “Hmm... Abang gak online” Aqila menghembuskan nafasnya pelan.


“Ahh nanti juga online ko, tunggu aja” gumam Aqila tersenyum senang lalu dia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat mobil Iqbal sudah ada atau belum.


***


“Huh... Abang mana sih kok lama banget, ini udah jam berapa” gumam Aqila sembari melihat jam di Hpnya.


“Ini udah jam 14.55, udah mau ashar tapi abang belum juga jemput, ahh palingan bentar lagi juga dateng” gumam Aqila sembari matanya terus melihat ke arah jalan yang mulai sepi.


JELEGARR


“AAA... Astagfirullah” kaget Aqila menutup telinganya dengan kedua tangannya ketika ada suara guluduk yang besar.


Aqila menengadahkan kepalanya menatap langit yang mulai meneteskan air hujan, “Yahh hujan” gumam Aqila lesu.


“Abang mana sih ahhh... mending Qila telepon aja kali ya” Aqila pun mulai menelepon Iqbal beberapa kali tapi tidak di angkat-angkat.


”Ihhh bagaimana ini?” gumam Aqila kesal.


“Mana gak ada taksi atau angkot yang lewat” Aqila berdiri dari duduknya dan melirik kanan dan kirinya yang sepi, mungkin karena cuaca hujan yang deras jadi orang-orang enggan keluar dari rumahnya.


“Lagian ini masih siang ko sepi banget deh” guamam Aqila bersedekap dada.


Aqila kembali menelpon Iqbal tapi responnya tetap sama tidak di angkat, “Apa abang sibuk ya? Qila coba telepon ka Ilham aja deh” Aqila kali ini menelpon Ilham, telpon yang pertama tidak terjawab dan yang kedua juga sama hingga yang ketiga baru dia angkat.


“Assalamualaikum ka” salam Aqila ketika sudah tersambung.


“Waalaikummussalam, ada apa Qi?” tanya Ilham di sebrang telpon.


“Kaka lagi sibuk gak?” tanya Aqila sambil terus lihat kanan dan kirinya siapa tau ada taxi atau angkot yang lewat.


“Emang kenapa? Gue lagi ngerjain skripsi”


“Ohhh, gak papa ka, kirain lagi apa, ya udah Qila tutup dulu ya” ucap Qila.


“Emang kenapa sih Qi?” tanyanya di sebrang telpon.


“Gak papa ka, ya udah assalamualaikum” Aqila segea mematikan telponnya, dia merasa tak enak mengganggu Ilham yang sedang mengerjakan skripsi untuk bisa lulus kuliah, jadi dia urungkan meminta bantuannya.


“Huh ka Ilham lagi sibuk, Qila coba telpon rumah aja deh” Aqila lalu menelpon orang yang ada di rumah.


“Assalamualaikum” salam Aqila.


“Waalaikummussalam, maaf siapa ya?”


“Bi ini Qila”


“Oh non Qila, ada apa non?”


“Bi, di rumah ada aya- AAA”


“Non... non Qila kenapa non?”


“Bi Qila matiin dulu telponnya, Qila gak papa” Aqila lalu mematikan sambungan telponnya, lalu dia menatap tajam mobil yang berhenti tak terlalu jauh dari dia berdiri.

__ADS_1


“Woii... kalau bawa mobil tuh pelan-pelan, gak lihat apa ada orang lagi berdiri di sini, basah nih baju Qila” teriak Aqila kesal.


Mobil tersebut mundur dan berhenti tepat di hadapan Aqila, tak lama kaca mobil terbuka dan menampilkan wajah pria yang tampan sedang tersenyum ke arah Aqila.


“Maaf, gak sengaja lagian gue gak lihat lo” ucapnya tersenyum manis.


Aqila sempat terdiam sejenak tapi kemudian dia sadar dan menggelengkan kepalanya pelan, “Apa gak lihat kamu bilang? Ihh dasar, orang segede gini berdiri di sini gak lihat, lihat nih gara-gara kamu baju Qila jadi basah dan kotor terkena ciptrataan air hujan dari mobil kamu” omel Aqila kesal sembari memperlihatkan bajunya yang kotor.


“Ya maaf, gue kan gak sengaja” ucapnya lalu keluar mobil dan menghampiri Aqila.


“Nih pake sweter punya gue aja, biar lo gak masuk angin” ucapnya menyodorkan sweter berwarna hitam.


Aqila menatap sweter tersebut, “So pehatian banget, gak terimakasih” ucap Aqila ketus dan bersedekap dada.


“Gue gak perhatian sih, cuman kasian aja sama bajunya yang kotor jadi kelihatannya jelek di pandang” ucapnya dan tersenyum memperlihatkan kempot di pipinya.


“Iya juga sih, ah tapi bomat” gumam Aqila pelan tapi masih bisa di dengar oleh si pria.


“Ohh, lagian gak ada yang perhatiin baju Qila juga” ucap Aqila melirik sekilas pria di hadapannya saat ini.


“Gue perhatiin” sautnya terus saja tersenyum dan memandang Aqila.


Aqila hanya memutar bola mata malas, “Pake aja sebagai tanda maaf gue” lanjutnya dan kembali menyodorkan sweternya.


“Gak terimakasih” jawab Aqila ketus.


“Ya udah kalau gak mau gue anterin pulang aja sebagai tanda maafnya” ucapnya kembali tersenyum.


“Hah? Gak ahh, kamu pasti orang jahat, Qila tau tampilan kamu itu kaya gimana, depan pura-pura baik ternyata jahat” ucap Aqila memalingkan wajahnya.


“Emang kelihatan jahat ya?” tanyanya menatap dirinya sendiri.


“Iya” jawab Aqila ketus.


“Orang ganteng gini di bilang jahat” sautnya percaya diri.


“Ihhh pd banget bang” ucap Aqila menatap orang itu aneh.


“Iya lah” pria tersebut menyibakan rambutnya kebelakang dengan percaya dirinya yang tinggi.


“Udah ayo gue antar pulang aja, gak baik anak gadis sendirian di tengah hujan kaya gini apa lagi jalanan sepi” lanjutnya kembali menawarkan tumpangan.


“Gak terimakasih” Aqila lalu duduk di kursi.


“Beneran gak mau?” tanyanya memastikan.


“Iya” jawab Aqila singkat.


“Ya udah gue tunggu aja sampai lo mau” lelaki tersebut lalu duduk di samping Aqila sedikit jauh.


“Ihh, terserah deh” ketu Aqila bersedekap dada.


Keadaan kemabali hening, tidak ada yang mengeluarkan suara satu sama lain, Aqila? Dia mencoba menelpon kedua sahabatnya untuk minta di jemput, pasalnya sedari tadi hujan tidak reda-reda dan tidak ada kendaraan yang lewat sama seakali, ya kecuali si pria menyebalkan ini.


“Ko gak di angkat-angkat ya, kemana sih semuanya” gumam Aqila pelan.


“sekali lagi deh telpon rumah” Aqila menelpon orang rumah lagi.


“Assalamualaikum bi”


“Waalaikummussalam non”


“Bi di rum- Tut... Tut... Halo... Halo bi, bibi denger Qila gak?” Aqila melihat ponselnya.


“Yah mati pantesan aja terputus” Aqila yang kesal segera memasukan ponselnya ke saku seragamnya.


“Kenapa lowbet ya Hpnya?” tanya si pria menatap Aqila yang sedang kesal.


“Udah tau pake nanya segala” ucap Aqila ketus.


“Kan gue uda bilang, biar gue antar saja, lagian gak bakalan ada kendaraan yang lewat di sini apa lagi, lagi hujan deras semua orang juga males melakukan aktivitas mending makan dan rebahan, ya kan?” ucapnya tersenyum.


Aqila menghela nafas kasar dan dia menatap jalan yang sepi dan langit yang udah gelap akibat hujan padahal hari masih sore belum malam.


“Gimana ya?” gumam Aqila pelan.


“Lagian abang mana sih?” lanjutnya bergumam.


“Kenapa hanya diam? Tenang aja gue gak bakal ngapa-ngapain lo, di jamin” ucapnya tersenyum.


Aqila menatap pria tersebut, memang sih kelihatannya baik, tapi kan kita gak boleh ketipu dengan tampangnya yang tampan.


“Kalau lo gak mau gak papa sih, gue mah cuman kasihan aja nanti lo gak bakal bisa pulang kerumah” pria tersebut menatap langit yang gelap.


“Kalau gitu, gue mau pulang duluan” si pria berdiri dari duduknya dan hendak masuk mobil tapi Aqila menahannya.


“Tunggu”


**To Be Continue...


***


Terimakasih sudah membaca dan selamat membaca di bab selanjutnya, bye-bye**...

__ADS_1


__ADS_2